Possessive Brother

Possessive Brother
Kabar Bahagia


__ADS_3

Gavin berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit, ia tak sempat menanyakan kabar istrinya lebih lanjut kepada bundanya, yang ada dalam pikiran Gavin saat ini ia harus segera sampai ke rumah sakit.


Gavin semakin mempercepat langkahnya saat melihat Bundanya itu menangis dan duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat Diandra.


"Bunda ada apa? Apa yang terjadi dengan Diandra? Apa Diandra terluka?" tanya Gavin mulai panik. Namun, Bundanya tak bisa berkata apa-apa Ia hanya menggeleng dan terus terisak.


Tak lama kemudian Abraham juga datang, sebelum menelpon Gavin Mikaila menelpon suaminya terlebih dahulu, mengabarkan jika ia di Rumah Sakit bersama dengan Diandra.


"Sayang ada apa dengan Diandra?" tanya Bram menghampiri istrinya. Namun, lagi-lagi Mikaila menggeleng, ia tak bisa berkata apa-apa ditengah isakannya.


Gavin yang tak mendapat jawaban dari Bundanya bergegas masuk dan melihat Diandra yang masih terlihat pucat berbaring di tempat tidur.


"Sayang kamu kenapa? kamu kok ada dirumah sakit? Apa yang sakti? Kata Bunda tadi kamu pingsan ya?" tanya Gavin menggenggam tangan Diandra, sesekali mengecupnya menatap istrinya dengan penuh cinta. Namun, sama saja Diandra yang ditanya juga tak bisa menjawab ia terus menangis membuat Gavin dan juga Bram semakin bingung dibuatnya. Mereka bahkan berpikir jika mungkin saja Diandra memiliki penyakit yang serius.


Dokter pun masuk, kembali memeriksa Diandra.


"Dokter Sebenarnya apa yang terjadi pada istriku? Kenapa mereka berdua menangis?" tanya Gavin menunjuk istri dan bundanya.


"Istri Anda tak apa-apa, Pak! Sekarang dia sedang hamil dan kondisinya sangat lemah. Sepertinya istri bapak hanya kelelahan, usia kandungannya masih sangat muda jadi tolong dijaga baik-baik ya, Pak! Dan untuk malam ini sebaiknya istri bapak dirawat di rumah sakit dulu, biarkan kondisinya pulih. Itu baik untuk Ibu dan bayinya," jelas dokter membuat Gavin melongo mendengar penjelasan itu. Bayi, hamil semua itu seolah berputar di kepalanya.


Diandra yang masih membekap mulutnya, membiarkan air mata yang terus jatuh membasahi bantalnya mengambil tangan Gavin kemudian meletakkannya di perutnya, Diandra mengangguk menegaskan apa yang dikatakan dokter.


Gavin melihat tangannya dan melihat anggukan Diandra sekarang dia baru percaya apa yang baru saja didengarnya itu adalah nyata. Diandra hamil sebentar lagi dia juga akan menjadi seorang ayah.


"Kamu hamil?"


Diandra mengangguk.


"Aku akan menjadi seorang ayah?"

__ADS_1


Diandra kembali mengangguk.


Gavin langsung menunduk dan mengucap kening Diandra. Diandra memejamkan matanya, ia bisa merasakan kebahagiaan suaminya.


"Terima kasih, Sayang."


Diandra hanya mengangguk.


"Terima kasih Dokter. Ini kabar yang sangat baik dan menggembirakan. Tolong rawat anak dan istriku," ucap Gavin mengusap air matanya. Rasa kebahagian yang dirasakannya membuat ia tak bisa membendung air matanya.


"Tentu saja, Pak. Kalau begitu ini resep obatnya dan tolong ditebus di apotek ini. obat ini hanya berupa vitamin dan sekedar mengurangi rasa mual," jelas dokter.


"Baik dokter. Tentu saja sekali lagi terima kasih banyak," jawab Gavin yang kini tersenyum bahagia kemudian ia beralih pada Diandra mengecup seluruh wajahnya menggenggam erat tangannya. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih atas kebahagiaan yang kau berikan," ucap Gavin kembali mengecup kening Diandra dan kali ini cukup lama.


