
Pagi hari di kediaman Abraham Wijaya, semua sudah berkumpul di meja makan, mereka akan makan bersama setelah sekian lama mereka berpisah jarak. Setelah sekian lama, kebersamaan mereka lengkap ketiga putra Abraham Wijaya berkumpul bersama dengan para istrinya begitupun dengan Arsy. Bram dan Mikaila sangat bahagia melihat anak-anak mereka bisa berkumpul.
"Ayo kalian makan, ini Bunda sudah masak makanan kesukaan kalian semua. Bunda sangat senang hari ini kita bisa berkumpul bersama," ucap Mikaila mulai memberikan makanan kesukaan masing-masing pada ketiga putranya dan putrinya.
"Ayo Sayang dimakan makanannya," ucap Mikaila juga memberikan kepada Natali yang duduk di sampingnya.
"Bunda nggak ngasih di piring Raina juga?" ucap Raina mencandai mertuanya.
"Iya Sayang, sini biar Bunda sajikan juga makanannya untuk kamu!" ucap Mikaila mengambil piring menantu dari anak sulungnya itu, membuat yang lainnya hanya tersenyum melihat tingkah Raina.
"Ayo Diandra sini piring kamu, Bunda sajikan juga," ucapnya tak ingin ketiganya merasa jika mereka dibedakan.
"Tante, kok Tante belum punya bayi?" tanya Aira dengan polosnya.
Pertanyaan itu sukses membuat semua membeku, mereka saling menatap satu sama lain mereka semua tahu alasannya mengapa sampai saat ini salah satu menantu Wijaya itu belum memberikan keluarga baru bagi mereka. Semua tahu kondisi Diandra. Namun, mereka hanya sekedar tau dan diam. Bukan hanya Kelvin, Arya dan Bram yang tau, tapi Mikaila juga tahu kondisi Diandra. Namun, mereka tetap diam dan menghormati urusan rumah tangga Gavin, mereka semua tak ingin terlalu ikut campur dan mempercayakan semua urusan pada Gavin sebagai kepala rumah tangganya.
"Aira mungkin tante Diandra memang belum dikasih kepercayaan sama Allah, kita harus sabar dan mendoakannya," jelas Arsy yang menjawab pertanyaan keponakannya itu.
"Oh begitu ya, Kak. Aku sudah tak sabar ingin punya Ade bayi lagi," ucap Aira dengan senyum manisnya. .
"Oya Kak. Kakak tertua Nara juga sudah menikah selama 10 tahun, tapi mereka belum dikaruniai anak, tapi aku dengar kemarin dia sudah hamil. Arsy doakan kakak juga akan diberikan anugerah secepatnya," ucap Arsy juga memperlihatkan senyum manisnya.
"Amin, semoga saja kita secepatnya akan mendengar suara bayi lagi," sahut Bram.
Mereka fokus pada makanan masing-masing, sesekali mereka melirik ke arah Diandra dan Gavin begitu juga dengan Mikaila yang menetap kasihan pada putranya, ia tak menyangka jika anaknya itu bisa sesabar itu menghadap masalahnya, di antara ketiga putranya Gavin lah yang tak sabaran dalam segala hal.
"Arya bagaimana dengan kepindahanmu ke kota B?"
"Aku sedang mengurus Semuanya, Pah! Bulan depan mungkin aku akan pindah."
__ADS_1
Mendengar itu Mikaila menghela nafas, kali ini ia akan kembali berpisah dengan satu anaknya lagi. Namun, ia sadar mereka bukan lagi anak-anak, mereka semua sudah dewasa dan memiliki keluarga serta tanggung jawab pada pekerjaan mereka membuat Ia mau tak mau harus setuju.
"Nggak apa-apa Bunda, aku perginya nggak jauh. Setiap minggu aku janji akan pulang ke rumah ini," ucap Arya yang tahu kegelisahan hati bundanya.
"Gavin kamu jangan coba-coba berpikiran untuk pindah juga, kamu tinggal di sini saja temani Bunda selamanya."
"Iya Bunda, emangnya Gavin mau ke mana."
"Kan ada aku Bunda, aku akan selalu menemani Bunda," ucap Arsy.
