
Harsya telah menandatangani surat perjanjian di depan Anaya dan berhak menyimpan bukti tersebut adalah Anaya.
"Aku akan mempertemukan kau dengan ayahmu, ku terpaksa karena dia akan menjadi wali nikahmu. Pernikahan kali ini aku akan mencatatnya di negara," ungkap Harsya.
"Kita menikah di akui negara?" Anaya masih tak percaya. "Kenapa Tuan mau mengakuinya kepada negara? Bagaimana dengan keluarga Tuan? Apa mereka setuju kita menikah?" cecar Anaya.
"Aku yang memilih dan aku yang menjalankannya, mau tidak mau mereka harus menyetujui keputusan yang ku ambil!"
"Tuan masih memiliki seorang ibu, saya tidak mau menikah tanpa restu darinya!"
"Dia takkan menyetujui pernikahan kita!"
"Maka dari itu saya tidak mau menikah dengan anda!"
"Kau harus menikah denganku!" Harsya menekankan kata-katanya.
"Anda tidak bisa seenaknya memaksa saya!"
"Ingat kau masih memiliki utang kepadaku!"
"Utang apa?"
"Aku membelimu dengan harga mahal dan ternyata kedua orang tuamu terlibat dalam kasus ini. Aku bisa saja menuntutmu dengan ganti rugi!"
"Saya akan menggantinya!"
"Kau mau menggantinya dengan apa?"
"Saya akan mencicilnya."
"Mau sampai kapan kau akan mencicilnya, gadis licik!"
"Hei, apa anda bilang?" Anaya tak senang. "Saya bukan gadis licik!" menegaskan kata-katanya.
"Kau sengaja pindah dan memilih kamar sempit karena uang sewa itu!" tudingnya.
"Hei, Tuan. Saya tidak akan pindah dari rumah itu, jika mendapatkan pekerjaan di sekitar tempat itu!"
Harsya sejenak diam.
"Tidak mungkin saya harus bolak-balik pulang pergi yang memakan waktu satu setengah jam," ungkap Anaya.
"Tapi, apa kau tahu tempatmu bekerja milik siapa?"
Anaya menggelengkan kepalanya.
"Toko itu milik keluargaku!"
Anaya mendelikkan matanya.
"Aku bisa saja mencampakkanmu dari toko itu!"
"Seberapa kaya sebenarnya dia, kenapa di mana-mana usaha milik keluarganya?" Anaya membatin.
"Apa kau sudah percaya?"
"Saya tidak percaya!"
"Terserah mau percaya atau tidak, kau harus menikah denganku!"
"Saya tidak mau!" Anaya berdiri dari kursinya.
"Kenapa kau sekarang jadi pembangkang?"
"Saya bukan Anaya yang beberapa waktu lalu Tuan kenal!"
Harsya mendengus kesal.
"Saya tidak akan menikah tanpa restu dari orang tua Tuan."
"Jangan membuatku memakai cara kekerasan Anaya Larasati!"
Anaya hendak beranjak pergi namun lengannya ditarik paksa sehingga tubuhnya menubruk dada Harsya.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskanmu!"
"Apa Tuan mulai menyukai saya sehingga tak mau melepaskan saya?"
Harsya terdiam.
"Kenapa diam?"
Harsya sedari tadi kesal dengan wanita yang dihadapannya lantas mengecup bibirnya.
Anaya terkejut, ia mendelikkan matanya dengan cepat mendorong tubuh Harsya dan menamparnya.
"Kau menamparku!" Harsya memegang pipinya menatap tajam Anaya.
"Berani sekali Tuan mencium bibir saya!" ucapnya lantang.
Harsya tak bisa berkata-kata, karena malu gegas ia meninggalkan Anaya di balkon seorang diri.
Anaya mengangkat tangan kanannya, memandangi telapak tangannya yang untuk pertama kalinya menampar dan menyakiti orang lain, air matanya jatuh. Rasanya sangat menyesal, tapi ia berhak melindungi dirinya dari pria yang bersikap kurang ajar kepadanya.
Di dalam kamar, Harsya mengacak rambutnya. Merutuki dirinya yang terlihat bodoh, "Bisa-bisanya aku mencium bibirnya, astaga kenapa aku tak mampu menahan diri?"
****
Pagi harinya....
Suara ketukan pintu membangunkan Anaya yang tertidur pulas karena lelah menangis dan memikirkan keadaan dirinya.
Menyibak selimutnya, lalu turun dan berteriak, "Ya!"
Pintu kamar terbuka, 3 orang pelayan wanita masuk ke dalam.
"Nona, kami di perintahkan Tuan Harsya untuk melakukan perawatan kepada anda!" ucap salah satunya.
"Aku lapar, belum sarapan pagi. Bisakah kalian mengantarkan aku makanan?"
"Tuan ingin sarapan bersama dengan Nona sebelum acara pernikahan," jawab salah satunya.
