
Kian pulang ke rumah dan mendengar suara ribut-ribut dari ruang kerja ayahnya.
"Ada apa dengan ayah?" tanya Kian pada salah satu asisten rumah tangganya.
"Sepertinya Tuan sedang ada tamu, sebaiknya Aden ke kamar saja, saya akan mengantarkan makan siang ke kamar Aden," jawab asisten rumah tangga tersebut yang sudah bekerja di rumah itu selama puluhan tahun bahkan sebelum Kian lahir.
"Apa Pak Toni yakin?" tanya Kian mendengar suara ribut-ribut di ruang kerja ayahnya.
"Tentu saja! semua akan baik-baik saja, silakan ke kamar Anda," ucap Pak Toni lagi mengarahkan Kian ke kamarnya, ia tak ingin membuat Kian mendengar semua apa yang terjadi di ruang kerja ayahnya, Pak Toni adalah salah satu asisten rumah tangga sekaligus orang kepercayaan Batara. Ayah Kian.
Dengan patuh Kian menuruti apa yang di minta Asisten rumah tangganya itu walaupun dengan bertanya-tanya, ia pun ke kamarnya dan mulai mengerjakan beberapa pekerjaan sekolah dan juga pekerjaan lainnya. Selama seharian penuh Pak Toni terus memintanya untuk tak keluar kamar dan itu semakin membuat Kian curiga.
"Sebenarnya apa yang terjadi, sudah beberapa bulan belakangan ini semua terasa aneh. Ayah dan pak Toni seperti merahasiakan sesuatu dariku.
Dorrrrr
Suara tembakan mengagetkan Kian yang sedang belajar. Ia bergegas ingin membuka pintu. Namun, ternyata pintunya dikunci.
"Pak Toni buka pintunya!" teriaknya
Namun, tak ada tanggapan dari luar..
Membuat kian semakin khawatir, iq memutuskan untuk keluar dari kamarnya melewati jendela dengan mengikat beberapa gorden, selimut dan juga sprei untuk membantunya turun ke lantai bawah di mana ia sekarang berada di kamarnya yang berada di lantai 2.
"Setelah berhasil turun, Kian berlari menuju ke sumber suara yang tak lain berasal dari ruang kerja ayahnya, tapi saat akan ingin memastikan keadaan ayahnya ia tercengang dan dengan cepat bersembunyi saat melihat Pak Toni menarik seseorang yang berlumuran darah.
Kian yang sudah diliputi rasa penasaran memutuskan untuk mengikuti ke mana Pak Toni membawanya.
"Bahwa dia pergi dari sini dan pastikan tak ada orang yang tahu, pastikan dia tetap hidup dan menutup mulutnya," ucapan Toni pada seseorang di balik kemudi mobil.
Begitu Pak Toni masuk, mobil tersebut segera meninggalkan halaman rumah. Kian dengan cepat mencatat nomor plat mobil tersebut mengambil motornya dan melaju mengikuti mobil tadi. Namun, saat di perjalanan ia terhambat oleh lampu merah, membuat Ia hanya bisa melihat mobil itu melaju meninggalkannya dan semakin jauh.
"Ke mana mobil itu," gumam Kian ia yang sudah mencarinya sejak tadi melajukan motornya ke sana dan kemarin. Namun, tetap saja tak ada tanda-tanda ia melihat mobil tersebut.
__ADS_1
"Kian," Panggil seseorang membuat Kian menoleh dan ternyata yang memanggilnya adalah Syahida.
"Kamu kenapa? Aku lihat dari tadi apa kamu seperti mencari sesuatu?_
"Iya aku sedang mencari seseorang, tapi bukan siap-siap kok. Kamu ngapain di Sini disini?"
"Aku sedang makan dengan kak Zidan dan teman-temannya, mereka ada di sana. Ayo kita gabung dengan mereka.
Kian melihat sekitarnya tak ada lagi tanda-tanda mobil yang di kejarnya tadi, seperti ia sudah kehilangan jejak.
"Baiklah," ucap Kian ikut dengan Syahida bergabung dengan Zidan dan yang lainnya yang sedang makan di sebuah restoran sambil membahas proyek baru mereka.
