Possessive Brother

Possessive Brother
Aksi Zidan


__ADS_3

Begitu sampai di Dermaga mereka semua turun dari kapal.


"Kakak bantuin bawa dong," ucap Syahidah sambil membawa dua kopernya.


"Bawa sendiri," ucap Zidan yang justru berjalan cepat di samping Arsy kemudian mengambil koper Arsy lebih dulu.


"Kakak nyebelin," teriak Syahidah.


Arya dan Kelvin hanya Saling pandang melihat apa yang dilakukan Zidan. Mereka semakin curiga apakah mereka mempunyai hubungan yang spesial, pikir keduanya berjalan cepat menyusul Zidan yang berjalan lebih dulu di depan mereka.


"Sini biar Papa yang bawa," udah Rafiz mengambil satu kompor putrinya.


"Biar aku bawa juga," ucap Kian juga mengambil koper Syahidah yang satunya lagi, membuat sang pemilik koper langsung tersenyum dan memberikan koper besarnya pada Kian dan Papanya.


"Oh ya Siapa namamu?" tanya Rafiz pada Kian.


"Nama saya Kian Om," jawab Kian.


"Aku tahu Kian, apa maksud dan tujuanmu mendekati Putriku, tapi Syahidah belum boleh untuk menjalin hubungan dengan seorang pria, dia harus fokus pada pelajarannya. Jadi menjauh darinya dan berikan kembali koper itu pada Syahidah." Rafiz menatap tajam pada Kian membuat Kian mau tak mau kembali memberikan koper pada Syahidah.


Kelvin yang berada tepat di belakang mereka menahan tawanya, tadinya Ia berpikir jika Kian sudah mendapat Restu dari orang tua gadis yang selalu bersamanya.


Kian yang mendapat teguran itu hanya memundurkan langkahnya dan mensejajarkan dirinya pada Kelvin dan keluarga Abraham lainnya, sedangkan Rafiz dan Syahidah sudah berjalan lebih dulu.


"Kian. Apa kau kenal pria yang tadi membawa koper Arsy?" tanya Kelvin menunjuk arah Zidan dengan pandangnya yang sudah jauh di depan mereka.


"Itu Zidan anak paman Rafiz, saudara kembar Syahidah, gadis yang tadi."


"Oh namanya Zidan. Apa kau satu sekolah dengannya?" tanya Kelvin lagi.


"Iya, kak. Aku juga satu kelas dengannya dan dia juga ketua tim basket disekolah kami," jelas Kian.


Kelvin hanya mengangguk dan terus berjalan sambil matanya tak lepas dari Zidan yang kini berjalan beriringan bersama dengan Arsy dan Clara.


Bukannya itu Gavin ya?" tunjuk Raina yang melihat Gavin berjalan bersama Diandra menuju ke arah mereka.

__ADS_1


"Iya, aku pikir dia sudah kembali ke rumah. Apa dia sengaja menjemput kita?" tanya Natali. Raina hanya menaikkan bahunya dia juga tak mengerti mengapa Gavin dan Diandra menjemput mereka atau memang mereka sengaja menunggu.


sementara itu Zidan sudah menaikkan koper Arsy di mobil yang menjemput anak Abraham itu.


"Terima kasih ya, tapi kamu seharusnya tak usah melakukan itu semua. Kakakku pasti akan menceramahiku," ucap Arsy.


"Iya, kamu tak tahu aja seperti apa ketiga kakak Arsy, mereka itu sangat possessive, Arsy menyimpan nomor ponsel laki-laki saja tak boleh apalagi jika menjalin hubungan dengan seorang laki-laki," ucap Clara yang tahu jika Zidan menyukai Arsy, sikap Zidan sangat jelas menunjukkan semua itu.


"Aku tahu, mereka bersikap seperti itu karena menyayangimu, tapi aku kan tak melakukan apa-apa. Aku hanya ingin berteman dengan kalian."


"Iya, tapi kakakku kan juga melarang aku berteman dengan seorang laki-laki, jadi maaf ya mungkin mulai sekarang aku sudah tak boleh lagi bermain game online denganmu."


"Kenapa?" tanya Zidan mengurutkan keningnya.


"Aku berani taruhan mereka pasti akan melarang Arsy untuk dekat lagi denganmu atau melakukan interaksi apapun termasuk bermain online," jawab Clara.


"Dia kan tak tahu jika kita sering main bersama," jawab Zidan masih tak rela jika tak bermain lagi dengan gadis pujaan itu, semenjak mereka bermain bersama, keduanya menjadi semakin dekat.


"Maaf aku bukan orang seperti itu, aku akan menuruti jika memang kakakku minta untuk tak berhubungan lagi denganmu, maaf," ucap Arsy lagi.


Zidan menghela nafas, sepertinya tindakannya yang baru saja bukannya mendekatkan dan membuat Arsy terkesan kepadanya, tapi justru menjauhkan jarak di antara mereka.


