Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 36 - Malu


__ADS_3

Harsya dan Anaya sedang menikmati malam yang untuk pertama kalinya mereka lakukan sejak beberapa bulan pernikahan.


Sementara itu, Intan yang suntuk di kamar sendirian memilih keluar karena beberapa hari ini ia di temani Anaya.


Ruangan telah kelihatan sepi, Intan yang pernah diajak Anaya untuk menikmati bintang dan bulan di balkon melangkah ke tempat itu.


Rama yang belum tertidur mendengar suara derap langkah, bergegas mendekati asal suara.


"Kenapa masih berkeliaran di malam hari?" tanya Rama ketika melihat seorang wanita berjalan mengendap-endap.


Intan terperanjat kaget, ia menoleh dan tersenyum nyengir. "Eh, Tuan Rama. Kenapa belum tidur?" tanyanya berbasa-basi.


"Aku tanya, kenapa kamu masih berkeliaran?"


"Di mana Kak Ana, Tuan?" Intan balik bertanya.


"Selama Tuan Harsya berada di rumah, Nona Anaya akan terus bersamanya."


Intan tampak sedih.


"Pergilah tidur, jangan berkeliaran di rumah ini. Jika tidak mau di tuduh pencuri," ucap Rama.


"Hei, walaupun saya miskin, tidak ada dipikiran ini untuk mengambil hak orang lain!"


"Aku hanya menasehati, jangan sampai Tuan Harsya marah dan melemparkanmu ke jalanan!"


"Iya ya," ucap Intan. "Kenapa Tuan belum tidur juga?" lanjut bertanya.


"Aku ingin memastikan orang-orang yang berada di rumah ini telah berada di kamarnya masing-masing."


"Oh, begitu."


"Sekarang pergilah masuk!"


"Saya ingin mencari angin malam, Tuan. Belum ngantuk," ucapnya menyengir.


"Aku tidak suka ada yang membantah."


"Astaga, kenapa anda begitu kejam sekali? Pasti Tuan belum menikah," celetuknya.


"Itu bukan urusanmu!"


Rama sebelumnya pernah menjalin kasih dengan seorang wanita namun kedua orang tua dari mantan kekasihnya itu tak merestui hubungan mereka. Alasannya karena Rama belum memiliki pekerjaan tetap dan rumah yang ditempati kedua orang tuanya hanya rumah kontrakan kecil.


Sekarang, 4 tahun mengabdikan diri bersama Harsya kehidupannya menjadi lebih baik. Rumah untuk kedua orang tuanya dan dua adiknya berdiri tegak di tanah yang dibelinya dari hasil gaji. Dua mobil mampu ia beli secara kontan dan bukan bekas.


Kedua adiknya yang perempuan bisa melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi.


"Tuan, kalau mau tidur. Silahkan! Saya mau melihat bintang, jika ngantuk saya juga akan tidur!"


"Ternyata kamu keras kepala juga, ya!"


"Terserah Tuan mau bicara apa," Intan membalikkan badannya.


Rama menarik lengan Intan hingga mata keduanya saling bertatapan.


"Jangan buat peraturan sendiri di rumah ini!" menekankan kata-katanya.


Intan mendorong tubuh Rama secara kuat, "Iya!" memilih ke kamar membatalkan rencananya.


Di kamar, Intan memukul bantal berulang kali dengan wajah kesal. "Kenapa di rumah mewah ini ada orang paling menyebalkan seperti dia?" gerutunya.


-


Jarum jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari, Anaya membuka matanya. Ia menatap wajah Harsya yang memeluknya.


Anaya tersenyum, ia lalu mengarahkan jemarinya di wajah suaminya.


Harsya terbangun karena wajahnya dipegang seseorang.

__ADS_1


"Maaf, Tuan!" lirihnya.


"Kenapa tidak tidur?"


"Saya baru saja terbangun," jawab Anaya.


"Tidurlah lagi, pagi masih lama."


Anaya mengangguk mengiyakan.


Harsya lanjut memejamkan matanya begitu juga dengan istrinya.


***


Keesokan paginya....


Rama memperhatikan arlojinya telah menunjukkan angka 7 lewat 15 menit. Tetapi Harsya dan istrinya belum juga keluar dari kamarnya.


"Kenapa Tuan Harsya lama sekali?" batinnya.


Intan yang telah lapar mencari keberadaan Rama, ia menemukan pria itu sedang berdiri dekat meja makan.


Intan lantas menghampirinya, "Tuan!"


Rama menoleh, "Kenapa kamu di sini? Ini ruangan khusus Tuan Muda dan istrinya."


"Aku sudah lapar, kenapa tidak mengantarkan makanan ke kamar?"


Rama menarik tangan Intan menjauh dari meja makan utama dan para pelayan yang saling menatap.


Rama melepaskan genggamannya secara kasar setelah dirasa aman. "Sudah berapa kali aku bilang, para penghuni rumah ini sebelum Tuan Muda makan tidak ada yang boleh makan."


