Possessive Brother

Possessive Brother
Saling merahasiakan.


__ADS_3

Saat di sekolah Zidan langsung menghampiri Kian. Ia pun menarik Kian ke atap sekolah.


"Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Zidan yang masih penasaran dengan apa yang mereka lihat semalam.


"Aku sudah bertanya pada asisten rumah tanggaku, tapi ia hanya mengatakan jika aku tak perlu ikut campur dan jangan banyak tahu tentang hal itu. Bukankah itu mencurigakan? Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan ayah dan asisten Rumah tanggaku ya."


Zidan bersandar di pembatas atap sekolah memandang Kian dengan teliti.


"Ada apa?" tanya Kian.


"Apa kau tak pernah melihat gelagat aneh dari ayahmu atau asisten rumah tangga mu itu? kau kan selama ini tinggal bersama mereka."


"Aku dan ayahku tak terlalu dekat. Aku bahkan lebih dekat dengan asisten rumah tangga yang selama ini mengurusku. Ayah selalu ke luar negeri dan saat di rumah kami juga jarang bertemu.


"Apa jangan-jangan semua itu adalah ulah ayahmu?"


"Itu tak mungkin, Walau aku tak begitu dekat dengan ayahku, aku yakin ayahku tak akan melakukan itu. Mungkin saja ada orang lain di ruangan itu, sebelum aku masuk ke kamar aku mendengar banyak suara di dalam ruang kerja Ayahku, mungkin saja pelakunya salah satu dari mereka.


"Tapi itu kan ruang kerja ayahmu."


"Sudahlah jangan menuduh Ayahku tanpa bukti. Aku percaya pada Ayahku dia takkan melakukan itu dia takkan melukai orang lagian untuk apa juga dia melukai orang itu."


"Apa aku boleh tahu apa pekerjaan mu?"


"Ayahku tak jauh beda dengan apa yang aku kerjakan sekarang. Ayah memiliki beberapa hotel dan juga restoran, mengapa kamu seperti mencurigai Ayahku seperti itu?"


"Maaf bukannya aku menuduh ayahmu sebagai pelakunya, aku hanya ingin memastikannya."


"Malam nanti aku akan kembali ke gedung itu, apa kau ingin ikut?" tanya Kian.


"Tentu saja, kita bertemu jam 07.00 malam di tempat kemarin," jawab Zidan.


"Pastikan Syahida tak ikut," lanjut Kian.


Zidan menghalangi nafas, "Tentu saja, sebaiknya kau juga jangan memberitahu rencana kita. Jika ia tahu aku tak bisa menjamin jika dia tak akan ikut," jawab Zidan Yang tahu betul Seperti apa sifat adiknya itu, jika ia penasaran akan satu hal ia akan terus menyelidikinya, terus mencari tahu sampai ia benar-benar tahu.

__ADS_1


"Ya sudah sebaiknya kita turun. Aku tak ingin Syahida semakin bertanya-tanya. Kau tahu sendiri kan adikmu itu jika sudah bertanya dia takkan berhenti bertanya sampai dia benar-benar puas dengan jawaban kita," ucap Kian yang sudah sedikit banyak tahu tentang sifat gadis yang sedang diperjuangkan itu.


Zidan hanya tersenyum mendengar ucapan Kian, sepertinya Kian sudah mulai menerima sifat adiknya yang tak mau diam itu.


Benar saja Syahida yang penasaran terus mengutak-ngetik laptopnya bahkan ia sudah mencarinya sejak semalam dan hingga kini ia masih terus berusaha menggali lebih dalam.


"Syahida, Kamu sedang apa sih? Dari tadi aku lihat kamu sibuk terus?" tanya Lusy yang duduk di samping Syahida.


"Tentu saja aku mengurus pendaftaran pemain Secret partner. Menurut mu apalagi yang aku kerjakan?" bohong Syahida.


"Bukannya Riza juga ikut dalam pekerjaan itu? kenapa aku lihat dia bersantai saja di luar!"


"Aku yang bertanggung jawab penuh atas acara ini, jika acara ini sampai gagal itu berarti kak Zidan juga akan gagal dan juga papaku akan merugi, jadi aku akan bertanggung jawab akan hal ini," jawab Syahida kemudian ia menutup laptopnya saat melihat Kian dan juga Zidan masuk ke dalam kelas.


"Kalian dari mana?" tanya Syahida langsung menyambut keduanya dengan pertanyaan dan tatapan menyelidiknya.


"Kami habis rapat pertandingan basket? Kenapa kamu juga mau ikut rapat? Mau jadi pemandu sorak?" Zidan yang tahu betul jika adiknya itu paling tak suka saat Zidan memintanya untuk menjadi pemandu sorak dalam setiap pertandingannya.


