Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 49 - Menjodohkan Harsya


__ADS_3

Hari ini Anaya diajak suaminya pergi ke rumah mertuanya. Namun kali ini tidak bersama Rissa.


Pertemuan pertama mereka sebelumnya, Madya telah membuka hatinya untuk menantunya itu.


Anaya tak hentinya tersenyum ketika memasuki halaman kediaman Abraham Syahbana.


Madya yang pura-pura suka memeluk menantunya itu, ia bersandiwara dengan memasang wajah ramah dan manis.


Tak lama setelah kedatangan anak dan menantunya, seorang wanita bertubuh ramping dengan tinggi 165 centimeter, rambut dikuncir serta bibir diolesi lipstik berwarna merah terang.


Ia menyapa Madya dan memeluk wanita itu dengan begitu akrab.


Harsya dan istrinya saling pandang melihat tamu Madya.


"Ibu mengundang dia juga?" tanya Harsya.


"Iya, Ibu sengaja mengundang dia untuk kamu," jawab Madya melirik menantunya.


"Maksud Ibu apa?" tanyanya lagi.


"Ibu ingin menjodohkanmu dengan Astrid," Madya menjawab tanpa rasa segan meskipun ada menantunya sedang hamil.


"Bu, istriku lagi hamil dan aku sangat menyayanginya. Jangan membuatnya stress karena mendengar ucapan Ibu," ujar Harsya.


"Kamu dan dia hanya menikah terpaksa, tidak apa-apa 'kan kalau kamu nikah lagi. Apalagi Astrid direktur di perusahaan ternama di kota ini. Pantaslah untuk kamu," Madya memuji wanita yang disampingnya dengan tersenyum.


Anaya yang mendengarnya hanya diam, hatinya sedih. Ibu mertuanya secara terang-terangan menyodorkan wanita lain buat suaminya.


Harsya menggenggam tangan istrinya dan menyuruhnya bangkit dari tempat duduknya. "Lebih baik kami pulang!"


"Kita belum makan siang bersama, Nak!" ucap Madya.


"Ibu makan saja dengan dia!" Harsya mengarahkan pandangannya kepada Astrid.


"Harsya kenapa kamu begini, 'sih?" tanya Madya.


"Harusnya aku yang bertanya, kenapa hati Ibu berubah? Anaya sedang mengandung calon cucu Ibu, tapi sikap Ibu itu membuatnya terluka. Aku kecewa dengan Ibu!" Harsya menarik tangan istrinya dengan lembut hendak bergegas pergi.


"Harsya jika kamu pulang, terus aku dengan siapa?" tanya Astrid dengan suara lembut.


"Bukan urusan aku!"


"Aku datang seorang diri tak mengendarai mobil, jadi bagaimana aku pulang?" tanya Astrid.


Harsya tak memperdulikan Astrid, ia memilih pergi bersama istrinya.


"Tante ini bagaimana? Gagal dong rencana kita memisahkan mereka," ucap Astrid setelah Harsya dan istrinya pergi.


"Kamu tenang saja, Tante punya rencana kedua. Tante ingin sekali memisahkan mereka!"


"Tapi, aku jadi tidak tega, Tante. Istrinya dia lagi hamil, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kandungannya?"


"Semua akan baik-baik saja. Tante ingin setelah wanita itu melahirkan, Harsya meninggalkannya."


Sementara itu, Anaya yang di dalam mobil terlihat diam. Ia menatap jalanan dari kaca jendela mobil.


"Maaf, jika ucapan Ibuku menyinggung perasaanmu."


Anaya menoleh menatap suaminya, "Tidak apa-apa." Mencoba tersenyum meskipun hatinya sakit.


Harsya menggenggam jemari istrinya dan mengecupnya, "Aku mencintaimu. Aku janji takkan mengkhianati pernikahan kita!"


"Saya percaya," lagi-lagi Anaya tersenyum singkat.

__ADS_1


Harsya mengecup kening istrinya, ia lalu meletakkan kepala Anaya di bahunya.


Anaya yang telah merasa nyaman memeluk lengan suaminya.


-


-


Madya yang tak pernah menyerah untuk memisahkan putranya dengan Anaya menyuruh Astrid untuk mendatangi kediaman Harsya.


Elia sudah melarang ibunya agar menghentikan perbuatannya itu, tetap saja tak digubris.


Sore harinya tepat pukul 5 sore, Astrid tiba di rumah Harsya. Begitu ia menginjakkan kakinya di teras, ia pun menyuruh sopir pulang.


Astrid di sambut 2 pelayan wanita dan menyuruhnya duduk di ruang tamu.


Harsya datang bersama dengan istrinya.


Astrid lantas berdiri dan tersenyum manis.


"Ada keperluan apa kau ke sini?" tanya Harsya.


