Possessive Brother

Possessive Brother
Kekecewaan Zidan


__ADS_3

Zidan menarik Syahidah menuju ke tempat di mana hanya ada mereka berdua.


"Kamu ini apa-apaan sih? Malu-maluin tahu." Zidan mencengkram tangan Syahidah.


Syahidah melepas cengkeraman tangan Zidan yang menyakiti lengannya.


"Malu-maluin apa sih, Kak? Memangnya aku melakukan apa? Aku hanya memperkenalkan Kian pada Papa, apa kakak ingin aku menjalin hubungan secara diam-diam di belakang Papa, apa itu Yang Kakak inginkan?" suru Syahidah berkaca-kaca.


"Bukan seperti itu maksud kakak, tapi kamu kan bisa bicara dengan Papa tanpa di depan rekan bisnisnya.


"Aku sengaja melakukannya. Aku ingin Arsy melihat jika aku saja bisa mengakui perasaanku di depan Papa, kenapa dia juga tak mau mengakui peresaanya pada dirinya sendiri. Aku bisa lihat jika Arsy juga memiliki perasaan pada kakak, hanya dia selalu menekan peresaanya, ia terlalu takut, aku ingin dia terus terang pada perasaannya sendiri. Apakah kakak tak menyadari sikap Asry? Sudahlah, aku tadi hanya ingin membantu Kakak. Lagian aku yakin setelah mendengar ucapan Papanya Arsy , papa akan lebih membuka jalan dan mempertimbangkan untuk merestui hubungan kami," ucap Syahidah melipat tangannya di dada.

__ADS_1


Kian menghampiri mereka.


"Zidan aku tahu kau khawatir pada Syahidah, aku mengerti Kau pasti sangat menyayangi adikmu, tapi mohon percayalah padaku aku tak akan menyakiti hatinya, aku akan menjaganya dan tak akan melewati batasan kami," ucap Kian.


Zidan tak berkata apa-apa lagi, ia langsung meninggalkan mereka berdua, sebelum meninggalkan adiknya Zidan menatap kecewa pada Syahidah. Syahidah bisa merasakan tatapan kekecewaan dari kakaknya.


"Kak Zidan tunggu," ucap Syahidah Ingin menyusul kakaknya namun Kian menahannya.


"Biarkan saja! Ia pasti ingin menenangkan diri. Zidan pasti kecewa padamu karena kau telah melanggar perintahnya, aku tahu tidak melakukan semua itu karena menyayangimu tapi sikapnya itu terlalu posesif kau bukan lagi anak SMP yang tak tahu apa-apa. Sebentar lagi kita akan masuk universitas aku rasa sangat wajar jika kita saling jatuh cinta," ucap Kian kemudian membawa Syahidah kembali bergabung dengan yang yang lainnya menikmati pesta pernikahan Dika dan juga Anisa.


"Bukankah itu kakaknya Arsy dan juga istrinya? Apa yang dilakukannya di sini? Mengapa mereka tak bergabung dengan yang lainnya di pesta pernikahan," batin Zidan.

__ADS_1


Ya di tepi pantai itu juga terdapat Diandra dan juga Gavin. Diandra tak bisa menahan rasa ketakutannya saat terus berada di sekitaran Kelvin.


"Kenapa aku terus takut pada Kelvin? Kenapa kejadian itu terus terbayang di benakku? Aku sudah berusaha untuk melupakannya dan menjadi istri yang baik. Namun, kejadian itu terus saja menghantuiku. Maaf jika aku tak bisa menjadi istri yang baik untuk kakak," ucap Diandra menangis di pelukan Gavin.


Gevin terus memeluk erat istrinya ada rasa kasihan dan juga marah di hatinya. Ia marah mengapa Kelvin harus melakukan semua itu, ia juga merasa kasihan pada Diandra sejak mereka menikah bayangan masa lalu terus saja mengganggu hubungan mereka. Ia belum bisa membahagiakannya sebagai seorang istri.


"Tenanglah kita akan pulang lebih dulu jika kau mau, kita akan pulang malam ini juga. Aku akan mencari alasan agar kau tak bertemu dengan Kak Kelvin," ucap Gavin membuat Diandra mengangguk, dia menuruti apa yang dikatakan oleh Gavin..


"Kelvin? Bukankah itu saudara kembarnya? Ada apa? Ada masalah apa dengan mereka?" batin Zidan bertanya-tanya dalam hati.


Zidan tak ingin terlalu banyak ikut campur Ia pun ingin melangkah pergi. Namun, tiba-tiba ia tak sengaja menginjak kaleng bekas minuman soda membuat Gavin dan Diandra bisa mendengar keberadaannya.

__ADS_1


"Sial, kenapa aku harus membuat kesalahan di saat seperti ini," batin Zidan membeku di tempatnya.


"Siapa? Siapa di sana?" teriak Gavin mencoba untuk mencari tahu siapa yang sudah menguping pembicaraan mereka.


__ADS_2