"Ogah! Minta aja tuh Lusy yang jadi pemandu sorak kakak. Lusy itu fans sama kakak sejak kecil dia lagi patah hati mendengar Kakak sedang dekat dengan Arsy," ucap Syahida yang langsung mendapat sikutan dari Lusy.


" sama aku aja gimana? kita kan juga sudah kenal sejak kecil?" tanya Memet menaik turunkan alisnya dan melemparkan ciuman pada Lusy.


"Zidan kan sudah ada yang punya, kamu mau jomblo selamanya? Mumpung aku lagi nganggur nih," ucap Memet lagi.


"Walau aku harus jomblo, aku nggak akan mau jadian sama kamu mending aku jadian sama Nizam, Iya nggak Zam?" tanya Lusy yang melihat Nizam baru masuk ke dalam kelas mereka.


"Apaan?" tanya Nizam balik yang tak mengerti awal pembicaraan mereka.


"Udah bilang aja iya," sahut Nara.


"Ya udah deh, iya," jawab Nizam sambil duduk di samping Zidan. Jawaban Nisam membuat mereka semua tertawa karena ia tahu Nizam dan Lusy bagaikan tikus dan kucing, mereka sering bertengkar.


"Ya udah kalau gitu, Nara kamu sama aku ya!" ucap Riza menggoda Nara.


Nara yang mendengar itu langsung menghentikan tawanya, wajahnya langsung memerah. Ia memang menyukai sosok Riza selama ini. Namun, ia tak pernah memperlihatkannya pada mereka semua..

__ADS_1


"Eh kok pipi kamu merah?" sahut Memet. "Kamu beneran suka ya sama Riza?" lanjutnya.


"Apaan sih! Siapa yang pipinya merah, emangnya aku kepiting rebus apa," ucap Nara yang langsung melayangkan pukulannya di lengan Memet.


"Udah, udah. Kembali ke tempat kalian sebentar lagi gurunya akan masuk," seru Zidan.


Pelajaran dimulai. Namun, Syahida tak konsentrasi. Sesekali Ia terus mengutak-atik laptopnya yang memasukkan foto-foto yang sempat diambilnya malam itu untuk mengidentifikasi data mereka melalui wajahnya. Setelah memasukkan foto-foto tersebut ia menutup laptopnya, menunggu sampai semua data itu itu terkumpul setelah memindai foto yang dimasukkannya.


Saat jam istirahat semua sudah keluar termasuk Zidan dan juga Kian memilih.


Syahida memilih membuka laptopnya dan ia melihat data-data yang dicarinya sudah terkumpul di sana. Namun, tiba-tiba Riza masuk.


"Kamu lagi sibuk ya? sampai jam istirahat begini masih di kelas?" ucap Riza menghampiri Syahida.


Syahida dengan kelincahan tangannya langsung mengalihkan layar laptopnya pada data-data pendaftaran Secret partner.


"Ini lihat! apa kamu Nggak memeriksa pendaftarannya. ini sudah melewati batas pendaftaran. Apa sebaiknya kita tutup ya? Ini sudah melebihi target."


"Sepertinya memang harus ditutup. Aku ga menyangka jika secepat ini pendaftarannya penuh."


Syahida dan juga Riza mulai mengatur jadwal para peserta yang akan ikut lomba, mereka hanya akan menyiarkan secara langsung para peserta yang masuk dalam 100 besar. Mereka sudah mengatur pertemuan mereka .


Pendaftaran lebih dari 1000 orang dan dengan cepat mereka menutup pendaftaran.


Mereka membagi jadwal, Siapa saja yang akan bermain di hari pertama dan hari lainnya.


☘️☘️☘️☘️☘️


Rekomendasi author


yuk mampir 🤗


JUDUL: KEMBALINYA SUAMIKU


NAPEN: SUSANTI 31

__ADS_1


 Salsa Natasya Anajani tidak pernah menyangka akan mendapat kejutan yang luar biasa di hari ulang tahun putra kecilnya. Suami yang telah lama tiada kini kembali lagi dengan versi yang berbeda, mungkin fisik dan ketampanan masih sama, tapi tidak dengan sikap dan cinta untuknya. Azka Afrizal Wijaya pulang dengan ingatan yang hilang sepenuhnya, bahkan dengan tega mempertanyakan status Salsa istrinya. "Apa benar dia anakku dan kau istriku? Apa kau punya bukti tentang itu?" Mampukah Salsa membuktikan statusnya pada Azka? Atau ia harus menjadi asing di mata suaminya sendiri? 



__ADS_2