
Beberapa minggu kemudian....
Harsya penasaran dengan keadaan mantan istrinya, apakah baik-baik saja atau sudah memiliki kekasih.
Harsya mengajak Biom dan salah satu anak buahnya ke kota tempat ia membuang wanita yang sempat menemaninya tidurnya meskipun tak sampai sebulan.
Mobil sengaja melewati rumah yang di sewakan Harsya buat Anaya.
Tampak dipagar tertulis kata 'Rumah Ini Disewakan'.
Harsya lantas bertanya, "Di mana rumahnya?"
"Rumahnya yang pagar hitam tadi, Tuan." Jawab Biom, ia saling melirik dengan sopir yang tampak bingung dengan tulisan itu.
"Rumah yang disewakan itu?" tanya Harsya.
"Iya, Tuan." Jawab Biom.
"Kalian hanya menyewakan dia untuk sebulan saja?" tanya Harsya yang mulai marah.
"Kami menyewanya selama setahun, Tuan. Sesuai yang anda minta, saya juga telah mengirimkan bukti pembayaran sewa," jelas Biom.
"Apa Anaya diusir dari komplek ini?" tanya Harsya.
"Saya akan tanyakan kepada pemilik rumah," jawab Biom, ia lalu memerintahkan sopirnya memutar balik.
Sopir menghentikan kendaraannya tak jauh dari rumah sewa Anaya yang dulu.
Biom lantas turun, ia berkali-kali memencet bel rumah. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar menghampiri Biom, "Cari siapa, Tuan?"
"Saya cari pemilik rumah yang di sewakan itu!" Biom menunjuk ke arah rumah yang dimaksud.
"Sebentar 'ya, Tuan."
Biom berdiri di depan pagar sementara wanita paruh baya itu pergi ke dalam rumah.
Tak sampai 3 menit, ia datang bersama dengan sang pemilik rumah.
Wanita pemilik rumah lantas bertanya, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" masih berdiri di depan pagar.
"Saya ingin bertanya wanita yang menyewa rumah itu sebelumnya."
"Anaya?"
"Iya."
"Dia sudah pindah sebulan lalu."
"Pindah?" Biom tampak terkejut.
"Iya, Tuan."
"Ke mana?"
"Katanya Kota X."
"Apakah Ibu tahu alamat tempat tinggalnya sekarang?"
"Dia tak memberitahu, tapi Anaya cuma ngomong kalau dia bekerja di salah satu toko fashion di kota itu."
Biom mengangguk paham.
"Saya juga telah mengembalikan separuh uang sewanya karena ia membutuhkan biaya tuk menyewa kamar kos-kosan di sana," jelas wanita itu.
"Nama toko tempat Nona Anaya bekerja, apakah Ibu tahu?"
"Tidak."
Biom tersenyum tipis lalu berkata, "Kalau begitu terima kasih, maaf mengganggu waktunya."
"Sama-sama, Tuan."
"Permisi!" Biom pun berlalu.
__ADS_1
Di mobil, Biom lantas memberitahu kepada Harsya mengenai Anaya.
"Cari dia di setiap toko fashion di kota itu!" perintah Harsya.
"Baik, Tuan!" ucap Biom.
-
Sembari menunggu anak buahnya mencari tahu keberadaan mantan istrinya, Biom beristirahat di salah satu hotel di kota tersebut.
Sejam kemudian, Biom mengabarkan jika mereka belum bisa menemukan Anaya.
Harsya merasa kinerja anak buahnya tidak becus, ia pun meminta mereka untuk berkeliling kembali namun kali ini bersama dengannya.
Harsya duduk di kursi belakang penumpang, Biom berada di depan bersama sopir.
Harsya memperhatikan setiap jalan yang dilaluinya, tepat di persimpangan mobilnya berhenti di sampingnya sebuah motor yang dinaiki seorang pria dan wanita.
Harsya menurunkan jendela mobilnya.
Anaya yang menggunakan masker dan helm, segera membuang wajahnya ketika melihat mantan suaminya. "Kenapa dia di sini?" batinnya bertanya.
Harsya mengernyitkan keningnya memperhatikan sikap wanita yang mengenakan helm. "Mencurigakan?" gumamnya.
"Apa yang mencurigakan, Tuan?"
Harsya menaikkan kaca jendelanya, lalu menjawab pertanyaan asistennya, "Lihatlah dia! Kenapa harus menundukkan kepalanya? Padahal memakai helm, bukankah itu sangat mencurigakan?"
"Tuan, mungkin saja dia sangat lelah," tebak Harsya.
"Tidak mungkin!"
