Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 26 - Diungsikan


__ADS_3

Keempatnya kini sampai di sebuah rumah mewah dengan halaman luas serta jauh dari pemukiman penduduk.


Anaya tercengang melihat rumah yang begitu besar, "Katanya kita mau ke pantai, tapi kenapa ke sini?"


"Untuk beberapa bulan ke depan kita akan tinggal di sini."


"Tinggal di sini? Berdua?"


"Tidak, ada beberapa pelayan yang akan mengurus rumah dan melayani kamu."


"Aku tidak tiap hari pulang," jelas Harsya.


"Saya tidak mau sendirian di sini," ucap Anaya.


"Kau ingin aku terus bersamamu?"


Anaya mengangguk.


Harsya tertawa sinis, "Tetapi aku tidak mau."


"Hai, gendut!"


"Kau bilang apa?"


"Gendut," jawab Anaya tanpa dosa.


Harsya mendengus, "Bersyukurlah, karena kau gadis kecil yang menolongku waktu itu. Jika bukan, aku tidak bisa bayangkan tubuhmu akan seperti apa!"


Anaya bergidik ngeri.


"Cepatlah ke kamar!"


"Untuk apa?"


"Tidur, apa kau tidak kelelahan kita telah melakukan perjalanan selama tiga jam."


"Tidak."


"Kau akan terus membuka mata, selama dua puluh empat jam?"


"Selama Tuan tidak tidur di samping saya, mata ini takkan terpejam."


"Dasar manja!" cibirnya.


Anaya menyengir.


Harsya menarik tangan istrinya, "Aku akan menemani kau tidur!" membawanya ke kamar.


Anaya tersenyum senang.


Begitu sampai kamar, Anaya tampak takjub dengan interior kamar yang sangat mewah. "Wah!"


"Ganti pakaianmu!" titah Harsya.


"Tuan mau apa?"


"Kita ini sudah menikah, maka kau harus bersiap!"


Anaya memundurkan langkahnya, ia menyilangkan tangannya menutupi bagian dadanya.


Harsya menarik tangan istrinya, ia hempaskan ke ranjang.


"Tuan, saya belum siap!" Anaya tergagap.


"Pinggirkan tubuhmu, aku mau tidur!"


Anaya dengan cepat bangkit dan berdiri.


Harsya merebahkan tubuhnya, menarik selimut dan memejamkan matanya.


Anaya yang memang lelah, melangkah ke lemari dan membukanya. Ia mengambil salah satu pakaian buat tidur siang.


Melangkah ke kamar mandi dan menggantinya, Anaya naik ke ranjang dan merebahkan tubuh lalu memejamkan matanya.


Harsya membuka matanya, ia melihat ke sampingnya. Memandangi wajah Anaya yang tertidur pulas.


Harsya menyingkirkan rambut istrinya yang menutupi wajah. Menarik sudut bibirnya, ia memperbaiki selimut Anaya.


Harsya turun dengan hati-hati agar Anaya tidak terbangun karena mendengar langkah kakinya.


Membuka pintu Harsya keluar kamar dengan cara mengendap-endap.


Harsya menghampiri Biom dan beberapa anak buahnya yang bertugas sebagai pengawal. "Pastikan dia tidak kabur dari rumah ini dan jangan sampai ia terluka."


"Kira-kira siapa orang yang akan mencelakakan Nona Anaya, Tuan?" tanya kepala pengawal.


"Aku juga tidak tahu, cuma Pak Emir mengatakan istrinya mendengar percakapan Cindy akan membunuh Anaya," ungkap Harsya

__ADS_1


"Nona Cindy di tahanan, bagaimana dia melakukannya?" tanya Biom.


"Orang suruhan," jawab Harsya.


"Apa mungkin penculikan Nona Anaya kemarin ada hubungannya dengan Nona Cindy, Tuan?" tanya kepala pengawal.


Harsya tampak berpikir kemudian menjawab, "Kemungkinan."


"Kita sudah mengetahui alamat baru pelayan yang berkhianat itu, Tuan." Ucap kepala pelayan lagi.


"Tangkap dia!" titah Harsya.


"Baik, Tuan!"


-


Anaya terbangun, ia tak menemukan suaminya di sampingnya. Ia lantas turun dari ranjang dan keluar dari kamar.


"Tuan!" Anaya berteriak memanggil.


Seorang pelayan wanita menghampirinya, "Nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Di mana Tuan Harsya?"


"Tuan Muda dan Tuan Biom pergi sejam lalu."


"Pergi?"


"Iya, Nona. Saya diperintahkan untuk melayani anda."


"Dia meninggalkan ku di sini sendirian. Hubungi dia!" titahnya.


"Maaf, Nona. Kami tidak bisa menghubunginya, yang berhak menelepon Tuan Muda hanya kepala pelayan."


"Di mana kepala pelayan?"


"Dia juga tidak di sini, Nona."


"Astaga, ke mana mereka semua. Sungguh menyebalkan!" gerutunya.


Anaya kembali ke kamarnya.


