
Zidan terus meneliti data-data yang diberikan oleh Syahida dan ia setuju jika semua itu mengarah pada apa yang Syahida katakan tentang ayah kian.
"Aku harus mencari tahu apakah semua ini benar. Jika memang benar aku harus lebih berhati-hati dalam penyelidikan ini."
Zidan memutuskan untuk menemui Syahida di kamarnya.
"Apakah boleh kakak masuk?" tanya Zidan menghampiri syahida yang terlihat masih sibuk menyeleksi para seleksi peserta.
"Masuk, Kak. Bagaimana? Apa Kakak menemukan sesuatu?"
"Syahida sepertinya apa yang kau katakan itu benar, aku akan bicara pada Kian mengenai hal ini, tapi mungkin ia taj akan percaya akan hal itu. Kakak akan mencoba mencari bukti yang lebih kuat."
Syahida mengangguk setuju.
"Oh ya. Kakak dan Kian pernah kembali ke gedung itu dan kami memasang beberapa kamera di sana yang langsung terhubung dengan laptop Kakak. Kamu bisa menyelidikinya juga mungkin kau bisa menemukan sesuatu di sana," ucap Zidan memberikan laptopnya.
"Kapan kakak pergi ke sana?"
"Dua hari setelah kita pergi waktu itu."
"Kenapa kakak tak mengajakku!"
"Kau jangan banyak tanya, sebaiknya kau cari bukti yang lebih banyak lagi dan satu hal lagi untuk saat ini kau jangan terlalu dekat dulu dengan Kian. kakak hanya tak mau terjadi sesuatu padamu."
"Tapi Kak, Kian itu baik dia tak mungkin menyakiti ku, aku yakin dia juga tak tahu tentang masalah itu."
"Kau benar, sepertinya Kian memang tak tahu semua itu. Tapi itu wajar seorang ayah tak mungkin memberitahu keburukannya pada putranya."
Syahida hanya mengangguk menuruti apa yang kakaknya katakan.
"Istirahatlah, ini sudah malam biarkan saja Nizam mengurus semua itu." Syahida kembali mengangguk dan mematikan laptopnya. Yang ada di pikirannya saat ini bagaimana jika benar semua data yang ditemukannya. kebenaran jika ayah kian adalah seorang pengendara. Kakaknya saja tak setuju kedekatannya dengan Kian, pasti ayahnya juga tak akan setuju dengan hubungan mereka. Tapi Ia juga tak mau menutupi semua itu dari keluarganya.
***
Pagi hari Zidan dan Rafiz berangkat ke kantor dengan mobil mereka masih-masing. Zidan harus mengadakan rapat di perusahaan Wijaya. Masih ada waktu sebulan untuk mereka masuk ke perguruan tinggi, membuat Zidan memaksimalkan harinya agar bisa meluncurkan gamenya sebelum memulai kuliahnya.
"Kakak, apa kakak ingin bertemu dengan Kian?" tanya Syahida menghentikan Zidan saat akan masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Tentu saja, kakak ingin memastikan semuanya."
"Apa aku boleh ikut?"
"Kakak tak tahu kapan akan menemuinya. Saat ini Kakak ingin menyelesaikan peluncuran game online itu terlebih dahulu. Sebelum kita semakin sibuk dengan kuliah kita. Percayakan semua masalah Kian pada kakak."
"Ayo masuklah, temani Mama mumpung kamu sedang tak ada kerjaan. kamu pasti sudah lama tak menghabiskan waktu dengan mama, ajaklah mama jalan-jalan. Mama pasti senang."
"Iya kak, hati-hati di jalan," ucap Syahida menutup pintu mobil saat kakaknya sudah masuk. Zidan membunyikan klakson kemudian melajukan mobilnya.
Sejak semalam itu terus memikirkan hal itu, ia tahu jika adiknya itu sangat mencintai Kian begitu pula sebaliknya. Sekarang ia sudah tahu apa rasanya jika mencintai seseorang seperti ia mencintai Arsy. Dia juga bisa melihat jika Kian tak mempermainkan hati adiknya, tapi kenyataan jika ayah Kian mampu menyakiti orang lain dan mengetahui profesinya yang bersinggungan dengan hukum membuat Zidan memikirkan akan keselamatan keluarganya.
Zidan dan Nizam mulai kembali sibuk, hari ini ia kembali mengadakan rapat bersama dengan Gavin
"Bagaimana dengan masalah pengembangan Secret partner? Apa semuanya sudah selesai?" tanya Gavin.
"Sudah, Kak. Semuanya siap untuk diluncurkan, Syahida juga sudah selesai menyeleksi para peserta lomba yang nantinya akan ikut berpartisipasi dalam peluncurannya."
