
Bab 40
Seorang pelayan menghampiri Rama yang sedang berada di meja makan sembari memainkan ponselnya.
Dengan wajah panik wanita itu berkata, "Tuan, Nona Intan pingsan!"
"Apa!" Rama tampak terkejut.
"Nona Intan tergeletak di depan kamar mandi," jelasnya.
Rama gegas melangkah ke kamar Intan, sesampainya ia melihat gadis itu telah berada di ranjang.
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya seorang pelayan.
"Apa kalian sudah memberikan minyak angin?" tanya Rama.
"Belum, Tuan."
"Ambil minyak kayu putih!"
"Baik, Tuan."
Pelayan pun pergi mengambil minyak kayu putih dan minyak angin, tak lama kemudian wanita itu datang berlari kecil.
Rama menggosok minyak kayu putih di tangan lalu ia arahkan ke hidung Intan, hal itu ia lakukan berulang kali hingga gadis itu membuka matanya.
"Kalian bisa tinggalkan kami!" perintah Rama.
Ketiga pelayan wanita pun berlalu.
Intan dalam kondisi tubuh masih lemas, bangkit lalu duduk. "Apa yang terjadi dengan ku?"
"Pelayan mengatakan kalau kau pingsan di depan kamar mandi," jawab Rama memberikan segelas air putih.
Intan menyeruputnya lalu bertanya, "Pingsan?"
"Ya."
"Aku baru ingat kalau perutku mulas, sepertinya aku salah memakan sesuatu," ujar Intan.
"Makanya, kalau makan jangan buru-buru," singgung Rama.
"Aku makan seperti biasa atau jangan-jangan makanan di beri obat pencuci perut," tuding Intan.
"Kau menuduhku yang memberinya?"
"Aku hanya menebak, karena tidak mungkin ada makanan basi di rumah ini apalagi kadaluarsa," ujar Intan.
"Apa kau sering pingsan kalau sedang mulas?"
"Jika mulasnya cukup lama, aku akan mengalami dehidrasi," jawab Intan.
"Oh," ucap Rama singkat.
"Coba Tuan cicipi sepertinya ada orang yang sengaja menaruh sesuatu," ujar Intan.
"Aku akan mengganti makanannya dengan yang baru!" Rama bergegas mengambil nampan di atas nakas kemudian keluar kamar.
"Dia sungguh aneh sekali!" gumam Intan.
-
Di kediaman Abraham Syahbana...
"Biom, kamu antar Rissa kembali ke rumah. Kasihan Intan tak ada yang menemaninya," titah Harsya.
"Memangnya kalian tidak kembali ke sana?" tanya Rissa.
"Aku mau ke rumah utama bersama Anaya."
__ADS_1
"Baik, Tuan. Saya akan mengantarkan Nona Rissa. Apa Tuan ingin saya balik lagi ke rumah utama?"
"Tidak usah. Biar Alpha yang akan menjagaku," jawab Harsya.
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya pamit!" ucap Biom. "Mari, Nona!" ajaknya.
Rissa memeluk Madya, Anaya dan Elia. Lalu ia berjalan ke arah mobil yang di kemudikan Biom.
Setelah mobil Biom berlalu, Harsya berpamitan kepada ibu dan adiknya.
Keduanya pun meninggalkan kediaman orang tuanya Harsya.
"Apa Ibu bahagia dengan pernikahan Kak Harsya?"
"Walaupun Ibu belum sepenuh hati menerima Anaya, El."
"Ibu masih mengharapkan Kak Harsya mendapatkan pasangan yang lebih cantik dan pintar seperti Kak Andin?"
"Ya."
"Seandainya ada?"
"Ibu akan memisahkan mereka," jawab Madya.
"Ibu sangat tega sekali," ucap Elia.
"Kita ini keluarga terhormat dan terpandang, El. Ibu juga akan melakukan hal yang sama ketika kamu memilih calon pasangan hidup."
"Aku tidak mau dijodohkan, Bu."
"Pilihan Ibu pasti terbaik," ujar Madya.
"Ibu memang sangat egois!" Elia membalikkan badannya dan masuk ke rumah.
-
Di perjalanan, Harsya lebih banyak tersenyum memperhatikan wajah istrinya yang memandangi pepohonan di jalanan.
Anaya menoleh menatap suaminya.
"Apa kau ingin sesuatu?"
"Tidak," Anaya menggelengkan kepalanya.
Harsya meraih jemari tangan istrinya dan menggenggamnya.
"Kenapa tidak balik ke rumah sana bersama Kak Rissa?" tanya Anaya hati-hati.
"Aku ingin berduaan denganmu, biarkan dua orang wanita itu menjadi urusan Biom dan Rama," berkata dengan senyum.
"Tuan, tidak mau menyiksa saya lagi, 'kan?"
Harsya tersenyum lalu menjawab, "Berapa kali aku bilang, jangan pernah memanggil aku dengan sebutan Tuan. Apa kau ingin aku siksa lagi?"
Anaya menggeleng kepalanya dengan cepat.
