
Hari berlalu begitu cepat, Semua menyambut kehadiran keluarga baru mereka. Kini kabar bahagia tengah dirasakan oleh Gavin.
Seluruh keluarga Wijaya menyambut Calon keluarga mereka yang kini sedang tumbuh dan di rahim Diandra, salah satu menantu Wijaya.
Hari ini Mikaila membuat bubur khusus untuk Diandra. Sudah beberapa hari ini ia terus mual dan muntah, tak ada nafsu makan sama sekali membuat kondisinya sangat lemah. Gavin juga harus terus berada di sisinya ia tak ingin jika terjadi sesuatu pada istrinya khususnya pada bayi yang ada di dalam rahimnya, sesuai dengan pesan dokter ia harus sangat hati-hati dalam merawatnya. Kondisi rahimnya masih sangat lemah sangat beresiko mengalami keguguran.
Semua itu membuat Abraham Wijaya meminta Gavin untuk mendampingi istrinya dan memberikan semua pekerjaan Gavin untuk sementara waktu padanya.
Arya sudah sibuk di kantor barunya, begitu juga dengan Kelvin, mau tak mau dia yang harus turun tangan langsung menangani proyek-proyek yang sedang dikerjakan oleh Gavin. Terutama peluncuran Secret partner yang sebentar lagi akan diadakan.
Gavin mulai bersikap possessive pada istrinya. Menjadi seorang ayah membuat Gavin sangat senang.
Abraham Wijaya akan bekerja sama langsung dengan Zidan.
Hari ini meraka kembali akan melakukan rapat terakhir untuk peluncuran Secret partnernya. Zidan yang mengetahui dari Gavin jika semua pekerjaannya dialihkan pada Papanya termasuk masalah Sicret Partner, membuat Zidan sedikit canggung untuk rapat mereka kali ini.
Sesuai dengan permintaan Abraham kali ini rapat mereka diadakan di kantornya dan Zidan tak masalah tentang hal itu. Rafiz juga tak masalah dan ikut menemani putranya rapat kali ini.
"Gavin sudah menyiapkan segalanya kau boleh memeriksa kembali mungkin ada yang ingin kau tambahkan?" tanya Abraham Wijaya menyerahkan beberapa file serta memutar beberapa gambar di layar dimana di layar tersebut menunjukkan tempat dimana akan diluncurkannya Secret partner tersebut. Mereka memilih sebuah gedung untuk peluncurannya karena ini menyangkut kerjasama beberapa perusahaan besar.
"Aku setuju, semuanya Sangat baik hanya perlu sedikit tambahan saja. Aku ingin sama seperti Secret partner level sebelumnya. Samua acara peluncurannya akan di disiarkan secara langsung, aku ingin seluruh penggemar game online ini menyaksikan kelahiran Secret partner level Diamond dan berharap mereka akan segera menyukai game ini lebih dari sebelumnya," ucap Zidan
__ADS_1
"Aku rasa memang itu sangat baik, bukankah kau sedang melakukan seleksi? Bagaimana dengan hal itu" tanya Bram lagi.
"Ia , kami sudah menemukan 20 pemain terbaik yang akan ikut dalam peluncuran tersebut di mana 20 orang itu akan memainkan game online Secret partner level Diamond untuk pertama kalinya. Aku sudah memberikan beberapa penjelasan dan tutorial dalam permainannya, aku juga telah menjelaskan kepada mereka peraturan-peraturan baru yang berbeda dari Secret partner level sebelumnya. Aku rasa jika mereka sudah mahir memainkan Secret parent sebelumnya kali ini mereka pasti bisa menguasainya dengan sangat mudah, sama halnya dengan Sicret Partner level sebelumnya mereka tak akan kesulitan memainkan. Secret Partner level Diamond kali ini aku tak ingin membuat banyak perubahan hanya meningkatkan levelnya saja," jelas Zidan.
"Baiklah kita akan melaksanakannya sesuai dengan tanggal yang telah kalian sepakati." ujar Bramq.