"Apa Tuan mau kita mengikutinya?" tanya Biom.
"Ya."
Traffic light telah berwarna hijau, kendaraan-kendaraan kembali melaju.
"Pak, bisakah kita potong jalan di gang yang ada di sebelah kanan?"
"Kita lewat sana saja, Pak!" pintanya.
"Baik, Non!"
"Kalau bisa sedikit dipercepat, Pak!"
Motor yang ditumpangi Anaya memasuki gang kecil sementara mobil Harsya terpaksa berhenti.
"Tuan, mobil kita tidak masuk," ucap sopir.
Harsya berdecak kesal.
"Saya sudah mencatat plat motor yang ditumpangi wanita itu, Tuan."
"Cari motor itu, aku begitu penasaran dengan wanita yang menjadi penumpangnya," titah Harsya.
Biom mengiyakan.
-
Anaya turun dari motor, membayar ongkos ojeknya. Ia lalu bergegas berlari.
"Nona, ini kebanyakan!" teriak driver ojol.
"Ambil saja kembaliannya, Pak!" Anaya balas berteriak dari kejauhan.
"Terima kasih, Nona!"
Anaya gegas membuka pintu kamar kos-kosan kemudian menutup pintunya.
Sembari memegang dada, Anaya mengatur napasnya. Ia menggigit jari telunjuk tangan kanannya dan tangan kirinya memegang pinggang. "Kenapa dia ada di kota ini? Dan untuk apa dia harus mengikuti motorku tadi?" gumamnya.
"Tak mungkin, aku harus pindah lagi. Di sini ku sudah merasa nyaman," batinnya.
__ADS_1
-
Harsya telah kembali ke hotel, ia menunggu informasi dari anak buahnya tentang wanita yang beberapa waktu lalu ia lihat.
Ponselnya berdering tertera nama Biom, ia mengangkat dan menjawabnya, "Halo!"
"Halo, Tuan. Kami sudah mendapatkan nama penumpangnya?"
"Siapa namanya?"
"Intan, dia memesan dari toko Cantik Busana. Toko pakaian milik Nyonya Madya."
"Pertemukan aku dengan wanita bernama Intan itu!"
"Baik, Tuan.
Sopir mengantarkan Harsya ke toko pakaian milik usaha keluarganya.
Biom telah berada di sana bersama dengan wanita yang bernama Intan dan manajer toko, Aldi.
"Tuan, wanita ini yang bernama Intan," ucap Biom kepada Harsya yang menghampirinya.
"Apakah hari ini dia memesan ojek online?" tanya Harsya.
Biom bertanya pertanyaan yang sama dilontarkan bos-nya.
"Saya hari ini memang memesan ojek online, Tuan. Tapi, untuk teman saya," jelas Intan.
"Siapa namanya?" tanya Harsya.
"Ana," jawab Intan.
"Apa kami bisa bertemu dengannya?" tanya Biom.
"Maaf, Tuan!" Aldi memotong pembicaraan. "Kesalahan apa yang telah dilakukan karyawan kami?" tanyanya.
"Tidak ada," jawab Biom. "Tuan Besar hanya penasaran dengan wanita yang menumpang motor itu," lanjutnya menjelaskan.
"Oh," ucap Intan dan Aldi.
"Apa kami boleh tahu alamat rumahnya?" tanya Biom.
"Kebetulan dia satu kos-kosan dengan saya," jawab Intan.
"Apa kamu bisa mengantarkan kami?" tanya Biom.
Intan dan Aldi saling pandang.
-
Intan mengantarkan rombongan Harsya ke tempat tinggalnya. Seluruh penghuni kos-kosan, mengarahkan tatapannya kepada mereka dengan perasaan bingung dan penasaran.
Intan mengetuk pintu kamar Anaya, "Kak!"
Tak ada jawaban sama sekali.
"Kak Ana, ada yang mencarimu!" teriaknya memanggil.
"Ana, lagi keluar!" ucap tetangga mereka yang kamarnya tepat di depan kamarnya Anaya.
"Ke mana dia, Kak?" tanya Intan pada tetangganya.
"Katanya sih' mau ke minimarket."
"Oh, begitu. Terima kasih, Kak."
Biom sedikit mendekat ke arah Harsya, "Apakah kita perlu menunggunya, Tuan?"
"Apa dia tidak memiliki ponsel?" tanya Harsya.
Intan yang mendengarnya lalu menjawabnya, "Dia tak mau membeli ponsel, Tuan."
Harsya dan Biom saling pandang dan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kita akan menunggunya sampai pulang," Harsya berkata, membalikkan tubuhnya dan melangkah ke mobil.