
Mengingat kembali perkataan ibunya membuat Ronal gelisah bahwa Lucy sebenarnya masih anak sekolah.
Dirinya baru ingat kembali akan umur Lucy setelah menghitung dan teringat kembali pembicaraan sebelumnya.
Kini mobilnya melaju kencang menembus jalanan padat pada pukul enam dimana keramaian terjadi di waktu ini, dikarenakan para pekerja kantoran sedang ramainya pulang ke kediamannya masing-masing.
"Dia, padahal dia masih memiliki aktivitas ke sekolah. Itu berarti.. seminggu yang lalu, Lucy... bolos sekolah!" gumam Ronal yang nampak kesal sembari menepuk stir, di satu sisi dirinya merasa sangat bersalah. Lalai akan dirinya yang seharusnya mencegah hal itu terjadi.
Sementara di persimpangan jalan xxx no. 01 kawasan hijau.
"Lama banget Ronal kemari nya, apa dia lupa ya?"
Di waktu ini kawasan hijau itu nampak sepi walaupun berdekatan dengan jalanan, sepi dari orang yang lalu lalang.
Hingga secara kebetulan segerombolan geng melintasi jalan area itu dan kemudian melihat seorang gadis cantik yang tengah menunggu seseorang disana.
Mereka secara harfiah terpesona oleh kecantikan gadis berseragam sekolah itu, karena memang Lucy adalah bunga Sekolah.
"Hei... cantik, mau ikut sama kami. Aku akan mentraktirmu!" ucap salah satu dari mereka saat dekat dengan Lucy.
Lucy nampak memutar bola matanya malas lalu berinisiatif untuk tidak berbicara dengan mereka.
"Gadis yang pemalu, kalau begitu artinya kamu mau hihi.." ucap pria itu hendak mendaratkan tangannya pada bahu Lucy, namun...
Grep.
Wosh...
Gubrak!
Lucy langsung saja menggunakan teknik bantingan dalam beladiri kepada pria itu, terakhir dia berkata.
"Kroco kroco seperti kalian memang menganggu waktu tentangku saja, dasar sampah!" cibir Lucy dengan wajah mengintimidasi kepada segerombolan geng itu, mereka sebenarnya berjumlah tujuh orang.
"Kalian! Cepat bantu aku dan tangkap gadis kurang ajar itu!!"
"Baik!" ucap beberapa dari mereka serentak, sepertinya orang yang dilukai Lucy tadi adalah ketua geng tersebut.
Keenam pria lalu mengepung Lucy dengan tatapan kesal, benci, mesum, dan terpesona berpura-pura terlihat menakutkan.
Namun Lucy tak menunjukkan ekspresi gelisah sama sekali, ia kemudian menghela nafas panjang lalu membuka mulutnya.
"Gara-gara kalian aku harus mandi lagi karena menyentuh kalian, hiaa!!"
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Dalam sekejap keenam pria itu tumbang setelah mendapati aksi beladiri Lucy yang memukau.
Mampu menghindar diri dari mereka yang hendak menangkapnya lalu melakukan aksi balasan.
"Rasakan ini j*l*ng!!" entah sejak kapan ketua geng itu sudah berdiri dan kini berada dibelakang Lucy hendak melayangkan pemukul baseball kepadanya.
Tentu saja Lucy terkejut dirinya telah lengah mengabaikan ketua geng sebelumnya.
Bugh!
"Apa!? Darimana datangnya bocah ini yang berani..."
Bugh!
"Argh!"
Tepat ketika pemukul baseball hampir saja mengenai tubuh Lucy Ronal datang secara mengejutkan dan menghadangnya.
Membuatnya menjadi korban salah sasaran hingga dirinya tergeletak, saat itu Lucy yang mengetahuinya menjadi sangat marah hingga dengan cepat menghajar ketua geng itu sampai babak belur.
Lucy yang panik melihat keadaan Ronal yang tergeletak langsung saja memanggil bantuan dan menelpon pihak rumah sakit.
•••
Mimpi buruk membangunkan Ronal dari pingsannya akibat kejadian terakhir yang kini samar-samar diingatnya.
"Ronal? Syukurlah... Dokter!!!"
Luka pada badan Ronal yang terpukul oleh benda tumpul tidak terlalu parah hanya memar dan lebam saja.
Dan pihak rumah sakit sudah melakukan yang terbaik agar luka itu bisa cepat sembuh. Dalam masa waktu satu sampai lima hari.
