
Malam harinya, Biom menemani Rissa pergi ke sebuah kafe.
"Nona, saya tunggu di mobil saja!"
"Kenapa di mobil? Jadi aku dengan siapa?"
"Bukankah Nona ingin bertemu dengan temannya?"
"Tidak, siapa yang bilang?" Rissa balik bertanya.
"Bukankah Tuan Muda menyuruh saya untuk menemani Nona saja?"
"Memang benar tapi aku mau kamu ikut ke dalam juga."
"Tapi, saya...."
Rissa menarik tangan Biom, mengajaknya masuk ke kafe.
Mereka duduk di sebuah meja di sudut bangunan kafe.
Rissa dan Biom duduk saling berhadapan.
"Di mana teman Nona?"
"Aku ke sini tidak bertemu temanku tetapi ingin mengobrol denganmu."
Biom mengernyitkan keningnya.
"Kita pesanan minuman, ya. Biar lebih enak mengobrolnya!"
Biom mengangguk mengiyakan.
Rissa memanggil pelayan kafe dan memesan minuman.
Tak sampai 5 menit, minuman telah terhidang di meja makan.
"Nona ingin mengobrol apa?"
"Silahkan diminum dulu!" Rissa menyedot jus alpukat.
Biom pun juga namun minuman miliknya jus mangga.
Rissa tersenyum menatap wajah Biom tak ada obrolan keluar dari mulutnya.
"Nona, kita di sini hampir setengah jam."
"Aku tidak mau terburu-buru."
"Nona ingin bicara apa? Bukankah di rumah Tuan Harsya kita bisa mengobrol?"
"Kalau di rumah Harsya mereka akan mendengar percakapan kita."
Biom melihat arloji di tangannya. "Jika sepuluh menit lagi, Nona tak bicara. Kita pulang!"
"Kenapa begitu?"
"Itu hanya membuang waktu saja!"
"Baiklah, aku akan bicara. Apa kau sudah memiliki kekasih?"
Glek...
"Maaf, aku bertanya seperti itu."
"Apa sebegitu ingin tahunya Nona dengan kehidupan pribadi saya?"
Rissa mengiyakan.
"Sepertinya saya tidak akan memberitahunya."
"Apa kau memang memiliki kekasih?"
Biom tak menjawab.
"Ayolah, Biom. Katakan kamu punya kekasih atau tidak?"
"Saya belum memiliki kekasih, Nona."
Rissa tersenyum mendengarnya.
"Sudah cukup, kan. Ayo sekarang kita pulang!"
"Aku belum selesai bicara."
"Kalau begitu cepat katakan, Nona!"
__ADS_1
"A...aku... menyukaimu!"
Biom terdiam.
"Aku serius, Biom. Dari awal kita bertemu, ku sudah jatuh cinta padamu. Terlihat bodoh, ya!" Rissa menyengir.
Biom membuang wajahnya, ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan kirinya.
"Aku salah, ya?"
"Nona, sepertinya hari mau hujan. Lebih baik kita pulang sekarang!" Biom beranjak berdiri.
"Kau belum menjawabnya!"
Biom tak menghiraukannya dan memilih pergi.
"Apa aku salah, ya?" gumamnya. Rissa menyusul langkah kaki pria itu.
Di dalam mobil tampak hening, Rissa sesekali melirik pria yang ada di sampingnya itu.
Biom memilih fokus menyetir.
Hujan pun turun dengan deras di kegelapan malam.
Rissa menarik ujung bibirnya ketika menatapnya melalui jendela, tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
Rissa lebih banyak diam dan mengarahkan wajahnya di sisi kirinya memandangi jalanan yang basah di guyur hujan.
Begitu sampai, hujan belum juga reda.
Biom memberikan payung kepada wanita itu agar lebih dahulu turun. Sedangkan dirinya, akan keluar dengan berlari kecil.
Rissa lalu memberikan payung kepada Biom yang sedikit basah, "Terima kasih buat malam ini!" ia pun berlalu.
Di dalam kamar setelah mengganti pakaiannya ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
"Walaupun malam ini aku terlihat bodoh, tetapi setidaknya ku telah lega mengungkapkannya."
***
Ketika sarapan, Rissa tak tampak di meja makan. Biom bertanya dalam hati di manakah gerangan wanita yang telah menyatakan perasaannya padaku semalam.
"Kak Rissa ke mana?" tanya Anaya.
"Dia pergi ke rumah sakit, karena ada jadwal operasi jam enam pagi," jelas Harsya.
"Tadi diantar Alpha, dia tak mau mengganggu waktu tidurmu. Kebetulan Alpha juga telah bangun," tutur Harsya.
