Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 28 - Memahami Kebiasaan Harsya


__ADS_3

Harsya pulang ke rumah, ia hanya keluar untuk bertemu mantan karyawannya yang pengkhianat dan sebentar mampir ke perusahaannya.


Para pelayan begitu melihat Harsya turun dari mobil bergegas menghampirinya, "Tuan, Nona Anaya..."


"Kenapa dengan dia?" Harsya tampak khawatir.


"Nona Anaya memanjat pohon mangga yang ada dihalaman belakang," ucap pelayan wanita itu.


"Kenapa harus dia yang manjat jika memang ingin makan buah mangga?"


"Nona penasaran dengan rumah penduduk yang terhalang tembok rumah ini, Tuan."


Harsya mempercepat langkahnya setelah mendengar pengakuan pelayannya.


Anaya telah di atas pohon memandangi rumah warga. Sementara Rissa terus meminta wanita itu untuk turun.


Melihat Harsya datang, Rissa bergegas pergi.


Harsya mendekati pohon mendongakkan kepalanya, "Apa yang kau lakukan di atas?"


tanyanya dengan lantang.


"Saya hanya ingin melihat pemandangan dari sini, Tuan."


"Cepatlah turun!" perintahnya.


"Sebentar lagi, Tuan. Saya baru lima menit di sini!" ucap Anaya dengan sedikit berteriak.


"Aku bilang turun!" Harsya berkata lantang.


Anaya pun bergegas turun.


Harsya menunggu di bawah.


Satu langkah lagi kakinya menginjak tanah, Anaya terpeleset. Beruntung Harsya sigap menangkapnya.


Anaya memeluk tubuh dengan memejamkan matanya.


"Singkirkan tubuhmu dariku!" Harsya berkata dengan nada dingin di telinga istrinya.


Anaya dengan cepat memundurkan tubuhnya, "Maaf, Tuan!"


"Kau ingin mereka tahu keberadaanmu?"


"Apa orang yang ingin melenyapkan saya ada di sekitar rumah penduduk sini, Tuan?"


"Aku tidak tahu, tapi alangkah lebih baik kau menghindar dari orang-orang."


"Kita jauh dari kota, tidak mungkin mereka tahu, Tuan."


"Apa kau tidak tahu, salah satu pelayan seorang pengkhianat?"


Anaya menggelengkan.


"Kau harus bisa menjaga diri, karena aku tidak mungkin selalu ada di dekatmu."


"Iya, Tuan. Terima kasih atas perhatiannya," Anaya berkata menampilkan senyum indahnya.


"Pergilah mandi, kau sangat bau sekali!" Harsya pun pergi.


Anaya mengangkat lengan tangan kanannya tidak terlalu tinggi, mengarahkan wajahnya dan mengendus aroma tubuhnya. "Tidak bau," gumamnya.


Anaya melangkah ke kamarnya dan membersihkan diri.


Selesai mandi, ia keluar kamar mencari keberadaan suaminya.


Anaya menghampiri Harsya yang duduk bersama dengan Rissa serta Biom di halaman belakang.


Harsya menengadahkan wajahnya memperhatikan istrinya yang berdiri di hadapannya. "Kenapa di sini?"


Anaya tak menjawab akhirnya memilih pergi, ia berpikir jika dijawab pasti akan disalahkan lebih baik berlalu.


Harsya dan dua lainnya mengerutkan keningnya, memperhatikan sikap Anaya.

__ADS_1


Kembali ke kamar, menghidupkan televisi. Anaya memilih menonton drama. Ia duduk di atas sofa dengan mendekap lututnya.


Harsya masuk ke dalam kamar, membuka baju di hadapan istrinya yang sangat fokus menonton televisi.


Anaya tersenyum ketika melihat adegan romantis di drama tersebut.


Harsya terus memperhatikan tingkah istrinya.


Anaya tiba-tiba tertawa.


Harsya lantas meraih remote dan mematikannya.


Anaya yang bingung akhirnya tersadar, ia menurunkan kedua kakinya dari sofa dan berdiri, ia menundukkan kepalanya, "Maaf, Tuan."


"Aku ingin mandi, sediakan air panas untukku."


Anaya melangkah ke kamar mandi, menampung bak dengan air panas.


Tak lama kemudian ia keluar dari kamar mandi, menghampiri suaminya.


"Sediakan pakaian untukku!"


Anaya mengangguk mengiyakan.


Harsya menuju kamar mandi.


Anaya melangkah ke lemari mencari pakaian yang akan digunakan suaminya.


Anaya tampak seperti orang kebingungan, ia berdiri lalu duduk menatap pintu kamar mandi kemudian bangkit dan mondar-mandir.


