Possessive Brother

Possessive Brother
Kunjung Zidan.


__ADS_3

Arsy sedang duduk tapi kolam renang bersama dengan Kelvin, mereka mencelupkan kakinya kedalam kolam.


"Rasanya baru kemarin kakak meninggalkanmu, kamu masih sangat kecil. Tapi, lihat sekarang kau bahkan mengalahkan tinggi badan Natali," ucap Kelvin.


"Ya iya dong, Kak. Kakak sudah pergi cukup lama, beberapa bulan lagi aku juga sudah masuk di universitas, sudah pasti aku bukan anak-anak lagi."


Kelvin Menghela nafas, "Tapi, Kakak lebih senang saat kau menjadi seorang adik kecil kakak. Sama saat beberapa tahun yang lalu."


Arsy mengalungkan tangannya di lengan kakaknya. kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Kelvin.


"Sampai kapanpun aku akan tetap menjadi adik kecilnya Kakak, aku sangat sayang sama kakak."


"Apa kamu mau melanjutkan kuliahmu di luar negeri? Kamu bisa ikut dengan kakak," ajak Kelvin.


"Aku sih mau aja kuliah di luar negeri, bahkan Nara dan Lusy juga sudah merencanakan untuk kuliah di sana." ucapnya cemberut.


"Lalu apalagi yang kamu ragukan kamu bisa ikut dengan kami, kakak akan menjagamu di sana."


"Aku nggak yakin! Apakah aku bisa pisah sama bunda dan papa," lirihnya.


Mendengar alasan adiknya menolak untuk ikut dengannya membuat Kelvin terdiam, ia bisa melihat bagaimana kedekatan antara adiknya itu dengan kedua orang tuanya. Memang sangat tak mungkin jika mengajak Arsy ke luar negeri, ke tempat tinggalnya sekarang tanpa harus membawa serta papa dan bundanya.


"Tapi, jika kakak bisa membujuk Bunda dan papa untuk ikut bersama dengan kakak, aku rasa aku bisa kuliah di luar negeri, rumah ini di urus Kak Gavin saja dan Kak Diandra. Oya Clara juga sudah meminta izin pada kak Gavin untuk kuliah di luar negeri dan sudah diizinkan. Masa ia aku sendiri di sini, Semua temanku kuliah di luar negeri," ucapnya memohon kepada kakaknya agar membujuk papa dan Bundanya untuk ikut ke luar negeri bersamanya saat lulus nanti, walau itu mustahil. Namun, Arsy menyimpan sedikit harapan untuk bisa tetap kuliah bersama teman-temannya.


"Baiklah nanti bicara kan dengan papa setelah kelulusanmu, tapi Kakak nggak janji. Kakak juga nggak yakin kalau itu akan berhasil. Kakak rasa papa dan bunda nggak akan mau meninggalkan rumah ini."


Mereka terus berbincang-bincang. Tak lama kemudian Zidan datang menghampiri keduanya.


"Selamat malam Kak, Arsy. Apa aku boleh gabung?" tanya Zidan mendekat ke arah mereka.


"Zidan!" ucap Arsy yang melihat Zidan ada di rumahnya. ia serasa bermimpi. Namun, memang Zidan berdiri di hadapan mereka.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Kelvin.

__ADS_1


"Aku mengantar adikku bertemu dengan Air. Maaf tadi aku tak sengaja mendengarkan pembicaraan kalian, tapi aku pikir kuliah dalam negeri juga nggak ada bedanya dengan kuliah di luar negeri tergantung bagaimana kita belajar saja sih."


"Tapi kan teman-teman aku semua kuliah di sana!"


"Kan ada aku di sini yang bisa menemanimu," ucap Zidan membuat Arsy langsung membeku dan melirik kakaknya.


"Kamu benar, sekolah di luar negeri atau dalam negeri jika kita memang niatnya untuk menuntut ilmu aku rasa itu sama saja, sekarang kita bisa mengakses banyak informasi melalui internet, tapi Arsy tak butuh teman sepertimu," ucap Kelvin menatap tajam pada Zidan.


Zidan ingin menjawab Kelvin. Namun, ia menahan diri, Zidan sadar akan posisinya saat ini, jika ia harus merebut hati ketiga kakaknya dan tak boleh membuat mereka semua semakin marah padanya."


"Kakak" teriak Syahidah yang berdiri melihat mereka dari dalam rumah kemudian berjalan cepat menghampiri mereka.