"Baiklah, aku yang akan mengurus sisanya, kita luncurkan minggu depan. Apakah kalian tak ada masalah?" tanya Gavin lagi.
"Aku setuju, lebih cepat lebih baik, mengingat bulan depan kami sudah harus masuk ke perguruan tinggi," jawab Zidan. Mereka berjabat tangan dan sepakat akan meluncurkan Secret partner level Diamond minggu depan dan semuanya akan diurus oleh Gavin.
Mikaila menelepon dan mengabarkan jika mereka ada di rumah sakit.
"Di rumah sakit? Siapa yang sakit, Bunda?" tanya Gavin.
"Bunda membawa Diandra ke rumah sakit, tadi tiba-tiba dia pingsan," jawab Mikaila yang membuat Gavin langsung panik.
"Ya udah Bunda, tolong jagain Diandra dulu aku bunda, aku segera ke sana," kata Gavin.
"Ada apa kak? Siapa yang di rumah sakit?" tanya Zidan ikut panik mendengar kata rumah sakit. Ia takut jika yang berada di rumah sakit adalah Arsy.
"Istri Kakak sedang ada di Rumah Sakit. Bunda juga sudah di sana. Aku akan menyusul mereka," ucap Gavin dengan cepat mengambil tas kerjanya dan sedikit berlari menuju ke mobilnya.
"Apa kau juga akan ke rumah sakit?" tanya Nizam melihat ekspresi khawatir Zidan.
Bukannya menjawab Zidan langsung mengambil ponselnya menelpon Arsy.
__ADS_1
"Halo ... tadi aku sedang rapat dengan kakakmu, katanya Bunda dan istrinya ada di rumah sakit! Memangnya ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Zidan.
"Nggak ada apa-apa, ga ada yang serius. Kak Diandra tiba-tiba pingsan. Bunda yang khawatir langsung membawanya ke rumah sakit, tapi kata Bunda kak Diandra sudah baikan."
"Syukurlah jika semuanya sudah baik-baik saja, tapi apa kamu juga ada di rumah sakit?"
"Nggak, aku di rumah aja."
"Oow. Oh ya. Secret partner akan kami luncurkan satu minggu lagi. kata Syahida kamu lolos ya dalam babak seleksi?" tanya Zidan berbasa-basi padahal dialah yang meminta Syahida untuk meloloskan wanita pujaannya itu.
"Iya sih, tapi aku masih sedikit bingung kenapa aku bisa lolos padahal beberapa temanku yang ikut mendaftar yang jauh lebih hebat dariku mereka semua tersisihkan. Apa ini hanya sebuah keberuntungan. Aku beruntung dimana dipertemukan dengan lawan-lawan yang lemah."
Ya Zidan memang meneliti para pemain yang lolos seleksi dan yang dianggapnya tak memiliki kemampuan di atas Arsy meminta Syahida untuk menjadikan mereka lawan dalam babak penyisihan.
"Kenapa kamu nggak percaya sama kemampuan kamu, aku saja bisa kau kalahkan setiap kita bermain."
"Mana mungkin aku bisa mengalahkan my Boss. Kamu kan pemain terbaik, kamu aja yang pura-pura mengalah."
Mereka terus berbincang di telepon, Zidan sesekali melontarkan kata rayuan membuat Nizam si jomblo Akut hanya bisa menopang dagunya mendengarkan mereka.
"Nasib sang jomblo akut," gumamnya. Zidan hanya menahan tawa mendengar gumaman temannya itu. Namun, ia tak peduli dan terus berbicara pada Arsy. Tak biasanya gadisnya itu berbicara lama dengannya ditelepon mungkin saja karena saat ini ia sedang sendiri di rumah.
☘️☘️☘️☘️
Rekomendasi author :
yuk mampir, kak.
Rayana Hasianna, tidak pernah menyangka rumah tangga yang sudah dibina selama 2 dua tahun, harus kandas di tangan pelakor yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
Rayana tidak pernah menyangka kalau sore itu dia akan melihat ranjang yang selama ini menjadi milik pribadinya bersama suami, harus digantikan oleh, Lani, sahabatnya sendiri.
Bertekad ingin membalas dendam atau menyelamatkan rumah tangganya, Ray memilih pura-pura tidak mengetahui perbuatan mesum kedua orang yang sangat dia sayangi itu.
Bagaimana kisah Ray? akankah hati yang sudah hancur berkeping-keping bisa ditata kembali?
Akankah Ray berhasil mendapatkan cinta suaminya lagi, atau memang takdir berkata lain?
__ADS_1
"Aku mungkin bisa memaafkanmu, tapi tidak untuk melupakan, rasa sakit ini." - Rayana Hasianna.