
Anaya menyusul ke kamar suaminya, "Kita mau ke mana?"
Harsya tak menjawab.
"Tuan tidak akan menyiksa saya di sana, kan?"
Harsya menoleh mengarah matanya kepada istrinya, "Apa aku masih terlihat kejam di matamu?"
Anaya mengangguk pelan.
"Aku akan membawamu ke pantai lalu melemparmu untuk ikan-ikan buas di sana!"
Anaya memundurkan tubuhnya, wajahnya pucat. Ia lalu berlutut dan memegang kaki suaminya, "Tuan, tolong jangan buang saya!"
"Jika kau masih membantah dan banyak bicara, aku tidak akan segan melakukannya!"
"Saya janji tidak akan membantah atau banyak bicara," ucap Anaya.
"Bagus!" Harsya lalu ke kamar mandi.
Anaya mendongakkan kepalanya kemudian bangkit berdiri. Ia memperhatikan seluruh sudut kamar suaminya.
Matanya tertuju pada sebuah kalung berukuran kecil di etalase kamar Harsya, ia melangkah mendekatinya. "Itu milikku!" Anaya tersenyum senang, ia lalu membuka lemari dan mengambil benda tersebut.
"Siapa yang menyuruhmu mengambil barangku?" Harsya menghardik.
Anaya terperanjat dengan cepat menoleh.
Harsya merampas kalung di genggam istrinya.
"Kenapa kalung itu ada pada Tuan?"
"Ini kalung aku berikan pada gadis kecilku."
"Itu kalungku, Tuan!" Anaya memaksa mengambilnya.
"Dari mana kamu mendapatkannya?"
"Ada seorang anak kecil laki-laki yang memberikan aku sebagai kenang-kenangan."
Anaya dan Harsya mengernyitkan dahinya.
"Jadi?" keduanya tampak bingung.
"Kau!" ucap keduanya serempak.
"Jadi, kau Ana gadis kurus dengan rambut di kepang dua?" tanya Harsya.
"Tuan, anak laki-laki gendut yang kelaparan itu!"
"Kau bilang aku gendut?"
"Kan, waktu itu Tuan memang gendut?" ceplos Anaya.
"Jangan ungkit masa laluku!" Harsya menyipitkan matanya.
Anaya tertawa lebar. "Kenapa sekarang Tuan jadi pria yang kejam dan sombong?"
Harsya mengeraskan rahangnya, mencengkeram lengan istrinya. "Diam!" bentaknya.
Anaya terdiam.
"Aku tidak percaya kau gadis penolong itu!"
"Terserah Tuan mau percaya atau tidak."
Harsya melepaskan genggamannya.
"Oh, saya tahu Tuan sebenarnya sudah tahu kalau saya gadis kecil itu makanya menikahi saya!"
Harsya menyentil kening istrinya, "Aku menikahimu hanya ingin melindungimu!"
__ADS_1
Anaya menarik napas lalu tertawa sinis, "Tuan selalu bilang melindungi? Memangnya siapa yang akan menyakiti saya?"
"Musuhku."
"Tuan yang memiliki masalah lalu hubungan dengan saya apa?"
"Karena kau saksi kunci kasus pembunuhan ayahku. Mereka tidak ingin kau selamat, makanya aku berhak melindungimu."
"Tuan melindungi saya, berarti memang menyukai dan menyayangi saya."
"Astaga, berapa kali ku bilang. Aku menikahimu untuk melindungimu, bukan cinta atau sayang."
"Tidak masuk akal," celetuknya.
"Terserah kau saja!" ucap Harsya. "Sekarang ayo kita pergi!" Menarik tangan istrinya keluar dari kamar.
Harsya terus menggenggam tangan istrinya hingga sampai mobil.
Harsya melepaskan genggamannya.
Anaya memegang pergelangan tangannya yang sakit.
Harsya meraih tangan Anaya kembali lalu mengoleskan salep, "Maaf!" lirihnya.
Anaya tampak terkesima dengan perhatian suaminya.
"Jangan memandangku seperti itu!"
Anaya membuang wajahnya.
