
Seseorang yang tak lain adalah pemimpin mafia dadakan teman dekat Osborn. Dirinya entah mengapa bisa berada di tempat gelap serta berada di bangunan lain.
Padahal sebelumnya dirinya bertugas menjadi pemimpin baru dari rekan-rekannya. Diketahui pula dirinya berada di lantai 10 kala itu, bahkan masih berada di bangunan yang dijadikan markas sementara itu.
Yang saat ini Ronal maupun Dorothy tengah memadu kasih di atas roof top bangunan itu.
Bangunan di sebelah memang sangat gelap lantaran tak ada penerangan, beda dengan bangunan di sebelahnya yang menggunakan penerangan secukupnya.
Saat ini orang itu sedang membidik salah satu dari mereka menggunakan sniper dengan pose jongkok.
"Sepertinya momen itu akan menjadi momen terakhir pasangan kekasih itu, sangat disayangkan sekali," ucapnya sinis.
Masih menjadi pertanyaan kenapa dirinya sampai ingin membunuh salah satu dari mereka dan tidak memilih untuk melarikan diri.
Ada beberapa opsi, namun melihat dari situasi mungkin dirinya menaruh dendam, atau ... sebuah perintah.
"Perintah bos kurasa agak keterlaluan, tapi inilah watak asli bos. Dia berkata...."
Sebelumnya.
Satu permintaan terucap dari mulut Osborn, ketika dirinya hendak di amankan sembari berjalan menuju ke arah helikopter.
Ia lalu menghentikan langkahnya hingga para militer yang berjalan tak jauh darinya seperti mengepung menyuruhnya dengan tegas untuk lanjut berjalan.
Sayangnya Osborn tak menggubris, dirinya hanya mematung seperti sedang memikirkan sesuatu. Rupanya Ia merasa bahwa dirinya akan berakhir tragis.
Perasaan itu membuat dirinya berkeringat dingin, bahkan khawatir amat sangat khawatir.
"Ayo jalan!!" bentak salah seorang kepadanya.
"Dia kenapa, apa merasa menyesal telah menjadi bagian dari mafia-mafia ini, huh. Penyesalan memang selalu datang di akhir, ingat itu!" sahut salah seorang dari mereka menekan kata di akhir, tertuju kepada Osborn. Dirinya malah menyahuti rekannya yang berbicara tadi.
"Abaikan saja, prioritas kita mengamankannya untuk diserahkan kepada pihak berwenang!" sahut seorang lagi.
Saat Osborn dipaksa untuk lanjut berjalan sembari di todongkan senjata, tak disangka ia melakukan hal yang seharusnya orang seperti dirinya tidak di lakukan.
Yaitu bersujud dan memohon agar permintaan terakhirnya dapat dipenuhi kepada anggota militer yang mengepungnya, yaitu berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon.
Meskipun mereka menolak tak ada yang setuju dengan permintaan mafia itu, Osborn tetap kekeh memohon dan memohon. Tangisnya bahkan pecah.
__ADS_1
Rekan-rekan mafia yang melihat sampai tak percaya jika orang sekejam dan sebengis itu bisa berada dalam fase terendah saat ini.
Lama Osborn menangis meminta agar permintaannya dikabulkan, sampai harus mendekati kaki salah satu dari anggota militer itu.
"Cukup! Aku yang akan bertanggungjawab untuk konsekuensi jika dirinya melakukan tindakan melawan," ucap pemimpin mereka yang pada akhirnya bertindak untuk mengabulkan permintaan dari mafia itu, sembari berjalan mendekat.
"Pak, maaf jika saya lancang. Dia pasti memiliki motif tersendiri lantaran kedudukannya disini sebagai wakil ketua mafia ini. Sedangkan pemimpin mereka masih belum kita tangkap!" ujar seseorang dari mereka merasa keberatan dengan keputusan pemimpin.
"Ya. Wajar jika kamu masih ragu, hanya saja melihat orang sepertinya sampai melakukan hal memalukan begini, membuat hati nurani ku tergerak, meskipun dia adalah seorang mafia sekalipun. Apa salahnya jika kita mengabulkan permintaan terakhirnya, sebelum hukuman itu."
