Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 27 - Mengetahui Dalang Penculikan Anaya


__ADS_3

Bab 27


Anaya bangkit dan tersenyum begitu juga dengan Rissa.


"Apa kabar, Ana?"


"Baik, Dok. Kenapa Dokter ada di sini juga?"


"Aku diminta Harsya untuk menemani kamu di sini."


"Memangnya Tuan Harsya ke mana?"


"Aku juga tidak tahu, tadi Biom yang menjemput dan mengantarkan ku di sini."


"Oh."


"Sedang apa?"


"Menonton televisi, Dok. Tidak ada pekerjaan yang bisa ku kerjakan, ya seperti inilah," jawab Anaya.


"Aku juga bingung harus melakukan apa, kita jauh dari keramaian," ucap Rissa.


"Lebih baik kita nonton saja, Dokter."


"Bagaimana kalau kita minum kopi? Kamu sudah makan malam, kan?"


"Sudah, Dok."


"Panggil saja aku, Rissa."


"Sangat tidak sopan, Dokter Rissa lebih tua dari saya. Bagaimana kalau saya memanggil Kak Rissa?"


"Boleh juga, tidak masalah."


Keduanya pergi ke dapur meracik kopi sendiri dengan mesin yang telah disediakan.


Selesai membuat kopi keduanya mengobrol di taman belakang rumah dengan pemandangan kolam renang.


"Selama ini kamu tinggal di mana?"


"Di kota C, Kak."


"Kamu bekerja di sana?"


"Ya, aku tidak tahu jika tempat ku bekerja adalah toko pakaian milik ibunya Tuan Harsya."


"Jadi, kamu benar-benar tidak tahu?"


Anaya menggeleng.


"Kalau aku tahu, mungkin ku akan segera pindah dari sana."


"Tapi, beruntung Harsya segera menemui kamu."


"Memangnya kenapa, Kak?"


"Kamu akan celaka jika terus berada di luar sana."


"Tuan Harsya juga mengatakan hal itu."


"Ya, kamu tetap harus hati-hati."


-


-


Malam telah larut, Anaya dan Rissa beranjak dari kursinya menuju kamar masing-masing.


Anaya merebahkan tubuhnya namun belum bisa tertidur. "Kenapa aku jadi merasa cemas begini?" gumamnya.


Anaya turun dari ranjang, karena tidak bisa tidur. Mengelilingi kamar, ia mengambil sebuah buku. Namun, tiba-tiba rak tersebut bergerak.


Anaya tampak terkejut melihat ruangan rahasia di balik rak buku.


Anaya masuk ke ruangan yang begitu tertata rapi penuh dengan foto-foto. Anaya memperhatikan setiap foto yang terpajang di dinding dan meja.


"Siapa dia?" gumamnya, memandang foto seorang wanita muda yang sangat cantik.


Anaya yang tak sadar, pintu kamar rahasia tertutup rapat.


Anaya masih melanjutkan mengelilingi isi kamar rahasia, ia melihat foto Madya. Ia berdiri, menatap dan berusaha mengingat, "Bukankah ini wanita yang aku tolong waktu itu?" gumamnya.


"Apa? Jadi dia mertuaku?" batinnya. Anaya menutup mulutnya tak percaya.

__ADS_1


Anaya puas berkeliling melihat isi ruangan, ia hendak kembali ke kamarnya. Namun, kelihatan bingung. "Di mana pintunya?" lirihnya.


Anaya menyentuh setiap dinding, "Bagaimana aku bisa keluar dari sini?" mulai panik.


"Tolong!" teriaknya.


Anaya menepuk dinding berkali-kali.


"Tolong aku!" Anaya mulai menangis.


"Tuan, tolong aku!" teriaknya lagi.


Hampir 15 menit, Anaya berteriak dan memukuli dinding akhirnya ia kelelahan lalu tertidur di karpet.


Harsya pulang ke rumah, pukul 12 malam. Ia sangat begitu lelah. Namun ia tak menemukan istrinya.


"Anaya, kau di mana?" panggilnya.


Harsya melangkah ke kamar mandi tak ada terdengar suara air.


Harsya memperhatikan sebuah buku yang terjatuh dari rak. Tanpa berpikir lama, Harsya menyentuh buku dan benar saja rak tersentuh bergerak, pintu kamar rahasia terbuka.


Harsya masuk ke dalam dan melihat Anaya tertidur, ia merasa lega istrinya ada di ruangan tersebut.


Harsya mengangkat tubuh Anaya dengan hati-hati dan membaringkannya di ranjang.


Menarik selimut menutupi separuh tubuh istrinya.


Harsya membersihkan diri serta mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.


Anaya sangat pulas tidurnya, ia tak sadar kakinya berada di perut suaminya.


Harsya berkali-kali menurunkan kaki istrinya dari perutnya.


***


Pagi harinya, Anaya terbangun, ia menggeliat. Mengangkat kedua tangannya untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya.


