
Biom menghampiri Rissa yang masih menikmati sarapan pagi.
"Tuan Muda menyuruh Nona untuk ikut ke rumah ibunya."
"Kenapa saya harus ikut?"
"Saya tidak tahu, Tuan Muda hanya menyuruh saya untuk memberitahu Nona."
"Baiklah, aku akan bersiap-siap." Rissa pun melangkah ke kamarnya.
"Kenapa Tuan Muda tidak membawa Intan atau aku juga?" Rama bertanya kepada Biom.
"Mungkin karena Nona Rissa sepupunya Tuan Muda dan dapat menenangkan Nyonya Besar jika marah kepada anak dan menantunya," ujar Biom.
"Bisa jadi, tapi kenapa aku tidak diajak juga? Ku sangat malas jika berhadapan dengan wanita aneh itu."
Biom tertawa kecil, "Tak ada pilihan lagi."
"Oh, aku tidak bisa bayangkan apa yang akan dia lakukan lagi."
"Kau harus sabar," Biom tersenyum meledek.
Rissa telah selesai berdandan, ia kemudian menghampiri sepupunya.
"Kenapa mengajakku ke rumah bibi?"
"Hanya kau yang dapat melembutkan hatinya," jawab Harsya.
"Aku sudah tebak, pasti kau tidak berani pergi ke sana seorang diri. Makanya membawaku sebagai pawang," ujar Rissa.
"Ya."
"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Rissa.
Keempatnya pun berangkat menuju kediaman Abraham Syahbana.
Perjalanan membutuhkan waktu 4 jam dengan jalur darat.
Sesampainya, Anaya memegang erat tangan Rissa karena ia begitu takut bertemu dengan ibu mertuanya meskipun ia pernah berjumpa dan sempat menolongnya.
Harsya melihat istrinya menggenggam tangan sepupunya lantas menarik lengan wanita itu dan mendekapnya.
Rissa hanya tertawa kecil melihat sepupunya seperti orang yang sedang cemburuan.
"Aku ini suamimu, genggam tanganku saja!" bisiknya.
Anaya hanya mengangguk.
Keempatnya memasuki rumah mewah milik kedua orang tuanya Harsya.
Anaya menundukkan wajahnya ketika berhadapan dengan ibu mertua dan adik iparnya yang melemparkan senyum.
"Jadi dia istrimu!" Madya menatap ketus wanita yang menundukkan wajahnya.
"Sepertinya aku mengenalnya, Kak, Bu." Elia berkata seraya memperhatikan wanita yang ada dihadapannya.
"Coba angkat wajahmu!" titah Madya.
Keduanya tampak tak percaya, jika wanita yang bersama dengan Harsya adalah orang sama ketika menolong mereka.
"Dia yang sudah membantuku waktu itu, Bu!" Elia tersenyum senang.
"Dia juga yang telah menolong Ibu," Madya berkata tapi tak semangat seperti putrinya.
__ADS_1
"Wah, tepat sekali. Ternyata kalian sudah saling kenal," Rissa menimpali.
"Benarkah apa yang dikatakan Ibu dan Adikku?" Harsya menatap wajah istrinya.
Anaya mengangguk.
Harsya tersenyum, "Kenapa kau tidak bicara?"
Anaya tak bisa menjawab.
Elia mendekat lalu memeluk Anaya, "Aku senang jika Kakak adalah iparku!"
"Ibu tidak setuju kamu dengan dia, Harsya!" Madya berkata tegas.
"Kenapa, Bu? Apa salahnya dia?" tanya Elia.
"Dia putri yang kedua orang tuanya menyebabkan ayahmu meninggal, El!" jawab Madya.
"Bibi, tapi Anaya hanya korban fitnah," Rissa turut menjelaskan.
"Iya, Bu. Anaya tidak bersalah, dia hanya korban. Pelakunya adalah ayah dan ibunya, kita tidak bisa menyalahkannya!" Harsya ikut menimpali.
"Ibu tetap tidak setuju, apalagi dia kalangan bawah. Pendidikannya tidak sebanding dengan kamu!" ujar Madya.
"Kenapa Ibu memandang orang dari statusnya?" tanya Harsya.
"Kamu itu berpendidikan, kamu pemimpin dua perusahaan raksasa kita. Tidak pantas bersanding dengan wanita miskin sepertinya!" ungkap Madya.
"Bu, Kak Ana yang telah menolong Ibu waktu itu. Dia tak pernah memandang orang yang ditolongnya," jelas Elia.
"Dia sebenarnya tahu siapa Ibu, dia hanya pura-pura polos dan baik," tuding Madya.
"Bibi, kenapa berbicara begitu?" tanya Rissa. "Aku sangat mengenal baik Anaya, dia gadis yang jujur," lanjutnya menjelaskan.
