
Malam hari semua berkumpul di tempat yang sudah mereka janjikan, Zidan sudah mengatur semuanya ia meminta Memet untuk berjaga di luar dan mengabari mereka jika ada hal yang berbahaya yang ia lihat.
"Iya aku mengerti, kalian hati-hati lah."
"Jika dalam waktu 1 jam kami tak keluar dari tempat ini, cepat hubungi Papaku ceritakan semua apa yang terjadi di sini dan Ini, berikan ini pada Syahidah." Zidan memberikan sebuah flashdisk kepada Memet kemudian mereka berdua pun masuk.
Saat akan masuk ke gudang Kian menghentikan Zidan.
"Ada apa?" tanya Zidan tak mengerti saat kian mencekal tangannya saat akan masuk lebih dulu.
"Tetaplah berada di sini, berjagalah disini aku yang akan masuk ini terlalu berbahaya, ini adalah masalahku aku tak mau melibatkanmu dalam masalah ini."
"Tutup mulutmu, kita sudah sejauh ini dan ini sudah menjadi masalahku juga. Kau pikir aku akan berhenti sebelum mengetahui semuanya? Ayo kita masuk!" ucap Zidan meninju dada Kian dengan kesal kemudian ia masuk lebih dulu meninggalkan kian yang masih berjongkok di tempat mereka masuk dan menyelinap.
Kian sebenarnya tak ingin merepotkan mereka. Namun, dengan keahlian Zidan semua masalah itu dapat mereka selesaikan, ia tak yakin jika menyelesaikannya sendiri.
Mereka masuk ke tempat-tempat persembunyian yang pernah mereka lalui. Mereka melihat semua aktivitas yang sedang berlangsung di dalam gudang tersebut, Zidan mengambil laptopnya yang tersambung dengan CCTV yang sedang merekam aktivitas mereka.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kian.
"Mereka terlalu banyak, kita takkan bisa melawan mereka. Biarlah orang yang lebih berpengalaman melihat aktivitas mereka dengan begitu aku yakin akan ada yang datang ke sini dan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Aku mengirim rekaman ini ke kantor polisi, sebaiknya kita keluar dari sini. Kau benar ini terlalu bahaya," ucap Zidan. Tiba-tiba mereka berdua mendengar suara Memet
"Ada apa?" tanya Zidan.
"Aku melihat beberapa mobil baru saja masuk, sebaiknya kalian keluar dari sana sepertinya mereka orang-orang yang berbahaya aku lihat ada beberapa yang membawa senjata." Mendengar itu Zidan dan Kian saling tatap dan mengangguk mengiyakan untuk mereka keluar dari tempat itu.
__ADS_1
Zidan dengan cepat memasukkan kembali laptopnya setelah mengirim rekaman tadi melalui akun yang tak akan bisa dilacak. Keduanya kembali menyelinap ingin keluar dari tempat itu. Namun, mereka menghentikan langkahnya saat jalur mereka keluar ternyata sudah ditutup.
"Apa kau tahu jalan keluar lain?"
"Tidak, aku tidak terlalu mengenal tempat ini, hanya ini jalan yang aku tahu," jawab Kian membuat mereka akhirnya memilih untuk mencari jalan keluar. Mereka memutar hanya menggunakan insting mereka untuk mencari jalan keluar dari sana.
Zidan memeriksa kembali CCTV dan mengira-ngira jalan mana yang harus mereka ambil.
Sepanjang perjalanan Zidan merekam semua aktivitas mereka di ponselnya, ia tak menyangka jika ternyata di setiap sudut gedung tersebut ada aktivitas ilegal.
"Sepertinya kita semakin masuk ke dalam, apa Kita harus memutar? Seperti kita salah jalan," ucap Kian.
"Tidak, kita terus saja. Aku merasa ada yang lebih disembunyikan mereka di tempat ini Kita harus cari tahu sebelum keluar dari sini," ucap Zidan melihat jamnya mereka sudah di sana selama 30 menit dan masih ada 30 menit lagi waktu mereka keluar dari sana.
