
Acara peluncuran games Sicret Partner level Diamond pun selesai, semua berjalan dengan sangat lancar bahkan melebihi ekspektasi mereka. Game online tersebut sudah diunduh ribuan kali bahkan jutaan kali oleh penggunanya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Fariz sangat puas dengan pencapaian game online yang dibuat Zidan, kali ini jauh lebih bersukses dari Secret Partner level lainnya.
"Selamat Pak atas keberhasilannya," ucap Gavin menjabat tangan Rafiz begitu juga dengan Abraham dan juga beberapa pengusaha lainnya yang ikut memberi selamat kepada mereka berdua, selaku pemimpin perusahaan dan investor terbesar dalam peluncuran Secret Partner tersebut.
Arsy menghampiri Gavin dan yang lainnya.
"Wah inilah sang juara kita! Kakak nggak nyangka kamu ternyata sangat pandai memainkan game itu!" ucap Gavin merangkul adiknya bangga.
"Aku juga nggak nyangka, Kak! Biasanya aku paling cepat mati jika memainkan game tersebut. Sepertinya aku tertolong dengan adanya Zidan," ucapnya tanpa sadar membanggakan bagiamana Zidan melindunginya, bahkan di saat terakhir Zidan merelakan hidupnya untuk menyelamatkannya dan membuat wanita yang dicintainya itu sampai ke level pemenang dan mendapatkan mahkota.
Zidan datang ikut bergabung dengan mereka.
"Wah tadi pernyataan cinta di game itu sangat menarik, aku yakin pasti akan banyak yang menggunakannya," ucap Diandra menaikkan jempolnya pada Zidan, mereka semua mengira jika itu adalah bagian dari game online yang sedang mereka mainkan.
Mereka semua tertawa gembira merayakan kesuksesan kerjasama mereka.
"Tapi semua itu bukanlah sebuah game semata. Aku benar-benar menyatakan perasaanku pada Arsy. Aku ingin menjadi kekasihnya," ucapnya membuat mereka yang tadinya saling memberi selamat langsung terdiam, semua langsung fokus pada Zidan kemudian berpindah kepada Arsy.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan?" tanya Bram membuat Rafiz kembali saling tatap dengan Nandira yang sedang bercengkrama dengan Mikaila.
"Iya aku benar-benar mencintai anak Anda. Jika Anda merestui kami, aku ingin bertunangan dengan Arsy," ucap Zidan mengeluarkan sebuah cincin yang sama persis dengan cincin yang tadi ada di dalam geme online yang mereka mainkan.
"Arsy membelalak sempurna melihat cincin itu dan mendengar pernyataan Zidan. 'Apa ini? Apa Zidan melamarku,' batinnya yang langsung melihat ke arah Papanya.
Semua kembali terdiam dan terpaku.
"Berani sekali kau melamar Arsy, apa kelebihanmu?" tanya Gavin.
"Bukan permainan tadi adalah sebuah kelebihan. Aku janji jika anda memberikan kepercayaan kepadaku aku akan selalu menempatkan Arsy di titik teratas kebahagiaan. Aku bahkan akan mengorbankan segalanya Untuk kebahagiaannya," jawab Zidan tegas membuat Syahida membekap mulutnya, sementara Lusi sudah pingsan mendengar pernyataan cinta pria yang selama ini di taksirnya.
Syahidah tak menyangka jika kakaknya yang begitu kaku dan juga selama ini terlihat tak tahu apa-apa tentang cinta, malam ini terlihat sangat romantis .
"Baiklah, kita bicarakan masalah pertunangan kalian itu lain waktu. Pak Rafiz aku mengundang Anda untuk ke rumahku untuk membicarakan hal ini," ucap Bram membuat Rafiz pun terkejut dengan apa yang Abraham katakan, itu berarti anaknya telah mendapatkan Restu darinya.
"Tentu saja Pak, ucapnya menjabat tangan calon besarnya itu.
__ADS_1
Nandira dan juga Mikaila juga saling berpelukan menyambut kebahagiaan yang akan mempersatukan Kedua keluarga.
Zidan bernafas lega, usahanya tak sia-sia walau ia harus menghabiskan waktu dan begadang untuk menciptakan game tersebut. Namun, dia berhasil dalam dua hal. Berhasil menjadikan game online tersebut, game nomor 1 di dunia dan juga berhasil mendapatkan kekasih hatinya.
Setelah acara selesai, mereka pun pulang ke kediaman masing-masing. Rafiz memeluk putranya. Papa bangga padamu," ucapnya menepuk pundak Zidan kemudian mereka pun masuk ke kamar masing-masing. Malam sudah larut membuat mereka memutuskan untuk beristirahat dan membicarakan masalah pertunangan Zidan keesokan harinya.
Sementara itu Arsy yang masih belum percaya dengan apa yang terjadi menghampiri kamar papa dan bundanya
"Papa boleh aku masuk?" tanyanya.
"Tentu saja, Sayang. Ayo silakan masuk ," jawab Bram mau Putrinya itu langsung berbaring di tengah antara Bram dan juga Mikaila.
Mikaila memeluk anaknya dan mereka berdua menghadap ke arah Bram yang tidur menghadap ke langit-langit kamarnya.
"Papa, apa Papa menyetujui Zidan?" tanya Arsy dengan Hati-hati.
"Hmmm, Papa bisa melihat kesungguhan di matanya dan juga Papa rasa tai ada yang lebih baik dari Zidan. papa pikir dia adalah orang yang tepat untukmu.
__ADS_1
Mendengar itu, Arsy tersenyum. Dalam hatinya ia juga merasa Zidan berbeda dari pria yang ia kenal. Ia seperti melihat sosok Papanya dalam diri Zidan, bertanggung jawab dan mampu melindunginya."
"Selain itu Papa bisa melihat masa depan yang cerah, Zidan tau menempatkan diri dan menentukan target bisnisnya, Papa suka dengan caranya berbisnis. Papa akan tenang jika menyerahkan mu padanya," ucap Bram mengecup rambut putrinya.