
Beberapa hari kemudian, Astrid mengendarai mobil seorang diri kembali mendatangi kediaman Harsya.
Begitu tiba di pintu pagar, seorang penjaga keamanan menanyakan maksud kedatangannya.
Astrid mengatakan jika ingin bertemu dengan Harsya. Dan penjaga keamanan itu memberitahu Alpha.
Pria bertubuh kekar dengan tinggi 180 centimeter mendatangi Astrid yang masih di dalam mobil.
Karena melihat Alpha menghampirinya Astrid bergegas keluar dari mobil.
"Mau apa lagi Nona ke sini?"
"Aku hanya ingin mengembalikan ini!" Astrid menyerahkan kantong kertas berwarna coklat kepada Alpha. "Ini jaket yang kamu pinjamkan padaku, ku sudah mencucinya juga," lanjutnya.
Alpha menerima kantong tersebut.
Astrid membuka pintu mobil, sebelum masuk ia mengucapkan terima kasih.
Mobil Astrid pun meninggalkan kediaman Harsya.
Alpha melihat isi kantong ternyata memang benar jaket miliknya.
Harsya keluar dari rumah, ia lalu bertanya kepada kepala pengawal, "Apa dia sudah pergi?"
"Sudah, Tuan."
"Baiklah, kita berangkat sekarang!"
Alpha membuka pintu buat Harsya, lalu ia duduk di kursi penumpang bagian depan. Dan kemudi diambil oleh Biom.
Ketiganya berangkat ke kantor Harsya, di tengah perjalanan mobil yang mereka tumpangi berhenti karena di depannya macet.
Orang-orang pada sibuk berlari dan turun dari kendaraannya.
Alpha lantas membuka jendela mobil dan bertanya kepada warga yang melintas, "Pak, apa yang terjadi?"
"Ada kecelakaan di depan sana, Tuan!" mengarahkan jari telunjuknya lurus ke depan.
"Kecelakaan?" tanya Alpha lagi.
"Iya, Tuan. Katanya yang mengemudikan mobilnya seorang wanita."
Alpha jadi kepikiran dengan Astrid yang tadi datang mengendarai mobil sendirian.
"Mobilnya warna apa, Pak?" tanya Biom.
"Warna putih, Tuan."
Pria tua itu lantas berlari ke arah depan.
"Bukankah tadi pagi Nona Astrid menggunakan mobil berwarna putih?" tanya Alpha.
"Apa jangan-jangan dia...." tebak Biom.
Keduanya lantas segera turun dari mobil untuk memastikannya.
"Hei, kalian mau ke mana?" tanya Harsya, ia pun akhirnya ikutan keluar dari mobil.
Alpha berjalan lebih dahulu, langkahnya terhenti ketika melihat wanita yang ditandu melewatinya.
"Astrid!" Harsya berkata lirih.
Ketiganya lantas mendekati mobil ambulans yang mengangkut Astrid.
"Kalian siapa?" tanya petugas medis.
"Kami kerabatnya!" jawab Harsya.
"Baiklah, kalau begitu kalian ikut kami!" ucap pria petugas medis.
"Alpha kamu ikut ambulans, kami akan menyusulmu dari belakang," perintah Harsya.
"Baik, Tuan!" Alpha gegas naik ke mobil ambulans.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Alpha tak hentinya menatap wajah Astrid yang berdarah. Tampak mata Alpha berkaca-kaca.
Alpha ingat beberapa waktu lalu mengantarkan wanita itu pulang, mereka sempat berhenti di sebuah kedai kopi. Astrid membeli 2 cup es kopi, satu diberikannya kepadanya.
Sembari menyedot minuman itu, Astrid berkata jika dia tak ada niatan ingin menghancurkan rumah tangganya Harsya. Itu semua karena paksaan Tante Madya, dia tak suka dengan Anaya yang merupakan kalangan bawah.
Jika dia tak menuruti permintaan Madya, jabatannya akan di turunkan. Tak ada pilihan lagi, terpaksa ia melakukannya. Apalagi kedua orang tuanya memiliki utang dengan keluarganya Harsya.
Sejak itu, Alpha menjadi iba dengan wanita yang secara jujur mengakuinya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit yang memakan waktu 15 menit, brankar di turunkan dari ambulans.
Tak sampai 10 menit, Harsya dan Biom pun tiba.
Harsya lantas berkata, "Aku sudah mengabari ibuku untuk memberitahu kedua orang tuanya!"
"Tuan, tadi kata Dokter. Nona Astrid membutuhkan transfusi darah," ucap Alpha.
"Baiklah, aku siap diambil darahnya jika memang cocok!"
"Aku juga, Tuan." Sahut Biom.
Satu persatu ketiga pria itu diambil sampel darahnya untuk mencocokkannya.
Dan akhirnya terpilihlah Alpha sebagai pendonor darah buat Astrid.
-
Dua jam berada di rumah sakit, perawat menyampaikan jika operasinya berhasil dan dokter akan menjelaskannya semua.
Orang tuanya Astrid juga telah datang bersama Madya.
Karena Astrid sudah ada yang menjaga, akhirnya Harsya beserta kedua anak buahnya meninggalkan rumah sakit.