Setelahnya, Ronal diijinkan untuk pulang. Setelah Lucy menyarankan kepada dokter yang menangani Ronal bahwa pacarnya tidak suka berlama-lama di rumah sakit.
Apa yang dikatakan oleh Lucy memang ada benarnya, Ronal memiliki semacam pobia ketika berada di rumah sakit.
Kini Lucy membantu Ronal berjalan lantaran Ronal belum sepenuhnya tegak dalam berjalan lantaran efek dari pukul itu.
Saat ini dirinya berada di sampingnya dengan wajah sumringah, entah kenapa. Sampai pada akhirnya mereka berdua menuju ke tempat parkiran mobil.
"Biar aku saja yang mengemudi!" ujar Lucy serius.
__ADS_1
"Tidak, mana mungkin dirimu bisa mengemudi," tolak Ronal mentah-mentah dengan ekspresi tak yakin.
"Aku bisa kok, buktinya aku kesini dengan mengendarai mobil, ya... walaupun mobil itu bukan milikku sih. Tapi... milik orang yang waktu itu membawaku ke suatu tempat!" jelas Lucy agak terbata namun perkataannya menjelaskan beberapa hal yang selama ini Ronal pikirkan.
Tentu saja Ronal terkejut karena Lucy bisa mengendarai mobil.
"Jadi.. biar aku saja ya yang mengemudi, aku tak mau kamu yang terluka memaksakan diri. Tidak baik lho... bekas pukulan itu masih terasa nyeri, kan?" ucap Lucy kembali yang mana membuat Ronal menghela nafas mengalah sembari mengangguk.
Perkataannya memang ada benarnya juga dan dia membuatnya menjadi pilihan yang tepat.
Lucy kemudian tersenyum melihat ke arah Ronal wajah cantiknya itu seketika membuat Ronal tersihir dan kembali mengingat flashback masa lalunya.
Dalam perjalanan Lucy menyarankan agar Ronal tidak pulang ke rumah, karena dirinya memiliki tempat tinggal sendiri. Dan Ronal bisa bermalam disana.
Namun Ronal menolak dengan tegas ia kekeh ingin pulang ke rumah lantaran tak ingin istrinya khawatir.
Saat itu juga Lucu nampak menunjukkan pipi kembungnya serta raut wajah sebal, pertanda jika dia sedang cemburu.
"Oh ya, ngomong-ngomong kamu kenapa bisa tahu aku berada di kota A, apa kamu seorang hacker?" tanya Ronal di sela dirinya mulai mengantuk.
"Hehehe nggak kok, aku tahu karena merampas ponsel milik orang itu dan rekening banknya!" jawabnya dengan senyum polos tak merasa bersalah.
Ronal yang mendengarnya terlihat menepuk dahi kemudian berucap.
"Ada-ada saja kamu ini, yang artinya mereka terlalu bermalas-malasan disana!"
"Hihihi aku tahu kok... jika kamu yang menyuruh mereka untuk membawaku kesana."
"Ya, begitulah. Habisnya mau gimana lagi, dirimu terlalu melampaui batas. Aku sebagai seorang yang harusnya menjagamu merasa sangat bersalah pada saat itu, dan aku ingin meminta maaf padamu untuk itu juga!"
"Baiklah, aku maafkan," sahut Lucy dengan senyuman ramah sembari menoleh ke arah Ronal di sebelahnya.
"Hah..?"
Beberapa menit berlangsung perjalanan mereka terhambat karena jalanan tiba-tiba macet, dan sepertinya telah terjadi kecelakaan didepan sana.
Mengingat jika tempat tinggalnya dekat dari sini Lucy pun berniat menawarkan Ronal kembali untuk tinggal dirumahnya.
Hanya saja saat ini Ronal sudah terlelap.
•••
Di sebuah ranjang tempat tidur hangat dan lampu yang sudah dimatikan Ronal tengah tertidur pulas disana, ditemani oleh Lucy yang kini bersama dengannya.
Saat ini mereka sudah hanyut dalam mimpinya masing-masing, terlihat pula Lucy yang tengah memeluk Ronal dari samping dengan ekspresi bahagia.
__ADS_1
Dan di saat yang sama Dorothy tengah tidur bersama seorang pria hanya saja dirinya tak bisa tidur dan air matanya terus mengalir.
Dorothy terlihat menangis dalam diam.