-
Hampir sejam melakukan perawatan diri dan ia juga telah mandi, Anaya melangkah ke arah ruang makan.
Harsya telah menunggunya di meja makan.
Bak seorang putri sungguhan, pelayan wanita menarik kursi untuk Anaya dan mempersilakannya duduk.
Para pelayan menuangkan minuman di gelasnya dan Harsya.
"Jam sepuluh ayahmu akan datang dan memberikan restu kepada kita," Harsya berkata tanpa menatap.
"Bagaimana dengan ibu anda?"
"Dia takkan datang."
"Apa dia tidak merestui hubungan kita?"
"Paling penting adalah restu dari ayahmu," Harsya menjawab dengan menatap.
"Saya sungguh heran dengan Tuan, kenapa ingin menikah dengan saya? Gadis miskin, jelek dan bodoh, apa yang sebenarnya anda mau dengan pernikahan ini?"
"Anak!"
Anaya menjatuhkan sendoknya sehingga ia terperanjat.
"Aku ingin memiliki anak darimu!"
"Tuan tidak salah?" Anaya tak percaya.
"Ya."
"Tuan, coba dipikirkan lagi. Kita itu berbeda, anda bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik dan pintar. Tuan, saya mohon tolong dipertimbangkan sebelum menyesal," ujar Anaya.
Harsya mengakhiri sarapannya, ia beranjak berdiri. "Persiapkan dirimu!" Melangkah pergi.
__ADS_1
Anaya menyusul langkah Harsya, "Pernikahan bukan untuk menjadi mainan, Tuan. Saya tidak mencintai, Tuan!"
Harsya menghentikan langkah kakinya, ia lalu menoleh ke belakang, "Cinta atau tidak, aku tidak peduli!"
"Apa Tuan tidak memiliki rasa kasihan dan iba pada saya?"
"Justru dengan bersamaku, dirimu akan merasa aman!"
"Tuan, tidak akan ada orang yang mengincar saya."
Harsya tak menjawab dan memilih berjalan kembali.
Mendengus kesal, Anaya mengangkat kedua tangannya, ditekuk lalu ia mengepalkan seluruh jemarinya.
Anaya melangkah ke kamarnya, begitu sampai beberapa wanita telah ada di kamarnya.
"Mau apa kalian di sini?"
"Kami di sini disuruh Tuan merias dan mendandani Nona," jawab salah satu diantara 4 orang wanita.
Anaya pun pasrah tak ada pilihan lagi, ia terpaksa menikah kembali dengan Harsya, pria kejam yang pernah membeli dan menyiksanya.
-
Dua jam kemudian..
Anaya berjalan dituntut oleh 2 orang wanita menuju taman belakang rumah. Seluruh mata tertuju kepada dirinya yang tampak anggun dan cantik serta memakai pakaian pengantin yang jauh lebih mahal.
Dekorasi pelaminan juga kali ini lebih mewah daripada sebelumnya.
Dari keluarga Anaya hanya diwakili oleh ayah kandungnya saja.
Emir menatap sendu putrinya yang tampak begitu cantik. Kini keduanya duduk saling berhadapan.
Ya, beberapa menit lalu ia telah menikahkan putrinya kembali kepada pria yang sama. Namun, bukan pernikahan siri seperti sebelumnya tetapi pernikahan yang juga diakui negara.
Anaya menatap pria paruh baya yang tampak kurus dan tua dengan matanya berkaca-kaca.
Emir melemparkan senyumnya dan Anaya mengeluarkan air mata rindu.
Keduanya tidak boleh memeluk karena Harsya melarangnya.
Selesai acara, sepasang pengantin itu menandatangani beberapa berkas.
Dan Emir kembali di bawa oleh beberapa orang pria.
"Tuan, apakah saya boleh memeluk ayah?" tanyanya ragu-ragu dan pelan di telinga suaminya.
Harsya mengarahkan matanya kepada Biom.
Asisten Harsya itu pun paham lalu berjalan mendekati beberapa pria yang memegang Emir. "Tunggu, Pak!"
Mereka pun berhenti.
"Peluklah!" Harsya memberikan izin.
Anaya yang bahagia, berdiri lalu melangkah dengan hati-hati menghampiri ayah kandungnya.
Keduanya saling pandang dan meneteskan air mata.
"Ayah, maafin aku!" Anaya memeluk tubuh pria itu.
"Ayah juga minta maaf, Ana. Ayah telah menyakitimu dari kecil, Ayah pantas mendapatkan hukuman ini!" Air mata Emir mengalir deras.
"Sudah cukup!" ucap Harsya.
Emir dan Anaya melepaskan pelukannya.
"Bawa dia, Pak!" perintah Biom kepada para pria yang memegang Emir.
Air mata Anaya masih menetes menatap punggung sang ayah.
"Hapus air matamu itu, aku akan membawamu berlibur."
__ADS_1