Sepanjang rapat Rafiz tak memperhatikan materi yang mereka bahas, Ia hanya memperhatikan raut wajah sahabatnya itu dan ia bisa menebak jika sahabatnya itu sudah merasa kagum pada putranya, tinggal beberapa langkah lagi putri dari Abraham Wijaya itu akan menjadi menantu di rumahnya.
***
Sementara itu kian terus saja mencari tahu tentang kebenaran data-data yang diberikan oleh Zidan.
"Pak Toni! Aku ingin bicara dengan Bapak," ucap kian yang menghampiri asisten rumah tangga sekaligus orang kepercayaan dan juga bisa dibilang dialah yang mengasuh Kian saat masih kecil hingga sekarang.
"Sebenarnya apa pekerjaan ayahku? Mengapa aku merasa ayah dan Pak Toni menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Kian membuat Pak Toni menghentikan gerakan tangannya menyiapkan sarapan untuknya.
"Sebaiknya Aden tak usah mencari tahu dan memang seharusnya tak tahu tentang hal itu. Hiduplah seperti ini jika memang Aden tahu sesuatu berpura-pura lah tak tahu, itu lebih baik daripada Aden yang banyak tahu," ucap Pak Toni dengan bernada dingin tak seperti biasanya.
Ya, Pak Toni juga sudah curiga jika Kian tahu sesuatu tentang mereka, ia melihat saat Kian mengendap-ngendap masuk ke ruangan kerja ayahnya bukan hanya itu saja, pak Toni juga menemukan berkas yang diberikan oleh Zidan dan Semua itu menunjukkan jika Kian sudah mengetahui apa yang sebenarnya mereka lakukan.Bukan hanya itu saja, Pak Toni juga mengetahui jika Zidan dan Kian memasang kamera pengintai di gedung, ia tak sengaja menemukan hal itu saat Kian sedang mengawasi beberapa kamera yang mereka simpan.
Semua itu membuat Pak Toni memanipulasi semua keadaan gedang tua itu yang dari dulu sibuk dengan aktivitas jual beli barang haram dan mereka alihkan ke tempat lain dan membuat suasana biasa di gedung tersebut.
__ADS_1
Pak Toni tau Kian, sepertinya sudah tahu sesuatu dari orang lain melihat file-file yang begitu lengkap yang ada di kamar.
"Jadi benar ayah pengedar ?" tanya Kian tegas.
"Saya sudah bilang Aden tak usah mencari tahu dan tak usah banyak tahu. Sayangi nyawa Anda," tegas pak Toni menatap balik Kian dengan tatapan yang tak biasa membuat kian terdiam. Namun, itu tak membuatnya takut dan semakin mempercayai apa yang Zidan katakan.
"Aku harus mencari tau, seperti aku bisa meminta bantuan dari Zidan." gumamnya. Kian berangkat ke restorannya di jalan ia menelepon Zidan dan ingin mengatur pertemuan dengan mereka. Zidan menyanggupi dan mereka akan bertemu di restoran Kian.
"Semoga saja apa yang aku pikirkan itu semua salah. Ayah tak mungkin melakukan ini."
☘️☘️☘️☘️☘️
Rekomendasi author
Yuk mampir 🤗
Cuplikan bab
Mas Pras menarik tanganku, dan membawaku masuk ke dalam kamar. "Kamu itu apa-apaan sih, berdebat seperti itu dengan ibuku, Dek?"
"Mas, tapi ibu yang mulai. Ibu mengungkit uang itu lagi. Apa aku harus selalu diam? Apa selama ini aku kurang mengalah pada ibu?" ujarku dengan parau, rasanya untuk mengungkapkan kesesakan yang kurasa begitu sulit sekali. Aku hanya bisa meneteskan air mata. Aku lelah menjalani situasi rumit ini.
__ADS_1
Melihat air mataku, mas Pras mendekatiku dan mengusapnya. Dia tidak jadi memarahiku saat aku mengatakan semua isi hatiku. Dia harusnya paham betul apa yang sebenarnya aku rasakan. Sudah tidak pernah diberi nafkah tapi masih harus dirong-rong oleh keluarganya.