
Anaya pergi ke kebun yang berada di belakang rumah, ia memakai sarung tangan dan memegang sekop kecil. Ia mulai menanam dan mengurus beberapa tanaman yang mulai layu dan mengering.
Rumah yang sekarang di tempati Anaya, tidak memiliki tukang kebun jadi beberapa tanaman tidak terurus dengan baik.
Anaya sibuk dengan kegiatannya hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11 siang.
Anaya melangkah ke dapur dengan pakaian yang kotor, hal seperti ini telah biasa ia lakukan karena sejak tidak bekerja di restoran pasca kejadian itu dirinya bekerja di lahan kebun kecil kedua orang tuanya. Anaya menanam tanaman seperti sayur-sayuran, cabai dan bawang. Sore harinya, ia akan menjajakan hasil kebunnya kepada warga sekitar tempat tinggalnya. Apabila tak ada hasil tanaman yang dijual, Anaya menjual jasanya membersihkan rumah para tetangga.
Anaya duduk meraih teko air di atas meja menuangkannya isinya ke dalam gelas lalu menengguknya.
Harsya mencari keberadaan istrinya di kebun namun tak menemukannya, pelayan memberitahu jika Anaya sedang di ruang makan.
Harsya menyusul istrinya ke ruang makan, ia begitu terkejut melihat penampilan Anaya yang kotor. "Beraninya kau mengotori meja makan ku!" berkata lantang.
Anaya berjengit kaget, ia hanya melemparkan senyum kepada suaminya.
"Apa kau tidak bisa terlebih dahulu mandi baru memasuki ruangan ini?" tanyanya dengan kesal.
"Saya sangat haus, Tuan."
Harsya mendengus kesal, "Jika kau bukan gadis kecil yang menolongku waktu itu, aku akan menghukummu!"
"Jika saya bukan gadis kecil itu, Tuan tidak akan menikahi saya lagi!"
Harsya terdiam, ia membalikkan badannya melangkah meninggalkan istrinya.
Anaya telah membasahi kerongkongannya, beranjak pergi menuju kamarnya.
Begitu membuka kamar, Harsya kembali terkejut, "Kenapa kau masuk?"
"Saya mau mandi, Tuan!"
"Mandi?"
"Iya."
"Pergilah! Mandi di luar. Keringat dan lumpur yang menempel di pakaian kau itu mengotori lantai kamarku!"
"Nanti saya akan bersihkan!"
"Tidak perlu! Mandi di lantai bawah!" titahnya.
"Baiklah, tapi saya ingin mengambil pakaian di lemari!"
"Kau tidak boleh menyentuh lemariku!"
"Lalu saya harus menggunakan pakaian dan handuk siapa, Tuan?"
Harsya sejenak berpikir kemudian menjawab, "Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan pakaianmu!"
"Terima kasih, Tuan!" Anaya melemparkan senyuman lagi.
-
Sejam kemudian Anaya selesai membersihkan diri, ia kembali ke kamar. Ia duduk di samping suaminya yang sedang menggunakan laptop.
"Tuan, tidak makan?"
Harsya melihat jam di dinding, kembali menatap layar laptop, "Belum waktunya."
"Tuan, saya sudah lapar. Apa boleh makan lebih awal?"
"Tidak."
"Ya ampun, Tuan. Perut saya terus bernyanyi," ujar Anaya.
Harsya menoleh ke arah suaminya.
"Pekerjaan tadi sangat melelahkan dan membuat perut cepat lapar, boleh 'ya saya duluan makan?"
"Tidak boleh."
Anaya mengerucutkan bibirnya.
Harsya kembali melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Anaya menjatuhkan tubuhnya di ranjang, mungkin dengan tidur mampu membuatnya melupakan rasa laparnya.
Anaya memandangi langit-langit kamar sembari bernyanyi.
Harsya yang sedang fokus, menjadi terganggu. "Apa kau bisa berhenti bernyanyi?"
"Tidak bisa, Tuan. Biasanya kalau selesai bernyanyi, saya akan tertidur, " Anaya memberikan alasan berbohong.
Harsya menutup laptopnya, beranjak dari tempat duduknya, "Ayo makan!"
Anaya gegas bangkit dari tidurnya, memperbaiki rambut dan pakaiannya.
Harsya lebih dahulu berjalan dan Anaya dibelakangnya.
Anaya tersenyum memandangi aneka lauk yang satu persatu tersaji di meja.
Harsya duduk dengan posisi tegak, aura dingin masih terpancar walau tidak sekejam ketika mereka pertama kali bertemu.
Anaya mengambil nasi terlebih dahulu.
Suara deheman dari Rama, menghentikan pergerakan tangan Anaya. Dengan cepat ia meletakkan kembali centong nasi dan menundukkan pandangannya.
Rama mengambil nasi buat Harsya begitu juga dengan lauk dan sayuran. Lalu mengambilnya untuk Anaya.
Rama juga menuangkan air putih untuk majikannya.
Anaya yang sudah lapar, menyantap hidangan begitu lahap. Karena nasi dan lauk yang diambil Rama sangat sedikit, ia memberanikan diri mengambilnya lagi.
Rama ingin menegurnya. Namun, isyarat tangan Harsya menyuruhnya untuk tidak melakukannya.
