
Zidan berangkat ke kantor dengan senyum yang terus terlihat di bibirnya. Ia merasa senang saat peluncuran Secret partnernya malam tadi berhasil dengan sukses dan rencananya untuk menyatakan cintanya pada Arsy juga tak kalah suksesnya dan yang lebih membuatnya bahagia ia sudah mendapat izin dari keluarga besar Arsy khususnya Papanya. Bahkan mereka sebentar lagi akan bertunangan, itu semua diluar ekspektasi.
Zidan menuju ke kantornya. Namun, saat di jalan ia mendapat telepon dari Kian.
"Halo Kian ada apa?" tanyanya.
"Apa kau sedang sibuk? Aku ingin bicara hal penting denganmu?" tanya Kian lagi.
"Tentu saja, kau di mana aku akan menghampirimu," ucapnya.
"Aku ada di Restoran Ku, aku tunggu jawab Kian mematikan panggilannya.
Zidan pun memutar balik mobilnya menuju ke arah Restoran Kian.
Begitu Zidan sampai Kian sudah menyambutnya sudah mempersilahkannya untuk duduk di salah satu meja VIP yang ada di Restoran itu.
"Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya.
Kian memberikan sebuah amplop yang berisi data-data penting juga memperlihatkan laptopnya, terlihat jelas di sana adalah beberapa rekaman CCTV di gudang tempat di mana mereka meletakkan kamera waktu itu.
"Apa sudah ada pergerakan di gudang ini?" tanya Zidan melihat layar laptop begitu banyak aktivitas di sana tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Semalam aku kembali menyelinap ke tempat ini, aku berpikir ada yang aneh dengan kamera yang kita pasang dan ternyata benar kamera yang kita pasang diretas oleh orang lain. Itulah sebabnya di layar hanya memperlihatkan suasana yang sepi, aku meletakkan kembali kamera baru yang pasti tidak mereka ketahui letaknya, aku juga sengaja tetap memantau kamera yang dulu, aku baru tahu jika ternyata pak Toni tahunya tentang apa yang kita kerjakan, dia mengawasiku ya bahkan mengutak-atik laptop ku.
"Maka dari itu aku menyambungnya di laptop yang berbeda. Coba kau lihat begitu banyak aktivitas di sana sedangkan di kamera ini terlihat begitu tenang." Kian membandingkan dua CCTV yang dipasangnya yang kameranya hampir berdekatan satu dengan yang lain.
"Bukankah pria ini ayahmu?" tanyanya menunjuk salah satu orang yang ada di rekaman tersebut.
Kian melihatnya, "Iya, itu Ayahku memangnya ada apa? Apa yang salah tanyanya saat melihat Zidan begitu memperhatikan layar yang menunjukkan posisi ayahnya.
"Coba kau perhatikan, bukannya orang yang di depannya ini adalah pelayan di rumahmu. Namun, mengapa Ayahmu terlihat begitu patuh dan tunduk kepadanya, terlihat jelas ayahmu membungkuk kepadanya saat orang ini mengatakan sesuatu."
Kian menatap kembali rakaman,
"Coba lihat lagi, sepertinya ia meminta ayahmu untuk mengangkat kantong plastik ini, kantong plastik yang berukuran besar dan pastinya sangat berat, jika ia hanya seorang yang bekerja di rumahmu dia akan membantu ayahmu untuk mengangkatnya, tak hanya melihatnya seperti itu."
Kian memperhatikan hal tersebut dan benar saja ayahnya terlihat menunduk dan patuh atas perintah dari kepala pelayannya itu, membuat jiwa penasaran Kian semakin bertambah.
"Malam nanti akan ada transaksi besar-besaran, aku akan kesana. Aku tak sengaja mendengar ayahku mengatakan hal itu! Bagaimana? Apa kamu ikut?"
"Tentu saja, aku juga ingin melihat langsung Seperti apa kegiatan mereka di sana."
"Tapi ini sangat berbahaya!"
__ADS_1
"Kau pikir aku takut? Aku tak pernah takut jika memang aku benar. Ya sudah kalau nanti malam kita ketemu di tempat biasa.
"Bagaimana jika jam 10.00?" ucap Kian.
"Sepertinya jam 10.00 aku tak bisa menjanjikannya pasalnya. Malam ini aku harus menemui Arsy dan juga keluarganya."
"Wah Selamat. Aku sampai lupa memberikan selamat kepadamu, sepertinya sebentar lagi kau akan menjadi menantu dari Abraham Wijaya," ucap Sony menjabat tangan sahabatnya itu.
Zidan hanya menanggapi dengan senyuman.
"Baiklah kita ketemu jam 11.00 malam, bagaimana?" ucapnya kemudian mereka berdua bersalaman sebagai tanda persetujuan menjalankan misi mereka.
Tiba-tiba datang Memet menghampiri mereka, ikut menggenggam tangan keduanya.
"Aku juga ikut," ucapnya dengan bernada serius.
"Tidak, ini sangat berbahaya. Tak baik jika kau ikut," tolak Zidan.
"Aku tak akan membahayakan atau merepotkan kalian, aku akan menunggu di luar. Aku akan menjaga kalian dari luar saja, bagaimana?" tawar Memet yang kali ini tak mau ketinggalan dalam misi mereka seperti kemarin malam ia tertinggal saat semua temannya bermain game online.
"Baiklah Kamu boleh ikut, kamu bener juga harus ada yang berjaga di luar, jika terjadi sesuatu kepada kami setidaknya kamu bisa memberitahukan keberadaan kami kepada orang tua kami."
__ADS_1
Mereka bertiga pun sepakat akan kembali menyusup ke gudang tempat penyelundupan barang-barang haram itu.