Please, Jangan Mencintaiku

Please, Jangan Mencintaiku
Diketahui


__ADS_3

"Marie melarang ku untuk ikut campur dalam urusannya! Pada awalnya saya tetap menyarankannya untuk berhenti menjadi kupu-kupu malam, bahkan saya pernah berjuang dengan keras untuk membuatnya luluh. Namun tetap saja, gagal."


•••


Sesampainya di tempat kerja Ronal bertemu dengan sahabatnya yang datang pagi-pagi sekali tidak seperti biasanya. Kemudian menghampiri Ronal secara terburu-buru.


Dia tersenyum kepada Ronal kemudian meminta sebuah nomor yang dapat membuat dirinya mendengar suara seorang perempuan.


Dengan kata lain Alex siap untuk masuk kedalam percintaan.


"Apa kamu nyakin? Memangnya mau ngomong apa dengan anak sekolah itu?" tanya Ronal sembari berjalan.


"Sttts jangan terlalu keras mengucapkan tentang dia yang masih gadis sekolah!"


"Aku yakin sekali, dia adalah penyemangat yang membuatku lolos dari ruang kesendirian hampa! Membuatku memiliki harapan keras untuk memperjuangkannya!" jawab Alex dengan hati yang berbunga-bunga seperti baru pertamakali terkena efek panah cinta asmara. Tak disangka dia benar-benar jatuh cinta dengan Lucy hanya dari melihat fotonya saja.


"Oh, jangan bilang dirimu memiliki niatan untuk menikahinya suatu hari nanti?" seloroh Ronal dengan senyum miring.


"Tentu saja. Asal kamu tahu, semalam aku tidak bisa tidur dan memilih untuk melihatnya selalu. Ya, meskipun hanya memandanginya lewat foto, nyatanya seperti aku sedang melihatnya langsung!"


"Pantas saja matanya seperti panda," batin Ronal


Alex sangat terang-terangan jika bersama dengan sahabat sejatinya, Ronal. Dia begitu menganggap Ronal seperti saudaranya sendiri, mengingat di masa lalu mereka saling membantu satu sama lain.


"Oke, aku beri nomornya, tapi kamu harus menelponnya di waktu yang tepat. Dia sedang bersekolah sekarang!" tandas Ronal yang pada akhirnya mengalah dan mengeluarkan ponselnya, langkahnya terhenti lalu mengirimkan nomor Lucy kepada Alex lewat pesan.


"Dirimu terlihat seperti seorang kakak saja!" seloroh Alex kemudian.


"Mungkin saja."


Hingga hari menjelang sore dan Ronal pulang dari tempat kerjanya. Ia membuka ponsel, mendapati banyak panggilan dan pesan dari sebuah aplikasi. Salah satunya menyebut keluh kesah Lucy si pengirim.


"Kamu kenapa malah mengenalkan diriku dengan pria lain, pokoknya aku nggak suka! Jika kamu semakin mengenalkan diriku kepadanya aku akan langsung mengatakan bahwa aku memiliki hubungan mesra denganmu!"


Tentu membaca pesan tersebut membuat Ronal bergidik hingga jemarinya gemetaran, karena bisa saja Lucy memberitahukan perihal itu kepada Alex.


Dan pesan tersebut terkirim tiga jam yang lalu.


Setelah meminta maaf dengan membalas pesan tadi Ronal membaca pesan lainnya.


Satu pesan lagi yang dirasa penting Ronal kemudian membacanya.


"Aku mau berkunjung ke rumah ibu, tapi aku tidak mau sendirian. Kamu temani aku kesana ya, please. Bukannya aku maksa tapi jika kamu menolak, hari ini aku bakal berkunjung ke rumahmu!"

__ADS_1


Langsung Ronal hubungi Lucy usai membaca pesan tersebut.


"Kamu sudah pulang?"


"Ya, aku baru pulang, maaf. Untuk kesalahanku sebelumnya kamu jangan memperlebar lagi dengan mengatakannya kepada Alex, temanku!"


"Hmm. Aku tidak akan bilang, cuma kamu jangan sekali-kali lagi kenalkan aku terlalu sering padanya! Biar dia sendiri saja yang berjuang keras padaku, yang pada akhirnya aku akan menolaknya agar dia benar-benar menyerah!"


Ronal terdiam, ia tidak menyangka Lucy akan sekejam itu kepada orang yang berjuang keras demi mendapatkan cintanya.


"Baik.. aku janji. Lalu sekarang kamu ada dimana?"


