Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 48 - Menemani Anaya Berbelanja


__ADS_3

Keesokan paginya, para pelayan sibuk menurunkan aksesoris milik Andin dari rak. Mereka juga menaruhnya ke bagasi mobil.


Dua mobil telah terparkir di teras rumah mewah milik Harsya yang siap mengangkut barang-barang ternama.


"Harsya, mau di bawa ke mana barang-barang itu?" tanya Rissa.


"Mau ku jual."


"Hah!" Anaya dan Rissa tidak percaya.


"Aku hanya tidak ingin istriku ini cemburu!" Harsya meraih tangan Anaya dan menggenggamnya.


Anaya yang mendapatkan perhatian mendadak pipinya merona.


"Begitu dong, jadi pria harus tegas dan memiliki prinsip!" puji Rissa seraya melirik Biom.


"Aku dan Anaya lagi menunggu calon anak kami terlahir ke dunia, maka ku memutuskan akan menjadi suami dan ayah yang baik tuk mereka!" Harsya menatap wajah istrinya yang tampak malu-malu.


"Ya ampun, kalian ini romantis sekali. Aku sangat bahagia melihatnya, semoga kelak aku mendapatkan pria yang mencintaiku tulus!" ucap Rissa lagi-lagi melirik Biom.


"Tuan, seluruh barang telah bersih dari rak." Ujar seorang pelayan pria yang menghampiri Harsya.


"Pergi dan jual semuanya ke toko itu!" perintahnya.


"Baik, Tuan." Pria tersebut pun berlalu.


Harsya mengarahkan wajahnya ke arah istrinya, "Setelah dari rumah sakit kita ke mall."


"Kenapa pergi ke mall?" tanya Anaya.


"Kau boleh memilih barang apapun yang kau sukai dan kita akan ditemani Rissa."


"Aku juga ikut?" tanya Rissa.


"Iya," jawab Harsya.


"Aku tidak mau!" tolaknya.


"Kenapa, Kak?" tanya Anaya.


"Aku tidak mau melihat kemesraan kalian yang ada hanya membuatku semakin iri," ungkap Rissa.


Anaya tertawa mendengarnya.

__ADS_1


Harsya melihat tawa istrinya yang tanpa beban.


"Tetapi jika Intan ikut boleh juga!" usul Rissa.


"Ide yang bagus biar istriku ini semakin senang. Biom, Rama, kalian ikut aku juga, ya?"


"Tuan saya masih....."


"Tinggalkan saja!" Harsya memotong ucapan Rama.


"Tuan ingin kami menemani para wanita ini berbelanja?" tanya Biom.


"Ya, biar aku juga tidak bosan sendirian di sana. Kalian tahu sendiri 'kan, bagaimana dulu Andin berbelanja," ucap Harsya.


Tampak raut wajah Anaya tak suka.


Rissa segera berdehem.


Harsya bergegas meralat ucapannya, "Maksud ku kalau perempuan berbelanja sangat lama."


"Namanya juga wanita, tapi itu sangat menyenangkan," ucap Rissa agar sahabatnya itu kembali tersenyum.


-


-


Begitu sampai Anaya lantas memeluk Intan yang telah dianggapnya sebagai adik sekaligus sahabatnya.


Mereka pun melangkahkan kakinya memasuki mall.


Harsya mengenggam jemari istrinya erat.


Sementara Intan dan Rissa berjalan beriringan.


"Lebih baik aku memasak di dapur dari pagi sampai sore daripada menemani wanita berbelanja," Rama berkata pelan di samping Biom.


"Lebih baik melawan musuh di depan mata daripada harus membawa barang belanjaan wanita," timpalnya.


"Semoga saja dua orang wanita itu tak membuat masalah," celetuk Rama.


Biom pun mengiyakan.


Sesampainya di toko tas dan sandal bermerek, Harsya melepaskan genggamannya. "Pilihlah yang kau suka!"

__ADS_1


Anaya tersenyum, "Terima kasih, suamiku!"


Harsya menggerakkan dagunya pelan.


Anaya berjalan mengelilingi isi toko ditemani Rissa dan Intan.


Harsya, Biom dan Rama menunggu di sofa yang telah disediakan pihak toko.


Rama dan Biom sudah bosan menunggu para wanita berbelanja padahal baru 30 menit.


Anaya sesekali duduk, ia merasa kelelahan beruntung Rissa membawa botol air minum khusus buat Anaya.


"Tuan, setelah dari sini kita pulang, 'kan?" tanya Biom.


"Nanti tanyakan saja pada mereka!" jawab Harsya.


Sejam sudah mereka di toko itu, Anaya memilih sebuah tas berwarna cokelat dan sepasang sandal.


"Hanya ini saja?" tanya Harsya menggaruk pelipisnya.


"Ya," jawab Anaya polos.


"Kalian tidak beli?" tanya Harsya.


"Harganya sangat mahal, Tuan." Jawab Intan dengan jujur.


"Aku lagi tak membutuhkannya," Rissa menjawab pertanyaan sepupunya.


"Baiklah, setelah ini mau ke mana lagi?" tanya Harsya.


"Makan!" jawab ketiga wanita serentak.


Biom dan Harsya bernapas lega.


"Tidak ingin berbelanja pakaian?" tanya Harsya.


"Ibu mertua 'kan punya toko baju," jawab Anaya.


"Benar, Tuan." Sahut Intan.


"Pakaian yang dijual di toko milik Bibi Madya juga tak kalah bagus," Rissa menimpali.


"Kalian benar juga!" ucap Harsya. "Kalau begitu ayo kita pergi makan!" ajaknya.

__ADS_1


__ADS_2