"Semoga saja Nona Astrid segera pulih," ucap Biom sesampainya mereka di kantor.
"Semoga," Alpha masih memegang lengannya.
"Apa kamu ingin susu atau buah?" tanya Biom.
"Boleh juga," jawab Alpha.
"Aku akan membelikannya untukmu!" Biom pun pergi ke minimarket yang ada di kawasan gedung kantor Harsya.
Beberapa menit kemudian ia membawa 2 buah susu siap saji dalam kemasan kaleng dan buah potong.
Biom lalu menyerahkannya kepada Alpha. Mereka duduk di kantin kantor.
Alpha menengguk susu kaleng dengan tatapan kosong.
"Sepertinya ada yang kamu pikirkan?"
"Aku sedang memikirkan kondisi Nona Astrid."
"Bagaimana tidak? Aku berada di dalam ambulans bersamanya yang tak sadarkan diri."
"Kamu 'kan sudah dengar kalau operasinya berhasil, semoga segera membaik. Dan dia tak datang di kehidupan rumah tangga Tuan Muda."
"Nona Astrid tak seburuk itu," tutur Alpha.
"Sepertinya waktu itu kalian banyak mengobrol sehingga kamu bisa mengatakan begitu," ujar Biom.
"Ya, dia memang banyak bercerita ketika ku mengantarnya pulang."
"Jangan bilang setelah dia bercerita kamu jadi menyukainya!"
Alpha yang mendengarnya hanya tertawa kecil.
-
Sore harinya ketika hendak pulang, Madya menelepon Biom ia mengatakan jika Astrid telah sadar. Ia ingin bertemu dengan Alpha.
"Pergilah ke sana, biar aku pulang bersama dengan Biom. Kau gunakan saja mobil kantor," ucap Harsya.
"Baik, Tuan. Terima kasih!" Alpha pun berlalu.
"Sepertinya mereka akan jadian," tebak Harsya sembari menatap punggung anak buahnya itu.
"Bukankah itu sangat bagus, Tuan? Nona Astrid tak mengganggu anda lagi."
"Ya, kau benar. Ayo kita pulang, aku sudah merindukan istriku!"
-
Alpha tiba di rumah sakit, ia melangkah ke kamar rawat inap Astrid. Sesampainya, papanya Astrid memeluk Alpha.
"Terima kasih sudah menolong anak saya!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama, Tuan."
Astrid tersenyum dari atas ranjang meskipun wajahnya masih pucat.
"Tadi pagi, kami sempat melarangnya untuk mengemudikan mobil sendirian karena dia baru saja sembuh dari sakit," jelas Mama-nya Astrid.
__ADS_1
"Sakit apa kalau saya boleh tahu?" tanya Alpha.
"Sakit lambung," jawab Papa-nya Astrid.
Alpha mengarahkan matanya kepada wanita muda itu.
"Nak Alpha, apa kami bisa minta tolong untuk menjaga Astrid sebentar saja. Kami mau pulang mengambil beberapa barang dan juga mandi," ucap Mama-nya Astrid.
"Bisa, Nyonya." Alpha menundukkan wajahnya.
Kedua orang tuanya Astrid pun pulang, tinggallah mereka berdua di ruangan itu.
"Bagaimana kondisi Nona?"
"Lumayan membaik," jawab Astrid.
"Syukurlah."
"Alpha, terima kasih telah membawaku ke sini dan mendonorkan darah untukku."
"Yang mengantarkan anda petugas medis, kebetulan kami melintas. Tuan Muda juga yang memberikan izin untuk datang kemari menjenguk anda!"
"Sampaikan terima kasihku padanya!"
"Saya akan sampaikan!"
Ruangan tampak hening, Alpha duduk di kursi yang tersedia.
Astrid bangkit dan duduk, ia berusaha mengambil sesuatu di atas nakas menggunakan tangannya.
Alpha yang melihatnya bergegas berdiri dan mendekat, "Apa yang bisa saya bantu, Nona?"
Astrid menurunkan tangannya. "Aku haus!"
Alpha dengan cepat meraih gelas lalu ia berikan kepada Astrid, wanita itu pun menyeruput air putih.
Alpha meletakkan kembali gelas di nakas.
"Terima kasih," ucap Astrid pelan.
"Sama-sama, Nona."
"Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan Nona?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sambil Menunggu Cerita Ini Selanjutnya, Kalian Boleh Mampir ke Karyaku Yang Lainnya..
- Pesona Ayahku
- Dikejar Cinta Putri Atasan
- Ibu Pilihan Aku
- Bertahan Walau Terluka
- Mengejar Cinta si Tampan
- Jangan Mengejarku, Cantik!
- Salah Jatuh Cinta
- Calon Istriku Musuhku
- Marsha, Milik Bara
- Marry The Star
- Menikahi Putri Konglomerat
- Fall in Love From The Sky
- Benci, Bisnis dan Cinta
- Penculik Hati
- Dijodohkan Dengan Musuh
Jangan lupa tinggalkan like dan komen terbaik...
Terima Kasih 🌹
Sehat dan Bahagia Selalu 🤗
__ADS_1