"Aku ada dirumah, kamu kesini saja biar tahu rumahku di siang hari kayak apa."


"Oke. Aku segera kesana.


Tak lama Ronal akhirnya sampai di kediaman Lucy, sebuah rumah minimalis dengan halaman kecil namun tertanam banyak bunga. Sesuai dengan kesukaan Lucy yaitu berkebun, tak disangka dia akan memilih bunga.


Krep.


Ronal memarkirkan mobilnya di tepi jalan komplek, kemudian bergegas menjemput Lucy untuk segera ke rumah orang tuanya, orang tua mereka juga.


Tak disangka Lucy keluar sebelum Ronal sampai di depan pintu, Lucy berhamburan dengan senyum berkembang dan berakhir dengan memeluk Ronal.


"Sudah, sudah kita langsung ke rumah ibu saja, ini sudah sore!" ujar Ronal, namun Lucy seakan tidak memperdulikan.


"Kamu main dulu yuk, kita masuk kedalam. Um... aku sudah buatkan kamu minuman segar lho..."


Melihat ada seseorang yang memperhatikan membuat Ronal mau tak mau harus menerima ajakan Lucy barusan. Dengan sebuah kode, dibalas dengan kedipan mata oleh Lucy.


Setelah keduanya masuk kedalam, seseorang itu terlihat sedang menghubungi.


Gleg.. gleg..gleg..


"Aku sudah menghabiskan minuman enak ini, kalau begitu kita pergi sekarang!" ucap Ronal mengeraskan suara, usai menenggak segelas minuman dingin dari buah hingga tandas.


Tak disangka-sangka Lucy bergegas cepat-cepat saat membawa minuman lain kemudian menaruhnya di meja dan mencium Ronal secara spontan.


Lagi-lagi Ronal tak mampu memaksa agar ciuman itu tidak berlama-lama bersarang pada bibirnya.


"Kenapa?" tanya Ronal saat Lucy menyudahi.


"Itu hukuman karena kamu minum punyaku!"

__ADS_1


"Huh?"


"Minuman yang kamu minum itu punyaku, harusnya kamu meminum yang ini. Tapi tak apa, aku merasakannya lewat ciuman tadi hihi.."


Menggunakan kemampuan bujuk rayu akhirnya Lucy memutuskan untuk pergi sekarang.


Dalam perjalanan menuju kediaman Marie mereka berdua berbincang-bincang.


Sementara di waktu yang sama.


Dorothy tengah menangis mendapati kabar suaminya berkunjung ke rumah perempuan lain.


Ia menangis tersedu-sedu tak kuat menahan rasa sakit dihatinya.


"Kenapa kamu malah terjebak dalam hal seperti itu sih mas.. hiks... apa aku harus jujur kepada kamu juga kalau aku terikat oleh sebuah benang terlarang saja sepertimu. Hanya saja aku terjebak karena sebuah kecelakaan bukan disengaja hiks..." ucap Lucy mengeluarkan isi hatinya dengan bergumam.


Tring...


Sebuah pesan masuk terlihat di layar atas ponsel Dorothy.


"Malam ini kita bertemu di tempat biasa, tidak boleh menolak. Atau saya akan bertindak tegas atas penolakan itu!"


Tik..tik..tik..


Sebuah kalimat pendek sebagai balasan Lucy kirimkan.


"Iya, aku akan kesana tepat waktu. Ku harap anda memuaskan saya malam ini."


Tring...


"Tumben sekali kamu berinisiatif untuk menggodaku begini, kalau begitu persiapkan malam ini dengan baik. Ada seragam khusus untukmu!"


•••


Sampai di kediaman Marie, Ronal turun lebih dari mobil dia kemudian membukakan pintu untuk Lucy atas permintaan kecil, yaitu kalah taruhan.


Dari lantai atas Sisi melihat dua orang sedang menuju pintu utama rumahnya begitu terlihat mesra, lantaran perempuan yang bersama kakaknya itu pamer kemesraan.


Ada raut kesal pada wajah Sisi hingga ia memilih untuk tak melihat lagi, bahkan memilih untuk untuk tidur ketimbang melanjutkan belajar.


Pintu dibuka oleh Marie dengan wajah sumringah melihat kedatangan mereka berdua, kemudian memeluk erat Lucy. Hanya saja Lucy tidak terlihat begitu senang.


Dulu ibunya begitu benci padanya dan sekarang berbeda dengan yang dulu.

__ADS_1


__ADS_2