
Setelah membantu Aira dan juga Shakila Zidan dan Syahida pun pamit.
Arsy ikut pengantar mereka pulang hingga depan pintu utama, Zidan sangat senang walau hanya bertemu sebentar dengan wanita pujaannya.
"Shakila, Ayo kita ke mobil," ajak Syahida yang mengerti jika Zidan ingin mengatakan sesuatu pada Arsy.
"Kamu masih ingat kan pembicaraan terakhir kita?" tanya Zidan.
"Pembicaraan terakhir? maksudnya?"
Zidan menggala nafas mendengar jawaban Arsy. Sepertinya Arsy tak menganggap serius ucapannya hari itu.
"Hari itu aku serius mengatakannya, jika aku berhasil merebut hati ketiga kakakmu kamu harus mau jadi pacarku."
"Oh pembicaraan yang itu ya," ucap Arsy bingung harus menjawab apa.
"Aku akan mulai mendekatkan diri kepada kakak-kakakmu, aku akan menagih pembicaraan kita ini saat aku berhasil. Aku ingin kau katakan iya sebelum aku pulang."
"Ya udah, iya," jawab Arsy.
'"Nah gitu dong. Ya udah aku pulang dulu ya, Sayang," ucap Zidan mengedipkan mata pada calon Kekasihnya itu. Membuat yang dipanggil sayang membelalakkan matanya, Arsy terkejut dan langsung melihat ke arah dalam, ia takut jika pembicaraan mereka didengar oleh yang lainnya.
"Apa mereka sudah pulang? kenapa kamu masih di luar?" terdengar suara Bram dari dalam yang melihat putrinya masih berdiri di depan pintu. Zidan dengan cepat berlari menuju mobilnya.
"Iya, Pah! Aku masuk," ucap Arsy melambaikan tangan pada mereka sebelum ia menutup pintunya.
"Shakila, besok kamu pinjamkan lagi ya buku kamu pada Aira, biar kita bisa ke sini lagi," ucap Zidan melihat pada adik bungsunya.
"Oke Kak," jawab Shakila mengacungkan jempolnya. Ia juga senang bermain bersama dengan Aira.
"Kak, apa beneran gak boleh ya, aku menjalin hubungan dengan Kian? Kian itu orangnya baik kok, selama ini dia selalu sopan padaku."
"Iya kakak sudah setuju, kamu boleh jalan dengan Kian, tapi nggak berarti ya kalian bisa seenaknya. Kamu harus tetap izin sama kakak jika ingin jalan."
"Ok Kakak," ucap Syahidah juga mengacungkan jempolnya pada kakaknya kemudian ia dan Shakila melakukan tos.
"Kita singgah beli es krim kan, Kak?" tanya Shakila menagih janji.
"Iya, kita beli eskrim nya di tempat biasa aja," ucap Zidan.
Begitu mereka sampai di toko es krim yang biasa mereka datangi, ternyata di sana sudah ada Kian. Ya Syahida sudah mengirim pesan saat mereka akan pulang tadi, jika mereka akan ke toko eskrim tersebut dan memintanya untuk menyusul.
Sejak pertemuan terakhir Zidan dan Kian, kedua lebih sudah menjadi lebih akrab.
Syahidah dan Shakila langsung menghampiri Kian dan mengajaknya duduk sambil menikmati es krim yang sudah dipesan Kian sebelumnya untuk mereka.
__ADS_1
Kian asik berbicara dengan Syahidah sedangkan Zidan juga asik mengirim pesan kepada Arsy, hubungan mereka juga semakin dekat. Arsy sudah mau membalas chatnya.
Sementara Shakila sibuk dengan es krim berbagai rasa yang ada di depannya.
****
Di kediaman Abraham Wijaya.
Gavin dan Diandra akan keluar, mereka menghampiri Mikaila.
"Bunda, aku keluar dulu ya," pamit Gavin pada Mikaila yang sedang duduk bersama dengan Kelvin dan juga Natali.
"Iya, Nak. Jangan kemalaman ya pulangnya, hati-hati di jalan. kamu harus menjadi menantu bunda," ucap Mikaila.
"Iya bunda kami hanya jalan-jalan di luar kok," jawab Gavin kemudian mereka pun keluar dan hanya melihat pada Kelvin dan Natali.
"Bunda kami juga keluar ya," ucap Kelvin langsung menarik tangan Natali mengikuti mereka.
"Bunda, titip Derren ya."
"Iya, kalian tak perlu khawatir."
Begitu Gavin masuk ke dalam mobil dan juga Diandra. Kelvin dan Natali juga ikut duduk di jok belakang, Gavin melihat ke arah belakang, melihat kakaknya dan kakak iparnya.
"Kami juga ingin jalan-jalan, nggak apa-apa kan nebeng sama kalian?"
"Kalian mau ke mana?" tanya Gavin melihat kelvin dari kaca spionnya.
"Aku sudah lama tak jalan-jalan di negara ini, aku tak tahu tempat-tempat mana yang bagus. Kami ikut kalian saja."
