Possessive Brother

Possessive Brother
Kemampuan Zidan


__ADS_3

Keesokan harinya saat pulang sekolah Zidan dan kawan-kawannya langsung berangkat ke kantor dengan setelan jas lengkap yang mereka kenakan.


Mereka berempat berjalan keluar menuju ke parkiran, membuat satu sekolah heboh dan melihat ke arah mereka.


"Syahida, kenapa Zidan semakin hari semakin tampan sih, apalagi dengan balutan jasnya. Sayang banget dia suka sama orang lain, padahal dari kecil aku udah pendekatan," lirih Lusy menatap nanar pada Zidan yang berjalan ke parkiran.


"Apa kamu ikut bekerja bersama dengan Zidan di kantor papamu?" tanya Nara.


"Kamu nggak lihat siaran langsungnya semalam Ya? Itu kan juga bagian dari pekerjaan dan berhubungan dengan mereka, Iya kan?" tanya Lusy melihat Syahida.


"Tentu saja, apa Kalian juga mau bergabung? Nggak terlalu sulit kok sama aja saat mengerjakan konten-konten kita."


"Apa kita akan bekerja sama dengan mereka? Maksudku dengan Zidan? Apa kita juga akan memakai pakaian resmi?" tanya Lusy bersemangat.


"Kak Zidan kerja di kantor sedangkan aku hanya bekerja di studio kita. Kita hanya akan bekerja sama dengan Riza, dia yang mengurus bagian promosi," ucap Syahida membuat Lusy langsung cemberut. Namun, tidak dengan Nara, ia tersenyum penuh arti. selain Zidan, Riza salah satu pria tertampan di sekolah mereka, begitu juga dengan Nizam kecuali Memet yang mukanya sangatlah standar di mata Nara.


***


Zidan yang sudah sampai di kantor langsung menemui Papanya di ruang kerjanya.


"Siang, Pah!" Zidan langsung menghampiri Papanya. Mereka berempat berjalan masuk, Zidan dan Nizam duduk di kursi sedangkan Memet dan Riza berdiri di belakang mereka.

__ADS_1


"Apa kalian yakin akan bekerja? Mungkin itu akan menyita waktu kalian. Kalian masih sangat mudah, belum saatnya kalian bekerja?" tanya Rafiz.


"Aku siap Om," jawab Nizam cepat dan pasti.


"Aku juga siap, Om," jawab Memet tak mau kalah.


"Bagaimana dengan kamu?" tanya Rafiz pada Riza, "Bukannya ayah kamu punya perusahaan sendiri. Apa Ayahmu mengizinkan kamu bekerja di sini?" tanya Rafiz pada Riza. Ayah Riza merupakan salah satu rekan bisnisnya.


"Aku sudah izin Om. Ayah membolehkan ku bekerja, tapi cuman sekitar satu atau dua tahun saja sekedar untuk mencari pengalaman kerja," jawab Riza.


"Baiklah kalau begitu, kalian tandatangani terlebih dahulu kontrak kerjasama yang tak akan mengikat kalian, tapi tenang saja kalian bisa keluar kapan saja kalian mau, kalian akan digaji sesuai dengan waktu kerja kalian. Aku akan memperbaharui kontrak kalian saat kalian sudah usia kerja, setidaknya saat kalian lulus nanti," jawab Rafiz menyerahkan kontrak kerjasama kepada ketiganya.


"Papa sudah menyiapkan ruangan di lantai bawah untuk kalian, mintalah resepsionis untuk menunjukkannya!"


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu, Pah!" ucap Zidan kemudian mereka pun turun ke lantai bawah menghampiri resepsionis dan menyenangkan ruangan yang sudah disiapkan untuk mereka.


Resepsionis mengantarkan mereka ke


ruangan yang sudah di siapkan untuk mereka, ruangan mereka sedikit berbeda dari ruangan karyawan lainnya dimana ruangannya lebih mirip dengan ruang rapat agar mereka bisa leluasa membahas kerjasama mereka dan Zidan bisa membimbing Teman-teman juga.


Rafiz juga memberikan ruang tempat beristirahat mengingat waktu mereka akan terbagi dengan sekolah. Mereka bisa menginap di kantor jika mereka mau.

__ADS_1


"Tak mau buang waktu, Zidan langsung mengerahkan semua kemampuannya, ia mengerjakan secepat mungkin proses pengembangan Secret partner level diamond yang sudah direncanakan, dan di luar ekspektasinya ternyata Nizam mampu mengerjakan apa yang diarahkan oleh Zidan dengan sangat cepat.


Begitupun dengan Riza, dia langsung mengatur dan membantu Syahida, mereka mulai menyeleksi para pendaftar yang ingin ikut dalam perlombaan.


Berbeda dengan Memet, Ia hanya menggaruk kepalanya. Ia sama sekali tak mengerti apa yang harus dikerjakannya membuat dia hanya terdiam dan memainkan penanya.


"Met,a bisa ambilin minum gak," sahut Zidan.


"Tentu saja," ucapnya melakukannya dengan sangat cepat.


"Met, seperti memang pekerjaan itu yang cocok untukmu."


Saat sedang sibuk dengan berkas dan laptop nya, Syahida menelpon Zidan.


"Iya. Ada apa? Aku sedang sibuk," jawabnya.


"Kak sepertinya Arsy juga mendaftar dalam lomba," ucap Syahida membuat Zidan menghentikan aktivitasnya.


"Benarkah? ya udah atur agar dia bisa masuk ke tahap lanjutan, aku akan mengajaknya bermain saat peluncuran nanti," pinta Zidan.


Zidan senyum penuh keyakinan, sebuah ide muncul di otak genius nya. Zidan sudah mengatur rencana untuk membuat kejutan bagi semuanya.

__ADS_1


__ADS_2