Possessive Brother

Possessive Brother
kecanggungan Asry dan Zidan


__ADS_3

Malam hari semua sudah berada di tempat akan dilaksanakan pesta pernikahan Dika, semua para tamu undangan turut hadir dalam memeriahkan acara tersebut termasuk keluarga Rafiz.


Arsy terlihat sangat cantik dengan balutan gaun serta hijab yang senada berjalan sambil menggandeng Papanya.


"Ayo kita ke sana!" tunjuk Bram pada Rafiz yang baru saja datang.


Arsy menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Bram melihat Asry.


"Papa aja ya yang ke sana, aku ke Clara dulu ya, Pah!" ucap Arsy yang tak mau mengikuti Papanya karena Rafiz saat ini sedang bersama dengan Zidan.


"Kamu sama Papa aja," ucap Bram menarik tangan putrinya untuk menggandengnya dan berjalan menghampiri Rafiz, rekan bisnisnya.


"Halo pak Rafiz, selamat malam. Terima kasih sudah datang di acara kami," ucap Bram menghampiri Rafiz dan menyalaminya.


"Iya Pak Bram. Terima kasih atas undangannya. Pulau ini sangat indah dan sepertinya belum terlalu terekspos."


"Iya, benar sekali justru itu Dika sengaja melakukan pesta pernikahannya di pulau ini untuk memperkenalkan pulau ini kepada para rekan bisnis kita, kepada para tamu yang datang semoga saja ke depannya pulau ini semakin ramai dan bisa mensejahterakan penduduk yang ada di sini dan mereka tak usah meninggalkan pulau dan keluarga mereka untuk bekerja keluar pulau ini.


"Ide yang sangat bagus, menggelar resepsi sekaligus promo tempat ini, tapi aku akui tempat ini memang sangat indah," ucap Rafiz.


Mereka terus berbincang masalah keindahan pulau tersebut sementara Arsy dan Zidan sesekali hanya melirik Zidan tak berani menyapa Arsy. begitu pun Arsy jangankan menyapa melirik Zidan saja ia tak tak berani.


"Sikap keduanya bisa dilihat oleh Rafiz yang sudah mengetahui jika anaknya menyukai anak sahabatnya itu.


"Oya pak Rafiz. Perkenalkan ini Putra ku Zidan," ucap Rafiz mempertahankan putranya pada Bram.


"Zidan om," ucap Zidan bersalaman dengan Bram.

__ADS_1


Zidan ingin menjabat tangan Arsy namun saat Arsy ingin meraih uluran tangan Zidan, Bram langsung memisahkan kedua tangan mereka yang hampir saja bersentuhan.


"Mari kita nikmati hidangannya," ucap Bram mengalihkan perhatian mereka.


Zidan sangat canggung dan langsung mengalihkan tangannya menggaruk kepalanya sedangkan Rafiz hanya menahan tawanya melihat ekspresi putranya.


Mereka berjalan bersama menuju ke stand makanan.


"Putri Anda sangat cantik, pasti banyak yang liriknya saat ini?" ucap Rafiz berbasa-basi sambil terus berjalan.


"Tentu saja, ia harus melewati ketiga kakaknya dan juga aku untuk bisa mendekati putriku, kudengar kau juga punya seorang putri ya?" tanya Bram.


"Iya dia saudara kembar Zidan. Sepertinya mereka seumuran dengan Arsy.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Bram lihat ke arah putrinya.


Iya, Pah. Aku mengenalnya namanya Syahidah," jawab Arsy.


Arsy hanya tersenyum menanggapi ajakan Rafiz.


"Kenapa kau tak pernah membawanya. Aku baru dengar dari Mikaila jika kau juga memiliki seorang putri yang seusia dengan Arsy, aku pikir Putri mu hanya Shakila.


"Anakku sangat susah diajak pergi ke acara resmi, dia paling tak suka pergi bersamaku ke acara-acara seperti itu, berbeda jika diajak ke tempat seperti ini, dia orang yang lebih dulu mengajukan diri."