"Kakak kok ninggalin aku sih, aku sampai nyasar. rumah ini besar sekali," gerutunya sambil terus berjalan menghampiri mereka.


"Syahidah! Ayo gabung ke sini," panggil Arsy dimana Zidan juga sudah duduk bersama dengan mereka, ikut mencelupkan kakinya di dalam kolam walau Ia tetap menjaga jarak antara dirinya dan Arsy.


Syahidah duduk dekat Arsy,


Arsy hanya tersenyum menanggapi ucapan Syahidah, memang beberapa temannya yang baru pertama kali datang ke rumahnya mereka pasti akan tersesat tadinya mereka agak ingin pergi keluar namun mereka akan sampai ke dapur rumah itu.


"Memangnya Shakila Ada perlu apa dengan Aira?" tanya Arsy.


"Katanya mereka mau kerjaan PR bersama-sama, tadinya kami berencana hanya ingin mengambil buku Shakila yang dipinjam Aira, tapi sepertinya mereka memilih mengerjakan pekerjaan rumahnya bersama-sama. Tapi, nggak tahu deh tadi saat aku meninggalkan mereka, mereka belum memulai mereka masih bermain.


"Lalu kenapa kamu tak membantunya dan meminta mereka untuk cepat mengerjakan semuanya. Ini sudah jam berapa nanti mereka keburu tertidur sebelum mengerjakan pekerjaan rumahnya."


"Kok aku sih, kan kakak yang di minta


papa, aku hanya mengantar Kalian."


Zidan yang mendengar jawaban adiknya pun kembali menghela nafas kemudian Ia pun berdiri dan berjalan masuk meninggalkan mereka. Ia tak ingin jika sampai adiknya itu tak mengerjakan PR dan malah hanya asyik bermain.


Melihat Zidan masuk ke dalam rumah, Kelvin pun berdiri dan menyusulnya.

__ADS_1


"Kalian mengobrol lah, kakak mau masuk dulu," ucap Kelvin membuat Syahidah dan juga Arsy mengangguk sambil tersenyum mengizinkan Kelvin untuk pergi.


Kelvin berjalan cepat dan menyusul Zidan yang sedang di bawah oleh pembantu rumah tangga itu untuk menuju ke kamar Aira dan benar saja saat sedang membuka pintu keduanya bermain, meninggalkan buku pelajaran mereka di atas meja."


"Oke, anak-anak, waktu bermainnya sudah selesai. sekarang waktunya kita belajar,


ayo sini kakak ajarkan pekerjaan rumah kalian biar cepat selesai! Nanti kalian keburu ngantuk sebelum mengerjakannya," ucap Zidan berjalan menghampiri buku-buku kedua bocah kecil itu, kemudian ia melihat pekerjaan rumah seperti apa yang diberikan oleh guru mereka.


"Kakak ajarin kita ya," ucap Shakila kemudian duduk di samping kakaknya begitu pula dengan Aira.


"Ia nanti kakak tuntun untuk mengerjakannya biar cepat selesai dan kita bisa pulang nanti mama khawatir lagi kalau kita pulangnya terlambat," ucap Zidan kemudian mulai menerangkan cara mengerjakan pekerjaan rumah tersebut. Kelvin melihat bagaimana Zidan berinteraksi dengan anak-anak,


"Sepertinya dia memang pria yang baik," gumam Kelvin pelan kemudian Ia pun berjalan menuju ke kamarnya .


☘️☘️☘️


Rekomendasi karya teman, yuk semua mampir,.


☘️☘️☘️


"Where is, Minerva Bee?" tanya Austin menyeruak kumpulan orang yang sedang mengelilingi Minerva.


"Here is Me." ucap Minerva membuat seorang Austin Wycliff terpana.


Gadis yang tadi ditabraknya ternyata yang mengalahkannya kali ini. Tidak hanya itu, Minerva juga akan makan malam gratis di cafenya selama satu minggu. Austin berjalan ke arah Minerva dan bertanya siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Austin memang tidak terkalahkan.


"Who are you?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.


"Bukankah kau lebih tahu siapa yang kini menjadi lawan mainmu?" tanya Minerva menantang Austin.


Austin sedikit terkejut mendengar jawaban Minerva kali ini. "Baiklah, kau berhak makan malam gratis di cafeku selama satu minggu penuh. Dengan syarat kita akan tetap bermain selama itu. Kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita." ucap Austin sambil meninggalkan Minerva.


__ADS_1


__ADS_2