
Zidan yang sudah tahu Pasti jika dirinya ketahuan tak punya pilihan lain selain keluar dari tempat persembunyiannya.
"Maaf aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian," ucap Zidan menghampiri Gavin dan juga Diandra.
"Kamu siapa? Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Gavin yang tak begitu memperhatikan Zidan selama ini.
"Aku Zidan, temannya Arsy," ucap Zidan. Mendengar ucapan Zidan, Gavin langsung berpikir jika mungkin ini Pria yang dimaksud oleh Kalvin.
"Kamu yakin hanya berteman dengan Arsy?" tanya Gavin bernada interogasi.
"Nggak, Kak. Kami hanya berteman," jawab Zidan dengan gelagapan saat Gavin menatapnya dengan tatapan tajam.
"Ya udah, nggak apa-apa. Kami pergi dulu jika kau masih ingin di sini," ucap Diandra kemudian menarik tangan Gavin meninggalkan tempat itu, meninggalkan Zidan dan terus menatap mereka.
"Kenapa Kakak bertanya seperti itu pada anak itu?"
"Sepertinya Arsy sekarang sudah mulai dekat dengan seorang pria, mungkin saja pria yang tadi adalah pria yang dimaksud oleh kak Kelvin."
"Arsy sudah besar, aku rasa tak masalah jika dia menjalin hubungan dengan seorang pria. Aku yakin Arsy akan tahu batasan dalam sebuah hubung, lagi pula mereka kan hanya berteman," ucap Diandra yang tahu jika suaminya itu tak menyukai jika adik iparnya harus dekat dengan seorang pria baik itu hanya sekedar berteman.
"Sudahlah sekarang kamu ingin pulang atau Kembali ke tempat acara?" tanya Gavin tak ingin membahas masalah Zidan lagi.
"Kita kembali ke hotel saja," ucap Diandra.
"Maksud aku kamu ingin tetap di sini di pulau ini atau ingin kembali ke rumah, aku bisa membawamu pulang saat ini juga jika kau mau," ucap Gavin membuat Diandra menghentikan langkahnya dan menatap Gavin mendengar apa yang baru saja Gavin katakan.
__ADS_1
"Apa tak masalah jika kita pulang lebih dulu? Bagaimana jika papa dan Bunda mencari?" kata Diandra.
"Aku akan menghubungi mereka saat kita sudah sampai," ucap Gavin yang tahu juga istrinya itu sudah ingin kembali dan tak tahan berdekatan dengan saudara kembarnya. Mereka pun segera kembali ke hotel mengemas barang-barang mereka dan pergi malam itu juga, beruntung ada kapal penyeberangan yang juga menyeberang di malam hari.
Saat mereka keluar dari hotel lagi-lagi Zidan melihat mereka, "Ada apa sebenarnya dengan kakak Arsy? Mengapa mereka seperti terkesan tak menyukai Kakak Arsy yang satunya lagi. Bukankah mereka itu saudara kembar," batin Zidan bertanya-tanya. Zidan menggeleng tak ingin ikut campur masalah mereka, yang ia pikirkan sekarang bagaimana caranya ia bisa lebih dekat dengan Arsy.
Zidan langsung mengirim pesan kepada adiknya meminta nomor Arsy yang ia tahu adiknya itu sudah mendapatkan nomor pribadi wanita incarannya.
Lagi-lagi Syahidah meminta syarat untuk membiarkannya malam ini bermain di pantai dengan Kian.
"Baiklah boleh, tapi kakak juga akan ikut, mengawasi kalian dari kejauhan. Beritahu tempat kalian ingin berduaan," ucap Zidan. walaupun ia marah pada adiknya. Namun, ia belum percaya pada Kian.
"Kami ga berduaan kak, banyak pengunjung lainnya."
****
"Kalau aku tak berani sekarang Kapan lagi aku bisa lebih dekat dengannya," gumam Zidan kemudian mengetik kata selamat malam dan mengirimnya pada Arsy.
Setelah lama menunggu.
"Sepertinya dia tak akan membalas pesanku," ucapnya menghela nafas kemudian masukkan ponselnya ke dalam kantong kemudian ikut berlari menghampiri Syahidah Kian.
Arsy yang sedang bersama dengan keluarganya melihat pesan Zidan, Ia hanya melihatnya dan membaca tak berniat untuk membalasnya apalagi ada Kelvin di sampingnya.
***
__ADS_1
Sementara itu Gavin sudah ada di kapal saat akan tiba di dermaga. Gavin berpikir untuk membawa Diandra berjalan-jalan di sekitaran dermaga.
"Malam ini Kita menginap di hotel saja ya? Besok pagi saja kita lanjut ke rumah," ucap Gavin menggenggam tangan Diandra dan berjalan menuruni kapal.
"Iya, aku ikut kakak saja," ucap Diandra mereka pun berjalan-jalan di dermaga hingga mereka sampai di sebuah hotel yang sederhana.
Saat memesan kamar Gavin mendapat telepon dari sahabatnya sekaligus dokter yang selama ini tempatnya berkonsultasi.
"Kamu di mana? Aku ada tempat biasa?" ucap dokter
"Aku sedang tidak di rumah, aku sedang menghadiri pesta pernikahan Kak Dika dan sekarang aku sedang di hotel.
"Oh Iya, aku lupa. Aku juga mendapat undangannya, tapi aku terlalu banyak pasien dan tak mungkin aku tinggal. Maaf aku tak bisa datang," ucapnya.
"Iya nggak apa-apa, Kak Dika pasti mengerti." Gavin memberikan kunci pada Diandra dan mereka pun berjalan menuju ke kamar hotel mereka.
"Apa kau masih di pulau?"
"Nggak, Aku sudah kembali yang lain masih di pulau. Sekarang aku berada di hotel di dekat dermaga. Kenapa apa kau Ingin menyusul?"
"Apa Karena Kelvin? Berarti hanya kalian berdua dong? kenapa kamu tidak mencoba untuk menyentuh Diandra?"
Mendengar itu Gavin melihat Diandra yang sudah membuka kunci kamar mereka
"Sampai kapan kalian akan menghindari Kelvin. Kau terus menundanya sampai kapan? Jika terus seperti ini bisa jadi traumanya itu akan semakin parah dan semakin sulit disembuhkan. Saran ku lakukan malam ini."
__ADS_1
Diandra sudah masuk ke kamar lebih dulu, Gavin yang masih di luar terus berbincang dengan dokter tersebut yang meminta sahabatnya itu untuk meyakinkannya untuk tak mundur lagi malam ini.
Setelah mendapat pencerahan dari dokter sekaligus sahabatnya Ia pun tak ingin menunda lagi dan akan mencobanya. Apapun yang akan terjadi akan terima walau Diandra akan membencinya sama ia membenci Kelvin.