
Harsya hendak pergi, Anaya yang telah terbangun lantas bertanya, "Tuan, mau ke mana?"
"Bukan urusanmu!"
"Tuan, ini masih pagi sekali. Udara di luar sangat dingin," ucap Anaya.
"Ada hal penting yang harus ku urus!"
"Tuan, tidak ingin minum teh terlebih dahulu."
"Tidak."
"Tuan...."
Harsya bergegas keluar dari kamar dengan langkah terburu-buru.
"Apa yang terjadi?" gumam Anaya.
Matahari baru menunjukkan wajahnya, sejam yang lalu Harsya pergi dengan tergesa-gesa.
Anaya duduk menikmati sarapan pagi bersama dengan Rissa.
"Di mana Harsya?"
"Aku tidak tahu."
"Kenapa tidak tahu?"
"Pagi-pagi sekali dia pergi, dia juga tak memberitahu hanya mengatakan ada hal yang penting harus diurus."
"Hal penting? Apa menyangkut perusahaan Paman Abraham?" Rissa bergumam.
Anaya hanya diam karena dirinya memang tidak mengerti tentang perusahaan.
Rissa pun bangkit dari duduknya, ia kemudian pergi meninggalkan meja makan.
Rissa mengambil ponselnya dan menghubungi Harsya serta Biom. Namun, tak ada jawaban dari keduanya. "Ck.. dasar, jika aku yang menelepon pasti tak pernah diangkat. Giliran mereka butuh, lambat sedikit mengangkatnya langsung marah-marah!" berdecak kesal.
Rissa kembali ke meja makan menikmati sarapan pagi bersama Anaya.
"Aku sangat bosan sekali di sini, lebih baik di rumah sakit menangani pasien daripada harus terkurung di rumah besar tapi tak ada penghuninya," keluh Rissa.
"Aku juga, Kak. Di luar sana, ku bisa bekerja dan bertemu orang-orang," Anaya menimpali.
"Di sini banyak orang tapi mereka tidak bisa diajak mengobrol, aturan seperti apa yang telah dibuat Harsya."
"Entahlah, Kak."
-
Selesai sarapan, Rissa mengajak Anaya berenang. Tentunya, gadis itu mau.
Keduanya menikmati air kolam seraya bercanda.
"Apa Kak Rissa sudah tahu siapa yang akan mencelakakan aku?"
Rissa menggelengkan kepalanya.
"Tuan Harsya mengatakan jika ada salah satu pelayan yang berkhianat," ucap Anaya.
"Dia juga mengatakannya padaku," ujar Rissa.
"Itu artinya pelayan tersebut bekerja sama dengan Tuan Harsya?"
"Ya."
"Apa Kak Risa mengenal Andin?"
"Dari mana kamu tahu tentang dia?"
"Aku tidak sengaja melihat fotonya di kamar rahasia Tuan Harsya."
"Jadi, dia masih menyimpan foto wanita itu?" Raut wajah Rissa tampak tidak suka.
"Tuan Harsya sangat mencintainya dan mereka berencana menikah tahun depan, tapi takdir berkata lain."
"Harsya memang sangat mencintainya meskipun Andin selalu membuatnya kecewa."
"Maksudnya?"
"Andin berapa kali mengkhianati hubungan mereka hingga penyakit itu mulai menyerang, Andin mulai sadar atas kesalahannya. Dan kesetiaan Harsya pun diuji, ia selalu berada di samping Andin sampai menutup mata," tutur Rissa.
"Sebegitu cintanya Tuan Harsya padanya?"
"Aku sudah pernah bilang padamu, Harsya jika mencintai wanita apapun akan ia lakukan."
"Mungkin sekarang Tuan Harsya sudah memiliki pengganti Andin."
"Harsya belum membuka hatinya untuk wanita lain, meskipun banyak perempuan yang mencoba mendekatinya. Dan kamu termasuk beruntung telah dinikahinya."
"Dinikahi tapi tak dicintai sangat menyakitkan, Kak."
"Makanya, sekarang kamu harus mencoba menarik perhatiannya dan memberikan hati untuknya."
"Bagaimana jika gagal?"
"Aku yakin akan berhasil karena sekarang statusmu adalah seorang istri. Apalagi jika kamu hamil dan kalian memiliki anak, pasti Harsya akan semakin mencintaimu."
"Aku takut dia akan menyiksaku lagi."
"Aku yakin dia takkan melakukannya lagi."
__ADS_1
Anaya pun tampak berpikir.
Rissa keluar dari kolam, ia meraih handuk dan mengelap tubuhnya.
Anaya juga melakukan hal yang sama.
"Aku beri saran, nanti malam tampil seksi dan menggoda agar dia menyentuhmu," Rissa berkata dengan nada pelan seraya tersenyum.
Anaya hanya diam.
Rissa memakai handuk kimono lalu pergi ke kamarnya.
Anaya terduduk, ia memikirkan perkataan Rissa. "Apa aku harus melakukan yang di sarankan Kak Rissa?" batinnya.
-
-
Malam harinya menjelang tidur...
Suara deru mobil terdengar, Anaya dengan cepat mengintip dari jendela. Ia tersenyum melihat wajah suaminya. Gegas, ia naik ke atas ranjang dan menyelimuti dirinya.
Ya, dia akan mengikuti saran dari Rissa untuk menjerat hati Harsya dengan pakaian seksi.
Harsya membuka pintu kamar melihat istrinya belum tidur.
Anaya turun dari ranjang, "Auww!" pekiknya, karena gugup kakinya tersangkut selimut hingga ia tersungkur.
