Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 41- Widuri Dan Alan Menjadi Pelayan Di rumah Harsya


__ADS_3

Keesokan harinya, Widuri dan suaminya kembali mendatangi kediaman mewah Harsya. Mereka menunggu jawaban yang akan disampaikan Anaya di depan pagar.


Seorang pelayan memberitahu jika ada tamu buat Anaya.


Harsya lantas mempersilakan pelayan kembali bekerja setelah memberitahu.


"Suamiku, apa saya boleh bertemu dengan mereka?"


"Tidak, biarkan kepala pengawal yang memberitahu keputusan aku semalam," jawab Harsya.


Anaya kemarin malam sebelum tidur memohon kepada suaminya agar memperkerjakan paman dan bibinya, karena melihat wajah memohon dari sang istri akhirnya Harsya memberikan izin kepada dua orang tersebut.


Widuri dan suaminya kini masuk ke istana Harsya dari pintu belakang karena pemilik rumah melarang kedua orang tersebut melewati ruang utama yang merupakan kamar serta ruang santai keluarga.


"Kalian hanya boleh bekerja sekitar sini," ucap Alpha. "Dilarang memasuki kamar dan ruang makan Tuan Muda dan istrinya karena ada pelayan khusus yang menangani keperluan mereka di ruang utama," lanjutnya.


"Baiklah," ujar Widuri.


"Meskipun kalian adalah keluarga dari Nona Anaya, tetapi Tuan Muda hanya menganggap kalian orang lain!"


"Apa pekerjaan kami di sini?" tanya Alan.


"Baiklah, aku akan memberitahu pekerjaan kalian di sini," jawab Alpha. "Alan, anda bekerja mengurus kebun belakang. Jangan sampai bunga-bunga kesayangan Nona Anaya mati atau layu," lanjutnya lagi.


"Hanya itu saja?" tanya Alan.


"Ya, karena di sini sudah banyak pekerja!"


"Bagaimana dengan aku?" tanya Widuri.


"Kalau anda menyapu serta mengepel lantai di bagian teras belakang rumah serta mengelap kursi-kursi yang ada."


"Oh, hanya itu. Sangat ringan dan mudah sekali," Widuri berkata dengan nada sinis.


"Jangan melakukan kesalahan jika tidak ingin kalian berakhir dibalik jeruji!" Alpha memberi peringatan.


Selesai sarapan Anaya dan suaminya berjalan di balkon rumah yang berada di lantai dua sembari mengobrol.


"Bibi dan Paman bekerja di sini, apa boleh saya menemui mereka?"


"Tetap tidak boleh."


"Mereka keluarga saya juga," ujar Anaya.


"Tak ada lagi keluargamu, mereka semua jahat. Mereka membiarkanmu tersiksa bertahun-tahun dan menjualmu."


"Paman Alan dan Bibi Widuri mereka selalu membantu saya."


"Mereka hanya pura-pura, jangan mudah percaya. Jika kau ingin selamat, maka dengar dan turuti ucapanku."


"Baik, suamiku."


-


-


Selesai makan siang, Harsya dan istrinya meninggalkan kediamannya karena ia merasa Alan dan Widuri memiliki niat buruk.


"Kita mau ke mana?"


"Ke rumah yang satunya lagi. Kau akan merasa aman di sana!"


"Memangnya kalau di rumah itu, nyawa saya akan terancam?" tanya Anaya.


"Ya."


Sementara itu, Widuri dan Alan yang melihat mobil keponakannya pergi, lantas bertanya-tanya.


"Mau ke mana mereka?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu," jawab Alan.


"Bagaimana dengan rencana kita?" tanya Widuri.


"Entahlah."


"Kita harus cari tahu ke mana mereka pergi," usul Widuri.


"Pergilah sana!"


"Mas, ingat 'ya. Kita kemari memiliki tujuan yang sama, membebaskan Anaya dan menjadikannya budak."


"Iya, aku tahu. Aku tidak mau dia berlama-lama dengan pria itu!"


"Padahal kita bisa saja menjadikan Anaya mesin uang," ujar Widuri.


"Tidak, aku tak mau kamu memanfaatkan dia untuk terus mengerus harta pria itu. Biarkan dia bersama kita, sangat mudah diawasi."


"Kenapa Mas Alan bersikeras ingin Anaya bersama kita? Aku curiga dengan Mas Alan," Widuri menatap menyelidik.


"Anaya keponakan kita, aku tak mau ada orang lain yang mengaturnya," Alan memberikan alasan padahal ia memiliki niat lain.


"Dia anak dari Kakakku jadi Anaya harus tunduk dan patuh padaku."


"Tak perlu berdebat, cepat tanyakan pada pekerja lainnya kemana mereka," titah Alan.


"Baiklah, aku akan tanyakan!"


