
Harsya kini berada di rumah ibunya, ketika mengatakan jika wanita yang melahirkannya hampir saja di rampok membuat putranya itu khawatir.
Madya, Elia dan Harsya duduk di ruang makan bersama.
"Kenapa Ibu tidak membawa pengawal jika berkunjung ke luar kota?"
Madya tersenyum lalu menjawab, "Ibu bukan pejabat atau selebritis."
"Aku akan memecat sopir yang mengantar Ibu, dia tak becus bekerja!"
"Jangan, Nak. Dia tak bersalah, memang saat kejadian dia lagi ke toilet. Itu juga bukan kesalahannya, lagian Ibu tak apa-apa."
"Tapi, aku benar-benar khawatir," ucap Harsya.
"Katanya Ibu di tolong seorang gadis," ujar Elia.
"Iya, gadis itu sangat pemberani. Dia menolak uang pemberian Ibu," Madya mengingat gadis penolongnya yang sedang memungut barang yang berserakan di jalanan.
"Ibu masih mengingat wajahnya?" tanya Harsya.
"Masih, dia cantik dan berambut pendek. Ibu ingin bertemu dengannya lagi dan membalas kebaikannya," jawab Madya.
"Aku akan menerjunkan pengawal untuk mencari wanita itu, Bu."
"Tidak perlu, Nak. Nanti mereka salah orang, semoga suatu saat Ibu bisa bertemu dengannya," harap Madya.
"Aku juga, Bu. Bisa bertemu dengan kakak penolong ku,"sahut Elia.
"Semoga saja," Madya tersenyum. "Harsya, apa benar berita yang beredar itu?" lanjutnya bertanya kepada putranya.
"Media terlalu membesar-besarkan masalah, itu semua tidak benar. Hanya salah paham saja," ucapnya.
"Oh syukurlah," Madya bernapas lega.
"Ibu jangan khawatir, aku bisa membawa perusahaan menjadi lebih baik," ucap Harsya.
"Ibu percaya padamu, Nak."
-
Harsya memutuskan untuk menginap di rumah ibunya dan asisten pribadinya juga pulang ke rumah orang tuanya.
Biom mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, karena atasannya itu tidak bersamanya.
Ditengah perjalanan, ia meminggirkan mobilnya. Lalu ia turun, berjalan mendekati seorang wanita yang tampak kebingungan memperbaiki kendaraannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
Wanita itu tersentak kaget dengan cepat ia menoleh.
Biom dengan wajah dingin kembali bertanya, "Apa yang bisa saya bantu?"
"Kau!"
"Cepat katakan, apa yang harus saya bantu?"
"Aku tidak tahu apa yang rusak," jawabnya.
"Biarkan mobil diurus anak buah Tuan Harsya, anda bisa pulang dengan saya," ucap Biom.
"Pulang bersamamu?" menatap tak percaya.
"Iya," Biom membalikkan tubuhnya berjalan ke arah mobilnya.
Wanita itu menutup kap mesin mobil lalu mengejar Biom, "Tunggu!"
Biom menghentikan langkahnya.Kini wanita itu ada di hadapannya. "Ada apa?"
"Bagaimana mereka bisa membawa mobilku jika kuncinya ada padaku?" Menunjukkan gantungan kunci.
Biom menyambar kunci, lalu merogoh saku celananya mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang tak lama kemudian ia mengakhiri panggilannya.
Wanita yang dihadapan Biom menunggu jawaban.
"Nanti kita akan bertemu mereka dan memberikan kunci ini," ucapnya.
"Oh."
Biom kembali melangkah dan wanita itu menyusul di belakangnya.
Keduanya memasuki mobil dan Biom menghidupkan mesin mobil lalu melaju.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, Biom berhenti menurunkan kaca lalu menyerahkan kunci kepada 2 orang pria yang mengendarai motor.
Tanpa bicara keduanya pun pergi.
Biom melanjutkan perjalanannya mengantarkan wanita yang ada di sampingnya.
"Aku lapar!" ucapnya.
"Nanti saja makan di rumah."
"Aku malas harus memasak lagi."
"Saya tidak memiliki waktu untuk menemani Nona Rissa makan."
"Kamu tidak perlu menunggu aku, cukup turunkan biarkan aku pulang naik taksi," ujar Rissa.
"Baiklah, anda mau makan di mana?"
"Di warung sate kambing di ujung jalan ini."
Biom pun mengiyakan.
Sesampainya Biom juga hendak turun, ia sudah melepaskan safety belt.
"Kau mau ke mana?" tanya Rissa.
"Menemani Dokter Rissa makan."
