
Mereka semua berkumpul di rumah Dika, begitupun juga dengan istri Dika.
"Gavin mana?" tanya Bram yang tak melihat salah satu putranya.
"Iya aku juga tak melihat Diandra," Sahut Natali..
"Mereka pulang lebih dulu, mereka sudah sampai di dermaga di seberang katanya ada urusan penting dan Gavin harus segera kembali," ucap Mikaila, putranya itu sudah memberitahu jika mereka harus pulang lebih dulu.
Mereka pun percaya dengan alasan Gavin. Namun, tidak dengan Kelvin. Ia tahu seperti apa saudara kembarnya itu.
Kelvin menghampiri Arya yang sedang bermain bersama Aira di teras rumah, memandang kelap-kelip lampu yang berjajar rapi di tepi pantai.
"Kak, apa Gavin dan Diandra masih marah padaku?" tanya Kelvin menghampiri kakak sulungnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Arya meminta putrinya untuk masuk ke dalam.
"Aku baru saja datang dan mereka pergi. Bukankah itu berarti mereka menghindariku,"
"Apakah kamu tak mendengar apa yang bunda katakan jika Gavin punya urusan penting yang tak bisa ditinggalkannya," jelas Arya.
Kelvin tersenyum dan memasukkan tangannya di saku celananya, "Sejak kapan Gavin sesibuk itu hingga meninggalkan acara penting seperti ini dan lagi kami baru pertama bertemu Setelah sekian lama. Jika ia tak marah padaku, Gavin tak akan meninggalkan pulau ini lebih dulu tanpa menemui ku."
__ADS_1
Arya selama ini tak bertindak apa-apa. Namun, ia tahu semua masalah adiknya. Ia tahu jika Sampai detik ini Gavin dan Diandra masih berkonsultasi dengan psikolog tentang apa yang pernah Kelvin lakukan. Arya memilih ikut merahasiakan kenyataan itu kepada orang lain. Hal itu adalah hak mereka untuk menyembunyikannya. Termasuk tak memberitahu pada Bunda dan Papanya.
"Sudahlah belakangan ini Gavin memang sangat Sibuk. Aku yakin itu memang pasti karena kerjaannya, besok kita akan kembali kamu bisa bertemu dengannya saat di rumah."
Walau Kelvin tak sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Namun, Ia tetap mencoba untuk yakin jika Gavin sudah memaafkannya begitu juga Diandra.
***
Di kamar hotel tempat Gavin dan Diandra menginap.
Gavin masuk ke kamar mandi, ia membersihkan tubuhnya.
"Aku pasti bisa melakukan semua ini, Nicholas benar jika aku terus menundanya itu tak akan membuahkan hasil apa-apa," ucapnya meyakinkan hatinya, menatap dirinya sendiri di balik cermin.
Diandra yang sedang duduk di atas tempat tidur memainkan ponselnya melihat ke arah Gavin.
"Kakak lupa membawa baju? Akan aku ambilkan," ucap Diandra bergegas untuk mengambilkan baju suaminya.
Diandra berjalan melewati Gavin. Gavin langsung menahannya dan menariknya mendekat ke arahnya membuat Diandra menjadi takut dan sedikit memundurkan langkahnya, Ia merasa aneh melihat tetapan Gavin yang melihatnya.
Diandra terus mundur. Namun, Gavin terus melangkah maju hingga Diandra tak bisa lagi mundur karena terhalang meja yang ada di samping tempat tidurnya.
__ADS_1
Gavin terus melangkah maju membuat Diandra menahan dada Gavin agar tak semakin mendekat.
"Kakak, ada apa denganmu?" tanya Diandra menatap mata Gavin dengan penuh ketakutan.
"Kita sudah lama menikah dan kita belum pernah melakukan hubungan suami istri. Apakah salah jika aku memintanya malam ini?" ucap Gavin, saat ini ia sudah tak bisa lagi menguasai dirinya.
Diandra tak bisa berkata apa-apa ia ingin menolak. Namun, Gavin selama yang terlalu baik padanya dan selalu menunggunya.
Apakah dia harus memberikan apa yang diinginkan oleh suaminya malam ini.
Dengan keberanian akhirnya Diandra mengangguk. Mendapat persetujuan dari Diandra, Gavin memulai dengan bibir Diandra, tumbuh Diandra langsung merespon sentuhan Gavin, tubuhnya bergetar hebat. Diandra berusaha untuk mendorong Gavin. ketakutan kembali menguasainya.
Gavin yang biasanya akan melepaskan dan menghentikan apa yang dilakukannya saat mendapat penolakan itu dari Diandra, tapi kali ini ia justru menahan tangan Diandra agar tak menghalangi apa yang sedang dia lakukan.
Gavin semakin memperdalam ciumannya, walau ia bisa merasakan tubuh gemetar Diandra .
Gavin mendorong Diandra ke tempat tidur membuat Diandra semakin ketakutan, bayangan saat itu kembali terulang jelas di ingatannya.
"Kak, aku mohon jangan lakukan ini, aku belum siap," ucap Diandra mencoba untuk menghindari Gavin, ia terus menangis dan mendorong tubuh Gavin. Namun, Gavin langsung menahannya. Ia tak menghiraukan isak tangis Diandra, Gavin terus memulai hubungan mereka.
Diandra terus menolak dan memberontak. Namun, seberapapun kekuatannya ia tak bisa menandingi kekuatan Gavin, Ia hanya bisa mencengkeram bahu Gavin saat Gavin mulai menyatukan tubuh mereka.
__ADS_1
Gavin terus melakukannya tak menghiraukan jeritan Diandra hingga ia mencapai pelepasannya.
"Maaf," satu kata itu yang terucap dari bibir Gavin, ia memeluk erat tubuh Diandra yang terkulai lemah dibawa kekungannya.