Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 53 - Anaya Melahirkan Membawa Kebahagiaan


__ADS_3

Tiga bulan kemudian....


Anaya yang baru saja bangun pagi, mendadak perutnya mulas. Harsya begitu panik, ketika istrinya mengerang kesakitan.


Harsya meminta Biom untuk menyediakan mobil.


Mereka pun pergi menuju rumah sakit, sepanjang perjalanan Anaya terus mencengkeram kuat lengan suaminya.


"Ana, bisakah kau turunkan tanganmu dari lenganku?"


"Ini sakit sekali!" teriaknya di wajah suaminya.


"Iya, aku tahu. Lenganku juga sakit," ucapnya.


"Kenapa kamu cerewet sekali?" sentak Anaya.


"Astaga, Ana. Kenapa sekarang lebih galak dirimu?"


"Diamlah, Suamiku!" hardiknya.


"Baiklah, aku akan diam."


-


Begitu sampai di rumah sakit, tim medis segera membawanya ke ruangan khusus melahirkan.


Biom dan rekan kerja yang lainnya menunggu di luar ruangan.


Biom berdiri ketika melihat sesosok wanita yang begitu dirindukannya muncul dihadapannya.


Rissa duduk di samping Biom, "Bagaimana kondisi Ana?"


"Nona!" lirihnya.


Rissa menoleh dan menatap wajah Biom, "Hei, aku bertanya tentang kabarnya Anaya."


"Kami belum tahu, Nona. Tuan Muda masih berada di dalam."


"Semoga saja Anaya berhasil melahirkan secara normal," ucap Rissa.


"Semoga, Nona."


Biom tak hentinya menatap wajah wanita yang kelihatan sangat panik dan khawatir.


Selang 30 menit kemudian pintu ruangan terbuka, Rissa bergegas bangkit. Lalu berlari mendekati dokter yang menangani persalinan Anaya.


"Dokter Rissa, semua aman terkendali." Dokter wanita berkata padanya.


"Terima kasih, Kak!" ucap Rissa.


"Sama-sama."


Rissa kembali duduk di kursi tunggu pasien bersama dengan yang lainnya.


Sejam kemudian, Anaya telah berada di ruang perawatan. Madya dan Elia juga tampak hadir.


Madya akhirnya menerima Anaya sebagai menantunya, karena Harsya begitu sangat mencintai wanita itu. Ia tak memperdulikan status strata sosial istri putranya.


"Dia cantik sekali, Kak!" puji Elia.


"Dia persis kamu," ucap Anaya.


"Kak Ana juga cantik," ujar Elia.


"Kalian berempat memang cantik," sahut Harsya.


"Oh, anak Ibu!" Madya mengecup kening Harsya.


"Kak mau memberikan namanya siapa?" tanya Elia.


"Hana Laras Abraham," jawab Harsya.


"Itu nama yang indah," ujar Madya.


"Terima kasih, Bu." Harsya tersenyum senang.


Rissa masuk ke ruang rawat Anaya, ia pun memeluknya. "Selamat, Ana."


"Terima kasih, Kak. Kapan kembali ke sini?"

__ADS_1


"Dua hari yang lalu."


"Kenapa tidak datang ke rumah?" tanya Anaya.


"Aku belum sempat mau ke rumah kalian."


****


Hari ini tepat 7 hari Anaya melahirkan, Harsya membuat acara syukuran menyambut kelahiran putri pertamanya. Ia mengundang seluruh keluarga berserta rekan kerja.


Meskipun acara berlangsung, penjagaan keamanan juga diperketat untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.


Semuanya menyambut penuh suka cita meskipun sebelumnya Harsya tak mengadakan resepsi pernikahan mewah. Namun, mereka tahu jika pria itu telah menikah dan dia juga tak pernah memperkenalkan istrinya kepada khalayak umum.


Biom yang berdiri sekaligus memantau para tamu, ia memperhatikan Rissa sangat akrab dengan pria yang pernah dilihatnya di kantin rumah sakit.


Ada rasa cemburu dihatinya, Biom pun melangkah menghampiri. Ia menggenggam tangan Rissa lalu berkata pada pria yang ada dihadapannya, "Maaf mengganggu waktu kalian!"


Biom menarik tangan Rissa menjauh dari teman prianya dan orang-orang.


"Biom, ada apa? Kenapa menarikku?"


"Sepertinya Nona sangat akrab dengan pria tadi!"


"Maksud kamu Tiko?"


"Saya tidak peduli siapa namanya!"


Rissa tertawa kecil.


Biom tampak seperti orang cemburuan.


"Kau ingin bicara sesuatu padaku?"


Biom tak menjawab.


"Aku harus kembali ke sana, ku mau menyapa tamunya Harsya."


