
"Apa yang Kian lakukan. Siapa yang ia kejar?" batin Zidan terus mengikuti Kian. Namun, tiba-tiba dua mobil menghalangi Kian membuat ia tak bisa mengejar mobil yang tadi dikejarnya. Kian melambatkan motornya dan Zidan juga melakukan hal yang sama. Kemudian kedua mobil yang menghalanginya pergi meninggalkan Kian setelah memastikan mobil yang dikejar oleh Kian sudah pergi menjauh dan menghilang dari pandangan mereka.
"Sial, sial, sial!" Kian memukul tangki motornya.
Zidan menepikan mobilnya di samping motor Kian.
"Kian ada apa?" tanya Zidan keluar dari mobil dan menghampirinya.
"Zidan. Nggak ada apa-apa kok?" jawabnya buka helmnya.
"Aku sejak tadi mengikutimu. Kamu melajukan motormu dengan sangat kencang, ada apa dengan mobil tadi? Apa kau punya masalah dengannya?" tanya Zidan menatap penuh selidik pada pria bermotor di hadapannya itu.
Kian menghela nafas. Aku sendiri tak tahu ada apa dengan mobil itu, yang jelasnya mobil itu membawa sesuatu yang mencurigakan dan itu dari rumahku. Aku hanya ingin memastikannya," jawab Kian lagi.
"Apa mereka mencuri sesuatu dari rumahmu?" tanya Zidan masih tak mengerti maksud Kian.
Kian menatap Zidan, sepertinya bisa dipercaya dan mungkin dia bisa memberi solusi dan bantuan. Ia pun menceritakan apa yang dilihat di rumahnya, kejadian yang janggal yang dirasakannya beberapa bulan .
"Apa kau tahu nomor plat mobilnya?"
"Tentu saja, aku sudah mencatatnya. Aku akan mencarinya di lain waktu."
Zidan langsung meninggalkan Kian, berjalan ke mobil dan membangunkan Syahida yang tertidur. Kian bisa melihat jika Syahida ada di sana, kian pun mendekati mereka.
"Kakak ada apa sih? Aku sangat mengantuk, apa kita sudah sampai di rumah?" tanya Syahida menggeliat. Namun, dia langsung membuka lebar matanya saat melihat ada Kian di depannya.
"Apa kita ke rumah Kian?" tanyanya masih belum sepenuhnya sadar.
Zidan mengambil laptop Syahida dan mengaktifkannya. "Cepat cari di mana lokasi mobil dengan kode plat nomor ini," kata Zidan tegas dan memberikan kode plat mobil yang tadi diberikan oleh Kian.
Syahida mengucek matanya, ia tak mengerti apa yang kakaknya katakan. Ia baru saja bangun bahkan nyawanya belum terkumpul sempurna dan sudah disuruh untuk mengotak-atik laptopnya.
Itu memang keahliannya. Namun, diminta Saat bangun tidur seperti itu membuat Syahida bingung apa yang harus dilakukannya.
"Apa Syahida bisa melakukannya?" tanya kian semakin mendekat pada mereka.
__ADS_1
"Melakukan apa?" tanya Syahida menggaruk kepalanya. Dia benar-benar masih mengantuk dan tak bisa berpikir, tak mengerti apa yang kakaknya perintahkan.
"Sudah, lakukan saja apa yang kakak katakan, cepat retas CCTV di area ini dan cari mobil dengan plat yang tertera di sini. Jika perlu lacak, mungkin saja mereka menggunakan plat nomor mobil asli."
Syahida yang sudah mengerti pun tak banyak bertanya lagi. Dia mengutak-atik laptopnya dengan sangat lihai. Kian memicingkan matanya melihat apa yang Syahida lakukan. Ribuan data-data dengan lancar berubah seiring gerakan tangannya, seolah semua itu menari-nari di layar laptopnya. Kian tak mengerti apa yang Syahida cari saat ini.
"Ketemu," ucap Syahida menekan satu tombol dan benar saja mobil itu bisa terlihat di layar.
"Ini terekam CCTV di jalan X, sepertinya sekarang ia menuju ke titik ini," jelas Syahidah menunjuk ke layar laptopnya.
"Apa kau yakin?" tanya Zidan sebelum mereka mengambil tindakan.
"Tentu saja, mereka menggunakan plat nomor yang benar dan terdaftar. Di mobilnya juga terpasang kamera yang langsung terhubung pada mobilnya sehingga sangat mudah untuk menemukan posisi mereka. Syahida masih banyak penjelasan lainnya yang sama sekali tidak di mengerti oleh Zidan dan Kian, yang mereka tahu mereka sudah menemukan lokasi mobil itu.
"Ayo kita ke sana! Syahida kamu bisa bawa mobil kan, kamu pulanglah lebih dulu aku akan ke sana dengan Kian."
"Kakak ingin membunuhku. Dalam keadaan sehat dan tak mengantuk saja aku masih kadang menabrak apalagi seperti sekarang, bukannya sampai ke rumah aku bisa-bisa aku sampai ke rumah sakit," kata Syahida.
