
Keesokan harinya, matahari belum terbit namun beberapa orang mendatangi sebuah kamar hotel dan memaksanya masuk karena memang tidak terkunci.
Nadine tersentak bangun ketika mendengar suara teriakkan orang tuanya memanggil namanya.
Nadine bangkit dan duduk memegang kepalanya, ia tampak bingung melihat kedua orang tuanya serta Darwin kekasihnya.
"Kenapa kamu bisa seranjang dengannya, Nadine?" tanya Rita marah.
Nadine melihat pria di sampingnya, matanya seketika membulat, "Ma, Pa, Baby, ini tak seperti yang kalian lihat. Ini salah paham!" berkata dengan ketakutan.
Darwin lantas mendekati dan membalikkan tubuh pria yang ada disamping Nadine dan menghajarnya.
Dito yang terbangun karena tubuhnya di tarik dan di pukul, terjatuh ke lantai.
Nadine gegas bangkit mendekati kekasihnya, "Darwin hentikan!" teriaknya menahan tubuh kekasihnya.
Malik dan Rita menarik tubuh Nadine menjauh dari Darwin.
"Ma, Pa, Dito tak salah!" ucap Nadine.
"Kenapa kamu membelanya? Apa kamu menyukainya?" tanya Malik dengan suara lantang.
Nadine terdiam.
"Teman brengsek seperti dia memang harus diberikan pelajaran!" Darwin menatap wajah kekasihnya dengan amarah.
Dito terduduk di lantai memegang bibirnya yang sakit.
"Om, Tante, maaf saya tidak bisa melanjutkan pertunangan ini!"
"Tidak, Baby. Apa yang kamu katakan?" tanya Nadine.
"Ini semua karena kamu!" Rita melayangkan tamparan ke wajah putrinya.
"Ma, cukup!" Malik memegang tubuh istrinya.
"Dia sudah mempermalukan kita, Pa!" Rita berkata penuh emosi.
"Kita akan bicarakan ini di rumah," ucap Malik.
"Pa, Ma, aku bisa jelaskan!" Nadine memegang pipinya.
"Tak ada yang bisa dijelaskan, semua sudah terbukti!" sentak Rita.
Malik mengarahkan matanya kepada Dito, "Kamu ikut kami ke rumah dan jelaskan semuanya!"
Malik sangat marah ketika melihat putrinya tidur seranjang di kamar hotel dengan pria yang bukan suaminya. Apalagi putrinya itu beberapa bulan lagi akan segera menikah.
Mereka kini sudah berada di kediaman Malik. Nadine dan Darwin duduk bersebelahan. Sementara Dito duduk di seberang mereka.
Rita duduk masih dengan hati kesal dan marah.
"Siapa yang lebih dahulu memberikan penjelasan?" tanya Malik dengan posisi berdiri.
__ADS_1
Nadine, Darwin dan Dito saling pandang.
"Aku, Pa!" jawab Nadine.
"Jelaskan!" ucapnya mencoba menahan emosi.
"Semalam aku bertemu dengan Mitha di klub malam, aku memesan minuman jus jeruk seperti biasanya. Aku tidak tahu entah kenapa setelah meminumnya kepalaku pusing, Pa."
"Lalu kenapa kamu ada di kamar dengan Dito?" tanya Darwin.
"Aku juga tidak tahu," jawabnya.
"Telepon Mitha sekarang juga!" perintah Malik pada putrinya.
"Baik, Pa." Nadine lantas menelepon sahabatnya itu.
Nadine menjelaskan alasan dirinya menelepon Mitha dan wanita itu bersedia menjadi saksi.
Sambil menunggu teman putrinya datang, Malik bertanya kepada Dito, "Apa benar semalam kamu tidak berdua dengan Nadine?"
"Saya datang ke hotel karena mendapatkan pesan dari seseorang. Isi pesan mengatakan kalau Nadine dalam bahaya," Dito menunjukkan chat di ponselnya.
"Dia berbohong, Om!" Darwin berdiri menunjukkan wajah Dito. "Nadine sering bercerita jika dia tak merasa nyaman dengan Dito, tapi dia terus selalu mendekati Nadine," lanjutnya.
"Saya memang menyukai Nadine, tapi tidak dengan cara gila ini!" Dito juga berdiri dan memberi pembelaan.