Widuri melangkah menghampiri pelayan lainnya yang sedang berada di ruang dapur khusus pekerja.


"Mau apa kau ke sini?" tanya pelayan wanita yang sebaya dengan Widuri memasang wajah ketus.


"Ke mana keponakan dan suaminya pergi?"


"Aku tidak tahu," jawabnya.


"Kenapa tidak tahu?"


"Kalau aku tahu, ku tak bertanya padamu!"


"Aku di sini bekerja bukan untuk mengurusi kehidupan pribadi majikan. Jadi, jangan pernah berharap mendapatkan informasi apapun tentang Tuan Muda dan istrinya jika ingin hidup baik-baik saja."


"Maksudnya kalian tidak pernah tahu apa yang dilakukan Tuan Muda diluaran atau sedang berada di rumah ini?"


"Tutup telinga, mata dan mulut kalau ingin selamat. Itu saran dariku, kembali bekerja karena Tuan Alpha sangat begitu kejam melebihi Tuan Muda." Pelayan wanita itu pun berlalu.


Widuri masih mematung mendengar ucapan wanita itu.


"Hei!"


Suara pekikan terdengar nyaring membuat Widuri bergegas menoleh.


"Kenapa kau di situ? Bekerjalah, kau ingin dipecat?" tanya seorang pelayan pria dengan lantang.


Tanpa menjawab, ia lantas segera pergi dari tempat itu.


Widuri menghampiri suaminya.


"Pergi ke mana mereka?"


"Aku tidak tahu!" ketusnya.


"Kenapa tidak tahu?"


"Mereka dilarang keras tahu kehidupan pribadi majikannya."


"Jadi, kita gagal mencari tahu kelemahan Tuan Muda itu."


"Lebih baik kita menyerah saja," saran Widuri.

__ADS_1


"Tanggung, kita sudah berada di rumah ini!" Alan berkata pelan.


"Mas, sepertinya sangat sulit untuk mengambil Ana dari tempat ini!"


"Bagaimana kita culik saja?"


"Jangan aneh-aneh, Mas!"


"Cuma itu caranya," ujar Alan.


"Aku tidak mau, bukankah kita masih ada kebun tuk dijual?"


Alan menyuruh istrinya untuk mendekatinya, ia kemudian berbisik, "Bagaimana kalau kita curi saja barang-barang miliknya? Mereka juga sedang berada di luar."


Widuri menjauhkan telinganya dari mulut suaminya lalu menatap pria itu. "Resikonya sangat besar!"


"Kita bisa katakan pada Anaya lagi membutuhkan uang," usul Alan.


Widuri tampak berpikir lalu mengiyakan.


"Kita akan melakukannya nanti malam!"


Sementara itu, Harsya yang pergi tidak bersama Alpha lantas menghubungi pria itu dan berkata, "Awasi mereka!"


Harsya menutup ponselnya.


Anaya menatap wajah suaminya, seakan bertanya siapakah orang yang dihubunginya tadi.


"Kau akan lihat seperti apa dua orang yang selalu kau banggakan itu!" Harsya membatin.


Beberapa jam kemudian, Harsya dan istrinya tiba di kediaman mewah miliknya yang kedua.


Biom membukakan pintu mobil untuk atasannya itu, lalu mendekat dan berkata, "Orang yang ingin mencelakakan Nona Anaya di kolam sudah kami temukan!"


"Apa alasan dia melakukan itu? Dan beri sedikit pelajaran untuknya!" titahnya.


"Baik, Tuan!" Biom menundukkan kepalanya.


Harsya dan Anaya memasuki rumah.


Rissa dan Intan berlari kecil menghampiri Anaya lalu memeluknya.


"Akhirnya Kak Ana pulang, Kak. Waktunya kita menggosip," celetuk Intan.


"Rumah ini terasa sepi jika tak ada kamu, Ana. Kami sangat bosan bertemu dengan pria berhati dingin di sini!" Rissa melirik Biom.


"Pastikan kalian tidak membawa pengaruh buruk pada istriku!" Harsya memberikan peringatan.


Rissa tersenyum lalu membalas, "Siap, sepupuku!" menarik tangan Anaya menjauh dari suaminya.


Di ruang kerja, Harsya melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian ia datang menghampiri dan memberikan laporan.


"Tuan, pria yang menarik kaki Nona Anaya di kolam adalah seorang pelayan. Dia bekerja di rumah ini baru dua bulan."


"Alasan dia melakukan itu?" tanya Harsya.


"Karena Tuan telah memecat kakaknya dari perusahaan."


"Apa tidak ada motif lain?"


"Tidak, Tuan."


"Apa kau sudah memberikan pelajaran untuknya?"


"Sudah, Tuan."


"Bagus, pastikan dia mengingat ucapanmu. Karena telah menganggu ketenangan istriku!"


"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan!"

__ADS_1


__ADS_2