
Pagi ini Zidan mulai mengemas barang yang akan dibawanya ke kantor, setelan jas lengkap dan juga beberapa berkas yang sudah disiapkannya, Papanya memberi kesempatan untuk memimpin rapat hari ini.
"Aku rasa ini cukup," gumamnya melihat tas yang sudah disiapkannya. Ia pun turun untuk sarapan bersama dengan yang lainnya.
"Pagi Pah, Mah!" sapanya pada kedua orang tuanya kemudian mengacak-acak rambut Syahidah dan mencubit pipi adik bungsunya.
Kedua adiknya itu langsung protes, Syahidah langsung kembali merapikan rambutnya sambil terus menggerutu sedangkan Shakila terus mengusap pipinya dan mengadu kepada mamanya.
"Sepertinya ada yang lagi happy nih," ucap Nandira melihat putranya yang begitu bahagia di pagi ini.
"Iya, Mah! Hari ini aku akan bekerja bersama Papa di kantor, doain ya Mah Semoga semuanya lancar."
"Iya Sayang, doa Mama selalu bersama kalian."
"Kakak ingin bekerja di kantor?" tanya Syahidah.
"Iya dong," jawab Zidan membanggakan dirinya.
"Zidan ingin merebut hati calon besan kita," ucap Rafiz mengedipkan mata pada Nandira.
"Terus aku gimana dong, Pah?"
"Gimana apanya?" tanya Rafiz tak mengerti ucapan putrinya.
"Ya calon besan Papa satunya lagi, Papa Mamanya Kian. Bukannya Aku juga harus merebut hati mereka?"
Rafiz melemparkan roti pada putrinya,
"Kebalik. Seharusnya Kian yang merebut hati Papa, kamu jangan coba-coba melakukan apa-apa, duduk diam dan kita lihat apa yang Kian lakukan. Jika dia berhasil membuat Papa terkasan Papa akan mengizinkanmu untuk menjalin hubungan dengannya, tapi jika tidak jangan coba-coba melanggar perintah Papa," tegas Rafiz.
Syahidah pun diam. Namun, dia terus memayunkan mulutnya menatap kesal pada kakaknya yang terlihat begitu bahagia mendapat Restu dan dukungan dari kedua orang tuanya.
Bel Berbunyi.
"Siapa yang datang sepagi ini?" gumam Nandira.
Tak lama kemudian Bibi yang selama ini bekerja di sana menghampiri mereka.
"Siapa, Bi?" tanya Syahidah.
"Katanya namanya Kian. Sepertinya dia satu sekolah dengan kalian."
"Kian," pekik Syahidah langsung berdiri dari duduknya dan berlari keluar. Rafiz dan Zidan baru saja ingin memanggilnya. Namun, Syahidah sudah hilang dari pandangan mereka.
"Sepertinya bukan calon menantu kita yang harus berusaha merebut hati calon mertuanya. Namun, kalian yang harus berusaha mengendalikan Syahidah," ucap Nandira menatap suami dan putranya yang selama ini bersikap posesif pada putrinya.
Syahidah menggandeng Kian masuk ke dalam dan bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Ayo sini gabung bersama kami. Apa kamu sudah sarapan?" tanya Nandira mengajak Kian untuk sarapan bersama.
"Sudah, Tante," jawab Kian memberi salam kepada Rafiz. Namun, Rafiz tak menanggapinya dan tetap fokus pada makanannya.
"Om! Apa boleh aku yang mengantar Syahidah ke sekolah?" tanya Kian.
"Kamu naik apa?" tanya Rafiz.
"Naik mobil kok, Om." jawab Kian.
"Loh kok naik mobil? 'kan biasanya Kamu naik motor," ucap syahidah yang lebih senang berkendara dengan motor daripada dengan mobil saat bersama dengan Kian.
"Kan aku mau jemput kamu, biar kamu nyaman."
"Kakak aku ikut Kakak juga ya!" ucap Shakila.
"Kian yang ditanya hanya mengangguk jawab pertanyaan putri bungsu dari Rafiz.
"Ya sudah kau antar Shakila dulu! Aku sudah selesai makan aku ke kantor dulu," ucap Rafiz tak bisa menolak saat kedua putrinya terlihat begitu bahagia saat akan ke sekolah bersama dengan Kian.
"Aku juga selesai, Mah. Aku ke sekolah dulu," ucap Zidan yang hanya melihat mereka bertiga dan menyusul ayahnya.
"Kami juga pergi, Tante," ucap Kian berpamitan pada Nandira.
"Hati-hati ya di jalan. Titi putri-putri Tante."
"Nggak kerasa mereka berdua sudah tumbuh dewasa," gumam pelan Nandira menatap kepergian mereka.
Saat di sekolah Syahidah juga semakin dekat dengan Kian. Kian bahkan ke kantin bersama dengan Syahidah beberapa hari terakhir, semua teman-temannya juga menganggap mereka berdua sudah jadian.
"Syahidah, kakak kamu sudah nggak melarang dan memberi izin ya?" tanya Lusi membuat Syahidah yang sedang makan mengangguk.