Pintu kamar mandi terbuka, Harsya keluar menggunakan handuk. Tubuhnya yang seksi masih menetes air yang jatuh dari kepalanya.


Anaya mematung, ia terkesima memandang tubuh suaminya.


Harsya mendekati istrinya dan melemparkan handuk yang mengeringkan rambutnya di wajah Anaya.


Anaya terperanjat, ia menyingkirkan handuk dari wajahnya.


Anaya dengan cepat meraih baju dan celana di ranjang dan melangkah cepat ke lemari untuk menggantinya.


Anaya baju dan celana asal, lalu menghampiri suaminya, "Ini, Tuan!"


"Aku memakainya lima hari yang lalu, ganti!"


Anaya mengganti pakaian suaminya lagi.


"Aku memakainya seminggu yang lalu!"


"Tuan, pilih sendirilah!" Anaya mulai kesal.


"Kau menyuruhku?" sentaknya.


Anaya tertunduk.


"Cari pakaian yang telah ku pakai sebulan lalu!"


"Hah!"


"Kau tidak dengar apa yang ku katakan?" bentaknya.


"Saya tidak tahu pakaian yang mana Tuan pakai sebulan lalu," ucap Anaya jujur.


"Kau tidak mengingatnya?"


"Tuan, kita baru bertemu kemarin. Sebulan lalu saya tidak bersama dengan anda."


Harsya pun terdiam.


"Sekarang tunjukkan pada saya mana pakaian yang telah Tuan pakai sebulan lalu?"


"Kenapa jadi kau yang menyuruhku?"


"Astaga, Tuan. Saya tidak tahu pakaian yang Anda pakai sebulan lalu, jadi tolong bantu saya meringankan pekerjaan ini," jawab Anaya.

__ADS_1


Harsya melangkah mendekati lemari, membuka lalu menunjuk salah satu baju dan celana yang tertumpuk rapi.


Anaya lalu mengambilnya dan menyerahkannya pada suaminya.


"Kau harus mengingatnya!"


"Saya akan berusaha mengingatnya, Tuan." Anaya tersenyum.


Harsya menyentuh kening istrinya dengan jari telunjuknya, "Harus!" menekankan kata-katanya.


"Iya, Tuan."


"Aku tidak suka kau melihat tubuhku, jadi keluarlah dari kamar ini!"


Anaya bergegas pergi.


Tak lama kemudian Harsya menyusul istrinya di meja makan.


Mereka menikmati makan malam berempat bersama Biom dan juga Rissa.


Semua diam saat makan.


Harsya terlebih dahulu menyelesaikan makannya disusul Biom.


"Kenapa cepat sekali?" tanya Anaya yang heran karena suaminya baru duduk 5 menit.


Harsya tak menjawab, memundurkan kursi lalu berdiri.


Ia melangkah beriringan dengan Biom di sampingnya.


"Sesibuk apakah sebenarnya Tuan Harsya?"


"Sangat sibuk, Ana. Suamimu itu harus menjalankan beberapa perusahaan milik ayahnya dan asistennya yang super dingin dan ketus itu yang membantunya," jelas Rissa dengan suara pelan.


"Apakah mereka berdua teman lama?"


"Tidak, ayah Biom adalah karyawan salah satu di perusahaan mereka."


"Oh, begitu."


"Tapi, kamu beruntung dinikahi Harsya."


"Dia kejam, Kak. Aku tidak beruntung sama sekali," ucap Anaya.


"Dia kejam setelah kematian ayahnya, tapi yakinlah Harsya itu pria yang baik dan setia. Aku bilang kamu beruntung karena dalam ikatannya."


"Semoga suatu saat Tuan Harsya menjadi sosok yang lebih baik."


"Ana, apa kamu memiliki perasaan pada Harsya?"


Anaya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Dia terlalu kejam, ku tak bisa menyukainya."


"Kalian tiap hari bertemu apakah kamu sama sekali tidak memiliki perasaan padanya?"


Anaya menggeleng lagi.


"Jika Harsya mencintaimu, apa kamu akan membalas cintanya?"


"Aku tidak tahu, Kak."


"Harsya tidak suka penolakan, jadi ku berharap belajarlah mencintainya. Ini semua menyangkut dengan karir dan keselamatanmu!"


Anaya mencoba memahami perkataan Rissa.


"Jika Harsya telah jatuh cinta pada seorang gadis, ia akan mengorbankan semuanya. Maka ketika dia mulai membuka hati, ku mohon jangan kecewakan dirinya."


"Jika aku belum bisa mencintainya, bagaimana?"


"Aku yakin seiring berjalannya waktu, kamu pasti mencintainya."

__ADS_1


__ADS_2