Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 47 - Anaya Cemburu


__ADS_3

Empat minggu sudah Anaya dan suaminya tinggal di rumah utama. Intan tak lagi menemani sahabatnya itu karena telah dirasakan aman. Penjagaan juga cukup diperketat, seluruh pelayan di seleksi secara mendetail.


Rissa hanya datang ke rumah itu seminggu sekali.


Anaya yang telah hamil 10 minggu, menjalankan aksinya. Ia diam-diam menaiki tangga menuju ruang khusus penyimpanan tas dan barang lainnya.


Anaya sejenak berdiri, ia memandang rak-rak yang begitu bersih dan rapi dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia tersenyum menyeringai menatapnya.


Tak lama Anaya menurunkan tangannya lalu melangkah mendekati rak, satu persatu ia menggunakan sepatu dan sandal high heels meskipun ia sangat kesulitan berjalan.


Anaya mencoba tas kemudian ia bercermin sembari tersenyum.


Anaya sadar jika ruangan itu dipasang kamera pengawas.


Harsya yang memantau dari jauh melihat istrinya keluar dari kamar, ia mengikuti arah wanita itu.


"Kenapa dia ke ruangan itu?" gumamnya.


Harsya mengeraskan rahangnya ketika melihat Anaya memakai barang peninggalan Andin. Bahkan dengan sengaja Anaya menjatuhkan tas mahal kesayangan mantan kekasihnya itu.


"Kenapa dia begitu lancang sekarang?" gerutunya.


Anaya masih asyik menggunakan barang-barang tersebut.


Sehingga seorang pelayan datang menghampirinya, "Nona ternyata di sini!" pelayan wanita itu bernapas lega.


"Ada apa?"


"Waktunya makan siang, Nona."


"Baiklah!" Anaya meletakkan kacamata milik Harsya secara sembarangan.


Pelayan yang melihatnya segera meletakkannya ke posisi semula.


Anaya menikmati makan siangnya begitu lahap, sejak hamil ini selera makannya bertambah menjadi 2 kali lipat.


Anaya kembali ke kamar, ia menonton siaran televisi. Di atas ranjang ia menikmati cemilan keripik kentang serta buah potong.


Ya, dia melakukannya atas kemauannya sendiri serta dukungan Rissa. Tentunya mengambil hati Harsya sepenuhnya.


Sore harinya, selesai mandi Anaya melangkah lagi ke ruangan itu.


"Nona mau ke mana?" tanya seorang pelayan wanita yang bertugas membersihkan ruangan khusus penyimpanan aksesoris bermerk dan terkenal.


"Saya mau ke ruangan itu!" Anaya menunjuk ke arah ruang penyimpanan barang mewah.


"Nona tidak boleh ke sana, Tuan Muda melarangnya." Jawab wanita itu dengan sopan dan ramah.


"Memangnya kenapa? Saya adalah istrinya!"


"Saya hanya menjalankan tugas saja, Nona."


Anaya tak menghiraukannya malah penuh semangat melangkah ke ruangan tersebut.


Pelayan wanita itu pun mengejar langkahnya, "Nona, saya mohon. Jangan pergi ke sana, Tuan akan marah besar."


"Nona nanti saya akan dipecat!"


Anaya menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Saya akan bertanggung jawab!"


Anaya kembali melangkah ke ruangan itu.


Pelayan yang tak mampu lagi membujuk Anaya, pergi menemui Rama.

__ADS_1


Belum sampai bertemu dengan Rama, pelayan wanita menghentikan langkahnya di dekat Harsya yang baru saja pulang dari kantor.


Pelayan wanita itu sedikit menundukkan kepalanya, "Maaf Tuan!"


"Ada apa?" tanya Harsya.


"Saya sudah melarang Nona Anaya tapi dia menolaknya."


Tanpa berkata lagi, Harsya menyusul istrinya.


Biom memerintahkan pelayan wanita itu untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


Harsya tiba di ruangan khusus aksesoris mewah miliknya dan mantan kekasihnya.


Anaya sedang menggunakan kacamata dan topi milik Harsya seraya tersenyum memandang cermin.


"Oh, sekarang kau mulai berani, ya!" sergah Harsya.


Anaya terperanjat, gegas ia membuka kacamata.


Harsya mendekati istrinya, "Siapa yang menyuruhmu memakai semua barang-barang yang ada di sini?"


"Kenapa tidak boleh? Bukankah saya adalah istri anda!" Anaya berkata dengan lantang walaupun sebenarnya dia sangat ketakutan.


"Kau tidak boleh menggunakan barang ini karena...."


"Milik Andin," Anaya menyela.


"Ya."


"Andin sudah mati, Tuan Muda Harsya telah menikah dengan Anaya Larasati. Jadi sekarang yang menjadi Nona di rumah ini adalah saya!"