"Bantuin aku juga dong, biar aku bisa dekat dengan kakak kamu. Siapa tahu aja kan aku bisa jadi kakak ipar kamu," pinta Lusi.
"Jangan mimpi. kak Zidan sudah punya seseorang yang diincarnya dan sekarang dia sudah berusaha untuk dekat dengan keluarganya," ucap Syahidah membuat Lusi tersendak makanannya.
"Kamu serius?" tanya Lusi dan Nara bersamaan, mereka tak menyangka jika seorang Zidan yang cuek dan dingin bisa jatuh hati pada seorang gadis.
"Siapa, Siapa gadis yang beruntung itu? Apakah dia dari sekolah kita?" tanya Lusi penasaran.
"Bukan, dia dari Wijaya school namanya Arsy. Apa kamu masih ingat gadis yang berhijab yang pernah jalan dengan ke Mall waktu itu?"
"Oh gadis yang itu ya," ucap Lusi cemberut.
"Kamu yang sabar ya, sainganmu terlalu cantik aku rasa dia memang cocok untuk Zidan," ucap Nara menepuk punggung sahabatnya yang terlihat kecewa saat mengetahui jika Arsy yang menjadi gadis yang disukai oleh Zidan.
Saat bel pulang berbunyi Kian kembali meminta izin pada Zidan untuk mengantar Syahidah pulang.
__ADS_1
"Iya boleh, aku juga mau langsung ke kantor. Tapi, kamu langsung mengantarnya pulang ya jangan mampir ke tempat lain lagi, kamu harus memperlihatkan keseriusanmu pada Papa jika ingin diberi Restu," ucap Zidan.
"Iya pasti. Aku akan mengantarnya pulang, aku juga ada pekerjaan hari ini," ucap Kian kemudian Ia pun mengajak Syahidah untuk pulang bersama sedangkan Zidan sendiri mengganti pakaiannya ia mengenakan setelan jas lengkap yang tadi di bawanya.
"Wih keren banget! Kamu mau ke mana?" tanya Riza.
"Hari ini aku sudah mulai bekerja di kantor Papa," jawab Zidan masih dengan merapikan dasinya.
"Cariin buat aku juga dong lowongan kerja, jadi apa aja aku nggak masalah. Jadi pesuruh kamu juga nggak masalah yang penting aku bisa kerja, nggak lama lagi kan kita kuliah, setidaknya aku bisa membiayai kuliahku sendiri," ucap Riza.
"Iya tenang saja, nanti aku akan coba bicara sama Papa," ucap Zidan. Mendengar itu Memet dan Nizam juga mendekat.
"Kalau gitu sekalian dong kita juga," ucap Memet yang dijawab anggukan oleh Nizam.
"Oke beres, tapi kalian nggak masalah kan bekerja sebagai apa di kantor?"
"Iya nggak apa-apa yang penting kita juga memakai setelan jas sepertimu," ucap Memet.
"Kalau tampang kayak lu jadi OB juga kayaknya nggak masalah deh, cocok," ucap r Riza membuat Zidan dan juga Nisan tertawa ..
"Nggak lucu. Aku nggak mau jadi OB, minimal jadi Asisten kamu," ucap Memet menaikkan kerah bajunya berlaga sombong.
"Ya udah, jika kalian juga mau bekerja, nanti aku coba pikirkan bagaimana agar kalian semua bisa ikut bekerja. Dengan begitu kita bisa membiayai kuliah kita masing-masing tanpa membebani orang tua."
"Ya udah semoga berhasil hari ini," seru ketiganya memberi semangat pada Zidan.
Zidan pun berangkat ke kantor, begitu sampai di kantor semua karyawan wanita melihat ke arah Zidan. Ia terlihat lebih dewasa dengan jas yang dikenakannya.
Zidan berjalan terburu-buru karena ia sudah terlambat dan hari ini ia akan melakukan presentase untuk yang pertama kalinya di hadapan rekan bisnis Papanya.
Begitu masuk di ruang rapat, Zidan tertegun di mana Abraham Wijaya dan juga Arya Wiguna menjadi salah satu klien Papanya.
☘️☘️☘️
Rekomendasi karya hari ini.
yuk mampir 😘
🌹🌹🌹
Risma
Saat ku putuskan untuk berubah, rasanya mudah sekali. Hanya dengan mengenakan hijab panjang dan pakaian syar'i. Namun, ternyata salah, aku juga harus menata hati dan menahan diri.
Memasrahkan semua yang terjadi pada sang pemilik nyawa. Namun, aku tidak bisa berbesar hati. Melihat laki-laki yang telah mengusik hatiku terbaring tak berdaya. Sedangkan aku hanya bisa terdiam menunggu kabar baik yang entah kapan itu datangnya.
Namun, saat hati tak lagi berdaya, sedang raga meminta untuk tetap bertahan, bolehkah aku menyalahkan sang pemilik nyawa? Mampukah aku bertahan di tengah keputusasaan yang mendera?
__ADS_1