"Aku akan memarkirkan motorku dulu tempat yang aman, kita ke sana menggunakan mobil," ucap Kian yang langsung dijawab anggukan oleh Syahidah. Sang peretas itu sebenarnya bisa saja membawa pulang mobilnya. Namun, ia tak ingin melewatkan keseruan Yang sepertinya akan terjadi.
"Baiklah." kata Zidan kemudian mereka pun menuju ke tempat di mana mobil itu berada dan mereka terus mengikuti petunjuk sesuai arahan Syahida.
"Iya, ini salah satu gudang lama ayahku yang sudah lama ditutup," jelas Kian yang masih mengingat gedung tua di hadapannya, ia ketempat ini saat masih kecil. Namun, masih melekat di ingatannya.
"Sepertinya kita tidak tak bisa terlalu dekat menggunakan mobil, mungkin saja keberadaan kita bisa diketahui. Kita ke sana berjalan kaki saja." Zidan pun keluar begitupun dengan Kian.
"Syahida tetap di dalam mobil, ini berbahaya. Jangan lupa kunci mobilnya dan jika terjadi sesuatu kau pergi saja meninggalkan kami selamatkan dirimu, kami bisa menyelamatkan diri sendiri," ucap Zidan dan Syahida pun mengangguk.
Kian dan Zidan dengan cepat berlalu menuju ke gedung tersebut, mereka menyelinap masuk gedung itu yang terlihat sangat tua dari luar. Mereka mengendap-ngendap melewati beberapa penjaga Yang sepertinya menjaga tempat itu.
"Sepertinya itu mobil yang tadi," ucap Syahida membuat Zidan dan juga Kian tersentak kaget mendengar suara Syahidah yang tiba-tiba ada di belakangnya. Mereka mengira jika Syahida masih ada di mobil.
"Syahida! Apa yang kamu lakukan di sini?" garam Zidan dengan suara tertahan.
Syahida hanya memperlihatkan senyuman tak berdosanya pada kakaknya yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Syahida ini berbahaya. Kenapa kamu mengikuti kami," tambah Kian.
"Aku akan berhati-hati, lihat aku membawa tongkat," ucap Syahida memegang tongkat bisbol.
"Iya ya, kenapa kita tidak membawa alat untuk membela diri jika terjadi sesuatu," ucap Kian melihat pada Zidan.
"Aku bisa bela diri, tinjuku lebih kuat dari tongkat itu," ucap Zidan.
Ya, sejak kejadian beberapa tahun yang lalu saat penculikannya, Zidan mulai tertarik dengan ilmu bela diri dan menekuninya sampai sekarang, ia ingin melindungi adiknya.
"Ya sudah! Ayo kita masuk, aku juga penasaran apa yang terjadi di dalam, tempat ini sangat mencurigakan," ucap Zidan memimpin perjalanan mereka, Syahida berada di tengah kemudian Kian berjaga di belakang sambil memegang tongkat bisbol yang tadi Syahida bawah. Mereka terus menyusup masuk.
Mereka menghentikan langkahnya saat melihat seseorang menggendong tubuh seseorang yang berlumuran darah.
"Dia terkena luka tembak, Dia masih hidup, rawat dia Setelah sembuh bahwa dia ke negara A," ucap orang yang tadi membawanya.
Orang berjas hitam lainnya mengangguk dan menerima orang yang terkena luka tembak tersebut.
Orang yang membawanya tak lain orang yang dikejar oleh Kian tadi. setelah menyerahkan orang itu ia pun keluar dari gedung. Mereka bisa mendengar suara mobil yang juga pergi meninggalkan gedung tak terawat itu.
Mereka dengan hati-hati menuju ke tempat di mana orang itu membawa orang yang berlumuran darah tadi, dan ternyata mereka membawanya ke tempat yang terlihat seperti ruang perawatan.
"Sebaiknya kita keluar dari sini, sepertinya tempat ini berbahaya. Kita ke sini lain kali tanpa Syahida," bisik Kian membuat Zidan mengangguk dan mereka pun bergegas pergi dari sana.
☘️☘️☘️☘️
Rekomendasi author Hari ini.
Yuk di kepoin🤗
“I Love You Alexander!” teriak Hanum pada pria tampan yang sedang menggiring bola basket saat pertandingan persahabatan di sekolahnya. Kejadian itu membuatnya jadi bahan tertawaan semua siswa di sekolah, karena ia yang kuno dan berpenampilan norak serta tidak menarik, berani menyatakan cinta pada Alexander, seorang pria tampan pewaris perusahaan property terbesar di daerahnya.
“Apa kelebihanmu selain produksi minyak di wajahmu dan tumpukan lemak yang berlebihan?”
“Alexander, aku pastikan semua bayi yang aku lahirkan nanti akan memanggilmu Papa,” tekad Hanum.
__ADS_1
Bukan Hanum namanya, jika tidak bisa membuat Alexander Putra, CEO yang dingin bertekuk lutut di hadapannya.