"Jangan," jawab Arsy.


"Kenapa?"


"Aku yakin kakakku tidak akan mengizinkannya apalagi kak Kelvin. Sudahlah lagian kita juga baru kenal tak masalah untuk tak saling berkomunikasi lagi.


"Tapi aku suka mengenalmu dan aku ingin mengenalmu lebih dekat," ucap Zidan yang membuat Arsy tertegun dan melihat ke arah Zidan.


"Jika aku berhasil mendapat izin dari kakakmu untuk dekat denganmu apa kau mau jadi pacarku?" tembak Zidan membuat Clara terkejut. Ia bahkan membiarkan mulutnya terbuka lebar mendengar apa yang baru saja Zidan kata. Bukan cuma Clara yang terkejut dengan ucapan Zidan Arsy juga tak kalah terkejut, ini untuk pertama kalinya seorang pria mengatakan itu padanya. Apakah itu berarti Zidan menyatakan perasaannya padanya.


"Bagaimana kau belum menjawab pertanyaanku?" tanya Zidan masih dengan gaya kakunya.


Clara dan Arsy saling menatap mereka sering melihat, menilai pernyataan cinta dari seorang Zidan. Sangat buruk, kedua sering melihat adegan pernyataan cinta yang terlihat sangat romantis tak seperti apa yang Zidan lakukan, sangat kaku dan tak ada romantisnya sedikitpun.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Kelvin menghampiri mereka dan langsung meminta Arsy untuk masuk ke dalam mobil.


Arsy dan Clara menuruti apa yang dikatakan oleh kakaknya, Ia pun bergegas berjalan cepat masuk ke dalam mobil mengikuti yang lainnya.


Kenalkan Kak. Namaku Zidan," ucap Zidan kembali mengulurkan tangannya ingin berkenalan secara formal kepada Kelvin.


"Aku sudah tahu namamu. Aku rasa tak perlu berkenalan lagi dan satu lagi, aku tak suka kau mendekati Arsy lagi, jadi mulai sekarang berhenti mendekatinya," ucap Kelvin tegas kemudian Ia pun berbalik meninggalkan Zidan dan ikut masuk ke dalam mobil yang menjemput mereka.


Bukan hanya Kelvin, Arya juga menatap Zidan dengan tatapan tak suka sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Zidan menelan salivanya, saat mendapat tatapan tajam dari ke 3 Kakak dan di tambah ayah, Apakah ini yang dirasakan orang-orang yang selama ini mendapat tatapan tajam seperti itu dariku, saat mendekati Syahidah rasanya sungguh aneh dan memegang.


Mobil-mobil yang membawa keluarga Abraham sudah meninggalkan Dermaga tersebut termasuk Gavin yang sudah ikut bergabung dengan mereka.


Kian juga berjalan menuju ke mobil yang menjemputnya.


"Zidan kapan kau akan terus berdiri di situ, semua sudah kembali! Ayo kita kembali," ucap Rafiz memanggil putranya yang masih berdiri menatap mobil yang membawa Arsy semakin menjauh.


"Papa duluan saja" aku akan pulang dengan Kian," ucap Zidan berjalan cepat menuju ke arah Kian.


"Kakak, aku ikut," teriak Syahidah. Namun, Rafiz langsung menariknya memintanya untuk duduk kembali.


Syahidah kesalnya tak mendapat izin untuk mengikuti Zidan dan Kian Syahidah pun duduk sambil menekuk wajahnya.


Mereka pun juga meninggalkan Dermaga itu.


"Kamu mau ke mana? Apakah arahmu sejalan denganku?" tanya Kian yang tak mengerti saat Zidan tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya.


"Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu, kita bicara di cafe saja," ucap Zidan


"Pak Kita ke cafe," pinta Kian pada Supirnya. yang dijawab anggukan dan mereka pun melajukan mobilnya menuju cafe yang diminta oleh Kian.


Hay kak, aku punya rekomendasi nih yang ga kalah seru, yuk mampir 🤗


"Aku tidak pernah menyangka … jika sosok yang selama ini sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri ternyata memiliki perasaan cinta layaknya seorang pria kepada seorang wanita. Dia membuatku berada dalam situasi yang sulit—menjadi ibu tiri sekaligus sahabat dari putrinya sendiri. Aku harus bersandiwara dengan baik dalam belenggu benang kusut yang tidak pasti di mana ujungnya." Anne Malila.

__ADS_1


"Sosok wanita di masa laluku hadir dalam dirimu. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan yang sudah lama terkubur ketika melihatmu. Rasa ingin memiliki dan mencintai yang sempat hilang di masa lalu tidak akan aku ulang kembali. Aku harus memilikimu, Anne, karena kamu seperti inkarnasi ibumu di saat dia masih muda dulu." Rudianto Baskoro.



__ADS_2