Gavin hanya menghela nafas mendengar jawaban dari kakak kembarnya.
"Kami nggak kemana-mana, kami hanya ingin ke Bioskop saja."
"Ide bagus, kamu juga sudah lama nggak nonton," jawab Kelvin mencoba mendekatkan diri dengan mereka.
Semua terdiam beberapa saat. Kelvin tak tahu harus memulai pembicaraan dengan mereka, suasana menjadi canggung. Natali juga tak tahu harus berbicara apa pada Diandra, selama ini Diandra tak pernah mengajaknya berbicara dia hanya menjawab apa yang Natali katakan.
Mereka sudah sampai di bioskop, lagi-lagi Kelvin memesan tiket yang sama dengan Gavin.
Gavin membiarkan kakaknya itu mengekor di belakangnya.
Saat di dalam bioskop Kelvin sengaja mengambil tempat duduk di belakang Gavin dan Diandra. Kelvin bisa melihat kehangatan yang terjadi di antara mereka.
"Sepertinya mereka baik-baik saja. Mereka terlihat begitu bahagia," bisik Natali pada suaminya.
__ADS_1
Kelvin hanya mengangguk dia juga merasa senang melihat kebahagiaan adiknya, di mana terlihat Diandra bersandar didada Gavin yang merangkulnya sambil menikmati film yang sedang diputar. Sesekali Gavin terlihat mengecap kepala Diandra dan mereka juga terlihat tertawa saat melihat adegan lucu di layar.
Keluar bioskop, Gavin dan Diandra terus bergandengan tangan.
"Kami ingin membeli sesuatu, jika kalian ingin pulang pulanglah lebih dulu, Kakak bisa bawa mobilku. Aku bisa naik taksi," ucap Gavin memberikan kunci mobilnya.
"Nggak kok, kami juga nggak buru-buru. Lagian Natali juga ingin membeli sesuatu, iya 'kan?" tanya Kelvin membuat Natalia hanya mengganggu mengikuti apa yang Kelvin minta.
Gavin dan Diandra kembali berjalan ke Salah satu tokoh pakaian. Kelvin sengaja berjalan agak menjauh dari mereka membiarkan Natali memilih pakaian yang di inginkannya sementara ia terus memperhatikan adiknya itu dari kejauhan.
"Kamu beli ini ya," bisik Gavin mengambil lingerie dan memberikannya kepada Diandra.
"Aku udah punya banyak, Kakak. Kakak kan selalu membelinya. Dirumah aja masih banyak yang belum dipakai," jawab Diandra mengembalikan lingerie tersebut.
"Nggak apa, kita beli aja satu. Makanya tiap malam kamu pakai dong," ucap Gavin menggoda Diandra dan mendapat pukulan di lengannya.
Kelvin yang mendengarnya, ikut tersenyum. Sepertinya hubungan mereka sudah lebih baik.
Kelvin mengirim pesan pada dokter Nicholas, mengatur pertemuan agar mereka bisa bertemu besok.
"Baiklah, kamu boleh datang ke Klinik ku," jawab dokter Nicholas.
Kelvin pun menemani Natali untuk berbelanja keperluannya, sekarang ia sudah yakin jika adiknya itu sudah baik-baik saja, ia sedikit lebih tenang. Namun, ia ingin memastikan suatu hal lagi sebelum ia pulang ke negaranya.
Keesokan Harinya
Kelvin mendatangi dokter Nicholas seperti janji mereka. Kelvin ingin mencari tahu apakah Diandra masih trauma saat Gavin menyentuhnya, seperti yang ia ketahui selama ini.
Awalnya Dokter Nicholas tak mau memberikan informasi tentang pasiennya. Namun, Kelvin terus memohon dan ia juga mengatakan jika ia tak akan tenang sampai mengetahui hal itu.
Dokter Nicholas yang tahu jika semua itu terjadi karena Kelvin, akhirnya mengatakan jika semuanya. Jika kondisi Diandra saat ini sudah semakin membaik, ia sudah berusaha melawan rasa traumanya. Gavin juga sudah berhasil menyentuh Diandra.
"Sekarang mereka sedang melakukan program kehamilan, semoga saja kehadiran janin di rahim Diandra itu akan mengobatinya, membantunya merasa nyaman.
Mendengar hal itu Kelvin sangat senang, bebannya sedikit berkurang, beban yang selama ini dipikulnya.
☘️☘️☘️☘️
Rekomendasi author hari ini. Yuk mampir kak🙏🤗🤗
Blubr:
21+
Menjadi penghangat ranjang lelaki beristri tega Retha lakukan demi mendapatkan uang. Hubungan yang awalnya sebatas saling membutuhkan lambat laun menumbuhkan cinta.
__ADS_1
Ketika cinta mulai bersemi di antara mereka, istri Bara yang telah lama pergi tiba-tiba kembali. Apa yang akan Retha lakukan menyadari posisinya sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Bara dan Silvia?