"Darwin, Dito, duduklah!" perintah Malik berusaha tenang.
"Saya punya bukti foto kebersamaan Nadine dan Dito!" Darwin membuka ponselnya lalu menunjukkan beberapa foto kepada Malik.
"Ini ada buktinya, Nadine. Kamu dan Dito jelas-jelas berselingkuh!"
Nadine berdiri lalu berkata dengan tegas, "Itu semua fitnah, kamu harus percaya aku!"
"Aku tidak bisa mempercayai kamu lagi, setelah kejadian di hotel tadi," ucap Darwin.
Nadine terduduk, ia kembali menangis.
Mitha pun datang, Nadine lantas berdiri dan memeluk sahabatnya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mitha.
"Tolong kamu jelaskan pada orang tua ku dan Darwin. Semalam aku bersama dengan siapa," jawab Nadine dengan bibir gemetar.
Mitha pun menjelaskan bahwa dia semalam memang bersama dengan Nadine, setelah itu ia pergi karena ada urusan.
Tak lama setelah urusannya selesai ia kembali lagi menemui Nadine, begitu sampai di klub malam dirinya Nadine telah pulang.
"Saya sempat menghubungi Nadine, tapi ponselnya tidak aktif," jelas Mitha.
"Mama, Papa, dengarkan semua penjelasan Mitha. Aku difitnah!" ucapnya.
"Maaf, Om. Saya tetap tidak bisa melanjutkan pertunangan ini, apalagi Nadine begitu sangat akrab dengan Dito. Bisa saja mereka bertiga sekongkol untuk menutupi perselingkuhannya," tuding Darwin.
__ADS_1
"Saya dan Nadine tidak berselingkuh!" ucap Dito tegas.
"Benarkah? Lalu kenapa kamu memeluk calon istriku?" tanya Darwin.
"Aku yang memeluknya karena dia sudah memberikan kejutan untukku," Nadine menjawabnya.
"Wow, memberikan kejutan kepada kekasih orang lain," ujar Darwin.
"Iya, karena dia ada saat aku membutuhkanmu. Ke mana kamu selama ini? Kemarin pagi bilang akan terbang ke Swiss, kenapa bisa pagi-pagi di kota ini?" Nadine membela Dito.
"Aku ingin memberikan kejutan untukmu, ternyata aku yang malah mendapatkan kejutan darimu!" jelas Darwin.
Nadine tertawa getir.
"Apa aku boleh pulang?" tanya Dito.
Rita yang tak dapat menahan amarahnya, menghampiri Dito dan menamparnya.
"Mama!" pekik Nadine dan Malik.
"Gara-gara pria brengsek ini, putriku gagal menikah!" maki Rita.
Nadine mendekati Dito, ia berdiri membelakangi pria itu.
"Ma, Dito tak bersalah. Dia juga korban fitnah," ucap Nadine.
"Kamu terus membelanya, apa memang kalian memiliki hubungan?" tanya Rita.
"Tidak, Ma." Jawab Nadine tegas.
"Dito harus menikahi Nadine!" ucap Malik.
"Apa!" Rita dan Nadine tampak syok.
"Mama tidak setuju, Pa!" tolak Rita.
"Nadine dan Dito telah tidur seranjang, Ma." Kata Malik.
"Kami tidak melakukan apa-apa, Pa!" Nadine berkata tegas.
"Jika Om menikahkan Nadine dengan Dito itu hanya membuat keluarga Malik Ikssa tersudutkan. Semua orang pasti akan bertanya apa alasan Nadine dan aku mengakhiri pertunangan," sahut Darwin.
"Apa yang dikatakan Darwin benar, Pa. Kita tidak mungkin menikahkan mereka, nama keluarga besar kita akan tercoreng. Mereka akan menghina kita karena tak becus mengurus Nadine," Rita menimpali.
"Saya akan memberitahu kepada orang-orang kalau kami putus karena sebab yang lain," ujar Darwin.
"Kamu lihat, Nadine. Pria baik seperti dia telah kamu khianati!" ucap Rita.
Nadine hanya diam.
Dito mengepalkan tangannya, ia ingin meluapkan amarahnya namun ia berusaha menahannya.
...----------------...
__ADS_1
Karya Baru Aku Selanjutnya Yang Berjudul Terjerat Cinta Si Penipu Hati.
Jangan Lupa Mampir 😊