"Kau bilang tidak memiliki waktu."
"Saya tidak ingin Tuan Harsya marah karena membiarkan sepupunya seorang diri diluaran apalagi ini sudah malam."
Rissa tak berkata lagi, ia lalu turun disusul Biom. Ia lalu memesan 2 porsi sate tanpa lontong.
Tak lama kemudian pesanannya ada dihadapannya.
"Aku sengaja pesan dua porsi, siapa tahu kau mau," ucapnya.
"Saya sudah kenyang, Dokter."
"Kalau begitu biar aku saja yang menghabiskannya," ucap Rissa.
"Kau benar-benar tidak mau? Ini sangat enak," Rissa menggigit daging yang ditusuk lidi itu.
Biom tak menjawab.
Rissa menyodorkan tusuk sate, "Ayo coba!"
"Tidak, terima kasih!" Biom menolaknya.
"Sedikit saja," pinta Rissa.
"Saya bilang tidak tetap tidak, Dokter!"
"Maaf!" Rissa tersenyum nyengir lalu lanjut makan.
Hampir sejam di warung tersebut, akhirnya keduanya pun pulang.
Sesampainya di rumah, Rissa lalu mengucapkan terima kasih kepada asistennya Harsya.
Biom hanya mengangguk tanpa ekspresi.
Rissa pun turun dan Biom berlalu.
Sementara itu Harsya tak bisa tidur, ia memilih menikmati udara malam di taman belakang rumah ibunya.
Hal yang sama juga dirasakan Madya, ia keluar dari kamarnya.
Seorang pelayan wanita yang belum beristirahat mengatakan jika sedang berada di teras belakang.
Madya lalu melangkahkan kakinya ke sana.
"Kenapa kamu belum tidur?"
Harsya menoleh lalu menjawab, "Aku belum mengantuk."
"Pasti kamu sedang memiliki masalah," tebak Madya.
"Kenapa Ibu tahu?"
"Aku ini Ibumu."
__ADS_1
Harsya tertawa kecil.
"Apa ini tentang masalah perusahaan?"
Harsya menggelengkan kepalanya.
"Wanita?" tebak Madya lagi.
Harsya mengangguk.
"Siapa wanita yang membuatmu memiliki masalah?"
"Anaya, Bu."
"Mantan istrimu?"
"Iya, Bu."
"Bukankah kalian telah bercerai?"
"Iya, Bu. Tapi, aku selalu bermimpi tentangnya."
"Apa kamu mencintainya?"
Harsya menggelengkan kepalanya.
"Sangat mustahil, jika kamu tidak memiliki perasaan kepadanya tak mungkin kamu selalu memimpikannya."
"Aku juga bingung, Bu."
"Kedua orang tuanya ikut terlibat membantu perempuan itu, Ibu tidak setuju kamu bersamanya."
"Tapi, dia tidak bersalah, Bu."
"Tapi, tetap saja di darahnya mengalir darah penjahat."
"Bu..."
"Ibu dengar juga, kalau dia tidak memiliki pendidikan tinggi seperti Andin."
"Tapi, dia memiliki hati yang tulus dan jujur seperti Andin, Bu."
"Ibu tetap tidak setuju kamu bersamanya, seperti tak ada wanita lain saja!"
Harsya terdiam.
****
Elia pagi ini berangkat sekolah seperti biasa, ia diantar seorang supir pribadi keluarganya.
Begitu sampai ia lalu turun dan berlari ke kelasnya.
"Elia, ada kado buatmu!" ucap Mitha, teman sekelasnya.
"Aku tidak berulang tahun, kenapa ada kado?"
"Aku juga tidak tahu, tadi ku dapat dari seorang pria berkacamata hitam. Dia berdiri di depan pagar sekolah."
"Kau tidak tanya namanya siapa?"
"Tidak."
"Bagaimana kalau isinya aneh?" tuduh Elia.
"Benar juga," jawab Mitha. "Coba saja buka, kalau aneh kita laporkan kepada guru!" lanjutnya.
Elia pun setuju, ia merobek kertas kado. Penuh kehati-hatian, ia membuka kotak.
Keduanya bernapas lega ternyata hanya sebuah jepitan rambut dan bros baju.
"Aku yakin pria itu penggemarmu, El."
"Kau pikir aku ini artis," bantahnya.
"Buktinya dia memberikan kado untukmu!"
"Ini pasti orang iseng yang ingin mengerjai aku," tebak Elia.
"Bisa jadi, lalu mau kau apakan benda ini?"
"Aku akan menyimpannya," jawab Elia.
__ADS_1