"Kian," sapa Zidan saat melihat Kian masuk ke restoran tersebut bersama dengan Syahida.
"Selamat ya, aku dengar kau menangani sebuah proyek besar dan menggandeng beberapa perusahaan besar," ucap kian yang mendengar info tersebut.
"Biasa aja, kami akan mencoba melakukan yang terbaik," ujarnya. "Apa kamu mau bergabung dengan kami?" tawar.Zidan.
"Sebenarnya aku sangat ingin bergabung dengan kalian, tapi menangani Cafe dan restoranku saja aku sudah kewalahan belum lagi Sebentar lagi kita akan ujian dan masuk ke perguruan tinggi. Aku rasa mengurus restoran dan Cafe sudah cukup untukku."
"Apa saja yang dikerjakan jika bekerja dalam bidang Cafe dan juga restoran?" tanyanya.
"Kian bergerak di bidang makanan, tentu saja mereka akan terus mencicipi makanan makanan yang enak dan menentukan mana yang layak untuk para pelanggan mereka dan menjadi menu utama," ucap Riza mencandai sahabatnya itu, ia bisa melihat wajah ketertarikan Memet dalam pembahasan Kian.
"Apa benar seperti itu ?" tanya Memet pada Kian langsung.
"Kurang lebih seperti itu, kita melakukan pekerjaan di sekitaran masalah makanan dan kenyamanan pelanggan dengan makanan yang kita sajikan memang sangat penting," terangkan Kian.
Memet melihat ke arah Zidan.
"Jika kamu memang tak sanggup bekerja bersamaku, aku rasa kamu bisa meminta bantuan pada Kian untuk memberimu pekerjaan. Jangan memaksakan pekerjaan jika memang kau tak sanggup dalam bidang itu."
"Apa aku juga boleh bekerja bersama dengan Kian?" tanya Syahida ikut nimbrung pembicaraan mereka yang sejak tadi Ia hanya diam dan mendengarkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah punya tugas mengatur media sosial Secret Partner level Diamond, untuk apa bekerja bersama dengan Kian lagi," jawab Zidan.
"Siapa tahu aja kan aku bisa menyalurkan bakatku dan bisa meneruskan usaha toko kue mama," ujarnya mencari alasan.
"Sebaiknya kamu fokus aja sama pelajaranmu dan apa yang sedang kau lakukan saat," tambah Kian.
Mereka terus berbincang-bincang hingga tiba waktunya mereka pulang. Zidan dan Syahida tak langsung pulang, sementara yang lainnya langsung pulang ke rumah mereka masing-masing begitu juga dengan Kian.
"Kakak ini sudah malam, apa kakak yakin akan ke rumah Arsy?"
"Ini juga baru jam 09.00. Belum malam-malam banget. Aku hanya ingin memberikan kue ini kepadanya, aku dengar dia sangat suka dengan kue strawberry."
Walau terus menggerutu Syahida tetap mengikuti kakaknya, mereka tiba di rumah Abraham Wijaya. Namun, mereka tak masuk ke dalam, Arsy lah yang keluar ke gerbang menemui mereka.
"Apa kalian mau masuk dulu?" tawar Arsy.
"Nggak, ini sudah malam aku hanya ingin memberikan ini, semoga kamu suka," ucap Zidan memberikan paper bag yang berisi kue strawberry tadi.
"Kok cuman satu, buat aku mana," ucap Clara.
"Maaf ya aku lupa, lain kali aku juga akan membawakan untukmu," ucap Zidan merasa tak enak.
"Iya nggak apa aku cuma bercanda kok!$
"Kak udah belum? Aku benar-benar ngantuk dan capek," teriak Syahida dari dalam mobil
ia hanya melambaikan tangan pada Arsy dan Clara.
"Ya sudah! Aku pergi dulu." Zidan kemudian melajukan mobilnya Kembali menuju ke kediaman mereka. Namun, saat dalam perjalanan pulang Zidan melihat Kian seperti mengejar sebuah mobil membuat Ia juga mengikuti mereka. Saling kejar-kejaran pun terjadi sementara Syahida sudah tertidur pulas, ia tak menyadari jika Zidan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
☘️☘️☘️☘️
Rekomendasi, yuk mampir 😘☺️
__ADS_1