
"Saya akan menyuruh OB membelinya, Nona."
"Tidak perlu, kamu suruh sopir baruku saja!"
"Nona, apa dia tahu pesanannya?"
"Kamu harus jelaskan padanya!"
"Baik, Nona."
"Nanti suruh dia langsung yang mengantarkannya ke ruangan!"
"Iya, Nona."
Telepon pun berakhir.
Menunggu 40 menit, pesanan Hana pun datang. Dennis meletakkan di atas meja kerja.
"Mau ke mana?" tanya Hana saat Dennis hendak meninggalkan ruangannya.
"Saya akan kembali ke parkiran mobil, Nona."
"Di sini saja, temani saya makan!"
Dennis mengangguk mengiyakan.
Hana menikmati makan siang yang dibeli oleh sopir pribadinya. Tak ada sesuatu yang aneh namun tiba-tiba pandangannya gelap, keringat bercucuran di dahinya.
Dennis bergerak mendekati, "Nona!"
Hana memegang tangan Dennis dan mencoba berdiri.
"Nona!"
Tubuh Hana ambruk di pelukan Dennis.
"Nona, bangunlah!" menepuk pelan pipi Hana yang berada di pangkuannya.
Dennis yang panik lantas menggendong tubuh Hana keluar dari ruangan.
Inka tampak terkejut melihat atasannya digendong bergegas berlari mendekati. "Dia kenapa?"
"Aku tidak tahu."
Dennis mempercepat langkahnya, menuruni lantai bawah dengan lift. Tanpa mempedulikan tatapan para karyawan, ia berjalan ke parkiran mobil.
"Inka, tolong buka pintunya!"
"Iya!"
"Ayo masuk, jaga Nona Hana!"
Inka masuk ke dalam, ia memangku kepala Hana.
Dennis gegas mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Begitu sampai, Dennis segera turun membuka pintu dan memanggil perawat.
Dua orang perawat berlari menghampiri mobil dengan membawa brankar.
Dennis menggendong tubuh Hana dan meletakkannya di brankar.
Tim medis membawanya ke dalam ruang khusus pemeriksaan.
"Kenapa Nona Hana pingsan?"
"Tadi dia lagi makan tiba-tiba wajahnya pucat dan sendok yang dipegangnya jatuh."
"Apa makanan yang kamu beli ada saos kacang?"
Dennis mengangguk.
Inka menepuk jidatnya, "Astaga!" wajahnya mendadak panik.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Nona Hana alergi kacang."
"Apa? Kenapa kamu tidak bilang?"
"Aku lupa," jawabnya ketakutan.
Dennis yang khawatir dengan kondisi Hana mendekati ruang, ia memperhatikan wanita di periksa dari kaca pintu meskipun tak terlihat jelas. Dennis berharap jika Hana baik-baik saja.
Ditengah kegundahannya, tiba-tiba Harsya dan istrinya datang ke rumah sakit membuat Dennis dan Inka ketakutan.
Dennis bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Hana menghampiri sepasang suami istri dan menundukkan sedikit kepalanya, "Paman, Bibi, saya minta maaf. Saya tidak tahu jika Hana memiliki riwayat penyakit alergi."
Harsya memegang bahu Dennis dan berkata, "Tidak apa-apa, Hana akan baik-baik saja!"
"Saya siap menerima hukuman karena telah ceroboh dan lalai," ujar Dennis.
"Dennis, kamu tidak perlu merasa bersalah. Lain kali kamu harus tahu banyak tentang putri kami," ucap Harsya.
"Iya, Paman."
-
Hana telah diperbolehkan pulang, walau sedikit lemas ia sempat memarahi Dennis yang sedang menyetir.
"Kamu sengaja ingin mencelakakan aku!" Hana meluapkan amarahnya, tadi tak dapat dilakukannya karena ada kedua orang tuanya.
"Saya benar-benar tidak tahu kalau Nona memiliki alergi," Dennis berkata jujur.
"Alasan saja!" Hana tampak tak percaya.
Dennis memilih diam.
"Lain kali kamu tuh harus bertanya!" Hana mengingatkannya.
"Iya, Nona. Saya akan bertanya jika menyangkut urusan dengan anda. Saya minta maaf!"
"Hemm."
Mobil melaju pelan karena jalanan sangat macet, tidak ada akses untuk memotong.
"Saya mengerti jalan menuju rumah Nona tetapi kita tidak dapat mundur lagi," jelas Dennis.
"Makanya, kamu harus paham jalanan mana saja yang macet jika sore hari."
"Baik, Nona."
Sejam kemudian, mereka tiba di rumah. Hana tak lantas keluar. Ia menyuruh Dennis untuk membukakan pintu.
