Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 45 - Anaya Diam, Harsya Bingung


__ADS_3

Diperjalanan pulang Anaya tak hentinya menangis, ia memohon kepada suaminya agar menghentikan hukuman buat Widuri dan Alan.


Karena tak tega dan tidak ingin air mata Anaya terus mengalir, Harsya lantas menghubungi Alpha dan menyuruhnya menghentikan hukuman cambuk.


"Setelah ini mereka harus pergi," ujar Harsya.


"Hanya mereka satu-satunya keluarga saya."


"Kau pikir aku bukan keluargamu, aku ini suamimu yang akan melindungimu!" Harsya menatap istrinya.


"Maaf!" lirihnya.


"Aku masih berbaik hati membiarkan mereka pergi," ucap Harsya kesal.


Sesampainya di rumah utama, Harsya melangkah ke ruangan tempat penyimpanan barang-barang. Ia berdiri memperhatikan rak yang tersusun tas, sandal, sepatu serta arloji begitu sangat rapi.


Anaya memang belum pernah ke tempat itu, merasa takjub. Ruangan tersebut tepat seperti sebuah toko di mall.


"Beberapa barang ini sering digunakan Andin ketika masih hidup. Arloji yang mereka ambil paling suka dipakainya." Ungkap Harsya.


"Apa kamu sangat mencintainya?" tanya Anaya.


Harsya lalu menoleh dan menjawab, "Ya, aku sangat mencintainya. Tak ada yang bisa menggantikan posisinya."


Entah kenapa mendengarnya begitu terasa sakit.


"Makanya, aku membiarkan barang-barang kesayangannya tetap berada di ruangan ini!"


Anaya hanya bergeming.


Harsya lantas pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Sementara Anaya tetap berdiri, ia mengingat kata-kata suaminya bahwa hati pria itu masih mencintai mantan kekasihnya yang telah tiada.


"Dia menganggap aku apa?" Anaya membatin.


-


-


Malam harinya sebelum menjelang tidur...


Anaya berbaring di sebelah suaminya, "Apa saya boleh memakai barang-barang yang ada di ruang itu?"


"Kau mau ke mana menggunakan barang-barang itu?" tanya Harsya menoleh ke arah istrinya.


"Pergi jalan-jalan ke mall bersama Intan dan Kak Rissa."


"Kau tidak pantas menggunakan itu, hanya Andin yang cocok memakainya. Dia wanita karir, sedangkan dirimu apa," Harsya memandang rendah.


Anaya terdiam, hatinya semakin sakit.


"Kau hanya boleh di rumah karena memang tugasmu melayaniku," ucap Harsya.


Anaya menampilkan senyum tipisnya, ia berusaha tegar mendengar hinaan dari suaminya.


"Tidurlah, jangan bertanya lagi. Aku sangat sibuk!" Harsya membuka laptopnya lagi.


****


Sebulan berlalu....


Jika bersama dengan suaminya, Anaya lebih memilih diam dan patuh. Namun, berbalik ketika bersama dengan Intan dan Rissa.

__ADS_1


Kedua wanita itu tak berada di rumah karena Intan pulang ke rumah orang tuanya selama 2 minggu dan akan kembali 3 hari lagi.


Sementara Rissa kembali bertugas di rumah sakit, hampir 3 minggu wanita itu tak berada dikediaman Harsya.


Anaya melakukan aktivitasnya tanpa kedua sahabatnya itu, ia berkebun selama Harsya tak di rumah.


Di malam hari, ia akan duduk sendirian di balkon seraya menikmati secangkir teh atau jus.


Terkadang Anaya pergi ke perpustakaan untuk membaca buku.


Sejak kejadian itu, Harsya jarang di rumah. Jikapun pria itu pulang ia hanya meminta haknya sebagai suami.


Anaya sering melamun di taman tak ada teman untuknya mengobrol, karena memang pelayan dilarang berbicara dengan majikan kecuali hal penting.


Pagi ini, Anaya membuka jendela mendengar kicauan burung yang saling bersahutan. Hari ini juga sepekan sudah Harsya tak pulang bahkan tidak memberikan kabar.


Bagaimana dapat menerima kabar, sedangkan Anaya tak memiliki ponsel.


Anaya menikmati sarapan seorang diri di meja makan, di sisi kanan dan kirinya pelayan wanita yang berdiri mematung.


Rumah besar, fasilitas lengkap tapi tak membuatnya bahagia.


Anaya menyuapkan nasi ke mulutnya, ia lalu mengunyahnya perlahan. Akan tetapi, tiba-tiba perutnya terasa bergejolak.