"Tumben, biasanya dia tak peduli waktu. Seenak hatinya menyuruhku," batin Biom.
"Apa Kak Rissa akan kembali lagi ke sini?" tanya Anaya lagi.
"Sepertinya tidak, dia akan dipindahkan ke rumah sakit di luar kota," jelas Harsya.
"Kamu tidak bisa mencegahnya? Nanti siapa yang akan menemani aku di rumah?" cecar Anaya.
"Dia tetap maksa, alasannya karena ingin mencari pengalaman di kota orang lain," jawab Harsya.
"Oh, begitu. Aku jadi sendirian di rumah ini," ujar Anaya.
"Intan atau Elia akan ku suruh menemanimu agar tidak bosan."
"Kapan mereka akan kemari?"
"Besok atau lusa."
-
-
Biom yang mendengar bahwa Rissa akan pergi ke luar kota mendadak mendatangi rumah sakit tempat wanita itu bekerja.
Sesampainya ia bertanya kepada beberapa orang perawat yang bertugas di sana.
Biom pun melangkah ke kantin rumah sakit karena salah seorang teman Rissa yang juga dokter mengatakan kalau wanita yang dicarinya ada di sana.
Langkah Biom berhenti ketika melihat Rissa tertawa begitu lepas bersama dengan seorang pria yang juga bertugas sebagai dokter.
Rissa melihat kehadiran Biom, lantas berkata dengan temannya, "Sebentar 'ya!" ia pun berdiri lalu melangkah ke arah asistennya Harsya.
Biom bergegas membalikkan badannya dan melangkah pergi.
"Biom, tunggu!"
Pria itu berhenti.
__ADS_1
"Hai, kau di sini? Siapa yang sakit?" tanya Rissa.
"Tidak ada."
"Lalu kau di sini untuk apa?"
"Menemui Nona."
"Menemui aku?"
"Iya."
"Sekarang kita sudah bertemu? Mau bicara apa?"
"Apa benar Nona akan pergi pindah?"
"Ya."
"Berapa lama?"
"Rencana tiga bulan saja, tapi jika memang aku betah di sana ku minta di tetapkan menjadi dokter di rumah sakit itu."
"Oh, begitu."
"Kau ke sini hanya untuk bertanya itu saja?"
"Iya, Nona. Maaf mengganggu waktunya, permisi!" Biom pun berlalu.
Rissa mengernyitkan keningnya menatap punggung Biom dari jauh.
***
Beberapa hari kemudian....
Suatu hari di pagi setelah sarapan, Anaya berjalan ke arah taman bersama Intan.
Ya, kedua wanita itu akan menghabiskan waktu untuk mengobrol dan berjalan mengelilingi taman.
"Kak, sepertinya itu Tuan Asisten," ucap Intan.
"Iya, sedang apa dia di sini?"
"Apa kita lanjut ke sana atau taman depan saja?" tanya Intan.
"Kita ke sana, sekaligus aku mau tanya," jawab Anaya.
"Baiklah, ayo!"
Ketika keduanya mendekat, Biom lantas segera berdiri karena mendengar suara langkahan kaki.
"Tuan Asisten, kenapa di sini? Anda tidak ikut suami saya ke kantor?"
"Tidak, Nona. Saya ditugaskan untuk menjaga anda dan rumah ini."
Intan yang berada di sebelah Anaya berbisik, "Kak, bukankah itu jepitan rambut Kak Rissa?"
Anaya melihat sesuatu di tangan Biom. Lalu bertanya, "Itu apa?"
Biom segera menyembunyikannya. "Bukan apa-apa, Nona."
"Itu jepitan yang dicari Kak Rissa, kemarin dia menelepon aku dan menanyakannya," ujar Intan.
"Jadi, jepitan itu diambil Tuan Asisten, ya?" tuding Anaya.
"Jepitan ini saya temukan di mobil, Nona." Jelas Biom.
"Oh, aku kira anda sengaja mengambilnya sebagai kenang-kenangan," ucap Anaya.
"Saya ingin mengembalikannya tapi Nona Rissa sudah pindah kerja," Biom memberikan alasan berbohong.
"Kenapa tidak menghubunginya?" tanya Anaya.
"Saya takut mengganggu pekerjaannya," jawab Biom berbohong lagi.
"Oh," ucap Anaya singkat.
"Saya permisi, Nona!" Biom pun berlalu.
"Tuan Asisten sangat aneh, Kak!" ucap Intan dengan suara pelan.
"Iya."
"Kenapa dia tak titipkan saja sama kita itu jepitan rambut?"
"Entahlah, aku rasa sebenarnya dia menyukai Kak Rissa juga tapi enggan mengakuinya."
__ADS_1
"Bisa jadi, Kak."