"Nona, ingin apa biar saya buatkan?" tanya wanita itu seraya mengikuti langkah Anaya.


"Aku belum lapar!"


Pelayan wanita itu berhenti mengikutinya dan berbalik arah.


Anaya mengacak rambutnya dan duduk di pinggir ranjang.


-


-


Biom datang menemui Rissa di ruang kerjanya di salah satu rumah sakit.


"Mau apa kau ke sini?"


"Saya sudah meminta izin kepada kepala rumah sakit untuk membawa membawa Dokter Rissa ke salah satu rumah Tuan Harsya."


"Buat apa saya ke rumahnya?"


"Untuk menemani Nona Anaya."


"Dia sudah kembali? Kalian menahannya lagi?" cecar Rissa.


"Jangan banyak bertanya, Nona. Cepat kemasi barang-barang anda, kita berangkat sekarang!"


"Berapa hari saya di sana?"


"Untuk sementara tiga hari."


"Sementara? Bisa jadi akan bertambah?" tebak Rissa.


"Ya."


"Mau Harsya apa, sih?" Rissa ngedumel.


"Nanti Nona tanyakan saja langsung pada Tuan Harsya."


"Ya, jika aku bertanya padamu. Kau tidak akan menjawabnya."


-


Rissa kini telah berada di mobil bersama dengan Biom, mereka akan menuju rumah Rissa untuk mengambil beberapa pakaian miliknya.


Setelah itu keduanya lanjut menuju kediaman Harsya yang ada di pelosok perkampungan.

__ADS_1


Rissa meminta Biom untuk berhenti sejenak, ia turun membeli makanan. Tak lama kemudian ia kembali dengan menenteng 2 bungkus kantong berisi makanan.


"Tuan, tidak mau?"


"Tidak."


"Kalau tidak mau, biar aku makan sendiri." Rissa menggigit roti bakar rasa coklat dan keju.


Biom fokus menyetir.


Rissa yang sangat kelaparan menghabiskan 3 potong roti lalu menengguk air mineral.


Setelah merasa kenyang, ia kemudian bertanya kepada Biom, "Apa perjalanan kita masih jauh?"


"Masih."


"Memangnya Harsya membeli rumah di mana, sih?"


Biom tak menjawab.


Rissa memperhatikan kanan kiri jalan yang mereka lalui banyak pepohonan besar dan kebun-kebun milik warga.


"Apa di sini tak ada rumah?" tanyanya lagi.


"Sampai ke rumah Tuan Harsya tidak ada pemukiman penduduk."


"Apa!" Rissa terkejut. "Dia membangun rumah tanpa ada tetangga?" tanyanya lagi.


"Ya."


"Dia memang sungguh aneh, untuk apa juga dia membawa istrinya ke sini?"


"Dokter Rissa hanya untuk menemani Nona Anaya mengobrol."


"Apa? Kau membawaku ke sini hanya untuk sekedar menemani istri Harsya mengobrol?"


"Sekaligus memeriksa kondisi kesehatan Nona Anaya."


"Dia menyiksanya lagi?"


"Tidak. Malah Tuan sangat begitu khawatir dengan keselamatan Nona Anaya."


"Memangnya Anaya diincar seseorang?"


"Ya, jika Tuan Harsya tidak menikahinya maka keselamatan Nona Anaya akan menjadi taruhannya."


"Kenapa mereka mengincar Anaya?"


"Saya juga tidak tahu."


"Kasihan sekali Anaya."


Hampir sejam lebih perjalanan, Rissa akhirnya tertidur. Biom membiarkan wanita itu beristirahat sejenak.


Sesampainya di kediaman Harsya, Biom memperhatikan wajah Rissa yang cantik tanpa riasan.


Biom segera menggeleng kepalanya. Ia lalu berucap, "Dokter, kita sudah sampai!"


Rissa membuka dan mengucek matanya, ia melihat sekelilingnya. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, "Kau yakin ini rumahnya?"


"Iya, Dokter."


"Astaga, ini sangat mewah sekali," kagumnya.


Biom turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu buat Rissa.


Biom membuka bagasi mobil dan menurunkan koper.


"Mari, Dokter!" Ajak Biom.


Rissa berjalan di belakang Biom yang menggeret koper miliknya.


Biom membawa Rissa ke sebuah kamar yang lagi-lagi membuat wanita itu takjub.


"Ini kamar untuk Dokter Anaya," meletakkan koper di dekat lemari.


"Di mana Anaya?"


"Mari ikut saya!"


Rissa mengikuti langkah asistennya Harsya itu.


"Itu Nona Anaya, Dokter!" Biom mengarahkan pandangannya kepada seorang wanita yang sedang duduk di ruang santai keluarga sembari menonton televisi.


Rissa mengikuti arah pandangan Biom, ia lalu tersenyum.


"Saya tinggal, permisi!" Biom pun berlalu.

__ADS_1


Rissa menghampiri Anaya yang sedang fokus menonton televisi.


Anaya mendongakkan kepalanya karena terkejut ia lalu tersenyum senang, "Dokter!"


__ADS_2