Dennis gegas membuka pintu.
Dengan gaya angkuh, Hana keluar lalu menyodorkan tasnya, "Tolong di bawa!"
Dennis pun mengiyakan.
Hana berjalan paling depan, menaiki tangga menuju kamarnya dan Dennis malah menyusulnya.
Hana berhenti dan menoleh, "Kenapa mengikutiku?" kesalnya.
"Tas ini bagaimana?" Dennis menunjukkan tas jinjing berwarna biru muda.
Hana menyambarnya, lalu berkata, "Sekarang pulanglah!"
Dennis membalikkan badannya.
"Tunggu dulu!"
Dennis menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Besok pagi aku tidak mau kamu terlambat datang menjemputku."
"Baik, Nona."
***
Keesokan paginya, Dennis menggunakan motor tua pembelian sang nenek datang ke rumah Harsya. Dirinya harus berangkat 2 jam lebih awal sebelum Hana pergi ke kantor karena laju kendaraannya tidak dapat bergerak kencang.
__ADS_1
Setibanya sejam kemudian, Dennis turun dengan keringat membasahi wajahnya seharusnya waktu normal diperlukannya hanya 30 menit dengan kecepatan sedang dan tanpa macet.
Dennis mengelap keringatnya dengan telapak tangannya. Setelah memarkirkan motornya, ia menunggu di teras rumah.
Hana keluar dari kamarnya dengan menjinjing tas kesayangannya. Pelayan menarik kursi dan ia pun duduk.
"Apa sopirku sudah datang?" tanya Hana pada pelayan wanita yang menuangkan teh di cangkirnya.
"Tuan Dennis baru saja datang, Nona."
Hana melihat arloji di tangannya, "Tepat waktu!" gumamnya.
Selesai menyajikan hidangan kepada keluarga tersebut, pelayan wanita itu pun pergi melanjutkan pekerjaannya.
"Hana, kamu tidak menyuruh Dennis sarapan bersama kita," kata Anaya.
"Tidak perlu, Bu."
"Hana mungkin dia belum sarapan, coba kamu panggil," Anaya lanjut berkata.
"Apa yang dikatakan Ibu kamu benar. Ajak dia sarapan bersama kita," Harsya menimpali.
Hana memakan setengah potong roti isi selai strawberry dan menyesap tehnya hingga separuh. "Aku sudah selesai sarapan, Yah, Bu."
Hana lantas berdiri dan mendekati kedua orang tuanya tak lupa mengecup telapak tangan mereka.
"Aku berangkat, Yah, Bu!"
Hana melangkah menghampiri Dennis yang telah menunggunya.
Pemuda itu segera berdiri ketika melihat kedatangan Hana. Gegas berlari dan membuka pintu mobil yang terparkir di depan teras.
Dennis mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan, karena mereka melewati jalanan yang sangat padat.
"Bisakah lebih cepat lagi?" pinta Hana.
"Maaf, Nona. Kita tidak bisa."
"Cari cara jalan lain. Jangan bilang kalau kamu tidak tahu!"
"Jalan lain rusak, Nona. Jika kita melewatinya maka akan memakan waktu lebih lama menuju kantor," Dennis memberikan penjelasan.
"Cck... Kamu memang tidak berguna, aku saja yang mengendarai mobil ini sangat cepat sampai ke kantor," gerutunya.
"Keselamatan orang lain juga paling utama, Nona. Jangan mau menuruti ego semata."
"Kamu menyindirku!" Hana tak senang.
"Maaf, Nona. Saya hanya mengingatkan saja."
"Tidak perlu diingatkan, aku bisa mengendarai mobil dengan baik. Hanya saja ayahku terlalu takut membiarkanku sendiri."
"Baik, Nona. Maaf!"
Selang 45 menit kemudian, mereka tiba di gedung yang memiliki 7 lantai.
Dennis membuka pintu mobil seperti biasa sesuai perintah sang majikan.
Hana berjalan memasuki kantornya.
Dennis memarkirkan mobilnya. Selepas itu, melangkah ke kantin kantor. Ia memesan kopi dalam gelas plastik dan sepotong roti.
Sambil menunggu dia memainkan ponselnya yang dibelinya 2 tahun lalu.
Belum saja pesanannya datang, dirinya dihubungi Inka untuk mengantarkan Hana di suatu tempat. Dennis pun segera menghampiri penjaga kantin, "Kak, kopi dan roti saya bungkus saja!"
"Baiklah," wanita itu pun membungkusnya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Dennis berlari kecil ke parkiran mobil.
****
Kisah cinta putrinya Harsya dan Anaya ada di judul 'Cinta Si Gadis Sombong.'
Jangan Lupa Mampir 😊
__ADS_1