
Biom lantas pergi ke kota tempat Anaya pernah bekerja, ia mendatangi toko pakaian milik Madya.
"Kenapa Tuan mencari saya?" Intan berdiri dan tubuhnya tampak gemetaran.
"Saya ingin mempertemukanmu dengan Nona Anaya."
"Kak Ana?"
"Ya," jawab Biom. "Tetapi dia tidak di kota ini, kamu harus ikut dan tinggal bersama dengannya!" lanjutnya memberikan penjelasan.
"Bagaimana dengan pekerjaan saya, Tuan?"
"Saya akan memberikan gaji selama mau menemani Nona Anaya di rumah."
"Tuan, tidak ingin menculik saya, kan?"
"Kamu pikir saya tidak ada pekerjaan!" jawab Biom dengan ketus dan dingin.
"Maaf, Tuan."
"Kemasin barang-barangmu, kita akan berangkat hari ini juga!" ujar Biom.
"Saya harus minta izin kepada orang tua, Tuan."
"Silahkan!"
"Tapi, Tuan menjamin saya aman 'kan?" tanya Intan lagi.
"Tolong jelasin padanya!" Biom meminta manajer wanita untuk menjelaskannya.
Setelah mendapatkan penjelasan, Intan menyetujuinya. Sejam berberes, ia diantar sopir dan seorang pengawal menuju kediaman Harsya yang jauh di pelosok pedesaan.
Biom lebih dahulu sampai.
Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa Intan tiba. Gadis itu turun dan menatap takjub bangunan mewah berlantai dua.
Biom mengantarkan Intan ke teras belakang rumah.
Harsya menghampiri keduanya bersama istrinya.
Anaya begitu melihat wajah temannya segera mendekatinya dan memeluknya, "Intan!"
"Kak Ana!" pekiknya kegirangan.
Anaya melepaskan pelukannya, "Kamu apa kabar?"
"Aku baik, Kak. Kak Ana juga, kan?"
"Iya, aku baik-baik saja. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi," jawab Anaya tersenyum bahagia.
Harsya dan Biom hanya memperhatikan kedua wanita itu berpelukan dan bercanda.
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Anaya.
"Tuan Biom mengajakku ke sini, katanya untuk menemani Kak Ana," jelas Intan.
Anaya menoleh ke arah Biom dan Harsya.
"Aku memang meminta Biom untuk menjemput temanmu agar ada yang menemanimu di sini," jelas Harsya.
"Terima kasih, Tuan." Anaya melemparkan senyumnya.
"Sama-sama," Harsya berkata dengan wajah datar.
Harsya dan Biom meninggalkan keduanya.
Anaya dan Intan lalu duduk dan kembali mengobrol.
"Kak, Tuan tampan itu suamimu?"
"Iya."
"Yang kemarin menjemput Kak Ana secara paksa?"
"Iya, kami menikah lagi."
__ADS_1
Intan tersenyum, "Ternyata dia tak bisa jauh dari Kakak!"
Anaya hanya tersenyum.
Intan mengedarkan pandangan sekelilingnya. "Pantas saja Tuan Biom menyuruh saya untuk menemani Kak Ana, rumahnya saja sebesar ini. Memangnya tidak ada pembantu di sini?"
"Ada, tapi mereka tidak diperkenankan mengobrol denganku."
"Kenapa?"
"Aku juga tidak tahu," jawabnya.
"Apa suami Kak Ana masih suka menyiksa?" bisik Intan bertanya.
"Dia sangat baik padaku," jawab Anaya.
"Di toko aku mendengar bahwa Kak Ana mengalami KDRT sebelumnya."
"Itu semua tidak benar," ujar Anaya.
"Syukurlah, aku senang jika Kak Ana. Baik-baik saja," ucap Intan.
Anaya tersenyum.
"Sejak Kak Ana pergi dari toko, Pak Aldi sering berdiam diri sepertinya dia patah hati di tinggal Kakak."
Anaya terdiam.
"Pak Aldi itu sebenarnya suka ma Kak Ana, tapi keburu Tuan Muda yang menjemput Kakak," ucap Intan dengan nada pelan.
Anaya tertawa kecil, "Aku tidak percaya kalau Pak Aldi menyukaiku."
"Kak, aku serius!"
"Iya ya, tapi sekarang aku sudah menikah," ujar Anaya.
"Nanti kalau aku bertemu dengannya, ku akan katakan jika Kak Ana telah menikah dan suaminya sangat kejam!" celetuk Intan, diiringi tawa Anaya.
"Eheem...."
Anaya dan Intan menoleh.
"Terima kasih," ucap Anaya.