"Tapi, aku sangat lapar. Bukankah waktu makan Tuan Muda telah selesai?"


"Dia sama sekali belum keluar dari kamarnya!"


"Hah!" Intan menutup mulutnya. "Astaga, kenapa lama sekali? Sampai kapan perutku menunggu makanannya?"


"Saya sangat bosan terus berada di kamar," Intan berkata dengan wajah sendu.


"Itu memang kerajaan kamu gadis keras kepala!"


"Hei, anda bilang apa? Saya keras kepala?"


"Iya, kamu ke sini hanya untuk menemani Nona Anaya. Bukankah itu pekerjaan paling mudah?"


"Lebih baik saya bekerja di toko pakaian, walaupun lelah tapi begitu menyenangkan. Bisa mengobrol dengan orang-orang dan paling penting tidak bertemu dengan pria menjengkelkan seperti anda!"


"Selama kamu di sini, aku akan menjadi orang yang paling menyebalkan untukmu!"


Intan mendengus kesal.


Rama memutar tubuh Intan membelakanginya, "Pergilah ke kamar, katakan pada perutmu untuk sabar!"


Intan melangkah kembali ke kamarnya dengan wajah cemberut.


Sementara itu, Anaya baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut dibalut handuk. Ia menundukkan pandangannya, karena begitu malu jika mengingat kejadian semalam.


Harsya telah mengenakan pakaian kantornya, ia melirik istrinya yang selalu membuang wajah.


"Cepatlah berpakaian, kita akan sarapan bersama," ujar Harsya.


"Tuan, bisakah saya sarapan di kamar saja?"


Harsya yang sedari tadi bercermin menoleh ke belakang mengarahkan pandangannya kepada istrinya, "Kenapa sarapan di kamar?"


"Saya malu jika keluar dengan rambut basah begini," jawab Anaya dengan polosnya dan jujur.


"Tidak ada yang berani mengejek, menghina ataupun merendahkanmu di sini."

__ADS_1


"Tapi, Tuan...."


Harsya mendekati istrinya membuka handuk yang membalut rambut. Ia lalu mengambil dan menghidupkan hairdryer kemudian lanjut mengeringkan rambutnya Anaya.


"Tuan, mau apa?" tanya Anaya gugup ketika suaminya menyentuh rambutnya.


"Biar cepat kering," jawab Harsya.


"Tuan, saya bisa sendiri," ucap Anaya.


"Jika kau yang melakukannya akan sangat lama, diamlah!"


Anaya pun diam, ia membiarkan suaminya mengeringkan rambutnya.


Selesai mengeringkan rambut, Harsya menyisir rambut istrinya.


"Tuan, biar saya saja!"


Harsya menyerahkan sisir kepada Anaya.


Setelah menyisir rambutnya, Anaya melangkah ke kamar mandi untuk berpakaian karena ia masih malu jika harus memakai pakaian di depan suaminya.


Harsya menarik ujung bibirnya melihat penampilan Anaya dengan rambut terurai sebahu.


Anaya perlahan mendekati suaminya dengan wajah menunduk.


"Ayo kita sarapan!" Harsya mengenggam tangan istrinya.


Keduanya berjalan ke ruang makan bersama, seluruh mata tercengang melihat sepasang suami istri saling bergandengan tangan.


"Apa aku ini bermimpi?" Rama bertanya dalam hati.


Beberapa pelayan mengernyitkan keningnya memperhatikan sikap atasannya dengan istrinya.


Harsya melepaskan genggamannya ketika tiba di meja makan.


Harsya meminta Anaya menyuapkan potongan daging ke mulutnya.


Anaya menuruti permintaan suaminya, ia memotong daging kecil-kecil dan menyuapkannya ke mulut Harsya.


"Kenapa kalian masih di sini? Kembalilah bekerja!" Harsya berkata tanpa menatap.


Rama dan beberapa pelayan menundukkan sedikit kepalanya kemudian membubarkan diri.


"Kenapa tiba-tiba Tuan Harsya berubah?" tanya salah satu pelayan kepada rekan lainnya.


"Aku juga tidak tahu, biasanya kita harus menunggunya sampai selesai makan," sahut yang lainnya menimpali.


"Sejak menikah Tuan Harsya berubah, tapi aku senang jika memang Nona Anaya membawa kebaikan di rumah ini," celetuk yang lainnya.


Di meja makan, Anaya masih sibuk menyuapi suaminya.


"Kamu sarapan juga?"


"Apa Tuan sudi kita satu garpu bersama?" tanya Anaya dengan ragu.


"Kita sudah bertukar napas, jika hanya satu garpu tidak masalah," ucap Harsya.


Anaya tersenyum malu mendengarnya.


"Lekas sarapan!"


"Iya, Tuan."


"Nanti sore Rissa akan datang kemari," ujar Harsya.


"Benarkah?"


"Ya, tapi selama aku di rumah kau tidak boleh bersama mereka."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


__ADS_2