Tanpa sengaja Anaya menyentuh wajah suaminya. Hal itu membuat Harsya tersentak bangun.


Anaya yang panik, lantas bergegas duduk dan meminta maaf, "Saya benar-benar tidak tahu kalau Tuan ada di samping!"


Harsya bangkit dan duduk, "Apa kau tidak melihat tubuh sebesar ini?" sentaknya.


"Aku berubah pikiran," jawabnya seraya menggerakkan kepalanya.


"Oh," ucap Anaya singkat.


Anaya sejenak diam, ia mengingat sesuatu lalu berkata, "Kenapa saya bisa di sini? Bukankah ada di ruangan itu?"


"Aku mengangkat dan memindahkanmu di sini."


"Tuan, mengangkat saya?" Anaya tak percaya.


"Ya, iyalah."


"Ya ampun ternyata, Tuan sangat baik sekali."


"Aku sudah bilang padamu, kalau bukan gadis penolong ku takkan mau membantumu!"


Anaya tak mempermasalahkan hal tersebut, ia lalu berucap, "Terima kasih, Tuan."


"Kau tidak merusak atau menyentuh barang-barang milikku, kan?"


"Tidak, Tuan. Saya hanya memandang saja."


"Baguslah, jika saja tanganmu berani menyentuhnya. Kau akan tahu akibatnya!"


"Iya, saya mengerti," ucap Anaya. "Tuan, boleh saya bertanya?" lanjutnya.


"Ya."


"Wanita cantik dan muda yang ada di foto itu siapa?"


"Calon istriku."


Anaya tampak terkejut.


"Tapi, dia sudah meninggal setahun lalu. Aku sangat mencintainya," ucap Harsya dengan wajah sendu.


"Maaf Tuan, jika membuat anda bersedih." Anaya menundukkan wajahnya.


Harsya mengiyakan.

__ADS_1


Keduanya turun dari ranjang bersamaan.


"Pergilah mandi, kita akan sarapan bersama dengan Rissa juga," ucap Harsya.


"Iya, Tuan."


Beberapa menit kemudian Anaya selesai membersihkan diri. Ia duduk di samping Rissa.


"Tolong, temani Anaya selama aku pergi!" ucap Harsya.


"Ya," ujar Rissa.


"Jangan melakukan kegiatan yang mengundang warga datang!"


"Maksudnya?" tanya Rissa.


"Kalian tidak boleh melakukan kegiatan yang ramai."


"Tempat ini jauh dari rumah warga, meskipun ada kegiatan atau suara yang memekik telinga mereka takkan mendengarnya," jelas Rissa.


"Apapun itu aku tidak kalian melakukan kegiatan yang mencolok!" ucap Harsya.


"Ya, baiklah," ujar Anaya.


Harsya mengakhiri sarapannya, ia pun pergi bersama dengan Biom yang berjalan di belakangnya.


"Sampai kapan aku harus di sini?"


"Sampai orang yang ingin melenyapkanmu ditahan," jawab Rissa.


-


Di mobil Harsya lantas bertanya kepada Biom, "Apa kalian sudah menemukan wanita yang bernama Susi itu?"


"Sudah, Tuan."


"Pertemukan aku dengannya!"


"Baik, Tuan."


Mobil melaju ke sebuah rumah tua, tempat penyekapan. Kepala pengawal membuka pintu, tampak seorang wanita berdiri dengan wajah pucat.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan penculikan terhadap istriku?" tanya Harsya.


Wanita itu berlutut, "Maafkan saya, Tuan. Saya terpaksa melakukannya!"


"Aku bertanya dengan siapa kau bekerja sama?" tanyanya dengan suara gelegar.


"No..Nona... Chintya, Tuan."


"Chintya Mira?" tebak Harsya.


"Ya, Tuan."


"Kenapa dia melakukan itu?"


"Dia tak suka Tuan menikah dengan Nona Anaya."


Harsya mengepalkan tangannya.


"Sejak kejadian itu, saya dan Nona Chintya tidak pernah bertemu lagi. Ada kabar mengatakan jika dia terbang ke luar negeri," ungkap Susi.


"Kenapa kau mengkhianati aku?"


"Saya terpaksa karena dia menahan adik laki-lakinya saya yang masih kecil, Tuan."


"Cari dia sampai dapat!" perintah Harsya kepada anak buahnya.


"Baik, Tuan!" ucap Kepala pengawal. "Bagaimana dengan dia, Tuan?" lanjutnya.


"Jauhkan dia dan keluarganya dari pulau ini!"


"Baik, Tuan."


"Tuan, saya mohon jangan buang kami," pinta Susi mengiba.


"Apa kau mau Chintya membunuhmu?" tanya Harsya.


Susi menggelengkan kepalanya.


"Pergilah dari kota ini untuk sementara waktu!"


Susi mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2