Harsya hanya melihat tanpa menolongnya.
Anaya berdiri dengan melemparkan senyum semanis mungkin.
Harsya mengernyitkan keningnya.
Anaya mendekatinya, "Tuan, apa kabar?" berbasa-basi.
"Kenapa denganmu?" Harsya tampak heran, apalagi melihat Anaya memakai lingerie.
"Tuan, ingin saya buatkan air panas?"
"Boleh juga."
"Apa ingin minum teh atau kopi?"
"Tidak."
"Apa Tuan sudah makan malam?"
"Sudah."
"......"
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Aku mau mandi, buatkan air panas untukku!"
"Baik, Tuan."
Anaya ke kamar mandi, tak lama kemudian ia keluar.
"Aku mau mandi!" Harsya melewati tubuh istrinya.
Anaya menarik lengan Harsya dan tersenyum genit.
Harsya menyipitkan matanya.
"Tuan, apakah saya malam ini sangat seksi?"
Harsya menarik napas.
"Tuan, mau saya mandi 'kan?" Godanya.
Harsya memegang kening istrinya, "Apa hari ini kau salah minum obat?"
Anaya menurunkan tangan Harsya, "Aku tidak sakit, Tuan."
"Kau pikir dengan pakaian tanpa bahan ini aku akan tergoda?"
Anaya tak bisa menjawabnya.
"Aku tidak akan pernah menyentuhmu!" Harsya masuk ke kamar mandi.
Anaya menghentakkan kakinya, usahanya menggoda suaminya gagal. Padahal dirinya sudah berusaha tenang meskipun jantungnya berdetak kencang.
Anaya memakai jaket jubah menutupi pakaian seksinya, ia keluar kamar menuju kamar tidur Rissa.
Anaya mengetuk pintu wanita itu, tak lama pintu terbuka.
"Ana!"
"Kak, aku mau tidur di sini!" Anaya menyerobot masuk.
"Hei, kenapa tidur di sini? Harsya akan marah."
"Aku mau menyerah, Kak."
"Menyerah kenapa?"
"Dia mengatakan tidak akan menyentuhku, daripada aku sakit hati lebih baik ku tak mencari masalah dengannya."
"Pria memangnya begitu, jika tiap malam disuguhkan dengan kegenitan kamu pasti akan tergoda."
__ADS_1
"Ya, ampun Kak. Aku ini sudah malu harus menggodanya, dia sama sekali tidak mencintaiku!"
"Kamu harus sabar," ucap Rissa. "Kembalilah ke kamarmu sekarang!" menarik tangan Anaya dan membuka pintu.
"Kak, biarkan aku malam ini tidur di sini!"
Rissa mendorong tubuh Anaya keluar, "Aku tidak mau Harsya murka!"
Anaya dengan langkah malas kembali ke kamarnya, ia duduk di sisi ranjang dengan masih memakai jaket jubah.
Harsya keluar dengan menggunakan handuk kimono, "Kau mau ke mana dengan menggunakan itu?"
"Tadinya mau tidur di kamar Dokter Rissa tapi dia mengusir saya."
"Kenapa harus tidur di kamar orang lain?"
"Ini juga kamar orang lain, tak ada kamar untuk saya!" Anaya membuka jaketnya lalu menggantungnya.
Anaya naik ke atas ranjang, menarik selimut, memiringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Harsya merebahkan di samping Anaya.
***
Keesokan paginya...
Anaya turun bersama suaminya, ia melihat koper di samping kursi Rissa duduk.
"Dokter Rissa mau pergi?" tanya Anaya.
"Iya, aku akan kembali ke rumah sakit."
"Siapa temanku di sini?" tanya Anaya.
"Aku di sana hanya tiga hari, nanti kita akan bertemu lagi."
"Tiga hari aku akan sendirian?" tanya Anaya.
"Ya," Harsya menjawabnya.
Anaya menghela napas.
Keempatnya menikmati sarapan bersama tanpa obrolan lagi.
Selesai sarapan, Rissa berpamitan kepada Harsya dan Anaya untuk kembali ke rumah sakit.
Biom mengantarkan wanita itu ke rumah sakit.
"Apa Tuan hari ini akan pergi juga?"
Harsya tak menjawab, ia memilih berlalu.
Anaya mengikuti langkah suaminya.
"Kenapa mengekoriku?" Harsya menoleh ke belakang.
"Saya tidak memiliki teman, rumah ini besar tapi terasa sangat sepi."
"Jadi, kau mau apa?"
"Saya ingin bekerja, Tuan."
"Aku tidak mengizinkanmu bekerja."
"Walaupun hanya sekedar memasak?"
"Ya."
"Hemm, bagaimana kalau saya temani Tuan saja?"
"Aku tidak perlu di temani."
"Baiklah, kalau Tuan tidak mau. Saya mau berenang saja!" Anaya membalikkan badannya.
"Tunggu!"
Anaya membalikkan badannya dan tersenyum.
"Aku tidak suka kau memakai pakaian renang!"
Anaya mengernyitkan keningnya.
"Pakailah pakaian yang sopan."
"Tuan..."
"Rumah ini diawasi kamera pengawas jadi semua tingkah lakumu, aku tahu."
Anaya menutup mulutnya.
"Pergilah!"
"Jadi, saya berenang harus pakai piyama?"
"Ya, kau bisa pakai pakaian yang tidak menampakkan belahan dada."
"Tuan..."
"Jangan membantah lagi!"
"Saya tidak jadi berenang, lebih baik berkebun!" Anaya kemudian berlalu.
__ADS_1
Harsya hanya memandangi punggung istrinya menjauh.