"Aku di suruh Tante menemui kamu."


"Untuk apa menemui aku?"


"Tante Madya ingin kamu dan istrimu ini pisah!" jawab Astrid dengan jujur.


"Jadi, Nona datang kemari untuk menggoda suamiku?" tanya Anaya yang polos.


Astrid pun mengangguk.


"Silahkan saja kalau mau menggoda!" ucap Anaya.


"Ayo cepat, Nona Astrid mau menggoda pakai gaya apa?" tantang Anaya.


"Kau bicara apa, sayang?" bisik Harsya.


"Dia ingin menggodamu dan membuat pisah kita," jawab Anaya.


Harsya menelepon salah satu anak buahnya, "Datanglah ke ruang tamu sekarang!" perintahnya.


Tak sampai 1 menit, Alpha telah menampakkan batang hidungnya. "Ada yang bisa saya lakukan, Tuan?"


"Tolong kamu antarkan dia pulang ke rumahnya!" titahnya.


Alpha melirik Astrid kemudian berkata, "Baik, Tuan!"


"Harsya, aku tidak mau pulang. Aku ingin tinggal di sini semalam!"


"Kau adalah seorang direktur di perusahaan ternama. Pasti pekerjaan kantor sangat banyak, lebih baik pulang dan beristirahat!" ucap Harsya.


"Harsya....."


"Mari Nona saya antar pulang!" Alpha berkata dengan ramah.


"Pastikan dia tak pernah menginjakkan kakinya di rumah ini, aku tidak suka melihat wanita memakai pakaian robek begitu!" sindir Harsya.


"Hei, ini bukan robek. Memang begini model pakaiannya," jelas Astrid mengomentari dress yang ia pakai dengan punggung terbuka lebar.


"Aku tidak peduli!" Harsya menggenggam jemari istrinya dan mereka pun berlalu.


Astrid hendak mengejar namun tangan Alpha menghalanginya.

__ADS_1


"Singkirkan tanganmu!" Astrid menekankan kata-katanya.


"Lebih baik Nona ikutin saja perintah dari Tuan Muda, mari saya antar pulang!"


Astrid pun menyerah.


Alpha membukakan pintu penumpang bagian depan.


"Aku tidak mau duduk di depan!" tolak Astrid.


"Saya bukan sopir Nona!"


"Kamu sengaja, ya. Ingin mencoba merayuku!" tudingnya.


"Saya tidak memiliki waktu untuk merayu atau menggoda Nona. Cepatlah masuk, jika tak ingin menjadi gelandangan!"


Astrid mendengus kesal, ia pun masuk ke mobil.


Di perjalanan pulang, Alpha yang menyetir mengingatkan Astrid agar tak mengganggu rumah tangga Harsya dan istrinya.


"Kenapa kamu jadi mengatur ku?" ketusnya.


"Saya hanya mengingatkan saja!"


"Ingat, ya. Jikapun nanti mereka berpisah, kamu yang akan pertama kali ku tendang!"


"Nona pikir berhasil mendapatkannya," Alpha berkata dengan sepele.


"Hei, kita lihat saja. Aku pasti akan menjadi Nona di rumah itu!"


"Saya curiga Nona sebenarnya bukan wanita," ucap Alpha.


"Maksudmu apa? Kamu pikir aku ini laki-laki jadian!" kesalnya.


"Jika memang Nona adalah wanita takkan pernah merusak kebahagiaan wanita lain. Apalagi wanita itu sedang mengandung," ucap Alpha membuat Astrid terdiam.


"Nona Anaya telah banyak menderita, biarkan dia bahagia bersama Tuan Harsya."


"Kenapa kamu begitu membela istrinya?"


"Jika Nona tahu bagaimana Tuan Muda sebenarnya,pasti Nona akan mundur!"


"Maksudnya bagaimana? Coba jelaskan lebih lengkap jangan separuh-separuh begini!"


"Nona akan tahu nanti!"


Astrid yang penasaran lantas menarik tangan Alpha dari kemudi.


Alpha yang terkejut dengan cepat membanting stir ke kanan dan mengerem mendadak. "Apa yang Nona lakukan ini sangat berbahaya!" hardiknya.


"Aku mau turun di sini saja!" Astrid mencoba membuka pintu.


"Nona yakin, lihatlah di sekitar sini banyak kebun warga."


Astrid memperhatikan sekelilingnya, ia pun membatalkan niatnya.


"Tetaplah duduk tenang, saya akan mengantarkan Nona pulang!"


Astrid pun diam.


Sebelum mobil melaju, Alpha membuka jaketnya lalu menyodorkannya pada Astrid. "Pakailah, bagian punggung Nona terbuka!"


Astrid meraihnya dengan kasar lalu memakainya.

__ADS_1


Alpha kembali melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2