Please, Jangan Mencintaiku

Please, Jangan Mencintaiku
Ketahuan


__ADS_3

Saat ini dirinya benar-benar tidak bisa dikontrol maupun tak dapat berpikir jernih. Hawa n*fsu menyesatkan membuatnya terjerumus lebih dalam lagi pada perbuatan tercela dan dilarang oleh kehidupan bermasyarakat.


"Hmph.."


Pria itu hanya diam tidak membalas perbuatan Dorothy yang dirasa mendominasi di atas tubuhnya.


Hingga disaat Dorothy akan menyudahi permainan panas tersebut ia ditarik kembali oleh pria itu, kemudian giliran pria itu yang bermain.


Dorothy membalas dengan wajah memerah benar-benar dia sudah hilang kendali.


"Haa... haa..." dikala permainan panas berlangsung pria itu membuat Dorothy kesusahan dalam bernafas. Hingga selesai melakukan.


"Bagaimana, apa kamu puas huh?" tanya pria itu sembari mendekatkan wajahnya pada Dorothy, senyumannya nampak puas melihat wajah cantik istri orang lain yang kini sudah terpedaya.


"Belum."


"Heh..." senyum licik terlihat jelas dari pria itu kemudian dia menyibak dress tipis yang dikenakan oleh Dorothy.


Di saat inilah dia bermain-main terlebih dahulu sebelum memenuhi niatan utamanya. Dari anak kecil yang terbangun di bawah sana.


Dorothy mendes*h sampai ia harus menutup mulutnya lantaran tak ingin diketahui oleh suaminya.


Dia sebenarnya dalam keadaan setengah sadar dan terbuai mengikuti hawa n*fsu.


Beberapa saat berlalu, kini tubuh Dorothy dalam keadaan tanpa busana sehelai pun yang menutupinya.


Wajahnya sudah merah merona menatap pria itu lekat seperti sedang menunggu kedatangan milik pria itu.


Nampak begitu tegak dan berurat membuat Dorothy yang melihatnya dibuat menelan ludahnya sendiri.


Perasaan bersalah kini datang menghantuinya lagi seperti sensor yang menghimbau agar dirinya tidak terjerumus lebih jauh pada jalan yang salah, sayangnya godaan setan dan keadaan yang tak tertahankan pada dirinya membuat Dorothy terlena.


Ia kemudian membuka selangkangannya secara suka rela dengan raut wajah menggoda, bibir atasnya pun mengigit bibir bawahnya dengan tatapan intens mengarah pada kepemilikan pria itu. Di balas dengan senyuman miring kemudian terjadi pergulatan antara keduanya.


Dorothy mengerang suara-suara merdu seakan menikmati momen itu terdengar seperti burung bersahutan.


Semakin menambah gairah *****al pria itu dengan mempercepat gerakan.


"Aku..." Dorothy sampai tak bisa melanjutkan perkataannya.


Keringat mengucur deras nampak pada badan keduanya saat melakukan aktivitas melelahkan, mereka bermain begitu tenang tanpa ada rasa khawatir sekalipun.


Posisi dan gaya mereka dalam memainkan aktivitas panas tersebut dilakukan secara bergantian, tak lupa mereka menyatukan bibir dengan lembut pada momen tertentu. Waktu pun terus berlalu.


"Ahh!!!"

__ADS_1


Dalam keadaan digendong oleh pria itu dekat dengan dadanya Dorothy hanya bisa pasrah.


Sementara di kamarnya, Ronal dibuat tak bisa tidur nyenyak lantaran suara yang dirasa menganggu waktu istirahatnya ini.


Dirinya sempat berusaha mengabaikan namun pada akhirnya kalah lantaran suara berisik tersebut sangat menganggu.


Terus menerus berulang seakan tiada hentinya. Mengusik mimpi indah yang menenangkan.


Sehingga mengharuskan Ronal bangkit dari posisi tidurnya, ia terkejut sembari meraih sebuah ponsel di saku celananya. Dirinya sadar lupa menaruh ponselnya saat hendak tidur.


Nama Lucy terpampang jelas menghubungi Ronal malam-malam begini.


"Kenapa dia baru menelpon ku disaat seperti ini, lalu dimana Dorothy?"


Lampu kamar yang sudah dimatikan membuat keadaan remang Ronal berusaha mengedarkan pandangannya sembari beranjak dari tempat tidur.


Sementara panggilan dari Lucy ia matikan begitu saja lantaran tersulut emosi.


Drttt...


Seakan tak mau menyerah dengan jawaban Ronal diseberang sana, Lucy terus menghubungi yang mana membuat gigi Ronal menggertak dengan rahang yang sudah mengeras.


Akhirnya ia terpaksa mengangkat panggilan tersebut.


Dengan suara kecil ia bertanya.


