
Malam harinya selesai acara, Rissa menemui Biom di taman belakang rumah. Ya, tepatnya ketika para pelayan dan beberapa penjaga keamanan tertidur. Meskipun jarum jam masih menunjukkan pukul 10.
"Hai!" sapa Rissa, ia duduk di samping Biom.
"Maaf, Nona. Seharusnya saya tidak mengajak bertemu malam-malam begini."
"Tidak apa-apa, kau ingin bicara apa?"
"Saya hanya ingin mengembalikan ini!" Biom menyerahkan jepitan rambut.
"Oh," Rissa tersenyum. "Aku sudah tahu kalau jepitan ini ada padamu dari Rissa dan Intan," lanjutnya seraya menerima jepitan rambut miliknya.
"Maaf, jika saya terlalu lama mengembalikannya."
"Tidak apa-apa, santai saja. Aku juga tak memperdulikannya lagi."
Biom lantas diam.
"Kau hanya ingin mengembalikan ini saja!" Rissa menunjukkan jepitan rambutnya.
"Tidak, Nona."
"Lalu?" Rissa penasaran.
Biom tampak gugup ketika menatap wanita yang usianya lebih tua setahun darinya.
"Hei, kau ingin bicara apa?" Rissa bertanya seraya tersenyum.
"Apa Nona sudah memiliki kekasih?" tanyanya dengan hati-hati.
Rissa menggelengkan kepalanya.
Biom tersenyum lega.
"Tapi, aku telah memiliki calon suami."
"Benarkah Nona? Siapa dia?" cecarnya.
Rissa tertawa kecil, ia kemudian menjawab, "Apa kau ingin tahu?"
"Ya."
"Kalau aku menikah kau juga akan ku undang," ujar Rissa.
"Kalau begitu saya ucapkan selamat!" Biom mengulurkan tangannya.
Rissa lagi-lagi tertawa.
Biom menarik tangannya.
"Dari tadi kau belum bicara, cepat katakan!" ucap Rissa.
"Tidak perlu penting, Nona."
"Hei, kau bilang sangat penting. Cepat katakan, aku sudah mengantuk!"
Biom belum bicara juga.
Rissa menutup mulutnya karena sedang menguap.
"Selamat tidur, Nona."
Rissa mengernyitkan dahinya.
"Jika butuh bantuan, kabarin saya!"
"Kau membuang waktuku saja!" Rissa melangkah pergi.
Biom yang tak mau mengatakannya terduduk, ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Rissa membalikkan badannya, lalu berjalan menghampiri Biom lagi.
"Nona!" Biom gegas berdiri.
"Cepat katakan!"
"Katakan apa, Nona?"
"Aku jadi penasaran."
"Saya bilang tidak jadi, Nona."
"Kau sungguh berbelit, kau mau aku tidur tidak nyenyak karena rasa penasaran di kepalaku ini!" Rissa menunjuk kepalanya dengan jari telunjuk.
"Maafkan saya, Nona. Jika membuat anda penasaran," ujar Biom.
Rissa yang kesal menarik kerah kaos Biom dengan kedua tangannya, "Cepat katakan!" paksanya.
"Baiklah, saya akan katakan!"
Rissa melepaskan cengkeramannya.
"Saya menyukai Nona!" Biom menatap Rissa.
Deg...
Rissa belum sepenuhnya percaya, "Kau menyukaiku?"
Biom mengangguk.
__ADS_1
Rissa lantas memeluk tubuh Biom, "Kenapa tidak dari awal mengatakannya?"
"Apa saya terlambat?" tanya Biom.
Rissa melepaskan pelukannya dan menatap Biom, "Tidak, aku hampir saja membuka hati untuk pria lain."
"Maaf!" lirihnya.
Rissa tersenyum bahagia.
"Terima kasih masih menunggu," ucap Biom.
Rissa kembali memeluk Biom, "Aku menyukaimu, Tuan Dingin!"
"Bisa tidak kalau kalian tak usah berpelukan di depan ku begini?"
Biom dan Rissa segera melepaskan pelukannya lalu menoleh ke asal suara.
"Kalian benar-benar tidak tahu tempat, ya. Ku belum menikah."
"Makanya cepat cari calon istri," celetuk Rissa.
"Saya tidak sempat, Nona."
"Nona Rissa..." panggil Biom.
"Kenapa panggil Nona, 'sih?" Rissa menunjukkan wajah manjanya.
Biom menggaruk kepalanya karena malu.
Rama yang melihat sepasang kekasih baru jadian hanya mengulum senyum.
"Panggil aku dengan nama saja, biar semakin akrab," ujar Rissa.
"Baiklah, Rissa."
"Kau tadi ingin bicara apa?" tanya Rissa lembut.
"Katanya Intan mau pergi ke luar pulau," jawab Biom.
"Iya, benar. Aku lupa memberitahu Rama, ngomong-ngomong kau tahu darimana?" Rissa menatap kekasih barunya.
"Kemarin saya mendengar percakapan antara Nona Anaya dengan Intan," ucap Biom.