Anaya menutup mulutnya, ia bergegas berdiri lalu berlari ke arah wastafel dan muntah.


"Nona, apa anda sedang sakit?" tanya salah satu pelayan wanita yang tadi berdiri di sampingnya.


Anaya menggelengkan kepalanya.


"Apa Nona ingin dibuatkan teh hangat?"


Anaya mengiyakan.


Anaya kembali duduk di meja makan, namun ia tak berselera lagi untuk sarapan.


Secangkir teh hangat di suguhkan dihadapannya, ia segera menyeruputnya.


Selesai meminum teh hangat, Anaya bergegas ke kamar merebahkan diri di atas ranjang.


Pelayan wanita tersebut memberitahu apa yang terjadi dengan Anaya kepada Rama.


"Jadi Nona Anaya tidak sarapan?"


"Iya, Tuan. Nona menyingkirkan piring itu dari hadapannya," jelas salah satu pelayan wanita.


"Bukankah telur ceplok goreng mentega kesukaan Nona Anaya?" tanya Rama.


"Kami juga tidak tahu, Tuan. Kami tadi sempat menanyakan apakah dia sedang sakit atau tidak. Nona menggelengkan kepalanya."


"Baiklah, saya akan memberitahu kepada Tuan Muda. Kabarin jika ada sesuatu yang aneh pada Nona Muda."


"Baik, Tuan!" ucap keduanya serempak.


-


Siang harinya, Harsya pun pulang. Ia lantas bertanya kepada Rama, "Di mana Nona?"


"Nona Anaya sejak dari sarapan pagi tidak ada keluar kamar," jelasnya.


"Apa kalian tidak memberikan makanan atau jus?"


"Nona menolak jika pelayan menawarkan sesuatu."

__ADS_1


"Biom, telepon dan jemput Rissa sekarang juga!" perintahnya kepada asistennya itu.


"Baik, Tuan."


Harsya berjalan ke kamarnya, saat membuka pintu matanya melihat Anaya berselimut di ranjang.


Harsya melangkah mendekatinya namun Anaya memalingkan wajahnya, ia bahkan memunggungi suaminya.


"Kenapa tidak makan?"


Anaya hanya diam.


Harsya memutari ranjang, ia berlutut di depan wajah sang istri. "Apa kau sakit?" tanyanya lembut.


Anaya hanya menggeleng kepalanya pelan.


"Bicaralah, apa yang kau butuhkan?"


"Saya tidak membutuhkan apapun."


"Aku belum makan siang. Ayo temani aku!"


Anaya tanpa membantah turun dari ranjang, ia lalu mengikat rambutnya.


Keduanya berjalan ke arah ruang makan. Anaya duduk di sebelah kiri suaminya.


Rama mulai menyajikan hidangan di piring kedua majikannya.


Anaya hanya melihat makanan yang tersaji di meja saja, mendadak perutnya kembali berulah. Ia lantas berdiri dan berlari ke wastafel.


"Tadi pagi Nona Anaya juga seperti itu, Tuan." Ungkap Rama.


Anaya kembali duduk di meja makan, ia meraih tisu dan menutup mulutnya.


Harsya mulai menikmati makanannya, tetapi tidak dengan Anaya yang enggan membuka mulutnya.


Harsya memperhatikan sikap istrinya yang tidak biasa, "Apa kau menginginkan makanan lain?"


Anaya menggelengkan kepalanya.


"Ana, tolong bicara. Kenapa kau hanya diam saja? Bagaimana aku tahu kau membutuhkan sesuatu."


Anaya tak menjawab pertanyaan suaminya, ia memilih pergi.


Harsya menjadi kesal melihat sikap Anaya, dia pun mengakhiri makan siangnya dan menyusul istrinya.


Anaya kembali berada di ranjang.


Harsya masuk ke kamar dan lantas bertanya, "Kau sebenarnya kenapa?"


Anaya menoleh lalu bangkit dan duduk, "Makanan itu semua sangat bau menyengat, saya tidak suka!"


"Bau?" Harsya mengernyitkan keningnya. "Rama tidak mungkin menyajikan makanan basi," lanjutnya.


"Saya tidak suka dengan makanan itu!" Anaya berkata dengan nada tinggi.


"Kenapa kau sangat aneh?" tanya Harsya.


"Saya tidak mau makanan seperti itu ada di meja makan!"


"Kalau kau tidak mau, lalu aku makan apa? Biasanya kau tak pernah menolak apapun masakan yang dihidangkan Rama."


"Saya bilang tetap tidak mau, kenapa kamu tak pernah mengerti, sih?" Anaya menunjukkan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Astaga, kenapa dengan dia?" batin Harsya.


__ADS_2