"Cukup, Bu. Jangan menjelekkan istriku!" sentak Harsya.
"Kamu membentak Ibu hanya demi wanita miskin seperti dia!" Madya menunjuk Anaya dengan jari telunjuknya.
"Anaya selama ini telah banyak menderita, Bu. Aku membelinya dari kedua orang tuanya dengan harga mahal. Dia telah dijual oleh ayah dan ibunya, dia sangat berbeda dengan para wanita yang Ibu perkenalkan padaku!" ungkap Harsya.
"Apa? Dia dijual?" Madya tampak tak percaya.
"Ibu bisa tanyakan pada Biom," jawab Harsya.
"Apa benar, Biom?" mengalihkan pandangannya kepada asisten putranya.
"Benar, Nyonya. Tuan Muda sengaja membeli Nona Anaya dari kedua orang tuanya karena berpikir dia pelakunya tetapi semua tidak benar. Nona hanya korban dari keserakahan kedua orang tuanya," jelas Biom.
Madya begitu lemas mendengarnya.
"Bibi, Anaya adalah gadis yang baik. Rissa yakin jika Harsya akan sangat bahagia bersama dengannya," sahut Rissa.
Madya mendekati Anaya yang bersembunyi dibelakang bahu putranya.
"Apa yang akan Ibu lakukan?" tanya Harsya berusaha menjauhkan istrinya.
"Ibu hanya ingin memeluknya," jawab Madya.
Semua orang berada di ruang tamu yang awalnya was-was akhirnya tersenyum.
Anaya menatap wajah Madya dengan ragu.
Harsya melepaskan tangan istrinya.
__ADS_1
Madya segera memeluk menantunya, "Maaf!"
Anaya hanya diam, ia tidak membalas pelukan ibu mertuanya.
"Maafkan Ibu mertuamu ini yang salah menilai!" Madya melepaskan pelukannya.
Anaya mengangguk.
"Bagaimana jika kita makan siang bersama?" ajak Madya menatap menantunya.
"Boleh juga, Bi. Aku memang sangat lapar sekali, maklum perjalanan jauh," ujar Rissa.
"Perjalanan jauh? Memangnya kalian darimana?" tanya Madya.
"Bibi tidak tahu kalau Harsya...."
"Bu, lebih baik kita makan saja!" Harsya memotong ucapan sepupunya.
"Harsya, bisa jelaskan apa yang dikatakan Rissa?" Madya penasaran.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan, bagiku kalian semua baik-baik saja," ucap Harsya.
-
Sementara itu di kediaman Harsya yang berada di pelosok. Intan begitu bosan sendirian di rumah meskipun bukan hanya dia penghuninya.
Ada beberapa aturan yang membuatnya stress apalagi Anaya tidak berada di rumah.
Intan keluar dari kamar karena memang waktunya makan siang. Ia menghampiri Rama karena pelayan lainnya hanya menurut pada perintah pria itu.
"Tuan...." sapanya.
"Ada apa?" Rama menjawab sapaan Intan dengan wajah ketus.
"Sekarang waktunya makan siang, apa saya boleh mengambil jatah?"
"Ini baru jam satu."
"Tapi telah lewat lima belas menit, Tuan."
"Memang siapa dirimu?"
"Saya temannya Nona Anaya, Tuan."
"Tumben sekali tutur bicaramu sopan," sindir Rama.
"Tuan, ini sungguh aneh sekali. Saya berkata sopan salah, berbicara kasar juga salah," ujar Intan.
"Pergilah ke kamarmu, aku akan menyuruh pelayan mengantarkannya," Rama berkata tanpa menatap.
"Baiklah, Tuan. Saya tunggu di kamar," ujar Intan tersenyum, ia melangkah kembali ke kamarnya.
Sepuluh menit kemudian, pelayan mengantarkan makan siang buat Intan.
Gadis itu meraih nampan dengan wajah sumringah. Ia menutup pintu, meletakkannya di meja nakas.
Intan dengan semangat menikmati makan siangnya. Baru beberapa suapan perutnya terasa sakit.
Intan bergegas ke kamar mandi, beberapa menit kemudian ia memegang perutnya. Ia ingin melanjutkan makannya tiba-tiba perutnya kembali berulah.
"Astaga, kenapa dengan perutku? Tadi pagi aku sudah membuangnya, mengapa ini begitu mulas sekali," gumamnya.
Intan berlari kecil ke kamar mandi, tak lama kemudian ia keluar. Perutnya kembali berulah, dahinya berkeringat.
__ADS_1
Intan melangkah cepat ke kamar mandi untuk ketiga kalinya, begitu selesai ia melangkah keluar namun tiba-tiba pandangannya menjadi gelap.