Possessive Brother

Possessive Brother
Memet Sang pahlawan.


__ADS_3

Zidan dan Kian mencoba untuk meminta bantuan dengan menelpon seseorang. Namun, ternyata di tempat persembunyian mereka tidak ada jaringan membuat mereka tak bisa berbuat apa-apa.


Zidan mencoba mengutak-atik laptopnya. Namun, ia sama sekali tidak memiliki jaringan internet di tempat itu. Saat ini mereka berada di ruangan bawah tanah Ayah Kian mengarahkan mereka ke sana, hanya beberapa orang yang tahu tempat itu salah satunya adalah Ayah Kian dan mereka semua termasuk orang-orang yang menentang apa yang Tony lakukan malam ini.


"Ayah, apa Ayah yakin jika tempat ini aman untuk kita?" tanya Kian yang bisa mendengar suara langkah orang-orang yang ada di atasnya.


"Sebaiknya kita tetap disini, hanya ini tempat satu-satunya yang aman untuk kita bersembunyi saat ini sambil menunggu bantuan yang kalian maksud."


Mereka terus berkomunikasi dengan cara berbisik.


Sementara itu Memet di luar juga bersembunyi di balik semak-semak ia bahkan menahan saat ada serangga yang menggigitnya di mana pencarian juga dilakukan di luar gedung tersebut.


'Jika tahu situasinya seperti ini, aku tak akan ikut,' batin Memet mengeluh dengan keputusannya untuk ikut bersama dengan mereka. Namun, semua sudah terjadi Kini dia sudah dalam bahaya dan sama sekali tak tahu bagaimana keadaan kedua temannya yang berada di dalam gedung tersebut. Apakah mereka sudah ditangkap atau berhasil meloloskan diri.


Tak lama kemudian ia mendengar suara tembakan dan orang-orang yang berjalan di sekitarnya berlarian menuju ke arah tembakan tersebut. Memet yang melihat hal itu merasa lega sepertinya bantuan sudah menuju ke arahnya.


"Aku harus mencari tempat yang aman," gumamnya berpindah dari tempatnya mencari tempat yang lebih aman.

__ADS_1


Saling baku tembak pun terjadi, ternyata orang-orang tadi adalah orang-orang buronan yang selama ini dicari oleh pihak kepolisian.


"Ada apa? Suara apa di luar sana?" tanya Toni pada beberapa anak buahnya yang berlari masuk dan mendengar suara tembakan.


"Sepertinya penyusup tadi sudah melaporkan semua ini kepada polisi, kita harus cepat pergi dari sini membawa barang-barang kita, Bas," ucap salah satu anak buah dari Tony membuat mereka pun bergegas untuk menyingkirkan barang-barang yang sudah siap untuk diangkut.


Mereka melalui jalan pintas melewati jalan yang mengarah ke jalan lain yang berlawanan dengan tempat aksi saling baku tembak tersebut.


Memet yang melihat mobil tersebut keluar dari gedung dan melaju satu demi satu mengirim pesan kepada Syahida.


"Kamu gila, aku nggak mungkin mengambil resiko sebesar itu," tolak Memet yang sudah mendapat tempat persembunyian yang aman.


"Pikirkan saja jika kamu berhasil menggagalkan pelarian mereka, kamu akan menjadi pahlawan. Semua orang akan bangga padamu. Ayo cepat naik ke salah satu mobil dan jangan lupa terus aktifkan ponselmu, ucap Syahida sedikit memaksa membuat Memet yang mendengar kata-kata jika ia akan menjadi pahlawan membayangkan dirinya menjadi superhero kemudian Ia pun dengan sangat hati-hati mendekati salah satu mobil yang masih belum jalan, ia naik ke mobil tersebut dan menyelinap di dalam tumpukan barang-barang bawaan mereka.


"Bagus," puji Syahida saat melihat teman kakaknya itu terlihat melaju dengan teratur, Syahida yakin jika Memet mengikuti sarannya untuk naik ke salah satu mobil para penjahat itu.


"Papa, coba lihat! Beberapa penjahat sudah mulai meninggalkan lokasi ini," ucap Syahida memperlihatkan laptopnya pada Rafiz kemudian menyampaikan informasi itu kepada pihak kepolisian, membuat pihak kepolisian membagi beberapa regu dan meminta bantuan kepada tim lain untuk mencegah mereka ke jalan yang mereka tuju.

__ADS_1


"Apa Zidan berada di mobil tersebut?" tanya Rafiz.


"Tidak, sepertinya kakak masih sembunyi di dalam sana, tapi aku tak bisa melacak sinyal nya mungkin dia berada di tempat yang tidak memiliki jaringan sebaiknya kita cepat menyelamatkan Kakak, Pah. Syahida. Taakut jika terjadi sesuatu pada kakak di dalam sana dan menurut hasil pencariannya sepertinya beberapa penjahat sudah meninggalkan gedung tersebut.


"Papa akan coba melihat ke dalam kau tunggulah disini," ucap Rafiz kemudian Ia pun berjalan menyelinap menuju ke gudang tersebut dan benar saja gudang itu terlihat sepi, sepertinya benar apa yang dikatakan oleh syahida jika para penghuni gudang tersebut sudah meninggalkan gudang itu dan beberapa orang lainnya masih adu tembak dengan beberapa polisi mereka mencoba menghalangi polisi agar menghambat mereka untuk mengikuti mobil yang sudah membawa barang-barang milik mereka itu.


"Kakak Zidan," teriak Syahida membuat Rafiz yang mengendap-ngendap masuk ke dalam gedung pun terkejut.


Syahida, Papa kan sudah bilang kamu tunggu di dalam mobil saja.


"Nggak apa-apa, Pah. Gedung ini sudah aman, Syahida tidak mendeteksi adanya musuh yang tersisa di gedung tersebut,


Mereka semua sudah pergi dari gedung ini kita harus mencari kakak mungkin Kakak masih mengira jika masih ada orang di gedung ini dan tak berani keluar dari tempat persembunyiannya," ucap Syahida kemudian dia pun berlari masuk sambil terus meneriakkan nama kakaknya.


Ya Syahida melacak ponsel orang-orang di gedung itu menggunakan ponsel yang mereka. Syahida bisa melihat jika tak ada satupun koneksi internet di gedung itu yang tersambung ke ponsel para penjahat yang tadi.


Namun, yang aneh ia tak mendapat koneksi Kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2