"Sayang, kamu itu anak perempuan suatu saat nanti akan ada pria yang akan menikahimu dan kamu harus mengikuti suamimu."
"Nggak. Aku nggak mau pergi dari rumah ini, Jika dia mau menikah dengan Arsy dia harus siap tinggal di rumah ini."
"Bunda kok jadi nggak sabar ya melihat kamu menikah, siapa ya jodoh kamu," ucap Mikaila tertawa saat melihat ekspresi putrinya mendengarkan kata-katanya.
"Setelah sarapan seperti biasa Arsy akan berangkat ke sekolah dengan Clara. Arya, Gavin dan juga Bram berangkat ke kantor. Bram akan berangkat ke kantor hanya sesekali untuk mengecek hasil kerja putra-putranya.
Siang hari Diandra masuk ke dapur untuk mengambil air minum, kebetulan Kelvin juga ada di sana.
Diandra menghentikan langkahnya dan ingin kembali kekamarnya. Namun Kelvin langsung menghentikan.
"Diandra boleh kita bicara," ucap Kelvin. Diandra yang mendengar itu menghentikan langkahnya dan menggenggam erat gelas yang ada di tangannya.
"Sebentar saja. Aku mohon! Aku tahu aku sudah bersalah padamu, tapi berikan aku kesempatan untuk meminta maaf padamu."
"Aku sudah Maafkan kakak," jawab Diandra tanpa berbalik menatap Kelvin. Ia bisa merasakan tubuhnya mulai bergetar menahan traumanya.
"Kamu maafkanku, tapi kau masih belum menerima Gavin sebagai suamimu kan?"
__ADS_1
Diandra yang tadinya ingin melangkah kembali menghentikan langkahnya. Dari mana dia tahu? Apakah semua orang tahu jika ia belum memberikan hak Gavin. Diandra bisa melihat tatapan mereka saat sarapan tadi, saat Aira menyinggung masalah anak.
"Aku tau semua, aku mencari tau sendiri Gavin pun tak tau jika selama ini aku selalu mengawasi kalian. Aku merasa bersalah, Semua keadaan ini adalah salahku."
Mendengar itu Diandra tetap melanjutkan langkahnya.
"Diandra," ucap Natali juga menghentikan langkah Diandra yang kebetulan bertemu dengannya. "Kami juga tak tenang, Kami selalu memikirkan kalian."
"Kalian tak usah memikirkan ku, Aku bahagia dengan pernikahanku. Aku mencintai kak Gavin dan juga sebaliknya." ucap Diandra berlalu meninggalkan Natali. Natali hanya melihat Kelvin yang juga masih merasa bersalah dengan Kejadian beberapa tahun yang lalu, di mana saat itu dia sedang mabuk dan tak sengaja melakukan hal yang tak seharusnya pada Diandra. Dimana saat itu Diandra masih bekerja di apartemennya. Saat Kelvin masih menempuh pendidikannya di luar negeri.
Kelvin duduk di meja makan. Natali pun menghampirinya.
"Sebaiknya kita tinggal di beberapa hari di sini sampai Diandra benar-benar memaafkanmu. Percuma saja kita pulang, tapi pikiranmu masih ada pada mereka."
"Tapi kamu lihat sendiri kan dia bahkan tak mau menatapku. Dia mengatakan jika dia memaafkanku. Namun, terlihat jelas jika dia masih marah padaku. Gavin pun sudah mulai menghindariku, dia juga pasti marah padaku."
"Semua itu kan kejadian dan tak disengaja. Kakak juga sudah berusaha untuk memperbaikinya jangan terlalu menyalahkan dirimu. Aku yakin Gavin dan Diandra suatu saat nanti akan melupakan semua itu dan memaafkanmu, mereka juga akan mendapat kebahagiaan di rumah tangga mereka."
"Semoga saja itu segera terjadi aku benar-benar tak bisa tenang. Sampai hari itu datang."
Mikaila yang ada di balik dinding mendengar semua pembicaraan mereka, mendengar saat Diandra juga berada di dapur. Ia berpikir semua sudah baik-baik saja. Namun, ternyata kedua rumah tangga anaknya masih terikat pada Kejadian beberapa tahun yang lalu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Rekomendasi Author hari ini 😁
Yuk mampir 🤗
__ADS_1