Zidan tak memperhatikan apa yang mereka bahas dia, sibuk memperhatikan wajah cantik Arsy. Rafiz bahkan menyenggol tangan putranya karena terlihat jelas memperhatikan seorang gadis di depan Papanya.


"Hay, Pah. kenalkan ini Kian," ucap Syahidah menghampiri mereka.


"Halo Om. Aku Kian, teman Syahidah. kami satu sekolah," ucap Kian memperkenalkan diri, menyapa Rafiz dan juga Bram.

__ADS_1


"Iya Pah. Malam ini Kian menembakku Apa boleh aku menjadi kekasihnya? Aku juga sangat mencintainya," ucap Syahidah membuat Zidan langsung terbentuk, tersedak cake yang baru saja di makannya.


"Kalian sudah pacaran?" tanya Rafiz melihat ke arah Kian yang terkejut mendengar ucapan Syahidah pada Papanya. Kian tak menyangka jika Syahidah akan mengatakan hal itu pada Papanya. Meminta izin pada papanya untuk meneriman pernyataan cintanya. Apalagi ada Arsy dan Bram di sana.


"Belum, Papa. Justru itu aku minta izin dulu kepada Papa bagaimana boleh kan aku pacaran dengan Kian?"


Rafiz tak bisa berbicara apa-apa dia tak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan putrinya itu.


"Bagaimana, Pah? Boleh ya?" tanya Syahidah mendesak.


"Nanti kita bicarakan lagi," ucap Rafiz tak ingin membahas masalah perasaan putrinya itu di depan Bram sahabatnya. Jika tak ada Bram di sana mungkin Rafiz akan memintanya untuk menolak pernyataan cinta Kian dan mengatakan Tidak untuk Izinnya.


"Apa dia putrimu?" tanya Bram tadinya juga terkejut dengan apa yang dikatakan oleh putri dan sahabatnya itu, mungkin jika Arsy tak akan mau meminta izin seperti itu padanya. Namun, ia merasa bangga dengan Syahidah yang mungkin saja bisa menerima perasaan pria yang mengatakan cinta padanya tanpa meminta izin dulu kepada Papanya, itu berarti Syahidah menghargai peraturan yang sudah dibuat oleh Papanya.


"Iya, ini putriku. Maaf jika dia sedikit bandel," ucap Rafiz langsung menarik Syahidah menjauh dari Kian.


"Kian kamu datang dengan Siapa?" tanya Bram yang mengenal Kian.


"Anda mengenalnya?" tanya Rafiz menunjuk ke arah.


"Iya kebetulan Kelvin putraku tinggal di daerah yang sama dengan keluarga mereka di London dan mereka dekat dengan keluarga Kian, kami juga mengenal Ayah dan Ibunya.


Kian juga merupakan rekan bisnis dari Gavin.


"Rekan bisnis?" tanya Rafiz yang tak menyangka jika anak yang seusia dengan Zidan ini memiliki bisnis dan bekerja sama dengan perusahaan sebesar perusahaan Wijaya group. Zisan dan saja belum berpikir untuk ikut terjun dalam mengembangkan bisnisnya.


"Iya Pah, Kian ini punya bisnis restoran dan aku sudah lihat dia sudah sukses dan sekarang tak bergantung lagi pada kedua orang tuanya. Apa kah itu tak punya penilaian untuk Papa menerima cintanya, aku janji akan mengingat batasan-batasan kami," ucap Syahidah.


"Apa kau sudah makan? Makanlah ini, ini sangat enak." Zidan menyumpal mulut Syahidah yang terus aja mengoceh, kemudian ia menarik adiknya itu untuk menjauh dari mereka, Kian mengikuti kemana Zidan membawa Syahidah. Rafiz ingin mengikuti mereka. Namun, ia tak enak meninggalkan Bram.

__ADS_1


Bram dan Asry masih tercengang dengan apa yang dilakukan Syahidah, Arsy pribadi tak akan tak berani meminta izin seperti itu untuk menyukai seseorang.


__ADS_2