"Intan memang akan pindah ke luar pulau bersama orang tuanya, alasannya biar dekat dengan neneknya," tutur Rissa.
"Kapan Intan pergi, Nona?" tanya Rama.
"Kurang tahu, mending kau tanya saja dengan dia!" usul Rissa.
"Rissa, mari saya antar ke kamar. Besok pagi ada jadwal jaga pagi, kan?" tanya Biom menarik tangan Rissa.
"Sebelumnya kamu 'kan mengirimkan pesan padaku," ucap Biom sembari melangkah ke kamar Rissa.
"Oh iya, aku lupa."
***
Selesai menyediakan sarapan pagi buat Harsya dan istrinya, Rama bergegas melangkah ke kamar Intan. Dia khusus mengantarkan makanan buat wanita itu.
"Tuan!" Intan tampak terkejut karena sarapannya diantar Rama, biasanya dia akan mengambilnya sendiri atau pelayan yang mengantarnya.
"Apa benar kau akan pindah ke luar pulau?" tanya Rama masih memegang nampan.
"Tuan, bisakah kita mengobrolnya nanti? Saya sudah lapar."
"Baiklah, aku tunggu sejam lagi di kolam renang."
"Iya."
Sejam berlalu, Intan menepati janjinya. Ia tiba pria itu telah lebih dahulu berada di sana.
"Apa benar apa yang dikatakan Biom dan Nona Rissa?"
"Tentang kepindahan saya?" Intan balik bertanya.
"Iya."
"Saya memang akan ke luar pulau seminggu lagi, Tuan."
"Jangan memanggilku Tuan."
"Biasanya saya memang memanggil anda dengan sebutan Tuan."
"Aku tidak suka!"
"Lalu aku harus memanggil apa?"
"Kakak."
Intan mengernyitkan dahinya, tampak canggung memanggilnya dengan sebutan itu.
"Intan, kau dengar aku, 'kan?"
"Iya, saya dengar."
"Kenapa harus pindah?"
"Karena ibu ingin dekat dengan nenek, kami sudah tiga tahun tak mengunjunginya. Maka kedua orang tua memutuskan untuk menjual rumah di pulau ini dan pindah ke sana."
__ADS_1
"Jika kau pindah, siapa yang akan menggangu aku?"
Intan belum paham dengan pertanyaan Rama.
"Aku mencintaimu, Intan. Jangan pergi dari sini, ku akan segera melamarmu!"
"Hah!"
"Aku serius!" Rama menyentil hidung Intan.
Gadis itu lantas memegang hidungnya.
"Kenapa diam? Kau tidak mau menikah denganku, ya?"
"Kenapa main lamar saja? Saya belum tentu menerima Tuan."
"Jadi kau menolakku?"
"Tidak juga," Intan tersenyum nyengir.
"Kau menerimaku?"
"Maunya diterima atau tidak."
"Diterima."
"Ya sudah, aku menerima Tuan eh Kak Rama jadi calon suamiku."
Rama menarik sudut bibirnya, ia ingin memeluk Intan. Refleks, gadis itu mendorongnya walaupun tak sampai jatuh.
"Maaf."
"Kita belum menikah, di sini banyak kamera pengawas. Tuan Muda pasti memperhatikan kita," ucap Intan.
-
-
Sore harinya...
Astrid mendatangi kafe tempat ia dan Alpha berjanji. Pria yang diharapkannya itu kini berada dihadapannya.
Alpha tersenyum pada wanita yang sudah membuatnya jatuh hati.
"Apa kamu sudah memesan makanan?"
"Belum, aku menunggumu."
"Kalau begitu, pesan makanannya!"
"Baiklah!" Alpha memanggil pelayan kafe.
Selesai memesan, keduanya lanjut mengobrol.
"Bagaimana kabar Ana dan putrinya?"
"Mereka sehat dan baik-baik saja, Tuan Muda malah semakin sering tersenyum."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Lalu, bagaimana kabar ibumu?"
"Ibu mulai membaik setelah kalian bertemu,* jawab Alpha.
Astrid tersenyum mendengarnya.
Alpha mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, ia meletakkan kotak berwarna merah berukuran mini di atas meja.
Astrid memperhatikan benda tersebut.
"Buat kamu?"
"Aku?"
"Ya, aku membelinya untukmu."
Perlahan tangan Astrid mengambil dan membukanya, ia lalu kembali menatap Alpha.
"Menikahlah denganku!" pintanya.
Astrid tak segera menjawab, matanya berkaca-kaca.
"Apa aku terlalu terburu-buru?"
Astrid dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak mau, ya?"
"Aku mau!" jawab Astrid cepat.
Alpha tersenyum ia memegang tangan Astrid, "Terima kasih, kapan aku bisa bertemu dengan orang tuamu?"
"Apa Harsya telah mengizinkanmu libur?"
"Ya, kami bertiga sudah mendapatkan izin darinya."
"Benarkah?"
Alpha mengangguk.
"Aku akan bicara pada papa dan mama tentang rencanamu ini."
__ADS_1
"Aku akan tunggu."