Kian pun setuju, mereka terus menyusuri tempat itu. Namun, Kian kembali menghentikan langkahnya saat melihat di salah satu ruangan yang berdinding kaca terlihat ayahnya berlutut di depan Pak Toni dengan senjata yang diarahkan ke kepalanya.
"Lepaskan aku, pak Toni bisa menyakiti Ayahku," ucap Kian berusaha untuk melepaskan diri. Namun, Zidan tetap menahannya.
"Kau gila ya? Kau ingin membuat kita tertangkap? Kita cari cara lain untuk membebaskan ayahmu, tidak dengan cara seperti ini, menghampiri mereka seperti ini tanpa rencana sama saja menyarahkan diri kita."
Mendengar itu Kian pun menjadi tenang. Mereka mulai mengatur rencana, mereka terus mendengarkan apa yang mereka bahas. Ternyata Ayah Kian tak setuju dengan rencana mereka.
"Kau sudah tahu kan cara kerjaku, jika ada yang membantah apa yang Aku perintahkan itu berarti mereka cari mati," ucap pria yang diketahui Kian bernama Toni asisten ayahnya.
"Tapi dengan melakukan semua ini, itu sangat berbahaya dan dapat menyakiti banyak orang."
__ADS_1
"Kita tak usah memikirkan itu, yang penting kita mendapat keuntungan. Kita lakukan saja tugas kita, selebihnya biar mereka yang mengurusnya." ucap pak Toni kemudian meminta anak buahnya untuk mengikat Ayah Kian agar tak menggagalkan misi besar mereka malam ini."
Setelah mengamankan ayah Kian, Pak Toni pun keluar bersama dengan beberapa anak buahnya meninggalkan Ayah Kian seorang diri di sana, tamu yang sejak tadi di tunggunya sudah datang dan transaksi pun mulai berjalan..
Zidan dan kian yang merasa mereka sudah aman bergegas menghampiri dan melepaskan ikatan ayah Kian.
"Kian? Apa yang kau lakukan di sini? Tempat ini sangat berbahaya," ucap ayahnya yang terkejut melihat putranya itu ada di sana.
"Nanti saja kami jelaskan. Ayah juga perlu menjelaskan semua ini padaku dan sebaiknya kita pergi dari sini. Apa ayah tahu jalan lain? Jalan yang sering kami lewati tertutup."
"Tak ada jalan lain di gedung ini selain pintu utama dan juga tempat kalian menyelinap itu, hanya itu yang Ayah tahu."
Mendengar jawaban itu mau tak mau mereka harus kembali ke tempat di mana mereka semua berkumpul, mereka harus mencari cara agar bisa keluar dari sana melalui pintu depan. Ayah Kian juga ikut bersama dengan mereka.
Baru beberapa langkah mereka meninggalkan tempat itu, seseorang sudah berteriak dan mengatakan jika tawanan mereka kabur.
"Ayo cepat kita pergi dari sini," ucap Ayah Kian mempercepat langkah mereka. Namun, beberapa anak buah dari Toni sudah berpencar untuk mencari mereka dan menutup pintu utama. Mereka tak ada pilihan lain selain mencari tempat yang aman untuk bersembunyi sementara waktu sambil menunggu bantuan datang.
Pencarian pun terus berlangsung hingga 1 jam kini telah berlalu membuat Memet yang berjaga di luar langsung menghubungi Rafiz, Papa Zidan dan menceritakan semuanya.
"Aku akan segera kesana, tetaplah jaga keamanan dan terus kabari kami."
Rafiz tak tinggal diam, setelah mendengar kabar tersebut ia langsung menghubungi pihak kepolisian. Syahida yang mendengar itu langsung bergerak, ia langsung berselancar di laptopnya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan melacak posisi kakaknya.
Syahida langsung ikut ke dalam mobil papanya.
__ADS_1
"Syahida tetaplah di rumah," ucap Rafiz.
"Tidak, aku tahu dimana Kakak," ucapnya memperlihatkan laptopnya membuat Rafis mau tak mau mengajak putrinya itu untuk ikut bersamanya juga beberapa polisi yang sudah bergerak ke lokasi yang diarahkan Syahida.