Rama meletakkan 2 gelas es lemon teh di meja, "Jangan membahas membahas apapun tentang Tuan Harsya di rumah ini!" berkata tanpa menatap.
Intan menelan salivanya dan mengarahkan pandangannya kepada Anaya.
Rama kemudian meninggalkan kedua wanita itu.
"Kak, dia siapa?" tanya Intan pelan.
"Dia kepala pelayan di sini."
"Sepertinya dia juga kejam juga," ucap Intan.
"Ya, dia memang sangat dingin. Hampir sama dengan Biom, pria yang menjemputmu."
"Kenapa Kak Ana betah tinggal di sini? Para pria di rumah ini begitu sangat mengerikan meskipun mereka tampan."
"Aku ingin pergi dari sini, tapi tidak bisa. Tuan Muda benar-benar menjagaku, dia tak mau aku terluka."
"Tuan Muda sebegitunya menyayangi Kakak?"
Anaya mengangguk.
"Ya ampun, ternyata Tuan Muda sangat romantis sekali," Intan senyum-senyum sendiri.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah, Kak. Tadi dua pria yang mengantarkan aku ke sini mengajakku makan," jawab Intan.
"Syukurlah jika kamu sudah makan, karena di sini kalau Tuan Muda belum berada di meja makan. Seluruh penghuni rumah tak boleh makan terlebih dahulu, kecuali Tuan Harsya sedang berada di luar rumah."
"Oh begitu."
__ADS_1
"Makanya selama kamu menemani aku, harus paham dengan peraturan di sini!"
"Ya, Tuan Biom juga memberikan daftar peraturan di rumah ini."
"Kamu harus ingat itu!"
"Baik, Kak.
-
-
Menjelang malam....
Harsya dan Anaya menikmati makan malam bersama, tak ada obrolan keduanya hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu.
Rama menuangkan air putih ke dalam gelas Harsya yang telah kosong. Lalu kembali berdiri di samping atasannya itu.
Selesai makan, Harsya dan istrinya melangkah ke balkon rumah.
Setelah kedua atasannya meninggalkan meja makan, Rama mengantarkan makanan ke kamar Intan.
Rama mengetuk pintu tak lama kemudian Intan membukanya.
"Ini makan malam buat anda!" Rama menyodorkan nampan di hadapan Intan.
"Apa saya tidak boleh gabung makan bersama dengan Kak Ana?"
"Tidak, meja makan hanya untuk Tuan Muda, istrinya dan keluarganya serta orang-orang yang diundangnya!"
"Oh."
"Makanlah, setelah selesai makan antar piring dan gelas kotor ke dapur!" ucap Rama dengan nada dingin.
"Iya," Intan menerima nampan.
Rama membalikkan badannya.
"Tuan, tunggu!" panggilnya.
Rama menoleh.
"Saya tidak tahu di mana dapurnya? Bisakah anda tunjukkan?"
"Anda bisa bertanya karyawan yang mondar-mandir di rumah ini."
"Oh, baiklah."
Rama pun berlalu.
Intan menutup pintunya lalu menikmati makan malam, ia begitu sangat lahap memakannya karena memang rasanya sangat enak dan lezat.
Di kamar yang ditempatinya tersedia televisi, cukup lumayan agar dirinya tak bosan.
Beberapa menit kemudian, ia selesai makan. Intan yang mulai di serang rasa kantuk akhirnya tertidur.
-
Intan tersentak bangun ketika jarum jam menunjukkan pukul 12 malam, "Astaga, aku lupa meletakkan piring kotor di dapur!" Gumamnya.
Intan bergegas turun dari ranjang dan keluar kamar, ia menoleh ke kanan dan kiri. Rumah tampak sepi tak ada aktivitas sama sekali.
Intan memberanikan diri mencari dapur. ia menyusuri lorong rumah hanya untuk mencari ruang tersebut.
"Di mana dapurnya?" batinnya.
Hampir 15 menit mencari akhirnya ia menemukan tempat piring kotor, Intan meletakkannya. Ia membalikkan badannya hendak kembali ke kamarnya.
Lagi-lagi dia bingung, "Ya ampun, lewat mana lagi nih?" tanyanya membatin.
"Aku harus tanya siapa, ya?" Gumamnya.
Intan pelan-pelan melangkah agar tak membangunkan penghuni rumah, rasa takut menyelimuti hatinya karena sebagian penerangan di rumah mewah itu telah padam.
Intan dibuat frustasi karena kebingungan mencari ruang kamarnya karena ia takut salah memasuki kamar.
__ADS_1
Di tengah kegundahannya, tiba-tiba lampu menyala. Intan terperanjat kaget, dengan cepat ia mengedarkan pandangannya.
"Kenapa belum tidur?"