Bram juga ikut senang mendengar kabar itu, ia memeluk istrinya yang masih terisak. Mikaila tak bisa membendung rasa senangnya Ia hanya bisa meluapkan kesenangannya itu dengan air matanya. Selama ini ia tak tenang memikirkan keluarga putranya itu. Namun, mendengar kata hamil membuat ia menjadi tenang. Sekarang Putranya itu juga mendapat kebahagiaan sama seperti kedua Kakaknya yang lebih dulu menjadi seorang ayah.


Kabar kehamilan Diandra juga membuat Kelvin dan Natali yang berada di luar negeri merasa sangat bahagia. Kini beban kelvin yang selama ini dipikulnya terlepas sudah.


"Iya, Kak. semoga saja ini awal yang baru untuk mereka. Gavin Pasti sangat senang saat ini sambung Natali.


Mikaila dan Bram pun kembali ke rumah ada Arsy dan Clara di rumah mereka, sementara Gavin menemani Diandra. Sepanjang malam Gavin tak bisa tidur, ia terus mengusap perut Diandra sesekali ia mengajak berbicara janin yang ada di rahim istrinya.


"Kak terima kasih ya untuk kebahagiaan yang kakak berikan. Terima kasih untuk sabar menghadapiku selama ini, maaf jika selama ini aku telah membuat Kakak menunggu."


"Tidak Sayang. Justru akulah yang berterima kasih atas kebahagiaan yang kau berikan ini, Aku akan menjadi ayah dan suami yang baik untuk kalian, aku akan selalu ada samping kalian."


Diandra hanya mengangguk dengan senyum bahagianya, ia merasa bersyukur Gavin mau menikahinya dan mencintainya walaupun ia tau jika ia tak suci lagi.


Kesabaran Gavin membuahkan hasil. Walaupun ia pernah hampir menyerah saat Diandra terus saja menolaknya. Namun, kesabarannya kini berbuah manis, Cintanya terbalas dan ia bisa mendampingi Diandra keluar dari masa traumanya, kini benihnya telah berkembang di rahim wanita yang sangat dicintainya.

__ADS_1


***


Sementara itu Zidan dan Kian bertemu di cafe.


"Tidak, itu tidak mungkin. Semua ini pasti salah. Ayahku bukanlah orang jahat, Walau kami jarang bersama, tapi aku tahu ayahku tak mungkin melakukan itu semua." Kian tak terima mendengar penjelasan Zidan tentang ayahnya dan pekerjaannya yang sedang ayah lakukan.


"Itu semua terserah padamu. kamu mau percaya atau tidak. Ini file aku serahkan kepadamu, Syahida sudah menyusunnya dengan baik kamu akan cepat mengerti dengan Semua isinya dan kau boleh mencari kebenarannya."


Kian menatap semua bukti itu, semua sangat jelas, tapi ia tetap menolak kenyataan itu.


"Kau mau menyelidikinya lebih lanjut atau membiarkannya semua keputusanmu. Jika kau ingin meneruskan penyelidikan kita Aku siap membantu kapanpun kau butuh, tapi satu yang pasti aku tak bisa membiarkanmu untuk terus bersama dengan Syahida, aku tak bisa membahayakan adikku dengan membiarkannya terus berhubungan denganmu."


"Semua ini tak ada hubungannya dengan ku."


"Aku tau, tapi maaf aku hanya ingin melindungi adikku. Aku permisi dulu, hubungi aku jika kau perlu bantuan."


Kian hanya menghela nafas melihat Zidan keluar dari kafe itu.


"Apa benar ayah melakukan ini semua, lalu mengapa ayah menyembunyikan semua ini dariku. Apa benar ayah yang melukai orang itu," gumam pelan Kian.


Walau ia mencoba untuk tak percaya dengan semua kenyataan yang ada. Namun, semua bukti itu tak bisa dialeknya.


Beberapa hari yang lalu Kian juga memberanikan diri untuk masuk ke ruang kerja ayahnya mencari sesuatu yang bisa menjelaskan situasi yang ia hadapi saat ini. Namun, ia tak menemukan apa-apa kecuali senjata api yang ada di laci ayahnya, pikirannya langsung mengarah pada penembakan beberapa minggu yang lalu.


"Apa ayah pelakunya." Kian mencengkram rambutnya, ia tak menyangka semua ini akan terjadi. Selama ini berusaha mandiri agar bisa membuat Ayahnya bangga.


☘️☘️☘️☘️☘️


Rekomendasi author

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️



__ADS_2