
Gudang itu benar-benar sudah kosong, banyak barang-barang mereka yang mereka tinggalkan begitu saja dan hanya membawa barang yang sudah mereka kemas.
Rafiz melihat semua itu dan ia yakin orang-orang di balik semua ini adalah orang yang berbahaya. Ia pun bergegas mengikuti Syahida yang berjalan semakin jauh masuk ke dalam dan terus meneriakkan memanggil nama kakaknya .
"Itu suara Syahida," ucap Kian yang dijawab anggukan oleh Zidan, Kemudian mereka pun membuka pintu ruang bawah tanah tersebut.
"Papa, Syahida," teriak Zidan kemudian Rafiz pun menghampiri putranya dan membantu mereka keluar dari sana.
"Kalian baik-baik saja kan?" tanya Rafiz pada keduanya dan ia melihat sosok pria dewasa yang juga ikut keluar dari ruang bawah tanah tersebut.
"Ini ayahku," jawab Kian yang tahu arti tatapan Rafiz pada ayahnya.
"Sebaiknya kita keluar dari sini, tempat ini sangat berbahaya," ucap Rafiz kemudian Ia pun menarik kedua anaknya untuk keluar dari sana.
"Tunggu, Pah! Di mana Memet?" tanya Zidan saat mereka sudah sampai di mobilnya.
Syahida memperlihatkan ponselnya, "Aku menyuruhnya untuk ikut di dalam salah satu mobil itu, agar kita bisa melacak kemana mereka pergi."
"Ya ampun, Syahida. Itu sangat berbahaya untuknya, bagaimana jika dia ketahuan?"
"Tenang saja, Polisi sudah mengikuti petunjuk yang Syahida kirim, sebaiknya kita pulang dan menyerahkan semuanya kepada pihak kepolisian," ucap Rafiz tak ingin mereka disangkut pautkan dengan masalah berbahaya di itu.
__ADS_1
"Kalian pulanglah, biar Ayah yang berusaha menyelamatkan teman kalian," ucap ayah Kian.
"Tidak, Ayah. Aku ikut," ucapnya yang ikut naik di mobil yang ayahnya naiki.
"Aku juga ikut," jawab Zidan menatap memohon pada papanya dan Rafiz pun percaya dan melepaskan tangan Zidan.
"Aku harus menyelamatkan Memet, dia adalah sahabatku. Dia ikut ke sini karena mengikutiku, jika dia tak ada takkan ada yang mengirim pesan pada Papa mengenai keberadaan kami."
"Berhati-hatilah, Papa ingin kau kembali dengan selamat dan juga temanmu. Jika kamu sudah menyelamatkan temanmu cepatlah kembali jangan ikut campur urusan mereka," pesan Rafiz yang dijawab anggukan oleh Zidan.
"Papa aku juga mau ikut, aku bisa membantu." Syahida juga meminta untuk ikut.
Walaupun Syahida terus saja merengek ingin ke ikut bersama mereka, Rafiz tak mengizinkannya. Ia tahu seberapa nekat putrinya itu jika sudah berhubungan dengan hal-hal seperti itu, ia tidak akan percaya jika Syahida hanya akan diam saat mengikuti mereka.
****
Sementara itu Memet yang menyelinap di salah satu mobil tersebut terus saja komat-kamit membaca doa, ia tak tahu apakah ia akan selamat atau tidak. Sepertinya yang melakukan saat ini adalah sebuah kesalahan. Mengapa ia harus mengikuti apa yang Syahida katakan. Bagaimana jika tak ada yang menyelamatkannya, ia akan terus ikut sampai ke tempat tujuan mereka. Bagaimana jika ia dikirim ke pulau terpencil bersama barang-barang itu! Memet bergidik ngeri membayangkan Itu semua terjadi padanya.
Beberapa saat kemudian, mobil tiba-tiba berhenti membuat Memet yang ada di dalam sana menajamkan pendengarannya. "Mengapa mereka berhenti?" tanyanya semakin bersembunyi. Tak lama kemudian ia mendengar suara tembakan membuat Memet semakin bergetar di dalam sana. Memet menunduk dan berlindung di balik kotak-kotak yang ada di dalam truk itu untuk menyelamatkan dirinya dari tembakan yang bisa saja mengenainya.
Tak lama kemudian ponsel Memet berdering, ia dengan cepat mengangkat panggilan dan itu panggilan dari Zidan.
__ADS_1
"Zidan Kamu di mana? Di sini terjadi baku tembak dan aku masih di dalam mobil. Aku sangat ketakutan, Syahida menyuruhku mengikuti mobil yang membawa barang-barang ini," ucapnya yang sudah bergetar memegang ponselnya.
"Tenanglah, kami sudah mendekati tempatmu dan juga beberapa polisi sudah datang untuk membantumu. Kau tenang saja tetaplah berada di tempatmu." Zidan sudah mendengar suara tembakan dan mereka pun menuju Ke sumber suara, sementara itu Memet mencari tempat yang aman, yang memungkinkan tak ada yang mendapat menemukannya sambil menunggu bantuannya datang.
Aksi baku tembak pun terjadi hingga polisi mampu meringkuk semua. Namun, beberapa orang berhasil kabur dari tempat itu termasuk Toni. Ayah Kian melihat hal itu pun mengejar Toni masuk kedalam hutan.
Kian yang melihat ayahnya pun ikut mengejar masuk ke dalam hutan, sementara Zidan menyelamatkan Memet, ia langsung tahu lokasi Memet dengan mengikuti alat pelacak yang sudah diaktifkan oleh Syahida.
Kian terus masuk ke dalam hutan mengikuti ayahnya yang mengejar Toni. Beberapa polisi juga mengikuti mereka dan kembali terjadi akibat tembak.
"Ayah teriak Kian. Namun, saat ayahnya berbalik ia melihat Kian terkena luka tembak membuat Ayahnya langsung berlari menuju Kian dan melindunginya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Ini sangat berbahaya," ucapnya melihat Kian yang terjatuh. Ia sangat panik. Namun, setelah memeriksanya ternyata Kian hanya terkikis peluru, lukanya tak begitu parah.
"Tunggulah di sini," ucap ayah Kian.
"Jangan pergi, Yah! Tetaplah disini bersamaku," ucap Kian mencekal tangan ayahnya. Ayahnya pun mendengar apa yang Kian katakan, membiarkan polisi mengurus semuanya dan dalam waktu 5 menit polisi sudah kembali membereskan sisa-sisa penjahat yang kabur tersebut.
Kian yang mendapat luka tembak di bagian perutnya segera dilarikan ke rumah sakit, walau hanya terkikis. Namun, itu cukup berbahaya jika dibiarkan.
Syahida yang mendengar itu segera menyusul mereka ke rumah sakit bersama Papa dan mamanya, mengingat Zidan juga ada di sana.
__ADS_1