Harsya tertawa kecil.
Anaya menoleh kemudian berkata, "Saya pikir Tuan tidak memiliki hati nurani."
"Apa kau ingin aku menghukummu lagi?"
Anaya menggeleng.
"Maaf, Tuan." Menundukkan kepalanya
*(Flashback)*
Lima belas tahun lalu....
Harsya kecil berlari dengan napas ngos-ngosan, ia duduk di pinggir jalanan memegang perutnya.
Anaya kecil yang sedang di suruh ibunya pergi ke warung, ia menenteng plastik berisi roti dan beberapa mie instan. Ia menghentikan langkahnya menghampiri bocah laki-laki itu.
"Sepertinya kamu bukan warga sini?"
Harsya kecil mengangguk.
"Perutmu sakit? Apa kamu lapar?"
"Iya," jawabnya lemah.
Anaya kecil memberikan sebungkus roti, "Buat kamu!"
Harsya kecil menerimanya dan melahapnya.
"Ini minuman aku, maaf tinggal separuh!" Anaya kecil menyodorkan botol minumannya.
Harsya kecil meraihnya dan menenggaknya sampai habis.
"Masih lapar?"
Harsya kecil mengangguk lagi.
Anaya kecil mengeluarkan uang dari saku celananya, "Aku ada sisa belanja tapi tidak banyak semoga bisa membeli makanan."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama, aku harus pulang. Ibuku pasti telah menunggu. Sampai jumpa lagi," Anaya kecil berdiri lalu berlari menuju rumahnya.
Harsya kecil lalu berdiri memegang uang pemberian Anaya, ia membelanjakannya di warung nasi dengan lauk telur ceplok karena memang uangnya cukupnya segitu.
**
Keesokan harinya....
Harsya kecil dengan 2 orang pria dewasa duduk di tempat yang sama seperti kemarin.
Harsya menunggu Anaya, ia ingin mengembalikan botol minuman dan memberikan sesuatu kepada gadis kecil itu.
Sejam menunggu akhirnya Anaya lewat dari arah berlawanan, sepertinya akan pergi ke warung.
"Hei!" teriak Harsya memanggil.
Anaya menoleh dan tersenyum.
Harsya berlari mendekatinya, "Aku ingin mengembalikan ini kepadamu!" menyodorkan botol.
Anaya meraihnya.
"Nama kamu siapa?" tanya Harsya.
"Ana."
"Oh," ucap Harsya singkat.
"Mereka siapa?" Anaya memperhatikan dua orang pria dewasa yang tadinya berdiri di samping Harsya dari kejauhan.
"Mereka sopir dan pengawalku."
"Wah, ternyata kamu orang kaya," ucap Anaya kagum.
Harsya tersenyum kecil, ia lalu berkata, "Aku punya hadiah buat kamu karena telah menolong ku."
"Apa hadiahnya?" tanya Anaya polos.
Harsya memegang sebuah kalung.
"Wah, ini cantik sekali!" Anaya menutup mulutnya karena senang. "Aku akan menyimpannya," lanjutnya berucap.
"Aku senang jika kamu memakainya."
"Aku tidak akan memakainya, ibu pasti mengambilnya."
"Ibu kamu kejam?"
"Ya, sebenarnya dia baik tapi...."
"Tapi kenapa?"
"Tidak ada," jawab Anaya dengan cepat. "Aku harus ke warung. Terima kasih sudah memberiku kalung. Sampai jumpa lagi," ujarnya.
"Kita takkan berjumpa lagi, karena aku tidak di tinggal di sini."
Anaya tampak sedih.
"Tapi, yakinlah suatu hari nanti kita akan bertemu."
Anaya kembali tersenyum.
Harsya pun balas melemparkan senyum.
"Tuan Muda, ayo kita pulang!"
"Ana, sampai jumpa!" Harsya melambaikan tangannya lalu pergi bersama kedua orang dewasa itu.
"Sampai jumpa juga!" lirihnya.
Anaya berjalan ke warung, dia baru tersadar jika dirinya belum tahu nama bocah laki-laki itu.
__ADS_1