
Gavin terus memeluk tubuh polos Diandra, membiarkan Diandra terisak dalam pelukannya. Ada rasa penyesalan saat membuat wanita yang dicintainya itu dalam keadaan seperti ini. Namun, Ia juga merasa lega ternyata apa yang ditakutkan selama ini tak terjadi. Diandra sama sekali tak membencinya dan juga tak mengalami syok yang berlebihan.
Gavin berusaha untuk menenangkan tubuh Diandra yang masih bergetar. Semakin lama ia bisa merasakan jika Diandra semakin lebih tenang hingga istrinya itu pun tertidur dalam pelukannya.
Kata maaf terus dibisikan Gavin di telinga Diandra dan semakin mempererat pelukannya.
Pagi hari Gavin terbangun dan tak melihat Diandra di sampingnya, Ia pun panik.
"Diandra, Kau di mana?" teriak pikiran Gavin saat ini jika Diandra meninggalkannya karena apa yang dilakukannya semalam.
Dengan panik Gavin langsung menyibak selimutnya dan memeriksa kamar mandi, tapi Diandra tak ada di sana.
"Oh tidak." Dengan terburu-buru Gavin memakai pakaiannya dan langsung keluar dari kamar hotel, berlari mencari Diandra.
Namun, langkahnya terhenti saat berada di lobby, ternyata Diandra ada di sana dan baru saja memesan makanan untuk mereka.
Gavin pun dengan perlahan berjalan menghampirinya dengan napas yang ngos-ngosan.
"Kamu disini? Kamu kenapa keluar kamar tak membangunkan ku? Kau membuatku panik Aku pikir kamu sudah meninggalkanku."
Bukannya menjawab Diandra langsung membuka jaketnya dan menutup bagian depan Gavin, kemudian langsung berjalan menuju ke kamarnya.
Gavin yang tak mengerti dengan tindakan Diandra langsung membuka jaket dan melihat ternyata Ia lupa menarik resleting celananya. Sungguh sangat memalukan, pantas saja ada beberapa orang yang tertawa melihat ke arahnya.
Dengan cepat ia menaikkan resleting celananya kemudian menutup wajahnya dengan jaket dan berlari mengejar Diandra.
__ADS_1
"Kakak ngapain sih? Masa keluar dengan pakaian seperti itu, lihat baju kakak saja kebalik," ucap Diandra menahan tawanya saat mereka sudah sampai di kamar.
"Aku sengaja melakukannya," jawab Gavin dengan santainya kemudian masuk ke kamar mandi.
Begitu Gavin masuk ke kamar mandi Diandra tak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa sampai perutnya sakit.
Sementara itu Gavin di dalam kamar mandi terus membenturkan kepalanya di dinding, ia merasa sangat malu. Ia tak malu pada pengunjung Hotel lainnya, Iya malu pada istrinya sendiri.
Lama Diandra menunggu. Namun, Gavin tak juga keluar dari kamar mandi.
"Kak, apa yang kakak lakukan? Makanannya sudah datang. Apakah kata lapar?" panggil Diandra yang tak ingin makan sebelum Gavin keluar.
"Iya sebentar lagi," teriak Gavin dari balik pintu kamar mandi.
Sebenarnya Ia sudah selesai mandi, tapi masih malu untuk keluar. Mengapa ia harus bertindak sebodoh itu, mengapa ia tak memperbaiki penampilannya sebelum keluar dari kamar, Gavin terus memakai dirinya sendiri.
Gavin mengalah nafas panjang kemudian Ia pun perlahan membuka pintu dan melihat Diandra yang sudah duduk terus memandang makanannya, mau tak mau Gavin pun akhirnya keluar, dia menghampiri Diandra dan duduk disampingnya.
"Kamu nggak marah kan dengan apa yang aku lakukan semalam?" tanya Gavin yang membuat ekspresi Diandra langsung berubah.
Diandra menggeleng, "Itu sudah hak Kakak, maaf juga semalam aku terus menolak."
"Aku hanya ingin kau melupakan semua kenangan itu. lupakan kenangan yang buruk dan mari kita membuat kenangan indah. Aku ingin membahagiakanmu Aku tak punya maksud lain," ucap Gavin menggenggam erat tangan Diandra.
"Kakak bisa melakukannya kapan saja, jika aku masih menolak Kakak bisa terus memaksaku untuk melakukannya. Mungkin dengan begitu rasa traumaku akan hilang, aku juga tak ingin terus berada dalam kondisi ini, aku juga ingin menjadi istri yang sempurna untuk kakak," ucap Diandra yang membuat Gavin merasa sangat senang, mereka pun makan bersama dan mengawali hari mereka dengan indah..
__ADS_1
****
Sementara itu keluarga Abraham dan juga Rafiz sudah bersiap-siap ingin pulang, kali ini mereka akan pulang bersama meninggalkan Dika dan juga istrinya di pulau itu.
Semua sudah naik ke kapal.
Namun, saat kapal akan berangkat Syahidah kembali.
"Papa Sebentar, aku lupa kameraku."
"Syahidah Mama kan sudah bilang periksa semua barang-barang mu."
"Iya, maaf Mah!"
"Sudah tidak apa-apa. Kami akan menunggu pergilah ambil barang mu," ucap Bram.
"Kak ambilin dong," pinta Syahidah memohon pada Kakaknya.
"Ambil sendiri. Sudah cepat kamu ke sana jaraknya juga nggak jauh tinggal lari dan mengambilnya," ucap Zidan yang masih tetap duduk di tempatnya.
Syahidah yang memanyunkan bibirnya dan langsung menarik Arsy dan memintanya untuk menemaninya.
Arsy yang tak sempat menolak hanya mengikuti Syahidah yang menariknya.
Zidan menghela nafas melihat tingkah adiknya itu, ia pun ikut berjalan turun dari kapal mengikuti mereka.
__ADS_1
"Sudah biar kakak saja yang ngambil, kalian kembali ke kapal," ucap Zidan membuat Syahidah tersenyum puas. Rencananya berhasil.