"Aku cuma mau memberitahu bahwa aku sedang berada di depan rumahmu!"


"Huh? Tunggu, ada penjaga disini, kamu mana mungkin bisa masuk dengan mudahnya?"


"Bagiku mudah untuk masuk kedalam kediaman mu seperti seorang penyusup tanpa diketahui, mudah kok hihi.."


"Astaga... hari ini aku sangat lelah baru pulang kerja, maaf aku tidak bisa melanjutkan obrolan ini. Jujur, aku serius sekarang ini Lucy.. Lalu apa dirimu sudah gila malam-malam begini datang kesini? Ada banyak waktu jika dirimu ingin bertemu denganku!"


"Begitu ya, kalau begitu aku jadi tenang. Oh ya, tadi aku berbohong. Aku mana mungkin kesana malam-malam, sedangkan besok bukan hari libur! Ya udah aku tutup dulu, tidur yang nyenyak yaa..."


"Emh, iya. Selamat malam."


"Malem sayang!!!"


Terpaksa mengobrol dengan Lucy, Ronal berusaha untuk menahan emosi agar adiknya itu tidak lagi membuat dirinya terganggu.


"Hoamm... aku haus sekali, padahal aku sangat mengantuk. Tapi rasa haus ini memaksa ku untuk bangun, ya sudah, apa boleh buat."


Aneh, istrinya tidak kunjung kembali ke kamar lagi padahal Ronal mengira jika Dorothy sedang pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Ia kemudian keluar dari kamarnya. Suara berisik pada sebuah ruangan yang sebelumnya Ronal ikuti sumber suara itu kini semakin jelas terdengar suara des*han dari dalam.


Ia kemudian mendengarkan agak lama suara dari dalam kamar tersebut.


Sampai akhirnya membuat Ronal terdiam ditempat hingga beberapa saat...


Brakk!!


Pintu di tendang dengan sangat kerasnya melibatkan seluruh emosi yang meluap-luap dalam diri yang dipusatkan pada kaki.


Membuat pintu itu terbuka dengan cara tak biasa dan menampakkan dua orang manusia yang sedang melakukan aktivitas panas. Yang tak tahu malu.


Pria itu terkejut begitupun dengan Dorothy yang dalam keadaan terguncang.


Saat pria itu berbalik Ronal dibuat tertegun lantaran orang yang sudah tidur dengan istrinya itu begitu ia kenali dan di satu sisi dibencinya.


Dia adalah Gerald Osborn ayah Ronal.


"Kau!!"


Bugh! Bugh! Bugh!


Dengan langkah cepat Ronal menghampiri pria itu sembari menariknya turun dari ranjang kemudian memukulnya habis-habisan.


Wajahnya menjadi sasaran utama hingga membuatnya tak berdaya dan tunduk seketika. Ronal menghentikan aksinya lantaran kepalan tangannya sudah seperti dilumuri oleh darah segar.


Begitupun dengan pria itu yang sudah babak belur. Diam tak berbicara maupun melawan.


Dorothy masih dalam keadaan berbaring ia sebenarnya sedang memikirkan bagaimana caranya ia lolos dari keadaan ini.


Pikirannya saat ini mengarah pada suaminya yang akan langsung menceraikannya, hal itu pun membuatnya gila dalam pikiran. Tak ingin hal itu terjadi, meskipun belum terbukti.


"Apa begini kelakuanmu selama ini huh?! Dasar perempuan murahan tak tahu diri!!" umpat Ronal keras, ucapannya begitu ketus dengan wajah merah padam lantaran emosi yang ia rasakan begitu meluap-luap. Melihat ke arah ranjang yang sudah berantakan dan istrinya yang sudah kotor.


Ronal melihat cairan itu dengan sangat jelas.


"Cih, mereka sudah melakukannya sampai beberapa kali!?"


Dorothy hanya diam membisu tak sanggup untuk berkata.


Melihat istrinya yang terbaring tanpa busana dengan tatapan mata kosong memandang langit-langit membuat Ronal dalam perasaan campur aduk.


Ia lalu mengambil jaket pada gantungan dan melemparkannya hingga tepat menutupi badan istrinya.


"Orang tua b*jingan!! Aku akan melaporkan tindakanmu pada polisi. Tunggulah sampai dirimu masuk penjara!" ancam Ronal dengan umpatan kepada pria yang tak lain adalah ayahnya. Dia masih dalam keadaan tertunduk dengan darah segar masih mengalir deras hampir menutupi wajahnya.

__ADS_1


Kemudian Ronal sadar jika tindakannya bisa saja berbalik pada dirinya sendiri. Yang mana akan membuat dirinya masuk jeruji besi lantaran perbuatan aniayanya ini.


"Sial. Ini gara-gara orang tua ini! Sepertinya tidak ada cara lain."


__ADS_2