Anaya juga terlebih dahulu mengakhiri makan siangnya, tanpa sadar ia juga bersendawa. Gegas menutup mulutnya dan sedikit menunduk, "Maaf, Tuan!"
Harsya tak selera lagi, mengakhiri makan dan beranjak pergi.
Anaya mengikuti langkah suaminya.
Harsya menaiki rooftop.
"Tuan, kenapa ke sini?"
Anaya mengendurkan wajahnya.
"Kenapa semakin hari tingkahmu semakin kurang ajar?" Harsya bertanya dengan membelakangi istrinya.
"Saya minta maaf, Tuan."
Harsya membalikkan badannya, "Kau memang pernah menolongku, tapi ingat kedua orang tuamu yang telah membunuh ayahku dan mereka juga yang telah menjual kau kepadaku!"
"Aku tidak akan pernah melupakan itu!" Harsya menekankan kata-katanya.
"Lalu apa yang ingin Tuan mau dari saya?"
Harsya tak menjawab dan memilih membuang wajahnya.
"Tuan, ingin melindungi saya dari orang jahat. Kenapa Tuan melakukannya?"
"Karena orang tuamu yang memintanya." Harsya menatap wajah istrinya.
"Mereka telah membunuh ayah Tuan, kenapa mendengarkan permintaannya?"
Harsya tak mampu menjawabnya.
"Biarkan saya mati diluaran sana, bukankah mereka telah menjual saya kepada Tuan? Ada urusan apa lagi mereka, semua telah saya lakukan. Tuan tidak mencintai saya yang anak dari seorang pembunuh. Kenapa tidak membiarkan saya hidup gelandangan?" ungkap Anaya dengan mata berkaca-kaca.
"Tuan, saya capek. Bertahun-tahun mereka menyiksa putrinya dengan alasan pembawa sial. Dan kini menikah, suami saya sendiri melakukan hal itu. Apa saya tidak berhak bahagia? Kenapa kalian tidak membiarkan saya mati?" Anaya berkata lantang.
Harsya mengepalkan kedua tangannya.
Anaya menundukkan wajahnya dengan air mata mengalir, "Tuan, maafkan saya. Saya tidak bermaksud membentak atau membangkang, saya benar-benar lelah."
Masih terisak, "Saya hanya ingin hidup tenang bersama dengan orang yang menyayangi dan mencintai saya tulus."
Harsya yang tak tahan mendengar dan melihat istrinya menangis memilih pergi.
Anaya terduduk dan masih menangis.
__ADS_1
-
-
Malam harinya....
Anaya duduk dibawah ranjang, melipat kedua lutut dan memeluknya. Masih dengan wajah sembab, ia melamun.
Harsya sejak siang tadi tidak menampakkan batang hidungnya.
Pintu kamar terbuka, langkah kaki terdengar mendekatinya. "Aku tidak ingin kau mati di rumahku. Pergilah makan!" berkata dengan nada dingin.
Anaya mendongakkan kepalanya, "Siapa yang akan melenyapkan saya, Tuan?"
"Jika mengetahuinya apa yang ingin kau lakukan?"
"Saya ingin menyerahkan diri kepadanya."
"Apa kau ingin mengantarkan nyawa kepadanya?"
"Ya."
Harsya menarik napas, ia tak mengerti dengan jalan pikiran istrinya. Sekuat dirinya berusaha melindungi wanita itu namun semudahnya ingin menyerah.
"Siapa dia, Tuan?"
"Aku tidak tahu, orang tuamu hanya mengatakan jika Cindy merencanakan sesuatu untuk melenyapkanmu."
Anaya lantas diam.
"Chintya adalah adik angkatnya Cindy, dialah yang pernah menculikmu," jelas Harsya.
"Wanita yang membenci saya karena telah menikah dengan Tuan?"
"Ya."
"Jadi, dia yang akan menghabisi saya?"
"Aku belum tahu pasti," jawab Harsya.
"Jika Tuan telah menangkap Cintya, apa Tuan akan melepaskan saya?"
Harsya yang ragu tak segera menjawabnya.
"Kenapa diam, Tuan?"
Harsya lagi-lagi tak menjawab.
Anaya berdiri lalu menatap wajah suaminya, "Kenapa Tuan tidak ingin melepaskan saya? Apa alasannya?"
"Tidak ada alasannya."
Anaya tertawa sinis. "Apa Tuan pernah mengalami jatuh cinta?"
"Kenapa kau bertanya itu?"
"Jika orang sudah terlanjur sayang dan cinta, apapun akan ia lakukan demi seseorang yang dicintainya. Apakah Tuan termasuk salah satunya?"
"Aku tidak pernah mencintaimu, aku membantumu karena iba bukan cinta. Tak ada yang bisa menggantikan posisi Andin dihatiku!"
"Meskipun ia telah mengkhianati Tuan!"
Harsya yang mendengarnya begitu marah, tanpa sadar ia mencengkram lengan
Anaya dengan kuat. "Dia tak pernah mengkhianati aku!"
"Oh, ya."
"Jangan pernah berpikir buruk tentang Andin, dia akan selalu ada dihatiku!"
Anaya tertawa mengejek. "Tuan mencintai wanita lain tapi menikahi saya!"
"Aku berutang budi kepadamu, kalau tidak aku akan mencampakkanmu!"
"Saya sudah melupakan kebaikan yang saya lakukan, kenapa Tuan terus mengingatnya?"
__ADS_1