Mengerti akan kata terakhir yang diucapkan pemimpinnya membuat seseorang yang tadi tak setuju dengan keputusan beresiko, akhirnya setuju. Ia bahkan menunjukkan senyum smirk kepada Osborn.
Sama halnya dengan anggota-anggota yang lain. Mereka setuju dengan keputusan itu.
Permintaan Osborn pun disetujui oleh semuanya.
Kini dirinya sedang berbincang dengan istrinya melalui ponsel khusus setelah borgol di tangannya dilepas.
Bahkan suara pembicaraan mereka terdengar keras lantaran loud speaker diaktifkan.
Pembicaraan mereka baru memasuki dua menit. Sampai salah satu dari mereka, anggota militer menyadari sesuatu tak terduga baru ia sadari.
"Ketua... dia sedang berbincang sembari menyampaikan kode Morse!!" pekiknya di tengah pembicaraan Osborn, terdengar pula suara perempuan yang mereka kira adalah istrinya.
Dengan sigap ponsel itu direbut dari tangan Osborn dengan paksa.
"Hahaha, kalian memang bodoh. Tertipu oleh trik murahan," ketus Osborn terkekeh. Ternyata dirinya dari awal bersandiwara.
"Tch, sialan kau!!"
Bug.
Sese yang kebetulan mendekati Osborn langsung melangkahkan kakinya lebih dekat lalu melayangkan pukulan keras kearah pipi kanan Osborn, hingga membuat si penerima ambruk.
Ia pun segera ditenangkan, sementara Osborn yang tengah tergeletak sembari memandang langit berkata "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka yang lain tidak."
Ucapannya seperti orang akan kehilangan kesadaran dan terdengar lirih.
"Kurang ajar! Dasar baj*ngan teng*k!" umpat Sese melawan saat dirinya ditahan oleh dua orang. Ingin melampiaskan lagi amarahnya kepada orang yang telah menipu rekan-rekannya. Begitupun dirinya.
__ADS_1
Dia sebenarnya sangat membenci mafia, lantaran dulu kedua orang tuanya meninggal di duga terlibat dengan sekumpulan orang-orang bawah itu.
Dan ketika dirinya mendapati kabar kakaknya terkena ledakan saat melakukan pengejaran siang itu, membuat kebenciannya terhadap mafia semakin dalam.
Dalam kondisi lebam di bagian wajah serta darah yang keluar di sela mulutnya, Osborn tetap bangga dirinya bisa menyampaikan pesan terakhir sebagai bentuk pembalasannya.
Sebenarnya orang yang berbincang dengannya tadi bukan istrinya, melainkan rekan terpercayanya.
Menggunakan suara palsu maka para anggota militer menganggap jika Osborn benar-benar berbicara dengan istrinya.
Dan untuk pesan Morse tadi ia menggunakan trik ketukan ponsel saat berbicara lewat sambungan seluler.
•••
Kembali pada seseorang yang masih setia membidik targetnya dari kejauhan, lantaran tak menggunakan sinar merah sebagai titik bidikan.
Ia tahu jika ada dua orang penjaga di sana, jadi dirinya memilih tak mengambil resiko.
Hingga orang itu berpikir kembali jika saja dirinya melesat maka ia akan diketahui pula.
"Tch.. kalau begitu aku akan mengambil resiko ketahuan tapi misi utama dari bos tercapai, yaitu membunuh wanita itu!"
Ia lalu menggunakan sinar merah sebagai bidikan tepat agar target terkena tembakan sniper.
Tertuju kepada Dorothy di area yang menurutnya jantung.
Ronal yang sadar akan sinar merah itu langsung melindungi Dorothy, begitupun dengan dua orang penjaga yang baru menyadarinya. Mereka dengan sigap mendekati keduanya.
Scit.
"Argh..!!"
Ya. Ronal mengantikan posisi Dorothy hingga dirinya terkena tembakan sniper dari belakang.
Dor.
Sedangkan salah satu penjaga yang tahu arah dari sinar itu langsung menembaki bangunan di sebelah.
Satu penjaga lagi bergegas menolong Ronal. Ia melihat tuan muda sendirinya terkapar dengan mulut keluar darah.
__ADS_1
"Ronal!!!" Begitupun dengan Dorothy, ia berteriak histeris melihat suaminya tergeletak.
"Cih, padahal bidikan tadi sudah tepat akan mengenainya, tapi pria itu...."