Harsya mencengkeram lengan Anaya dengan kuat, "Kau sekarang berani melawan, ya. Meskipun kau adalah Nona di rumah ini tapi tidak pernah ada yang dapat menggantikan posisi Andin dihatiku!"


"Kenapa tidak menikahinya saja?" tanya Anaya dengan lantang.


"Saya ingat, bukankah Tuan Muda hanya ingin anak dari saya?"


Harsya terdiam, ia melepaskan genggamannya. Dia pernah mengatakan begitu tapi sebenarnya tak ingin berpisah dari istrinya.


"Dia sudah mati, lupakan dia. Lihat saya sekarang, istri anda!" Anaya berteriak di wajah Harsya.


"Ana, apa yang terjadi denganmu?" tanya Harsya pelan namun sangat dingin.


"Kenapa tidak membiarkan saya pergi dari sini?" Anaya melempar tas ke lantai.


Harsya mengepalkan tangannya.


"Mau marah?" Anaya berkata lantang, ia menurunkan sepatu wanita dari rak secara brutal.


Harsya mendekati istrinya dan menahan kedua tangan wanita itu, "Ana, cukup!" sentaknya.


"Kenapa?" tanya Andin menantang.


"Kenapa kau seperti ini?" tanya Harsya.


Anaya menangis dan memeluk suaminya, "Aku benci Andin, aku benci dia, kenapa selalu ada namanya dihatimu? Kenapa menikahiku? Kenapa memberikan harapan padaku?" menuangkan segala isi hatinya.


"Aku minta maaf!" lirihnya.


"Apa saya tidak boleh bahagia? Apa saya tak pantas dicintai oleh suaminya sendiri?"


Glek...entah kenapa hati Harsya begitu sakit mendengarnya.

__ADS_1


"Apa saya hanya sekedar budak?"


Harsya menggelengkan kepalanya.


Anaya mendorong pelan tubuh suaminya, ia mundur selangkah, "Jika anak ini lahir, maka lepaskan saya!"


"Kau bicara apa?"


"Saya bisa memberikan anak pada Tuan, tapi anda tak bisa memberikan hati untuk saya!"


Harsya lagi-lagi di buat terdiam.


Anaya pun melangkah cepat meninggalkan ruangan itu.


Gegas Harsya mengejar langkah kaki istrinya.


Anaya berjalan terburu-buru.


Harsya menarik tangan istrinya dan menggenggamnya. "Aku tidak mau dia menangis karena melihat kita bertengkar."


-


Dari kejadian sore hingga makan malam, Anaya memilih mendiamkan suaminya.


Harsya memijit pelipisnya melihat sikap istrinya yang semakin arogan.


Rissa yang kebetulan datang hanya mengulum senyum ketika mendengar Harsya bercerita.


"Pasti kau yang mengajarkannya?" tuding Harsya pada Rissa sebelum wanita itu tidur.


"Apa kau tidak ingat apa kata dokter, jangan buat dia stress dan harus membuatnya bahagia."


"Apa yang dia minta selalu aku berikan?"


"Tapi tidak dengan hatimu, 'kan?" Rissa menaikkan alis kanannya.


Harsya terdiam.


"Harsya, wanita itu ingin dicintai dan disayangi. Jika kau berani berkomitmen dengan satu wanita maka kau harus memberikan seluruh ragamu untuknya. Kecuali memang kau tidak menikahinya. Dia sedang mengandung anakmu, lupakan mantan kekasihmu itu. Bangunlah cintamu dengan Ana. Jika enggan, lepaskan dia. Karena dia juga ingin berbahagia dengan pria yang mencintainya."


Harsya semakin terpojokkan.


Rissa beranjak dari tempatnya duduknya. "Aku sangat mengantuk, besok pagi ada jadwal konsultasi ke Dokter. Jika tak bisa menemaninya, aku siap menggantikanmu!" Ia kemudian berlalu.


Harsya belum beranjak dari kursi yang ada di balkon, ia masih memikirkan ucapan sepupunya itu. "Jika aku memang tidak mencintainya kenapa harus mempertahankannya? Terus untuk apa aku menanyakan tentang perasaannya padaku?" batinnya bertanya.


Harsya lantas beranjak pergi dari tempat itu dan menuju kamarnya.


Anaya belum tertidur, ia menatap suaminya yang melangkah ke arah ranjang.


"Apa kau ingin bercerita?"


"Tidak!" ketusnya.


"Apa ingin sesuatu?"


"Tidak juga."


"Lalu kau mau apa?"


"Saya tidak ingin apa-apa!" Anaya membelakangi suaminya.


Harsya lantas memeluk tubuh istrinya dari belakang, "Aku minta maaf, aku akan berusaha mencintaimu!"

__ADS_1


Anaya yang mendengarnya matanya berkaca-kaca.


"Aku akan membuatmu bahagia!" Harsya mengelus perut istrinya yang mulai membesar.


__ADS_2