"Nona, setelah acara ini kita harus ketemuan."


"Kenapa tidak bicara di sini saja?"


"Baiklah, aku tunggu pesan darimu. Di mana kita akan bertemu!" Rissa kemudian berlalu.


Sementara itu Intan yang kelihatan bingung di acara itu akhirnya memilih membantu para pelayan menghidangkan makanan karena ia tak mengenal para tamunya Harsya.


Intan yang begitu kelelahan menyandarkan tubuhnya di dinding samping rumah mewah Harsya.


Rama menyodorkan sebuah tisu, "Lap keringatmu!"


Intan meraih tisu dan mengelap keringatnya, "Terima kasih!"


"Lebih baik istirahat dulu," ucap Rama.


"Pekerjaannya masih banyak, Tuan."


Rama lantas menarik tangan Intan dan membawanya ke kamar gadis itu. "Beristirahatlah, aku tidak mau kau sakit!"


Intan mengernyitkan keningnya.


"Cepat masuk! Sebelum aku menyuruhmu bekerja lagi!" titahnya.


"Iya, aku akan masuk."


"Di dalam kamar aku sudah menyediakan makanan dan minuman untukmu!"


"Kenapa Tuan baik sekali?"


"Jangan banyak bertanya, istirahatlah. Jangan lupa makan siang!"


"Baik, Tuan."


"Aku harus kembali ke dapur!"


Intan mengiyakan.


Di waktu dan tempat yang sama, Astrid datang sebagai tamu bersama kedua orang tuanya.


Astrid juga sempat memeluk dan mengucapkan selamat kepada Anaya.

__ADS_1


Ditengah keramaian orang-orang, wanita itu mencari keberadaan Alpha.


Ya, pria yang dicarinya itu kini berada dihadapannya.


"Apa kamu sedang mencariku?" Alpha melemparkan senyumnya.


Astrid membalas senyuman pria itu.


"Di sini sangat ramai, jika ingin bicara tentang cinta nanti saja!" bisiknya.


Pipi Astrid mendadak memerah.


"Aku suka dengan warna pipimu!"


Astrid lantas memegang pipinya.


"Besok sore tunggu aku di kafe depan kantormu!"


Astrid kembali tersenyum lalu mengangguk.


"Aku harus kembali bekerja, ku tak mau Tuan Muda memecatku."


"Baiklah, aku tunggu kamu besok sore!"


-


-


Selesai acara Madya dan putrinya segera pulang, mereka tidak menginap di rumah Harsya karena kediaman putranya itu masih sangat berantakan.


Begitu tiba, seorang penjaga keamanan menghampiri Elia yang baru turun dari mobil.


"Nona, ada paket untuk anda!"


"Dari siapa?"


"Tak ada namanya, katanya untuk Nona."


Elia meraih kotak kecil yang dibungkus kertas motif bunga-bunga. "Terima kasih!"


"Apa itu, El?"


"Aku juga tidak tahu, Bu."


"Coba kamu buka, nanti dari orang yang ingin mencelakakan kita!"


"Baiklah, Bu." Elia membuka kado dari seseorang tak di kenal.


Elia mengeluarkan isi dalam kotak kecil dan ternyata sebuah kalung emas tertulis huruf E.


"Apa kamu memiliki kekasih?"


"Tidak, Bu."


"Lalu, siapa yang mengirimkanmu itu?"


"Entahlah, Bu."


"Kamu harus memberitahu kakakmu, Ibu tidak mau mereka menyakitimu."


"Bu, tenanglah. Ini bukan yang pertama, sebelumnya aku pernah diberikan jepitan rambut, bros baju dan kaos bergambarkan penyanyi idolaku."


"Kamu tidak tahu pengirimnya,tapi dia mengetahui semua tentangmu. Apa jangan-jangan dia penggemarmu?" tebak Madya.


Elia terdiam.


"Kamu harus hati-hati, Nak. Siapa tahu mereka adalah musuh kita."


"Iya, Bu. Aku akan hati-hati dan ku takkan menggunakan barang-barang pemberiannya."


Di dalam kamar miliknya, Elia meletakkan barang-barang dari orang tak dikenalnya di dalam kotak berukuran sedang.


"Sepertinya apa yang dikatakan Ibu benar, ku harus mencari tahu siapa dia? Dan apa alasannya melakukan itu? Tapi, aku minta tolong pada siapa?" gumamnya.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya.


Elia segera membukanya tertulis di layar, 'Hai, Elia. Apa kamu menyukai barang pemberian dariku?'


Elia segera menghubungi nomor itu, namun tak aktif. Membuatnya berdecak kesal, "Astaga, siapa dia sebenarnya?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


__ADS_2