"Maka, jangan panggil aku dengan sebutan itu!"
Anaya segera mengangguk.
-
Harsya dan Anaya tiba di rumah tempat pertama kali ia dan istrinya bertemu serta menikah secara mendadak dan terpaksa.
Mobil Harsya berhenti di depan pagar, tampak 2 orang pria dan wanita berdiri di depannya.
"Suamiku, itu Bibi Widuri dan Paman Alan," ujar Anaya.
"Mau apa lagi mereka ke sini?" gumamnya.
__ADS_1
"Suamiku, bolehkah saya memeluknya?" Anaya meminta izin.
Harsya menurunkan kaca jendela mobil lalu berkata kepada salah satu anak buahnya yang menjaga pintu pagar, "Suruh mereka masuk, jangan lupa periksa. Aku tidak mau mereka menyakitiku dan istriku!"
"Baik, Tuan."
Harsya menaikkan kaca jendela dan mobilnya memasuki pekarangan rumahnya.
Begitu berhenti tepat di depan rumah, Harsya dan Anaya keluar dari mobil.
Anaya melangkah menghampiri Widuri dan memeluknya, "Bibi, kalian apa kabar?"
"Kami baik, Nak. Bagaimana denganmu? Apa pernikahanmu baik-baik saja?" tanya Widuri lembut.
Harsya melihat keakraban keponakan dan bibi itu hanya tersenyum sinis. Ia percaya bahwa wanita yang lebih tua darinya 9 tahun itu hanya pura-pura.
Anaya melepaskan pelukannya, "Aku baik-baik saja, Bi. Pria yang kalian jodohkan untukku sangat baik sekali, dia menyayangiku meskipun ada kesalahpahaman diantara kami berdua sehingga aku sempat kabur darinya," ungkap Anaya walaupun ucapannya tak seratus benar, ia hanya menutupi aib suaminya.
Alan yang mendengarnya tak begitu percaya.
"Syukurlah, Bibi senang mendengarnya!" Widuri tersenyum haru penuh kepalsuan.
"Untuk apa kalian datang kemari?" Anaya bertanya seraya memperhatikan Alan yang bisa berjalan.
"Kami ingin melamar pekerjaan di sini," jawab Widuri.
"Aku tidak bisa mengizinkannya, Bi."
"Tolonglah, kamu bujuk!" mohon Widuri.
"Paman tidak bisa melamar pekerjaan di tempat lain, karena belum sepenuhnya sembuh," Alan menimpali.
"Tunggu sebentar, aku akan bicara pada suamiku," kata Anaya, ia lalu mendekati suaminya yang masih berdiri di dekat mobil.
"Apa sudah selesai melepas rindunya?" sindir Harsya, memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Suamiku, Paman saya ingin bekerja di sini."
Harsya tertawa sinis, "Aku sudah tebak kedatangan dia ke sini hanya menginginkan sesuatu bukan tulus dan rindu bertemu denganmu."
"Suamiku, Paman Alan sangat membutuhkan pekerjaan. Selama ini makan hanya dari penghasilan Bibi Widuri yang bekerja sebagai pegawai salon," jelas Anaya.
"Bukankah dari awal perjanjian, aku tidak mengharapkan keluargamu menemuimu?"
Anaya mengingat perkataan suaminya ketika orang tuanya menjualnya.
"Apa kau ingat?" tanya Harsya dengan senyuman.
"Tapi, suamiku. Saya mohon untuk memberikan pekerjaan Paman Alan, dia seorang pria baik yang menyayangiku sebagai keponakan begitu juga dengan Bibi Widuri."
"Aku akan memikirkannya lagi, sekarang suruh Paman dan Bibimu untuk pergi dari sini!"
"Baik, suamiku." Anaya kembali menghampiri Widuri dan Alan yang posisi berdirinya hanya berjarak 7 meter.
"Bagaimana, Anaya?" tanya Widuri tak sabar.
"Bibi, aku tidak bisa memberikan keputusan. Jadi, kembalilah esok lagi," jawab Anaya.
"Baiklah, semoga Tuan Muda mau menerima Paman bekerja di sini," ucap Alan.
"Iya, Paman."
"Ana, Kemarilah cepat!" teriak Harsya memanggil.
"Bibi, aku masuk dulu. Sampai jumpa!" Anaya berlari kecil menghampiri suaminya dan keduanya berjalan beriringan memasuki rumah.
Dua orang anak buahnya, berlari mendekati sepasang suami istri dan memberitahu keduanya agar segera meninggalkan kediaman.
Diperjalanan pulang, Alan bertanya pada istrinya yang duduk di belakang motornya, "Apa kamu yakin aku bisa bekerja di rumah itu?"
__ADS_1
"Iya, aku sangat yakin. Anaya, gadis bodoh itu sangat penurut. Dia pasti akan memperjuangkanmu," Widuri tersenyum menyeringai.
"Semoga saja, aku bisa bekerja di sana. Agar ku dapat bertemu dengan Anaya setiap hari," Alan membatin.